Kamis, 28 Juni 2012

WARWICK PUSSER : LEPAS KEWARGANEGARAAN DEMI INDONESIA

Datanglah ke desa Dukuh Harjo, Sewon, Bantul (Yogyakarta), maka Sahabat akan melihat geliat karya warga setempat, mulai anak-anak hingga para orang tua. Anak-anak asyik mengasah bakat seni mereka di tempat kursus menari dan menggambar gratis yang ada di desa itu. Sementara para remaja belajar menjahit dengan gratis pula. Sedangkan warga dewasa dan orangtua, giat mengerjakan berbagai kerajinan berkualitas tinggi yang diekspor ke mancanegara. Motor dari semua itu adalah Warwick Pusser, seorang pria kulit putih yang telah lama tinggal di Indonesia bahkan menjadi WNI karena kecintaannya pada Indonesia. 

Semula, Warwick adalah warga negara Australia, berasal dari kalangan atas. Perkenalannya dengan Indonesia berawal saat berbulan madu ke Bali, puluhan tahun silam setelah pesta pernikahan meriah yang diliput media Australia. Warwick dan sang istri langsung jatuh hati pada Pulau Dewata. Rencana bulan madu yang hanya seminggu diperpanjang  jadi sebulan, kemudian 4 bulan, dan akhirnya pasangan muda tersebut memutuskan tinggal seterusnya di Bali. Padahal saat itu Warwick sudah mendapat pekerjaan yang mapan di London. Di Bali, Warwick membuka usaha biro perjalanan. Di Bali pula kedua anaknya, Oliver dan Polly, lahir. Selama 13 tahun keluarga kecil ini hidup tenang dan bahagia di Bali, hingga keluar peraturan pemerintah  Indonesia yang melarang orang asing memiliki usaha biro perjalanan di Indonesia. Warwick terpaksa menutup perusahaannya dan bersama keluarganya keluar dari Indonesia. 

Tak lagi tinggal di indonesia, Warwick bekerja untuk badan dunia PBB UNESCO dan bertugas di Muangthai. Namun cintanya pada Indonesia tetap disimpannya di hati. Tak diduga, suatu hari datang tawaran dari satu perusahaan di london untuk memasok hasil kerajinan Indonesia. Warwick langsung menyambut gembira tawaran tersebut. Tak makan waktu lama, Warwick kembali ke negeri yang dicintainya, Indonesia, kali ini ke Yogyakarta mencari kerajinan untuk diekspor ke Inggris. Di Dukuh Harjolah Warwick menemukan yang dicari dan bermukim hingga kini.

Tak hanya berperan sebagai eksportir kerajinan, Warwickpun membina sekitar 300 pengrajin kecil. Selain memberi bantuan teknis untuk desain dan peningkatan kualitas, iapun memberi bantuan modal dengan sistem pinjaman bergulir. Dengan usahanya, Warwick berhasil menghidupi sekitar 4000 tenaga kerja. Di Inggris, karya para pengrajin binaan Warwick dijual di pusat-pusat perbelanjaan elit, diantaranya Harrod's!  

Warwick menyayangkan sebagian orang Indonesia yang kurang menghargai karya bangsanya sendiri. Menurut pria berpembawaan tenang ini, seharusnya bangsa Indonesia bangga menggunakan produk dalam negeri karena kualitas produk Indonesia tak kalah dengan produk asing. Di luar negeri saja kerajinan Indonesia sangat dihargai bahkan laku keras di Harrod's. Lebih jauh Warwick menambahkan, Indonesia seperti paket lengkap: alamnya indah, orang-orangnya menarik, kekayaan alam melimpah, makanannya enak, dan budayanyapun beragam. Warwick juga menyukai anak-anak Indonesia yang menurutnya lucu-lucu. Ia bahkan mengangkat seorang anak dari keluarga miskin di Dukuh Harjo sebagai anak angkatnya. Anak laki-laki yang tadinya putus sekolah itu kini dapat kembali bersekolah di SD setempat dengan biaya penuh dari Warwick. Di sore hari, ia ikut kursus menggambar gratis yang diadakan sang ayah angkat. Seminggu sekali, Warwick mengundang saudara-saudara sang anak angkat untuk makan bersama di rumah Warwick.

Tahun 2007, Warwick memutuskan melepas kewarganegaraan Australia dan menjadi Warga Negara Indonesia. Untuk memperkenalkan potensi Indonesia, Warwick telah menulis buku berjudul 'Made In Indonesia' yang diterbitkan di Inggris dan Australia. Saat terjadi bencana letusan gunung Merapi, Warwick memanfaatkan koneksinya di UNESCO untuk mengadakan pelatihan mengolah batu lava menjadi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pelatihan gratis ini diadakan Warwick bagi para korban bencana Merapi.

Kecintaan Warwick pada budaya Indonesia juga jelas terlihat saat ia mendengar ada rumah joglo (rumah tradisional Jawa) tua yang dibongkar dan dijual dalam bentuk kayu batangan oleh pemiliknya. Buru-buru Warwick mendatangi sang pemilik rumah untuk membeli seluruh kayu bongkaran rumah joglo tersebut. 

"Ini sejarah, kalian harus menghormati sejarah dan budaya kalian," kata Warwick saat itu pada sang pemilik rumah dengan wajah prihatin. Dengan telaten, Warwick kemudian menyusun kembali lempengen kayu satu persatu hingga kembali menjadi rumah joglo. Iapun mempercantik rumah itu dengan taman dan kolam renang di halaman belakang. Selanjutnya, ia membuat rumah itu penginapan bernuansa Jawa yang sebagian besar tamunya turis asing.

Seolah tak pernah puas mengabdikan diri untuk Indonesia, Warwick menerima tawaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai konsultan UKM. Tugas Warwick selain membina dan meningkatkan keterampilan para pengrajin kecil Indonesia, juga mencari dan membuka pasar di luar negeri bagi hasil-hasil kerajinan Indonesia. Capek?

"Kalau kita punya passion pada hal yang kita kerjakan, maka kita tidak pernah bekerja," tegas Warwick. Artinya, kalau kita melakukan sesuatu dengan passion, dengan hati, tidak akan pernah merasa capek. (MGH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar