Minggu, 01 Juli 2012

IWAN SUNITO : PERUSAHAAN PROPERTINYA 3 BESAR DI AUSTRALIA


Lahir di Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah) dan tinggal di Indonesia hingga menamatkan pendidikan di SMA St Louis Surabaya,  Iwan kini sukses sebagai pengusaha properti di negeri Kanguru. Crown International Holdings, perusahaan properti yang didirikannya bersama 2 teman, kini mantap di posisi 3 besar perusahaan properti termapan di Australia. 

Sejak remaja, Iwan memang telah tertekad akan menjadi boss untuk dirinya sendiri, tak ingin sekedar menjadi karyawan yang menerima gaji. Tahun 1996, Iwan mendirikan Crown International Holdings yang bermarkas di Sydney bersama 2 temannya yang lebih senior, Paul Sathio dan Anthony Sun. Dengan modal patungan sekitar Rp 50 milyar, mereka bertiga menggarap proyek pertama, satu kompleks residensial di Rose Bay yang menghasilkan Rp 55 milyar. Setelahnya proyek-proyek mereka selalu untung besar. 

Crown International Holdings hanya menggarap proyek menengah atas dengan nilai minimal setara Rp 1 trilyun. Diantaranya: 
- Apartemen Top Ryde City Living, dibangun di atas pusat perbelanjaan (Rp 5 trilyun)
- Apartemen Rhodes Waterfront (Rp 1,06 trilyun)
- Fivedock Square, pusat perbelanjaan, apartemen, dan perkantoran (Rp 3,5 trilyun)
- Paramatta Macquarie Tower, hunian, perkantoran & perbelanjaan (Rp 3 trilyun)
- Eastlake, pusat perbelanjaan, hunian, dan perkantoran  (Rp 3,5 trilyun)
- Genesis Epping
- Crown on the Hill di Pennant Hills
- Crown Bondi di Bondi Beach
- Millennium di Homebush
- Icon di Homebush
- Crown Citiview di Ashfield
Semuanya untuk pasar menengah atas dengan harga jual untuk apartemen berkisar Rp 5-9 milyar/unit!

Ada cerita menarik dari peraih gelar Master Manajemen Konstruksi dari University of New South Whales (UNSW) Australia ini. Semasa kuliah, Iwan ternyata bukan mahasiswa jenius. Nilainya buruk, bahkan sempat tak naik tingkat. Akibatnya, Iwan jadi minder. Tapi itu dulu! Kini ia sukses membuktikan, nilai di atas kertas tidak menunjukkan kualitas.  Karena kualitas memang ada di kepala, bukan di kertas. Apalagi Iwan termasuk salah satu dari sangat sedikit orang yang tahu betul apa yang diinginkannya. Setelah lulus kuliah, Iwan sempat bekerja selama 2 tahun di Cox Richardson Architects di Sydney. Ia segera keluar karena memenuhi pangggilan hatinya, berwirausaha dan terbukti, pilihannya sangat tepat!

Yang juga membentuk karakter Iwan menjadi tangguh, jujur, dan rajin adalah sikap orangtuanya yang pekerja keras dan jujur. Dulu, sewaktu Iwan masih bersekolah, orangtuanya selalu was was setiap kali pembagian rapor. Pasalnya, rapor Iwan selalu penuh angka merah. Toh orangtuanya tak pernah marah. Sang ibu bahkan selalu berkata, tahun berikutnya nilai Iwan akan bagus. Sikap orangtuanya ini membekas bagi Iwan dan membentuk karakternya hingga kini. 

Kini tinggal Iwan dan Paul pemilik Crown International Holdings. Anthony memutuskan melepas kepemilikannya sejak tahun 2006. Meski pendiri sekaligus pemiliknya tinggal 2 orang, Crown International Holdings makin berkembang dengan nilai penjualan yang makin meningkat dari tahun ke tahun. 

Di luar kesibukannya berbisnis, Iwan menyempatkan diri melatih para mahasiswa Indonesia di Australia untuk mempunyai kepekaan bisnis. Pria 45 tahun ini mendirikan B to B (Blessed to Bless), yang memberi kesempatan para mahasiswa  Indonesia untuk terjun langsung mewujudkan bisnis impian mereka. Namun Iwan belum puas. Ia ingin melatih dan mengembangkan anak-anak muda lain, bukan hanya mereka yang sedang menuntut ilmu di Australia, untuk menjadi pengusaha-pengusaha handal. Untuk itu, Iwan sedang menyusun prinsip-prinsip yang akan diajarkannya melalui video dan audio untuk diakses siapapun dan di manapun.Sebagai rasa syukurnya, Iwan juga aktif dalam bernagai ibadah dan pelayanan di gereja SCWC, Sydney.


Kalau ingin tahu kapan tutorialnya siap diakses, follow saja Twitter Iwan @IwanSunito (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar