Jumat, 14 September 2018

LASTRI BERRY WIJAYA : KEBERANIANNYA DIAKUI DUNIA


Ketangguhannya sebagai jurnalis foto tidak diragukan lagi. Tidak hanya meliput peristiwa-peristiwa penting seperti Asian Games yang baru lalu, Adek Berry (nama topnya) sudah biasa menjelajahi daerah konflik di berbagai penjuru dunia. Ia pernah bertugas di Afganishtan dan Poso, pernah juga meliput bencana alam dahsyat di Yogyakarta dan Lombok. Keberaniannya di bidang peliputan bencana dan perang telah berbuah penghargaan dari organisasi jurnalis foto internasional yang bermarkas di Amerika Serikat The National Press Photographers Association, Life Magazine, dan Time LightBox. 

Adek Berry adalah jurnalis foto yang bekerja untuk kantor berita Perancis Agence France-Presse (AFP) biro Jakarta. Wanita cantik berpenampilan anggun ini lahir di Rejang Lebong (Bengkulu) tanggal 14 September 1971. Bungsu dari 7 bersaudara, Adek Berry memang cenderung tomboy sejak kecil. Tidak hanya lebih dekat dengan kakak-kakak cowoknya, iapun hobi memotret (kebanyakan perempuan hobi dipotret, bukan?). Hobinya yang lan, mendaki gunung. Tak heran ia memilih kuliah di Universitas Jember yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Kampusnya yang berada di daerah pegunungan membuat Adek Berry kerasan karena bisa menyalurkan hobinya naik gunung sekaligus memotret apa saja yang ditemui. Bermodal kamera Yashica hadiah salah satu kakaknya, ia mengasah kemampuannya sebagai fotografer di salah satu klub fotografi setempat, Holycon Photography Club. Tidak hanya saling berbagi ilmu, Adek Berry dan beberapa kawan sekomunitasnya bekerja sebagai fotografer lepas mulai di acara pernikahan hingga acara-acara resmi.

Nyatanya, setelah lulus, Adek Berry diterima bekerja sebagai jurnalis di salah satu media di Jakarta sebelum akhirnya pindah ke media baru, Tajuk, kali ini sesuai minatnya: sebagai jurnalis foto. Beberapa tahun bekerja di Tajuk, Adek Berry kemudian bergabung dengan AFP mulai tahun 1999 hingga kini. 

Di luar karirnya yang cemerlang sebagai jurnalis foto, Adek Berry tetaplah istri Yudiana Sabiruddin yang karyawan swasta, serta ibu dari Hafizh Rahmadhian Soleh dan Nafisah Firzana. Ia tetaplah wanita biasa yang punya rasa takut saat bertugas di daerah konflik, menangis bila teringat keluarganya saat di tengah peperangan atau bencana yang jauh dari kedua anaknya. Namun kehebatan Adek Berry adalah ia mampu mengatasi ketakutannya demi dedikasi pada profesi yang telah dipilihnya, demi menyampaikan fakta pada dunia lewat mata lensanya. Berbagai pengalamannya selama menjadi jurnalis telah dituangkannya dalam buku berjudul Mata Lensa yang terbit tahun lalu. 
(mgh/foto:istimewa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar