Rabu, 03 Oktober 2012

FARIDA OETOYO : INDONESIA DI PENTAS BALET DUNIA


Masa keemasannya sebagai balerina kelas dunia memang sudah lama lewat. Namun hingga kini Farida Oetoyo tetap berkarya untuk seni Indonesia, terutama tari. Sudah banyak koreografi ballet karyanya yang diangkat dari budaya Indonesia, seperti 'Rama dan Shinta' atau 'Gunung Agung Meletus'.  Di tahun 50-an, Fari, demikian wanita jelita ini biasa disapa, malang melintang sebagai balerina di berbagai panggung seni Eropa dan Amerika. Di era itu, ia bekerja sebagai  balerina profesional di grup tari Ballet de Lage Landen, Amsterdam (Belanda). 

Bu Fari lahir di Solo (Jawa Tengah) tanggal 7 Juli 1939 sebagai sulung dari 3 bersaudara. Ia mempunyai 2 adik laki-laki, Fajar Alam dan Satria Sejati. Ayahnya, R. Oetoyo Ramelan adalah seorang diplomat yang sempat menjabat Duta Besar di Eropa. Sedangkan sang ibu, Maria Johanna Margaretha Te Nuyl, wanita asli Belanda. Minatnya pada balet tumbuh sejak umur 9 tahun, saat diajak sang ayah menonton pagelaran balet di Singapura. Kala itu, sang ayah memang bertugas di negeri Singa tersebut. Faripun belajar balet di Fine Art of Movement, Singapura. Saat sang ayah pindah tugas ke Australia, Fari melanjutkan pelajaran baletnya pada Barbara Todd, penari balet terkemuka Negeri Kanguru masa itu. Sayang, sang ayah berpulang saat Fari baru 14 tahun. Toh, semangat Fari mengejar cita-cita sebagai balerina tak padam. Berkat bakat dan kerja kerasnya, ia berhasil mendapat beasiswa dari Akademi Balet Bolshoi di Moskwa, salah satu sekolah balet terkemuka dunia. Di sanalah ia mempertajam bakat baletnya selama 4 tahun (1961-1965). Lulus dari Moskwa, Fari menyeberang ke Amerika Serikat untuk memperdalam balet modern.

Di masanya, Fari ratusan kali tampil di panggung-panggung balet bergengsi berbagai negara. Ia pernah tampil di Albert Hall (Canberra), Teater Bolshoi (Moskwa), dan banyak lainnya. Uniknya, nyaris tak ada foto atau interior yang menunjukkan kejayaannya sebagai balerina kelas dunia di rumahnya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Satu-satunya foto balerinanya yang dipasang hanyalah di ruang kerjanya, merekam kenangan saat ia pentas di Teater Bolshoi. 

Fari menikah dengan sutradara Sjumandjaja dan dikaruniai 2 orang putra: Arya Yudistira Syuman dan Sri Aksana Syuman. Si sulung yang menderita schizophrenia mewarisi bakat sang ibu sebagai penari balet. Yudistira juga ikut mengajar di sekolah balet yang didirikan Fari, 'Sumber Cipta' di Ciputat, Jakarta Selatan. Sementara si bungsu tersohor sebagai musisi terkemuka negeri ini dan lebih dikenal dengan nama Wong Aksan atau Aksan Syuman. Berkat 'rayuan' sang suami, Fari bersedia tampil dalam beberapa film nasional. Pasangan ini bertemu dan menikah di Moskwa, saat keduanya menempuh ilmu di Negeri Beruang Merah itu. Sayang, 2 seniman legendaris ini harus berpisah setelah 10 tahun menikah. 

Kini, wanita yang tetap fasih berbahasa Jawa ini disibukkan berbagai urusan administrasi 'Sumber Cipta' dan masih mengajar balet setiap hari, mulai siang hingga malam! Di luar itu, ia sibuk mengurus rumah, hal yang amat dinikmatinya, termasuk berkebun dan menata ulang interior. Yang istimewa, Fari memasang kabel-kabel di rumahnya sendiri! Bahkan semasa masih bersama Sjumandjaja, Fari juga yang memasang kabel di rumah mereka karena Sjuman tidak ahli memasang kabel listrik! (MGH/Foto: Chendra Panatan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar