Kamis, 11 Oktober 2012

ARIE SMIT : CINTANYA HANYA UNTUK INDONESIA & SENI


Hendrikus Johanes Smit, dilahirkan dari keluarga pengusaha kaya di Belanda. Keluarganya pemilik Smit Expeditie, perusahaan ekspedisi yang didirikan pada tahun 1797.  Namun ketertarikannya pada negeri tropis dan seni  lukis begitu kuat hingga ia menolak meneruskan binis keluarganya dan memilih kuliah di Akademi Seni Rupa Rotterdam. Tak sampai lulus karena ia kemudian masuk dinas militer agar bisa berangkat ke Indonesia (kala itu masih Hindia Belanda). Dan keinginannya terkabul. Pria kelahiran Zaandam (Belanda) tanggal 15 April 1916 ini dikirim ke tanah tropis impiannya bersama 30 tentara Belanda lain dengan kapal laut (1938). Saat Jepang merebut Indonesia dari Belanda, Pak Arie termasuk yang ditawan dan dibuang ke Muangthai. Di sana, Beliau menjalani kerja paksa termauk membangun jembatan di atas sungai Kwai. Begitu dramatisnya kejadian itu, hingga pernah diabadikan dalam film berjudul The Bridge on the River Kwai. 

Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Pak Arie tidak pulang ke Belanda. Beliau memilih masuk  Warga Negara Indonesia (1950). Mulailah kehidupan Beliau sebagai seniman di Bali. Sebagai pelukis, Pak Arie hanya melukis pemandangan. Menurut Beliau, itulah alasan utama orang-orang Barat datang ke Bali. Pak Arie hidup berpindah-pindah karena selalu mencari pemandangan untuk dilukis. Beliau memang sangat mengagumi keindahan panorama Bali yang istimewa karena merupakan perpaduan pantai, pegunungan, jalan berkelok. 

Namun, lebih dari karya-karya besarnya, Pak Arie akan selalu diingat karena jasanya melatih seni lukis pada anak-anak desa Panestanan, Ubud. Tahun 1960, waktu Pak Arie pertama kali datang ke Panestanan, desa itu sangat misin dan tertinggal. Pak Arie kemudian membeli puluhan meja dan alat-alat lukis untuk anak-anak desa itu. Beliaupun membimbing mereka belajar melukis. Tanpa memungut bayaran, Pak Arie membimbing anak-anak itu melukis. Hasilnya sangat membanggakan. Ratusa anak didiknya berhasil menjadi seniman lukis terkenal dan melahirkan gaya melukis baru yang disebut aliran Young Artist. Kalau Sahabat mengenal pelukis-pelukis Bali terkemuka seperti Nyoman Cakra, Ketut Tagen, Ketut Soki, atau Nyoman Londo, mereka adalah beberapa dari bocah Panestanan yang dulu belajar melukis pada Pak Arie. Desa Panestananpun bukan lagi desa miskin, tapi sudah berkembang menjadi pusat seni lukis yang makmur di Ubud. 

Kalau di kalangan seniman lukis dunia Pak Arie Smit dikenal sebagai pencetus aliran Young Artist, masih ada lagi 'gelar' yang diberikan masyakarakat Bali pada Beliau: Arsitek Kamar Mandi. Begini ceritanya: Di awal kedatangan Pak Arie di Bali awal era, 50-an masih sangat jarang rumah yang mempunyai kamar mandi sendiri. Warga biasa mandi di sungai. Padahal Pak Arie yang selalu tinggal di rumah penduduk tidak bisa mandi di sungai. Jadilah Beliau membangun kamar mandi sendiri di setiap rumah yang dijadikannya tempat tinggal sementara. Maklum, Beliau tinggal berpindah-pindah. Selama 60 tahun di Bali, Pak Arie telah pindah tempat tinggal sedikitnya 40 kali! Sejak tinggal di Indonesia, Pak Arie hampir tak pernah bepergian ke luar negeri kecuali ke Italia dan negeri leluhurnya, Belanda. Pak Arie menjelaskan, itu karena kecintaannya pada Indonesia yang begitu besar, hingga Beliau tak ingin meninggalkan negeri ini meski sebentar, kecuali ada hal yang sangat penting. Meski sudah tak aktif melukis karena penglihatannya sudah kabur, nama besar Pak Arie tetap mantap di jajaran pelukis kelas dunia. Tak jarang pelukis dari Eropa datang ke Bali untuk mencari Beliau untuk menunjukkan katalog karya mereka. 

Kini, di usianya yang mendekati 1 abad, Pak Arie tinggal di Villa Sanggingan, Ubud, Bali. Fisiknya sudah sangat lemah dan berjalanpun harus dibantu kruk. Namun ingatannya masih sangat tajam, bahkan lebih detail daripada rata-rata orang yang jauh lebih muda. Bicaranyapun masih jelas dan runtut. Pria istimewa yang memilih untuk tidak menikah sepanjang hidupnya ini dikenal tidak menyukai keramaian dan sangat selektif memilih tamunya. Pak Arie sudah bertahun-tahun tinggal di Villa Sanggingan dan diurus salah seorang karyawan penginapan, Pak I Wayan Wita. Menyimak perjalanan hidup Pak Arie, saya tak ragu menyimpulkan, cinta memang hanya untuk Indonesia dan seni. (MGH/Foto: Bidadari Art)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar