Tampilkan postingan dengan label Kopassus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopassus. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2012

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 5 - Tamat)

Tanggal 26 April di tengah malam kami meninggalkan Sadel Selatan dan mulai mendaki. Saya menggunakan tabung zat asam 1 liter/menit, saya selalu berjalan paling depan, pelan dan sulit. Vinogradski dan Bashkirov menghemat tenaga mereka dan mengikuti di belakang bersama-sama dengan Kopassus. Di ketinggian 8300 m kami berusaha bergerak dengan kecepatan seperti pendakian tahun lalu. Saya di depan dan Apa dibelakang saya. Tapi kali ini tim berjalan sedikit lambat.

Saya mendaki terus melalui ketinggian 8600 m. Setelah 9 jam melalui salju setinggi paha, dengan susah payah saya mencapai Puncak Selatan. Di bawah saya, Apa mengamankan jalan yang terjal di ketinggian antara 8600 m sampai 8700 m sampai hampir mencapai Puncak Selatan. Jam 11.00 seluruh tim mencapai Puncak Selatan.


Kami mengadakan evaluasi. Apa menganjurkan, saya terus mendaki sampai puncak dan melihat keadaan. "Okay," kata saya. Ketika saya menanyakan tali, dia menjawab, bahwa kami tidak mempunyai tali lagi. Saya kecewa dengannya. Bagaimana mungkin di ketinggian ini saya harus mencari tali bekas yang terkubur dibawah salju, untuk kemudian disambung-sambung lagi sebagai tali pengaman untuk tim ini. Di sini salju sangat tebal membuat bahaya yang tak terlihat bisa muncul di mana saja. 


Apa mengaku, dia menggunakan tali terakhir yang panjangnya 100 m untuk mengamankan rute yang sebenarnya tidak perlu diamankan. Saya sulit mengerti dengan tindakannya. Merasa bersalah, iapun menawarkan diri untuk turun dan mengambil tali. Yang jadi masalah sekarang adalah waktu. Waktu berjalan terus, kami harus terus mendaki atau turun.


Apa merasa bersalah. Karena kelalaiannya, ekspedisi terancam gagal. Ia pun berusaha keras memperbaikinya. Ia pergi ke depan dan mengamankan rute kami dengan sisa tali terakhir yang panjangnya tak lebih dari 40 m. Tali tua, bekas tali ekspedisi-ekspedisi terdahulu.  Selama kami istirahat, saya merasakan tenaga saya terisi kembali.


Ketika Dawa memotong jalan, kami mendapat berita, bahwa di ketinggian 8500 m sudah berdiri satu kemah dan persediaan tabung zat asam untuk ekspedisi kami. Apa telah memasang tali pengaman secara bertahap sampai di ujung atas Hillary Step. Yeah! Tim dalam keadaan fit. Jam menunjukkan angka 12.30 ketika Apa melewati Hillary Step. Cuaca bersahabat. Camp Darurat beres. Bashkirov, Vinogradski dan saya memutuskan walaupun kami sangat terlambat, paling lama sekitar jam 15.00 kami akan sampai di sasaran.



Misirin berjalan maju, perlahan tanpa bantuan. Asmujiono bergerak mantap, tapi seperti orang yang sedang bermeditasi. Iwan berjalan pelan pula, namun bisa dilihat kemampuan koordinasinya berkurang meski mentalnya masih kuat. Misirin menunjukkan dari semuanya ialah yang paling mantap. Karena itu kami memberikan dia kesempatan sebagai orang yang pertama mencapai puncak. Tekad dari ketiga orang ini tidak terpatahkan. Kesempatan mencapai puncak tidak mau mereka sia-siakan.


Terpikir di otak saya, biar satu orang saja yang ke puncak, biarkan yang lainnya turun. Ah...! Nanti saja saya pikirkan, kalau kami sudah melalui Hillary Step. Tiba-tiba saya bisa merasakan Asmujiono konsentrasinya semakin berkurang, dan saya instruksikan Dr. Vinogradski untuk mengamati Asmujiono. Bashkirov dan Misirin berjalan paling depan, setelah itu Iwan dan saya, Asmujiono dan Dr. Vinogradski terakhir di belakang.


Punggungan gunung hari ini tampaknya lain dari biasanya, lebih terjal dan saljunya tebal sekali. Iwan bisa maju dengan perlahan, namun pada satu tempat badannya oleng. Untunglah di saat yang kritis itu ia berhasil diselamatkan dengan tali pengaman. Ketika saya sedang memperlihatkan padanya bagaimana cara menggunakan linggis es (ice pickels) di punggung gunung secara benar, jelas terlihat bahwa saya sedang berhadapan dengan orang yang baru 4 bulan lalu untuk pertama kali dalam hidupnya melihat salju. Sebenarnya melalui rute punggung gunung ini, dengan hanya menggunakan tali pengaman sudah cukup. Hal ini sudah saya perhitungkan sebelumnya, jadi tidak perlu menggunakan linggis es. Tapi sekarang saya terpaksa harus mengajarkan menggunakan itu ke anak muda yang sabar dan bertekad bulat ini.  Saya bertanya kembali kepada diri saya sendiri, "Apa artinya semua ini, bagi orang Indonesia?" Bahkan sebagai seorang atlet, saya tidak akan mempertaruhkan nyawa hanya sekedar untuk sampai ke puncak. Tapi serdadu ini punya prinsip luar biasa. Mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk keberhasilan ekspedisi ini.


Setelah Iwan berjuang melalui punggungan gunung, dimana pada fase ini saya harus terus mengamati, kami mendaki terus perlahan dan saya sampai di kaki Hillary Step. Disini saya bertemu sesosok jenazah (jenazah Bruce Harrods, yang hilang pada th.1996, anggota Johannesburg Sunday Times Expedition Afrika Selatan). Dia tergeletak di sana dengan tubuh terlilit tali, besi cengkram sepatu esnya pada keadaan hendak naik, dan wajahnya sudah tidak dikenal lagi. Cuaca disini memang berat, saya mengenali dia hanya dari jaket biru bulu angsa yang dipakainya. Saya dan semua di tim kami sangat menyesal tidak bisa berbuat banyak dengan jenazah ini, karena keadaan yang tidak memungkinkan, selain menaruh hormat yang sangat besar pada jenazah mendiang. Disamping tugas pokok saya sebenarnya adalah menjaga lampu kehidupan orang Indonesia yang sudah mulai berkerlap-kerlip ini, situasi yang kami hadapi juga tak kalah berbahayanya.


Saya sampai di ujung Hillary Step, selagi Iwan dan Asmujiono yang berjalan di belakang saya melewati punggung gunung. Di situ saya berdiskusi dengan Bashkirov. Kami harus memutuskan apakah hanya Misirin sendiri yang terus mendaki sampai di puncak, dan yang lainnya turun. Apa dan Dawa sudah terus mendaki didepan menuju puncak. Asmujiono sedang berusaha melewati Hillary Step, Vinogradski nampak di belakang. Dia berusaha meyakinkan Iwan untuk turun, tapi Iwan menolak. Bisa dilihat bagaimana Iwan berjuang pantang mundur, terus mendaki ke atas melalui Hillary Step. Tidak satupun dari orang Indonesia ini bersedia untuk menyerah.


Saya merasa khawatir dengan cadangan tenaga mereka, karena mereka juga akan membutuhkannya untuk turun nanti. Walaupun puncak tinggal kurang lebih 100 m, demi keselamatan, saya berkata pada Iwan dan Asmujiono dan menasihati mereka untuk berbalik  dan turun. Sekali lagi mereka menolak mentah-mentah!


Karena itu kami semua terus naik menuju puncak. Saya menyusul ke depan sampai 30 m dari puncak. Di sana saya menemui Apa dan Darwa dan membicarakan soal keadaan Iwan dan Asmujiono yang sudah berjalan seperti robot, tapi tetap dalam keadaan konsentrasi penuh ke arah puncak. Saya ingin mereka turun, selagi mereka masih kuat dan sanggup. Mungkin sekali kami nanti menggunakan Camp di ketinggian 8500 m. Saya ingin secepat mungkin turun dari puncak, karena sekarang sudah pukul 15.00 jadi sudah sangat kemalaman. Cuaca masih stabil, tapi sudah mulai kelihatan awan putih halus mengambang di sisi selatan. Karena saya lihat pendaki Indonesia beristirahat semenit untuk setiap langkah yang mereka ayun, saya pun jadi berpikir, pasti mereka masih memerlukan waktu setengah jam sampai puncak.


Ketika saya sampai di puncak yang disusul Misirin dan Bashkirov dengan jarak 30 m dibelakang saya, saya melihat Misirin jatuh diatas salju. Tiba-tiba muncul Asmujiono dan melewati Misirin yang masih tergeletak diatas salju. Dengan pandangan matanya yang selalu tertancap ke puncak Everest, dia berlari kecil seperti di bawah sadar dan gaya 'slow motion' menuju tiang berkaki tiga yang penuh dengan bendera yang merupakan tanda puncak Everest, dan dia langsung memeluknya. Dia menyingkirkan semua apa yang ada kepalanya, dan langsung memakai Baret Merah di kepalanya, dia terus mengambil bendera dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di puncak Everest. Rasa takjub luar biasa mendera saya, kejadian seperti yang barusan saya lihat ini sungguh tidak pernah saya alami.


Karena tekad, usaha laki-laki ini membuahkan kebanggaan untuk bangsanya. 


Cukup sekarang! Sekarang juga semua turun! Saya cek kondisi saya. I feel good dan masih ada tenaga simpanan. Bashkirov dan Vinogradski juga masih kuat dan otak mereka masih berfungsi normal. Kami masih bisa berpikir untuk mengontrol ini semua, sedang orang Indonesia lebih banyak bergerak secara otomatis sesuai dengan yang akhir-akhir ini sering mereka lakukan. Sebuah situasi yang dalam hal-hal tertentu bisa membahayakan mereka.


Saya mengambil foto Asmujiono di Puncak Everest. Sekarang sudah jam 15.30 sudah sangat terlambat. Bashkirov sampai di puncak. Apa yang kembali lagi ke puncak, langsung saya perintahkan untuk membangun tenda di Camp 5. Kami tinggal di puncak tidak lebih dari 10 menit. Vinogradski hanya beberapa meter dari tripod penanda puncak, ketika saya memerintahkan semuanya untuk turun. Vinogradski balik dan pergi mencari Iwan, yang berada 80 m dari puncak. Saya menghampiri Misirin yang berada 30 m dari puncak, tergeletak di atas salju, lalu saya berjongkok di sampingnya dan berkata padanya bahwa kita telah sampai di puncak. Saya keheranan, ketika tiba-tiba dia berdiri dan berjalan untuk turun. Seratus meter di bawah puncak waktu turun, kami bertemu dengan Vinogradski dan Iwan. Memang berat hati saya memerintahkan laki-laki ini yang tinggal beberapa meter dari puncak untuk segera turun, tapi saya tetap keras demi keselamatan diri mereka sendiri, karena setiap menit sangat berharga. Kalau kami tidak berhasil turun di bawah sinar matahari, rencana yang telah disusun akan berantakan.


Kami sampai di Puncak Selatan pada jam 17.00, setelah bersusah payah memanfaatkan tali-tali bekas dan tua menyelusuri jalan turun, yang telah di pasang Apa yang dengan cara diputus-putus untuk melewati punggungan gunung. Saya turun yang paling akhir, Dawa sudah menunggu di Puncak Selatan. Ketika turun dari Puncak Selatan, Misirin terjatuh berkali-kali tapi dia berdiri kembali dan terus turun. Iwan, yang memakai tabung zat asam dari Vinogradski, tiba-tiba terlepas dari tali penyelamatnya dan merosot ke bawah. Kalau Vinogradski tidak buru-buru memegang dia dan mengikatkannya kembali di tali pengaman, jurang menganga dengan kedalaman ratusan meter akan menelannya. Asmujiono yang bergerak lincah turun bersama para sherpa. Saya memimpin grup ini dan berjalan di depan dengan menyalakan lampu kepala yang saya arahkan ke rute kami.


Jam 19.30 semua Kopassus dan saya sampai di Camp 5. Bashkirov dan Vinogradski sampai satu jam lebih lambat. Sekarang hanya Kopassus yang memakai tabung zat asam. Saya melepaskan besi cengkram sepatu mereka agar mereka bisa masuk dan tidak merusak kemah. Tenda yang lebih mirip seperti bivak karena tiangnya kami pendekkan. Di sini kami mempunyai peralatan masak dan dua tabung zat asam berisi penuh. Camp darurat seperti ini tentu tidak begitu nyaman, tapi cukup untuk melindungi kami berenam dari temperatur yang sangat dingin di luar. Untungnya sekarang angin sedang tak berhembus. Di malam ini Everest kelihatannya sangat bersahabat pada kami. Saya mengizinkan Apa dan Dawa pergi turun. Besok saya akan berkomunikasi ke bawah.


Sekarang mulai apa yang disebut secara diplomatis oleh Bashkirov sebagai "drama di malam hari". Vinogradski sepanjang malam selalu memasak air, dan selama itu juga saya dan Bashkirov bergantian menggilir zat asam untuk orang indonesia yang sudah kelelahan ini. Sepanjang malam kami bergantian menggilir zat asam untuk mereka, karena kami harus berhemat supaya cukup untuk malam ini. Kalau seorang dari mereka agak kelamaan menunggu pembagiannya, maka mulailah dia menjerit-jerit dan berdoa. Kami bertiga bekerja sekuat tenaga hampir tanpa berkata sepatah kata pun malam itu.


Mentari pagi terbit, tanpa angin, dengan awan yang berwarna-warni indah sekali. Ketika kami keluar dari kemah, tampaklah panorama dari Lhotse, Makalu dan Kanchenjunga dari arah timur dan selatan, sedangkan puncak Everest sedang mencair oleh silaunya matahari pagi. Sekarang yang harus kami lakukan hanya turun. Suatu pendakian ke puncak sebuah gunung dikatakan benar-benar berhasil jika semua selamat sampai ke basecamp.


Kami memasak air untuk terakhir kali, dan semua mendapat bagian minum air panas. Mental dari Kopassus telah pulih kembali, mereka selamat dari bahaya beku. Zat asam telah habis, tapi lantaran aklimatisasi yang sukses dan semalam mereka tidur memakai tabung zat asam, sekarang nampaklah hasil positifnya. Ketiga serdadu itu bergerak pelan, tapi biarlah, pokoknya mereka bergerak. Saya berharap Apa dan sherpa lainnya yang berada di Sadel Selatan akan menyongsong dan menyambut kami. Pagi ini dunia menunjukkan sinarnya yang indah sekali ketika kami mulai turun.


Sekarang keadaan sudah stabil, saya ingin sekali menyelesaikan urusan pribadi yang masih tetap saja membebani hati saya. Di ketinggian 8400 m saya melihat-lihat, kalau-kalau saya bertemu jenazah Scott Fischer, walau kemarin saya sudah mencoba mencarinya dengan sia-sia. Sekarang saya melihat dia. Saya tidak menemuinya kemarin, mungkin karena hari sudah gelap, padahal dia tergeletak kira-kira hanya 30 m dari posisi kami. Saya harap 'misi' saya untuk Jeanie (Istri Scott) terpenuhi. Bendera yang penuh tulisan dari istri Scot dan teman-temannya, saya letakkan disana. Walaupun sebenarnya saya ingin membalutnya dengan bendera itu, tapi karena waktu yang mendesak dan juga tanggung jawab saya pada ekspedisi ini, maka saya hanya melakukan janji saya yang terpenting dan sangat menyedihkan ini saja. Dengan dibantu oleh Vinogradski, saya menguburkan Scott, yang hampir seluruh tubuhnya sudah tertutup salju. Kami menimbun Scot dengan salju dan batu-batu, dan diatasnya saya tandai dengan gagang linggis yang kami temui disekitar tempat itu. Vinogradski dan saya sampai di Sadel Selatan tengah hari.


Misirin, Iwan dan Asmujiono duduk di balkon (batu besar datar) sedang menghirup tabung zat asamnya. Disini, di Sadel Selatan mereka bisa bernafas lega. Mereka telah berhasil. Kami minum teh dan bersiap untuk tidur. 


Esok paginya, saya melewati Sadel menuju ke ujung tidak jauh dari tepi Kangshung, tempat terjadinya tragedi di malam yang kejam setahun lalu. Di sanalah saya meninggalkan Yasuko Namba. Hari ini saya menemukan tubuhnya, sebagian tertutup salju dan es. Ranselnya sudah tidak ada, isinya berserakan di sekitarmya. Saya mengambil beberapa barangnya, yang nanti akan saya serahkan pada keluarganya. Setelah itu saya mengubur tubuh mungilnya dengan batu-batuan, dan saya tandai dengan dua kapak es yang saya temui di sana. Dengan kesedihan mendalam karena kehilangan teman, hanya itulah yang bisa saya lakukan untuk keluarga Yasuko dan Scott. Sempat terlintas dalam benak saya, bagaimana Iwan, Misirin dan Asmujiono yang menatap maut di depan mata mereka dengan gagah berani. Juga terpikir oleh saya, kesedihan dan rasa sakit keluarga-keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai di sini. Tapi saya tahu, keberhasilan mencapai puncak Everest akan terus menjadi pemikat bahkan bagi mereka yang tak punya pengalaman mendaki gunung ini.


Misirin, Iwan, Asmujiono, Apa, Dawa, Bashkirov, Vinogradski dan saya turun gunung dan bergembira dengan keberhasilan kami. Banyak hal yang kecil terjadi menghiasi keberhasilan kami. Nasib baik jelas berpihak pada kami. Ekspedisi Indonesia telah selesai, tanpa meninggalkan kesedihan di hati saya.






Jalur di Khumbu Icefall




Memanjat jurang es (ice break) sesaat sebelum Camp I



Camp I



Camp II



Menuju Camp III




Camp III: Salju yang menutupi tenda




Iwan Setiawan di South Summit (8500 m) sedang menyaksikan Misirin & Asmujiono di Hillary Step (8700m)



Dan inilah yg ditunggu-tunggu "sang ASMUJIONO at the top of the world with his red berret..!!"



Asmujiono di puncak Everest






Camp 5 - Sehari setelah muncak
belakang: Asmujiono, Misirin, Iwan Setiawan
depan: Boukreev, Vinogradski, Bashkirov



HIDUPLAH.. INDONESIA RAYA..........!!!!!
(Jess)


Catatan penutup dari Megatruh:
- Anatoli Boukreev, Evgeny Vinogradsky, dan Vladimir Bashkirov adalah para pendaki gunung profesional yang dikenal sebagai legenda di dunia pecinta alam. Ketiganya dikenal sebagai instruktur panjat tebing terbaik di dunia pada masa itu. Dari ketiganya, Boukreev yang paling berpengalaman mendaki Everest.
- Boukreev, sarjana fisika lulusan Universitas Chelyabinsk, Uni Sovyet. Ia masuk warga negara Kazakhstan setelah Uni Sovyet pecah. Boukreev meninggal akibat longsoran salju dalam pendakian di Annapura I, 25 Desember 1997. 
- Vladimir Bashkirov meninggal hanya sebulan setelah Ekspedisi Mount Everest Kopassus ini berakhir. Bashkirov tutup usia saat berusaha membuka jalur baru menuju puncak Everest melalui Lhotse tengah. Belau meninggal tepat tanggal 21 Mei 1997.
- Kesuksesan Ekspedisi Mount Everest Kopassus 1997 ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang anggota militernya berhasil menapakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia, gunung Everest! Prestasi yang banyak mendapat perhatian media internasional pada masa itu dan mengharumkan nama Indonesia pastinya!(MGH)

Minggu, 02 Desember 2012

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 4)

Tim Jalur Selatan (Elmo)

Saya merencanakan untuk beraklimatisasi dengan menginap semalam di sadel selatan (7900 m) untuk kemudian terus mendaki sampai ketinggian 8200 m. Rencana selanjutnya ialah membuka camp darurat di ketinggian 8500 m untuk berjaga-jaga saat turun nanti, andai kata terjadi perubahan cuaca selain karena gerakan turun yang melambat sehingga badai es kemungkinan besar tak bisa dihindari. Karena sherpa berontak dan menolak mengerjakan melaksanakan pekerjaan tersebut, rencana saya ini batal.

Sebagai kompromi saya membantu Apa memasang tali tetap dari Camp 3 ke Yellow Band (Gelbend Band, lereng yang berwarna kuning) pada ketinggian  7500 m. Tanggal 8 April kami mendaki dengan 8 pendaki sampai di lereng kuning, dan turun kembali ke Camp 3. Kami bermalam disini dan 9 April kami turun sampai ke basecamp.

Sekaranglah terlihat perbedaan kondisi dan kemampuan dari setiap pendaki, dengan adanya  ketinggian dan beratnya medan menyeleksi mereka secara alami. Pada tahap ini, para pendaki sipil nampak kurang termotivasi dan mulai kehilangan konsentrasi. Sebaliknya, dengan segala kekurangan pengalaman mereka, para Kopassus nampak kian termotivasi, khususnya tiga orang di antara mereka yang nantinya akan menjadi para pendaki puncak. 


Mereka bergerak dengan enteng dan tahan dengan ketinggian tanpa masalah. Ambisi mereka untuk sampai ke puncak tidak pernah padam. Di waktu kami turun, saya melihat  kemampuan yang mengendor dari para pendaki, kecuali 3 orang Kopassus itu. Mereka turun gunung dari Camp 3 sampai ke basecamp tanpa kesulitan. Ketiga orang ini adalah; Sersan Misirin (31 th), Prajurit Asmujiono (25 th), dan Letnan Iwan Setiawan (29 th).

Untuk summit attack nanti, saya akan membentuk 3 grup: grup saya, Bashkirov, dan Vinogradski. Setiap grup beranggotakan 1 orang pendaki kopassus dan 1 Sherpa. Sementara sherpa lain yang kuat dan sehat harus mendukung  penyerbuan ini juga.

Pada tanggal 9 April kami kembali ke basecamp. Saya yakin beristirahat di daerah yang rendah sebelum summit attack akan sangat berguna. Karena itu saya memutuskan tim untuk beristirahat di perkampungan hutan Deboche (3770 m) selama seminggu. Tidak ada yang lebih baik untuk tubuh dan jiwa manusia selain beristirahat di hutan yang lebat hijau dan kaya akan zat asam. Disini kami bisa menghindar dari hiruk-pikuk basecamp, sebab setelah 3 minggu latihan berat di atas es dan daerah yang menjemukan, maka tubuh dan jiwa tentu menjerit minta diistirahatkan.

Pada perwira penghubung militer kami, Kapten Rochadi, saya menekankan tentang logistik yang harus tersedia di Camp 5, yaitu: dua tenda, sepuluh botol zat asam, kantong tidur,  dan alas tidur. Saya harap selama 7 hari ini Apa dan sherpanya bisa membawa itu semua.

Pada tanggal 21 April tim kembali ke basecamp, tempat kami melakukan seremoni dan berdoa. Mirip para sherpa yang setiap pagi memberi kurban untuk gunung, orang-orang Indonesia selalu mengingat Tuhan (maksudnya shalat - MGH). Saya sangat respek pada kepercayaan mereka.

Wajah-wajah pendaki dan seluruh anggota tim nampak serius khusyuk selama acara seremoni. Di sisa hari ini, para anggota menyiapkan diri untuk pendakian. Selama menunggu hari pendakian mereka semua terlihat tegang. Dalam ketenangan saat bermeditasi, timbul kegembiraan dalam diri saya akan datangnya saat pendakian.

Saya tahu bahwa Camp 5 belum lagi berdiri. Apa meyakinkan saya, Camp itu akan selesai pada hari pendakian ke puncak. Saya juga mohon pertolongan pada sebuah tim Rusia yang kebetulan ada di Camp 3, andai sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada tim kami. Selain itu di Camp 2 juga ada sherpa dari tim lainnya yang akan menolong kami. Bashkirov, Vinogradski, Apa dan saya memlengkapi diri dengan alat komunikasi saat pendakian puncak. Satu atau dua dari kami akan selalu menemani para pendaki Indonesia. Di Sadel Selatan dua sherpa siaga dengan alat komunikasi. Kami juga terhubung dengan tim Rusia di Camp 3, dengan anggota tim kami di Camp 2 di basecamp.

Kabar cuaca dari Kathmandu menggembirakan. Gangguan cuaca baru saja berlalu, dan 5 hari ke depan tampaknya akan aman-aman saja. Tapi di gunung, kata 'aman' adalah relatif. Terlebih pada ketinggian di atas 8000 m. Dengan cuaca bagus pun, jangan disangka tidak ada tantangan.

Pada tanggal 22 April tengah malam 3 orang Rusia dan 6 orang Indonesia meninggalkan basecamp, berjalan di bawah cahaya bulan untuk melakukan pendakian ke puncak Everest. Kami mendaki cepat sampai di Camp 2. Tim pendaki Indonesia juga cepat. Hanya butuh waktu 6 jam sampai di Camp 2 bagi kami tanpa problem.

Tanggal 23 April kami beristirahat di Camp 2.

Tanggal 24 April sebagian dari pendaki dan sherpa tinggal di Camp 2. Bashkirov, Vinogradski dan saya bersama Misirin, Asmujiono dan Iwan mendaki ke Camp 3. Tim kami kelihatan dapat tegar dan stabil, kami juga kadang-kadang bercanda.

Pada tanggal 24 April ini, angin kencang di Sadel Selatan, tapi dari Kathmandu melalui Kapten Rochadi diperoleh kabar bahwa angin kencang itu tak terlalu serius. Diperkirakan dalam 2 hari angin kencang itu akan reda.

Saya menetapkan semua anggota tim pendaki tetap di Camp 3, dan sherpa semua turun ke Camp 2 untuk mencari Apa yang telah berjanji untuk membereskan Camp Darurat, walau sampai sekarang belum beres juga.

Pada tanggal 24 April ini kami beristirahat, dan tanggal 25 April tim kami mencapai Sadel Selatan antara jam 15.00 dan jam 17.00. Pendaki Indonesia telah melalui rute ini tanpa ekstra tabung zat asam dan tanpa problem. Keadaan mereka sangat bagus, kerja sama mereka berfungsi, dan bermotivasi tinggi.


Rute terakhir menuju puncak, setiap pendaki Indonesia harus membawa 2 tabung zat asam, dengan takaran penggunaan tiap dua menit. Sherpa yang juga menggunakan tabung zat asam, harus membawa extra 3 tabung zat asam untuk setiap orang tim pendaki.


Karena kami ekspedisi pertama tahun ini, kami sadar akan membutuhkan banyak tenaga untuk melewati rute ini. Lama tak dilewati orang, salju sampai setinggi paha, dan di ketinggian 8100 sampai 8600 m salju masih saja setinggi dengkul. Dan juga Kami pun harus memasang tali pengaman sendiri.

Untuk pendakian kali ini saya menggunakan tabung zat asam, sebab setelah mengalami kecelakaan bis, saya tidak mengetahui daya tahan badan saya. Jadi untuk menjaga keselamatan saya dan keselamatan orang yang saya jaga, saya harus menggunakan tabung zat asam.

Banyak perubahan kondisi di rute yang akan kami lalui, ketika kami sampai di Sadel Selatan. Seluruh rute yang akan kami lalui, masih penuh dengan salju yang tingginya setengah meter sampai satu meter, sementara sherpa yang masih fit hanya 8 orang. Camp Darurat masih harus dibangun. Saya tidak bisa memaksa sherpa yang dengan beban berat di punggung, untuk cepat mendaki ke atas dan membangun Camp Darurat itu. Kalau saya tetap menuntut mereka melakukan itu, dengan iklim diatas seperti ini, berarti saya adalah orang yang sangat brutal.

Jadi kami punya 8 sherpa, tapi hanya Apa dan Dawa yang akan ikut naik sampai ke puncak, sementara para sherpa yang lainnya nanti harus membawa logistik ke Camp Darurat (8500 m). Apa kembali berjanji dengan saya, "Semua beres, jangan khawatir".

Bashkirov, Vinogradski dan saya mengetahui bahwa tabung zat asam hanya tersedia dalam jumlah pas-pasan, yang berarti nanti dalam keadaan darurat, kami harus mendaki atau turun tanpa tabung zat asam. 
Satu tabung zat asam cukup untuk 6 jam dengan setelan 2 L /menit, meski kondisi penyetelan tersebut sangat jarang. Jika disetel 1liter / menit, maka persediaan akan menjadi dua kali lipat. Peralatan yang akan diangkut keatas juga banyak, di depan kami menunggu kerja yang sangat berat.


Nyambung besok.....


Sabtu, 01 Desember 2012

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 3)

Vladimir Bashkirov dan prasasti untuk mengenang Beliau 
(Russian Climb)

Kembali di Kathmandu, Bashkirov dan Vinogradski membuat daftar untuk Kolonel Edi yang memuat nama 16 orang peserta pelatihan yang berhasil berikut kecepatan, kemampuan aklimatisasi, kesehatan dan motivasi mereka. Pendaki dari Kopassus, walaupun mereka tidak berpengalaman, tapi sangat berambisi dan disiplin serta lebih termotivasi dalam situasi sulit. Dalam penyaringan terakhir tinggal 10 Kopasus dan 6 sipil. Kami mengusulkan satu rute pendakian saja, yaitu lewat jalur selatan, namun ditolak. Indonesia telah mendapatkan Richard Pavlowski untuk memimpin satu tim Indonesia lagi yang akan mendaki dari sisi utara.

Dan akhirnya kami memutuskan 10 orang pendaki ke basecamp di sisi selatan, dan 6 orang pendaki bersama Richard akan pergi ke Tibet. Setelah Island Peak, kami beristirahat selama 26 hari. Kami harus menjadi tim pertama di musim ini yang mendaki dan melalui jeram es Khumbu.

Helikopter Rusia membawa kami pada tanggal 12 Maret dari kota Kathmandu yang terpolusi parah ke Lukla (2850 m). 10 pendaki, 3 pelatih Rusia dan 16 sherpa ikut didalam helikopter. Kami ingin ke basecamp dan terus ke puncak Everest. Satu cita-cita yang sangat ambisius. Lukla adalah salah satu daerah yang membuat saya selalu merasa bebas dan merdeka. 

Saya mencintai gunung. Di sinilah rumah saya. Orang hanya bisa mengerti perasaan saya, kalau sudah pernah terbang di pagi hari dengan helikopter di atas pegunungan ini, dan turun di sana, di sebuah tempat yang sunyi dan damai di tengah pegunungan yang tak ada duanya di dunia. Pegunungan yang puncak-puncaknya sangat megah menantang dengan punggungan berbentuk tulang tengkorak tajam berselimut udara yang bersih bagai kristal.
Dari "kemuliaan dan keluhuran" ini, saya merasakan betapa rapuh dan kecilnya diri saya dibandingkan dengan apa yang saya alami disini".


Seperti yang selalu saya rasakan, saya akhirnya menginjak tanah tempat untuk apa saya dilahirkan. Tahun ini ada 17 tim ekspedisi lain di basecamp. Saya berusaha memisahkan tim kami dari tim-tim lainnya, untuk menghindari hal-hal yang tidak saya inginkan. Setelah itu kami berdiskusi tentang sherpa mana saja yang akan memasang tali tetap dan tangga untuk melintasi Breaking Ice (Eisbruch) yang pada akhirnya nanti juga akan digunakan oleh tim-tim lain. Biasanya pekerjaan ini akan dilakukan oleh sherpa dari satu ekspedisi atau bersama-sama dari beberapa ekspedisi. 

Banyak tim yang akan melaluinya, sehingga timbul pemikiran untuk mengutip semacam royalti dari tim-tim yang sherpanya tak ikut memasang tali tetap. Di tahun ini pula telah terbentuk perkumpulan "Pangboche Sherpa Cooperative" yang memperjuangkan sistem pembayaran royalti tali tetap itu, dengan jumlah yang lumayan besar bagi mereka antara 10 sampai 20 ribu dollar. Sherpa dari tim Henry Todd dan Mal Duff mampu mengerjakan tali pengamanan dan tangga dengan cepat, merekalah yang nantinya akan kami gunakan.

Mulai dari sekarang, seluruh rute ke puncak sudah diamankan. Dan seluruh ekspedisi akan menggunakan rute ini dengan membayar ke perkumpulan "Pangboche CooperativSherpa Cooperative". Akan datang suatu waktu dimana orang Nepal 100% berkuasa memasarkan gunung ini, seperti orang Amerika dengan McKinley. Tentu saja akan datang protes dari pihak-pihak tertentu yang sekarang hanya mau membayar sherpa yang dengan sangat murah dan dibawah tarif.

Tim kami sampai di basecamp tanggal 19 Maret. Pelatihan telah membuat kami tak perlu lagi beraklimatisasi di ketinggian ini. Di depan kami terbentang Breaking Ice (Eisbruch).  Aspek psikologi sangat penting dalam pendakian Everest, karena balok-balok es di Breaking Ice yang seperti raksasa, menjulang tinggi dengan jurang gletser yang menganga pecah berantakan tak beraturan dengan bentuk dan posisi selalu berubah setiap saat karena gerakan dari gletser.

Keberanian kami pun akan di uji, setiap langkah membutuhkan perhitungan, jika tidak mau terperosok masuk jurang es menuju Nirwana. Berjam-jam kami memanjat dan melintasi jurang es yang kedalamannya tak diketahui dengan menggunakan tangga yang di ikat-ikat dan disambung-sambung, terus mendaki melalui balok es bergerak setinggi rumah bertingkat.

Tanggal 22 Maret kami mendaki dengan seluruh anggota tim ke Camp 1 untuk aklimatisasi. Semua anggota menunjukan kondisi menggembirakan, hanya sedikit terlihat ketidakbiasaan, tapi dalam pendakian kedua kalinya mereka telah menunjukkan rutinitas dan kian lincah. Setelah selesai, datang berikutnya, naik lagi, istirahat, beraklimatisasi.

Setelah 2 hari istirahat di basecamp, pada tanggal 26 Maret kami naik lagi ke Camp 1 (6000 m) dan bermalam disana, dan pada tanggal 27 Maret langsung naik ke Camp 2 (6500 m). Disitu kami bermalam 2 malam dan mendaki sampai ketinggian 6800 m. Pada tanggal 29 Maret kami turun lagi ke basecamp untuk istirahat selama 3 hari. Semua anggota tim dan staf sehat wal'afiat.

Aklimatisasi kami yang ke 3, dimulai tanggal 1 April. Kami mendaki langsung dalam waktu 8 jam ke Camp 2, dan bermalam disana selama2 malam. Tanggal 4 April kami mendaki sampai ke ketinggian 7000 m, dan kembali lagi ke Camp 2 dimana kami beristirahat keesokan harinya.

Tanggal 6 April kami menerjang langsung sampai ke Camp 3 (7300 m).  Sebelumnya sherpa kami telah memasang tali pengaman menuju ke Camp 3.

Tanggal 7 April kami beristirahat di Camp 3.

Belakangan terasa ada problem dalam struktur organisasi kami. Sherpa tidak berada dibawah komando saya. Tugas mereka hanya menolong di pekerjaan tertentu seperti memasang tali, membangun camp dan transport logistik. Pekerjaan yang harus dikerjakan sebenarnya banyak, karena kami yang pertama di rute ini, tanpa ada pertolongan dari sherpa lantaran secara struktural mereka harus tinggal di belakang seusai melakukan tugasnya.

Pertolongan sherpa tidak bisa mengimbangi tim pendaki yang selalu bergerak menuju ke tempat yang lebih tinggi. Apa (pemimpin sherpa) juga sedih melihat orang-orangnya yang tidak cukup terampil karena kurang kemampuan dan pengalaman, yang akan berakibat pada tersendatnya pendakian ini....


Lanjut besok ya....

Jumat, 30 November 2012

ASMUJIONO : 'KORBANKAN' MATA DEMI TAKLUKKAN EVEREST


Dari 3 anggota Kopassus yang berhasil menaklukkan Everest (1997), Prajurit Satu (Pratu) Asmujiono, Sersan Misirin, dan Lettu Iwan Setiawan,  Pratu Asmujionolah yang pertama menjejakkan kaki dan menancapkan Sang Dwi Warna di puncak tertinggi dunia. Ketangguhannya telah teruji hasil tempaan kehidupan sejak ia masih kecil.

Dilahirkan dalam keluarga petani, pria kelahiran Malang (Jawa Timur), 1 September 1971 ini telah kehilangan kedua orang tuanya saat masih kecil hingga terpaksa hidup berpindah-pindah orang tua angkat. Saat SD, kekurangan biaya dan tempat tinggal yang berjarak 4 km dari sekolahnya tak menyurutkan semangat Beliau untuk terus belajar. Setiap Subuh Asmujiono kecil bangun dan berjalan kaki menuju sekolahnya yang berjarak 4 km dari tempat tinggalnya. Dalam tasnya, selain alat tulis dan buku juga dibawa seragam dan alat mandi. Setiba di tujuan, barulah Beliau mandi di kamar mandi sekolah. Ini dilakukan setiap hari hingga lulus SMP. Apalagi, saat SMP jarak Sekolah Beliau lebih jauh lagi: 7 km dari tempat tinggalnya! Padahal sepulang sekolah, Beliau masih bekerja di kebun membantu orang tua angkatnya. Ketiadaan biaya pula yang memaksa Pak Asmujiono berhenti sekolah selama setahun saat duduk di kelas V SD. 

Tempaan itu membentuk Pak Asmujiono menjadi pribadi yang kuat sekaligus berkemampuan fisik tangguh. Terbukti, Beliau berhasil menjadi juara numum lomba maraton se-Jawa Timur yang diadakan dalam rangka hari jadi kota Malang. Tidak tanggung-tanggung, Beliau mengalahkan para pelari dari kota-kota lain termasuk Surabaya dan Jakarta. Sejak kecil, anak ke-5 dari 6 bersaudara ini bercita-cita menjadi orang terkenal. Saat duduk di bangku SMA Diponegoro Malang, Beliau mantap bercita-cita menjadi tentara. Sayang, karena kurang informasi, terpaksalah harus menunggu 1 tahun untuk mendaftar sebagai anggota militer. Selama itu, Beliau bekerja sebagai pedagang buah. 2 tahun setelah lulus SMA, barulah Beliau bisa mendaftar ke Kopassus dan diterima! Sempat bertugas di Timor Timur (kini Timor Leste) selama 10 bulan, Pak Asmujiono kemudian lolos seleksi Ekspedisi Mount Everest (1997). Tak tanggung-tanggung, Pak Asmujiono menempati peringkat teratas diantara para peserta seleksi ekspedisi itu. 

Semangat pantang menyerah, mental yang kuat, dan fisik yang prima menjadi kunci keberhasilannya menaklukkan Everest. Saking gembiranya waktu mencapai puncak Everest, Pak Asmujiono melepas kaca mata, selang oksigen, dan semua penutup wajahnya waktu itu. Padahal ini telah dilarang pelatih Ekspedisi Mount Everest, Anatoli Boukreev. Ditambah selama pendakian ke puncak Everest, Pak Asmujiono yang waktu itu berusia 25 tahun tidak makan dan minum saking semangatnya. Dampaknya, sepulang dari Everest, kesehatan mata dan fisik Pak Asmujiono terganggu. Bahkan akibat melepas kaca mata ketika di puncak Everest, kornea mata Beliau rusak dan harus diganti kornea palsu hingga kini. Kemunduran fisik ini pula yang membuat Beliau keluar dari Kopassus.(MGH/Foto: Metalanet)

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 2)

Evgeny Vinogradsky, pelatih ekspedisi 
 (alpine club russia)

Program pelatihan dimulai tanggal 15 Desember di Nepal. 34 pendaki yang terdiri dari orang-orang sipil dengan sejumlah pengalaman mendaki gunung, dan para tentara yang tidak berpengalaman di gunung tapi sangat fit dan disiplin, adalah anggota tim permulaan. Dari 34 orang ini akan disaring dan diambil yang paling mampu. Kriteria penyaringan dilihat dari kesehatan, stamina, kemampuan, dan mental. Pada fase ini para calon pendaki belajar teknik tali temali dan penggunaan tangga, juga teknik dasar pemanjatan.

Komunikasi adalah problem kami yang terbesar, saya mengetahuinya setelah semua terlambat. Bukan hanya perbedaan bahasa yang membuat frustasi, tapi juga tidak lengkapnya alat komunikasi. Selayaknya setiap anggota tim harus dilengkapi dengan alat komunikasi. Saya mengusulkan agar dari basecamp selalu ada kontak langsung dengan koordinator ekspedisi di Kathmandu. Selain itu saya menuntut untuk mendapatkan setiap hari laporan cuaca dari stasiun meteorologi di Bandara Kathmandu. Sisi baiknya, lantaran tim ini merupakan tim militer, maka pihak militer Nepal pun ikut memberikan bantuan.


Perwira ekspedisi kami, Monty Sorongan yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris paling baik berperan sebagai kontak kami dengan Kathmandu. Untuk menghindari kesalah pahaman, kami menggunakan Bahasa Inggris dalam ekspedisi ini.


Untuk ekspedisi ini saya berhasil mendapatkan 2 orang alpinis terkenal dari Rusia untuk bekerja sama dengan kami: Vladimir Bashkirov dan Dr. Evgeny Vinogradsky. Bashkirov 45 tahun, berpengalaman selama 15 tahun mengkoordinir ekspedisi di daerah yang sulit, dan mengenal rute Pamir dan Kaukasus, dan berhasil mendaki 6 gunung diatas 8000 m, dua antaranya Mt.Everest. Suatu keuntungan dia mau berkerja sama dengan kami. Tak seperti saya, dia pendiam namun diplomatis sekaligus supel dan yang pasti fasih berbahasa Inggris. Di Rusia dia terkenal sebagai juru kamera petualangan dan produser film. Dialah yang akan membuat film ekspedisi ini. 


Dr. Evgeny Vinogradsky 50 tahun, 7 kali juara panjat tebing Rusia dan 25 tahun berpengalaman sebagai pelatih pendaki gunung sekaligus dokter olah raga. Evgeny teman baik saya. Bersamanya kami mendaki Kanchenjunga pada 1989. Bagi saya dia adalah "Garuda Tua", yang telah mendaki lebih dari 20 gunung berketinggian 7000 m, dan 8 gunung berkentinggian lebih dari 8000 m, termasuk 2 pendakian Everest, salah satunya sebagai pimpinan ekspedisi.


Ang Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu bertugas mengurusi logistik dan mencari sherpa untuk ekspedisi. Kami bersyukur, karena mendapatkan Sherpa Apa von Thami 37th, 7x menaklukkan Everest sebagai sirdar (pemimpin Sherpa) dan First Climber  Sherpa (Sherpa yang ikut ke puncak) untuk bekerja dengan kami. Sherpa berada dibawah komando Ang Tshering dan staf dari Indonesia. Pekerjaan mereka seperti biasa di basecamp. Selain itu mereka harus memasang fix rope (tali tetap) pada rute di atas Breaking Ice (Eisbruch), menyiapkan logistik di high camp dan di hari summit attack ikut mengiringi sebagai pembawa tabung zat asam bagi yang mendaki sampai ke puncak.


Pada tanggal 6 Desember saya terbang dari Jakarta ke Amerika untuk check-up wajah dan muka sebagai akibat dari kecelakaan bis yang saya alami di bulan Oktober. Bashkirov dan Vinogradsky memimpin pelatihan di Paldor Peak, Ganesh Himal, yang dimulai pada tanggal 15 Desember. 34 orang pendaki, dimana separuh dari mereka tidak mempunyai pengalaman High Alpin, berusaha mencapai puncak Paldor (5900m). 17 orang berhasil sampai ke puncak. Mereka bertahan 21 hari dan perlahan beraklimatisasi dengan cuaca musim dingin.


Di bulan Januari dan Februari 34 pendaki melakukan pelatihan yang kedua di Island Peak (6189m). 16 pendaki yang berhasil adalah pendaki yang telah berhasil juga di Paldor sebelumnya. Mereka berada disana selama 20 hari dibawah tempratur minus 40 derajat Celcius dan topan musim dingin yang ganas. 3 hari 3 malam di ketinggian 6000 m dengan keadaan cuaca yang sangat berat mereka harus mendaki dan turun dengan rentang ketinggian 1000 m dalam waktu kurang dari 5 jam.


Pelatihan ini sangat optimal. Saya sendiri menggelengkan kepala: Paldor, Island Peak, Everest. Sebagai pelatihan, program ini bukan untuk sembarangan orang.




Sampai jumpa besok!

Kamis, 29 November 2012

LETKOL (INF) IWAN SETIAWAN : SUKSES PIMPIN PENDAKIAN EVEREST


Kesuksesan Ekspedisi Mount Everest menaklukkan gunung tertinggi di dunia Everest (1997) tak lepas dari peran Letkol (Inf) Iwan Setiawan yang kala itu memimpin Tim Selatan. Dengan semangat baja dan sikap pantang menyerah, Pak Iwan memimpin anggotanya terus mendaki puncak hingga akhirnya berhasil menjejakkan kaki di gunung berjulukan atap dunia bersama Pratu  Asmujiono dan Sersan Misirin. Prestasi ini mengukuhkan ketiganya sebagai anggota militer pertama di dunia yang berhasil menaklukkan puncak Everest. 

Kala itu, Pak Iwan masih berusia 29 tahun dan berpangkat Lettu. Lewat seleksi yang sangat ketat, Iwan berhasil masuk anggota Ekspedisi Mount Everest yang disiapkan untuk menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Pak  Iwan bahkan terpilih memimpin Tim Selatan. Sekedar informasi, Ekspedisi Mount Everest memang dibagi menjadi 2 tim: Selatan dan Utara. Sesuai namanya, masing-masing tim mendaki Everest lewat jalur Selatan (Nepal) dan Utara (Tibet). Tim jalur utara dipimpin Richard Pavlowski. 

Persiapan ekspedisi terhitung cukup singkat, hanya 3,5 bulan di bawah pengawasan pelatih asal Rusia. Sebelumnya, anggota tim disaring melalui seleksi ekstra ketat antara lain mendaki gunung Gede dan gunung Putri, renang, dan lari sprint naik-turun tangga. Letkol Iwan mengenang, suhu di Everest menyentuh titik -50 derajat celcius saat para anggota ekspedisi melakukan pendakian yang memakan waktu 5 hari itu. Hasilnya, sudah kita ketahui bersama. Merah Putih berhasil dikibarkan di puncak Everest dan seluruh anggota Ekspedisi Mount Everest pulang dengan selamat. Indonesia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang personil militernya sukses menaklukkan Everest! (MGH/Foto: Jess)

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 1)

Untuk mengangkat nama Kopassus dan Indonesia ke tingkat Internasional, Danjen Kopassus Prabowo Subianto menggagas Ekspedisi Mount Everest yang bertujuan menaklukkan gunung tertinggi di dunia dan menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang anggota militernya sukses menapaki puncak Everest. Ekspedisi ini sukses mencapai target dan mendapat perhatian media internasional. Berikut catatan pribadi pendakian tersebut dari sudut pandang Anatoli Boukreev, pendaki gunung profesional Rusia yang melatih para anggota Ekspedisi Mount Everest. Catatan ini disarikan Jess, anggota Forum Yahoo dari buku The Climb yang ditulis Boukreev, dengan ditambah berbagai sumber online yang relevan. Karena panjangnya tulisan, saya akan mengunggah perbagian (terdiri dari 5 bagian) setiap hari. 




Saya melihat orang-orang Indonesia percaya dengan kemampuan saya, selain saya memang memerlukan uang untuk hidup. Saya harap mereka bisa mengakui saya sebagai pelatih dan pemimpin dalam tim ini. Saya membutuhkan hal ini karena terus terang saya sangat tersinggung dengan tulisan media-media Amerika tentang musibah (yang menewaskan Scott Fischer, Yosuko Namba, dan sejumlah pendaki ) tahun lalu. 

Tanpa sokongan dari teman-teman di Eropa seperti Rolf Dujmovits dan Reinhold Messner, maka nama saya di mata masyarakat Amerika sangat buruk. Setelah saya bertemu dengan organisator tim indonesia di Kathmandu, saya terbang ke Jakarta untuk berbicara dengan Jendral Prabowo,  sebagai Kordinator Pendakian Nasional.

Saya mengatakan secara terus terang kepadanya, bahwa dengan keadaan seperti sekarang, keberhasilan mencapai puncak Everest, saya perkiraan sangat kecil. Saya mengatakan padanya, mungkin hanya 30%, dan itu juga artinya hanya satu pendaki yang sampai ke puncak. Selanjutnya saya terangkan kemungkinan jatuh korban bisa mencapai 50%-50%. Jadi dengan kemampuan yang dimiliki pendaki Indonesia, rencana untuk mendaki Everest menurut saya tidak bisa diterima.

Karena itu saya mengusulkan satu tahun penuh latihan mendaki gunung tinggi sekaligus beraklimitasi, dan usulan saya ditolak. Tradisi saya dalam olahraga ini adalah selalu memakai pikiran yang sehat, bukan dengan cara "Roulette Rusia".

Kematian seorang anggota ekspedisi, selalu menjadi pukulan berat yang menghancurkan semangat mencapai puncak. Di gunung dengan ketinggian lebih dari 8000m, tingkat keselamatan pendaki amatir akan menurun, tak peduli ia dalam kondisi super fit. Saya tidak bisa menjamin keselamatan orang-orang yang sangat sedikit atau sama sekali tidak berpengalaman di gunung-gunung tertinggi di dunia 

Orang Indonesia bisa membeli dan mempelajari pengalaman saya, nasehat saya, dan tugas saya sebagai pemimpin pendakian dan tim penyelamat. Kalau mereka ingin ke puncak Everest, mereka harus menanggung sendiri akibat dari kesombongan mereka nanti, karena mereka sangat tidak berpengalaman. Jendral Prabowo meyakinkan saya, bahwa orang-orang mereka sangat bermotivasi dan mampu. Mereka akan memberi jiwa mereka, untuk mencapai tujuan ini. Satu jawaban jujur yang membuat saya syok.

Saya mulai membuat rancangan kerja agar pendaki Indonesia mendapat cukup kesempatan belajar dari pengalaman saya, tapi juga mereka harus belajar berdiri sendiri. Karena akhirnya semua ini tergantung dari kemampuan perorangan dan tanggung jawab individu. Karena walaupun sebelumnya semua telah dipersiapkan, tetap saja pendakian ke Puncak Everest akan sangat berbahaya. Jendral Prabowo setuju, sebelum ekspedisi mulai, tim pendaki harus berlatih dan meningkatkan kondisi.

Saya tahu, bahwa kami membutuhkan para pelatih yang sangat menguasai teknik dan pengalaman mendaki gunung-gunung tinggi, yang nantinya akan berperan sebagai penasehat bak saat aklimatisasi maupun pendakian puncak, sekaligus sebagai tim penyelamat. Konsep tentang sebuah tim penyelamat sangat penting bagi saya, karena itu saya tekankan dengan jelas. Saya juga tidak bersedia memberi garansi ke jendral Prabowo akan keberhasilan ekspedisi ini.

Saya juga tidak akan melanjutkan ekspedisi ini, walaupun kita sudah dekat puncak, seandainya terjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi keselamatan tim. Jendral Prabowo juga harus mengerti tentang kondisi para pendaki ketika hendak ke puncak, juga keadaan cuaca yang mungkin saja membatalkan rencana summit attack. Semua itu saya yang menentukan. Dia harus mengerti, di ketinggian 8000 m, bahkan tim penyelamat terbaik dunia pun tidak bisa memberi garansi 100%. Andai hal yang tak diinginkan terjadi, saya akan melakukan usaha penyelamatan dengan resiko keselamatan saya. Itulah dasar perjanjian kami. Program pelatihan  akan kami mulai tepat waktu. Direncanakan pelatihan aklimasi di ketinggian 6000m dengan udara dingin dan angin awal musim dingin. Kami akan berlatih, disiplin, mental dan stamina di cuaca yang berat, sesuai dengan tantangan di Everest nanti. 

Bersambung...

Rabu, 28 November 2012

KAPTEN MISIRIN : MERAH PUTIH DI PUNCAK EVEREST


Tahun 1997, 3 anggota Kopassus berhasil mengibarkan Sang Saka Merah putih di puncak Everest. Tidak hanya mengharumkan nama bangsa karena peristiwa itu diberitakan di banyak media internasional, ketiganya juga mencatat sejarah karena menjadi anggota militer pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia. Ketiga prajurit tangguh ini tergabung dalam Ekspedisi Mount Everest yang digagas Danjen Kopassus (kala itu) Prabowo Subianto untuk membawa nama Kopassus dan terutama Indonesia ke tingkat internasional. 

Salah satu dari ketiga militer tangguh itu adalah Kapten Misirin yang kala itu masih berusia 31 tahun dan berpangkat Sersan. Pak Misirin merupakan yang tertua dalam trio militer tangguh penakluk Everest. 2 anggota lainnya yang juga anggota Kopassus, Asmujiono dan Iwan Setiawan, masing-masing berumur  25 dan 29 tahun. Anggota Ekspedisi Mount Everest diseleksi melalui tes ekstra ketat hingga terpilih para anggota militer dan sipil (para pecinta alam berpengalaman). Mereka digembleng selama 3,5 bulan termasuk mendaki beberapa gunung di Indonesia. Saat penggemblengan ini, para anggota tim berguguran dan akhirnya terpilihlah 31 anggota terbaik yang diberangkatkan ke Nepal untuk mencapai puncak Everest. Pak Misirin berhasil menempati peringkat ke-2 terbaik dalam penggemblengan fisik dan mental selama 3,5 bulan tersebut.

Sampai di Nepal, tim Ekspedisi Mount Everest dipandang sebelah mata. Bahkan, seperti diceritakan Pak Misirin, tak sedikit yang menertawakan dan mengatakan, "Indonesia tidak mungkin mendaki Everest, apalagi sampai ke puncak!"  Ejekan-ejekan itu makin memacu semangat Pak Misirin. Beliau merasa tertantang untuk membuktikan pada dunia, Indonesia mampu menaklukkan Everest. Semangat ini memberinya kekuatan untuk terus maju menuju puncak, meskipun cuaca ekstrem di bawah nol derajat celcius harus dihadapi. Saat satu per satu anggota tim terhenti langkahnya, Pak Misirin tetap bertahan meskipun daya tahan fisiknyapun semakin menurun bahkan sempat pingsan. Belum lagi menghadapi 'teror mental' melihat mayat-mayat para pendaki sebelum mereka yang meninggal dalam pendakian ke puncak. Tekadnya yang kuat untuk membuktikan bangsa Indonesia mampu mencapai puncak Everest memberi kekuatan ekstra hingga pada tanggal 27 April 1997 bersama 2 anggota tim lainnya, Pak Misirin berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia! (MGH/Foto: Jess)