Minggu, 11 November 2018

DEFIA ROSMANIAR : KARENA IKUT-IKUTAN


Gadis bertinggi 167 cm dengan berat 51 kg ini adalah atlet pertama yang berhasil meraih medali emas untuk Indonesia di ajang Asian Games 2018 Agustus lalu. Defia menjadi yang terbaik di cabang olahraga taekwondo untuk nomor poomsae perorangan putri. Semua diraihnya dengan tidak dengan mudah. Selain latihan keras dengan disiplin tinggi, Defia juga harus rela mengorbankan kepentingan pribadinya termasuk kuliah dan kebersamaan dengan keluarga. Ia bahkan sedang mengikuti training selama 5 bulan di Korea Selatan ketika ayahnya meninggal dunia. 
Defia Rosmaniar lahir di Bogor tanggal 25 Mei 1995. Ia mulai berlatih taekwondo di usia 11 tahun karena tertarik melihat sepupunya yang sudah lebih dahulu menekuni taekwondo. Meski awalnya tak terlalu serius berlatih, lambat laun Defia mulai jatuh cinta pada olahraga taekwondo. Prestasinyapun makin menanjak hingga pada umur 17 tahun ia telah berprestasi di tingkat internasional. Berkat taekwondo pula Defia bisa menyalurkan hobi jalan-jalannya, sambil mengharumkan nama bangsa. Sekarang Defia masih menjalani kuliahnya di STIE Kesatuan, Bogor. 

Prestasi:
- Medali emas taekwondo nomor poomsae perorangan putri U-17 Korea Open 2012 Gwangju
- Medali emas nomor poomsae ganda campuran U-17 Korea Open 2012 Gwangju
- Medali perak nomor poomsae perorangan putri Islamic Solidarity Games 2013 Palembang
- Medali perak nomor poomsae ganda campuran Islamic Solidarity Games 2013 Palembang
- Medali perunggu nomor poomsae beregu putri Islamic Solidarity Games 2013 Palembang
- Medali perunggu nomor poomsae beregu putri SEA Games 2013 Naypyidaw (Myanmar)
- Medali perunggu nomor poomsae ganda campuran SEA Games 2013 Naypyidaw (Myanmar)
- Medali perunggu nomor poomsae perorangan putri Asian Games Indoor & Martial Arts 2017 Ashgabat
- Medali perak nomor poomsae beregu putri Asian Games Indoor & Martial Arts 2017 Ashgabat
- Medali perunggu nomor poomsae beregu putri SEA Games 2017 Kuala Lumpur
- Medali emas nomor poomsae perorangan putri Asian Games 2018 Jakarta-Palembang
(mgh/foto: Tempo)

TUMIS CAMPUR

Bahan:
Tahu ukuran sedang     2 buah
Udang     2 ons (kupas, garami, tumis sebentar)
Buncis     2 ons (potong-potong)
Jagung puntren (baby corn)     2 ons (iris-iris)
Cabe hijau     3 buah (iris-iris)
Cabe merah     3 buah (iris-iris)
Pete     1 btg (kupas, belah 2)
Bawang merah     5 btr (iris-iris)
Bawang putih     3 siung (iris-iris)
Terasi     1 iris (gerus, beri sedikit air)
Garam

Kecap manis
Penyedap rasa
Air      cangkir
Minyak goreng

Cara Memasak:
1. Potong-potong tahu sebesar dadu.
2. Goreng. Angkat.
3. Goreng buncis.
4. Aduk-aduk sebentar hingga buncis berwarna hijau tua. Angkat.
5. Kurangi minyak.
6. Tumis jagung puntren, pete, cabe, bawang merah dan bawang putih.
7. Aduk-aduk sebentar.
8. Tambahkan air dan bumbu-bumbu.
9. Biarkan hingga airnya meresap. 
10. Masukkan buncis, tahu, dan udang.
11. Tambahkan sedikit kecap.
12. Aduk-aduk hingga airnya kering.
13. Aduk rata.
14. Angkat.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Jumat, 09 November 2018

ABDUL MALIK : PENDEKAR YANG MUSIKAL


Inilah salah satu atlet Indonesia yang berhasil mempersembahkan medali emas dari ajang Asian Games lalu. Abdul Malik atau biasa dipanggil Malik, adalah atlet pencak silat asal Sulawesi Utara. Sehari-harinya di samping sibuk berlatih sebagai atlet, Malik adalah mahasiswa Pendidikan Dasar Melatih Pencak Silat di Universitas Negeri Manado. 

Lahir di Pateten tanggal 31 Januari 1997, Malik yang punya hobi menyanyi mulai berlatih pencak silat saat berumur 11 tahun. Sejak itu berbagai prestasi di bidang pencak silat baik tingkat nasional maupun internasional dicapainya. Di luar pencak silat, Malik sangat menyukai musik. Tidak hanya suka menyanyi, iapun punya ritual khusus: selalu mendengarkan musik sebelum bertanding. Benar-benar pendekar yang musikal ya?

Berasal dari keluarga sederhana, Malik menggunakan uang bonus prestasi Asian Games untuk membangun masjid di 3 kota di Sulawesi Utara. Sisa uangnya, ia persembahkan pada keluarganya. Si sulung ini ingin mengubah nasib keluarganya dan membantu adik-adiknya. Malik memang sangat menyayangi keluarganya. Bagi atlet bertinggi/berat 165 cm/54 kg ini, keluarganyalah yang paling berpengaruh dalam karirnya sebagai atlet. Meski demikian ia mengaku terinspirasi tokoh pencak silat Indonesia Eka Yulianto. Malik tergabung dalam perguruan pencak silat Perinas Asad di bawah bimbingan pelatih Kifli Lamsu.

Prestasi:
- Medali emas ASEAN University Games Singapura 2015
- Juara Belgium Open 2017
- Medali emas pencak silat tarung kelas B:50-55 kg putra Asian Games Jakarta-Palembang 2018
(mgh/foto: Independensi)

PERKEDEL TERONG

Bahan:
Terong ungu     2 buah (tanpa dikupas, potong persegi kecil)
Udang     200 gr (kupas, cincang)
Bawang merah     2 buah (iris)
Daun bawang     1 btg (iris halus)
Terigu     50 gr
Soda kue     1/2 sdt
Telor ayam     2 btr
Margarin     1 peres sdm (lumerkan)
Cabe merah     1 buah (iris halus)
Minyak goreng

Cara memasak:
1. Kocok telor sebentar.
2. Campur semua bahan. Ratakan.
3. Panaskan minyak goreng di wajan.
4. Goreng adonan sesendok demi sesendok sampai berwarna kuning kecoklatan.
5. Angkat.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Kamis, 08 November 2018

KHOIFUL MUKHIB : KERJA KERAS DAN PENGORBANAN



Kesuksesan tidak hanya membutuhkan kerja keras, namun juga pengorbanan. Inilah yang dibuktikan atlet balap sepeda putra Khoiful Mukhib yang sukses meraih medali emas pada ajang Asian Games 2018 lalu. Demi mengejar capaian maksimal di Asian Games, Mukhib rela meninggalkan istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka di Jepara (Jawa Tengah). Maklum saja, latihan para atlet balap sepeda yang dipersiapkan mengikuti Asian Games memang dipusatkan di Malang (Jawa Timur). Tidak hanya latihan rutin, Mukhib dan kawan-kawan juga mengikuti pertandingan internasional di beberapa negara sebagai pemanasan. Pengorbanan yang berbuah manis. Mukhib menjadi atlet balap sepeda putra Indonesia pertama yang meraih medali emas di nomor downhill.

Mukhib lahir di Jepara tanggal 15 Desember 1990 dari ayah yang pengusaha mebel dan ibu penjual sembako. Awalnya anak ketiga dari enam bersaudara ini menekuni olahraga balap sepeda BMX. Adalah Rudy Purnomo, manajer 76 Rider yang mengajak Mukhib pindah ke balap sepeda MTB. Menurut Rudy, ia tertarik pada kedisiplinan dan mental juara yang telah melekat pada Mukhib. Insting Rudy terbukti tepat. Tidak lama dilatih, Mukhib menunjukkan prestasi  yang terus meningkat hingga akhirnya masuk Pelatnas. Meski belum mencatat prestasi gemilang selama di Pelatnas, namun performa Mukhib makin meningkat hingga para pelatih sudah memprediksi Mukhib akan membuat kejutan di Asian Games. Dan Mukhib tidak mengecewakan para pelatihnya. 

Sukses memboyong medali emas dari ajang Asian Games tidak berarti pengorbanan usai bagi Mukhib. Ia langsung terbang ke Australia untuk mengikuti persiapan kejuaraan internasional berikutnya, meski usia kandungan sang istri di Jepara telah menginjak 9 bulan lebih. 

Prestasi:
- Juara 2 Junior BMX ASEAN Cross
- Medali emas balap sepeda MTB nomor downhill putra Asian Games Jakarta-Palembang 2018
(mgh/foto: liputan 6)

ES HITAM MANIS

Bahan:
Tape ketan hitam    
Agar-agar merah (potong persegi kecil)
Kelapa muda (keruk dagingnya dengan sendok)
Sirop vanili
Susu kental manis
Es serut

Cara membuat:
1. Sediakan gelas kaca.
2. Taruh beberpa sendok ketan hitam.
3. Tambahkan beberapa sendok potongan agar-agar merah dan kerukan kelapa muda.
4. Tuangi air matang secukupnya.
5. Tambahkan sirop vanili.
6. Penuhi gelas dengan es serut.
7. Tambahkan susu kental manis di atasnya.

Keterangan:
Cara membuat agar-agar merah, lihat resep Es Campur.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Rabu, 07 November 2018

REZA RAHADIAN : AKTOR TERBAIK SE-ASIA PASIFIK 2017


Di Indonesia nama Reza Rahadian masuk jajaran aktor terlaris. Tapi tidak sekedar laris, Reza juga memiliki kualitas akting yang mumpuni. Bahkan soal kualitas aktingnya, Reza telah mendapat pengakuan internasional dengan penghargaan sebagai Best Actor pada Asia Pacific Film Festival di Pnom Penh (Kamboja) pertengahan tahun 2017 lalu. Penghargaan itu diraih Reza berkat aktingnya di film Rudy Habibie. 

Reza Rahadian Matulessy lahir di Bogor (Jawa barat) tanggal 5 Maret 1987, anak tunggal dari Rahim dan Pratiwi Widantini Matulessy. Sayangnya, kedua orangtua Reza berpisah sejak Reza menginjak umur 6 bulan. Sang ibulah yang membesarkan dan mendidik Reza.

Usia remaja, Reza mengikuti kontes tahunan pencarian model Top Guest yang diadakan majalah remaja Aneka Yess! Hasilnya, Reza berhasil membawa pulang gelar Favorite Top Guest. Sejak itu tidak hanya tawaran tampil sebagai model yang membanjirinya, tawaran berakting di sinetronpun menghampiri. Laris membintangi sinetron, Reza kemudian 'naik kelas' menjadi aktor layar perak. Bahkan kini, ia masuk barisan aktor terlaris Indonesia. Saking larisnya, ada selorohan bahwa semua film Indonesia selalu dibintangi Reza Rahadian. Padahal kenyataannya, Reza membatasi jumlah film yang dibintanginya pertahun. 

Reza menjelaskan, ia hanya menerima peran yang berbeda dengan yang sudah pernah dimainkannya. Iapun menyebut dirinya bukanlah aktor yang membintangi film terbanyak. Ada aktor lain yang jumlah filmnya setahun lebih banyak dibanding Reza. kalau Reza terlihat paling sering muncul, itu karena memang film-film yang dibintanginya selalu menonjol baik karena sukses secara komersial maupun kualitas dengan menyabet penghargaan-penghargaan di berbagai festival. 

Untuk menjaga kualitas aktingnya, Reza mengaku selalu berlatih dan berfikir tentang peran yang akan dilakoninya. Di setiap kesempatan ia juga melatih dialog. Akibatnya, Reza mengaku sering ditertawakan teman-temannya karena suka bicara sendiri saking larutnya pada eksplorasi peran untuk film-filmnya. Kalau sedang tidak syuting, Reza mengaku lebih senang tinggal di rumah. Selain eksplorasi peran, Rezamengaku senang mengerjaan pekerjaan rumah sendiri. Makanya, meski tinggal sendirian, Reza tidak memerlukan ART. Keren ya! (mgh/foto: Cumi-Cumi)