Tampilkan postingan dengan label model. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label model. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2014

SHARITA SOPACUA : WANITA TERCANTIK DI BELANDA


Dari namanya saja sudah bisa dipastikan wanita cantik ini keturunan Ambon. Ya Sharita Sopacua, model papan atas Belanda yang dinobatkan sebagai wanita tercantik di Belanda tahun 2005 (Miss Netherlands Universe 2005) memang berdarah campuran Indonesia dari sang ayah dan Belanda dari ibunya. 

Dikaruniai wajah cantik nan eksotis dengan tubuh indah bertinggi 180 cm, sempurnalah Sharita sebagai model kelas dunia. Toh ia mengaku, wajah eksotis dan kulit coklatnyalah yang jadi modal utama sebagai model internasional. Dua hal itulah yang membuat Sha, demikian ia disapa, laris sebagai model di Belanda dan Amerika Serikat. Sha terutama laris sebagai model untuk berbagai majalah mode dan iklan fashion. Karena pekerjaan sebagai model pula ia sering mondar-mandir Amsterdam-New York.

Sha lahir dan tumbuh di Amsterdam, negeri Belanda. Pendidikan terakhirnya lulus Jeroen Bosh College 's-Hortogenbosch, Noord Brabant. Walau bermukim di Negeri Kincir Angin sejak lahir, Sha tidak melupakan Indonesia. Tahun 2008 ia menerima tawaran menjadi Humas Garuda Indonesia Airlines dan tahun 2010 ia berkeliling Indonesia dengan saudara laki-lakinya, Mig. Wanita berhidung mancung ini mengaku sangat menyukai makanan Indonesia dan keramahan orang-orang Indonesia. Kembali bersinggungan dengan negeri kelahiran sang ayah, Sha antusisas mempelajari budaya dan bahasa Indonesia. Soal tempat favorit, Sha menyebut Ambon, Bali, dan Jakarta. Mempunyai cukup banyak teman di Indonesia, iapun sempat belajar tari Bali walaupun tidak sampai mahir karena harus segera kembali ke negeri Belanda.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Kamis, 19 Juni 2014

YANNUS SUFANDI : KEMBALINYA SANG PENARI INTERNASIONAL


Lahir di Indonesia dan sempat menjadi atlet renang yang meraih juara di beberapa kompetisi kawasan Asia, Pasifik, hingga Australia untuk Indonesia, Yannus harus meninggalkan negeri kelahiran di usia 12 tahun karena perpisahan orang tuanya. Sempat bersekolah di Singapura, Yannus kemudian pindah ke Negeri Kanguru mengikuti sang ibu. Tak hanya domisili, Yannus dan sang ibu berganti kewarganegaraan menjadi WNA (Warga Negara Australia). 

Di negeri barunya, Yannus menekuni olahraga basket. Prestasinya cukup bagus, bahkan berhasil masuk tim basket negara bagian New South Wales. Namun tak hanya olahraga yang memanggil Yannus. Iapun belajar tari modern hingga berhasil menjadi penari latar dan koreografer sejumlah penyanyi Australia.

Masuk semakin dalam ke dunia hiburan Australia, bungsu putra Tirto Subiarto dengan Mety Liliana ini melebarkan sayap ke dunia modeling dengan membintangi iklan produk-produk internasional macam Sony Ericsson, Samsung, hingga mobil Peugeot. Makin yakin dengan dunia tari dan modeling yang menjadi passion-nya, Yannus memutuskan hijrah ke Amerika Serikat setelah menamatkan kursus singkat seni peran di National Institute of Dramatic Arts (NIDA) di Sydney. Kala itu ia baru 19 tahun. Tujuannya kota megapolitan New York. 

Tanpa teman dan keluarga di Amerika Serikat, Yannus sempat menganggur selama 6 bulan. Untuk meningkatkan kemampuan sebagai penari, ia belajar lagi di Broadway Dance Center. Mentas sekolah tari, ia membuka kursus menari sambil rajin mengikuti berbagai audisi penari latar. Pintu menuju dunia hiburan Amerika mulai terbuka ketika Yannus lolos audisi penari latar Pink. Selanjutnya, Yannus menjadi penari utama Jennifer Lopez. Yannus mundur dari tim JLo karena enggan ikut tur sang biduanita. Alasannya, Yannus memang tidak suka tur dan kurang menyukai musik JLo. Tapi di luar musik, Yannus memuji JLo sebagai buntang yang cerdas dan ramah. 

Sementara itu karir Yannus di dunia hiburan Amerika Serikat makin cemerlang. Tak hanya banyak mendapat pekerjaan sebagai model iklan produk-produk berkelas seperti Adidas, D&G, juga Emporio Armani, iapun laris tampil di majalah dan catwalk. Sebagai koreografer, ia juga telah dipercaya menangani koreografi acara-acara Nickelodeon Kids Choice Awards Australia, So You Think You Can Dance Australia dan Malaysia, The X Factor Amerika Serikat, dan The Voice di NBC. Tapi tak hanya itu. Tahun 2011, Yannus membintangi film The Hotel, berperan sebagai penari. 

Mimpinya sudah jadi nyata. Reputasi internasional telah digenggamnya, bahkan di beberapa bidang sekaligus. Namun ternyata Yannus selalu menyimpan kerinduan pada negeri kelahirannya. Apalagi meski telah bekerja di beberapa negara, Indonesia tidak pernah masuk daftar singgahnya. Meskipun bukan lagi WNI, Yannus ingin berbagi pengalaman dan inspirasi pada masyarakat Indonesia.  Didorong keinginan itulah Yannus mencari cara untuk bekerja di Indonesia. Sayang, terlalu lama tinggal di luar negeri membuatnya tidak punya kontak dengan dunia hiburan Indonesia. 

Akhirnya jalan itu terbuka saat Yannus bekerja di Malaysia. Salah satu koleganya memperkenalkan pria kelahiran Yogyakarta 2 januari 1980 ini dengan pihak Freemantle Media Indonesia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Yannus langsung menawarkan diri sebagai creative director. Dan sejak Februari tahun ini, Yannus bekerja di Indonesia. Lebih dekat dengan Yannus silakan mengunjungi pria kekar ini di yannus.com atau Twitter: @yannusworld.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Selasa, 17 Juni 2014

KELLY TANDIONO : MODEL INTERNASIONAL 'MADE IN INDONESIA'


Bermodal tubuh tinggi langsing, kulit mulus kecoklatan, dan wajah unik, Kelly Tandiono berkarir sebagai model internasional. Bergabung dengan Next Model Management Los Angeles, Kelly melanglang buana mulai Amerika Serikat, Italia, Inggris, Taiwan, Hong Kong, hingga Australia. Sudah banyak pula perancang mode yang menggunakan jasa Kelly sebagai model, diantaranya Calvin Klein. 

Setinggi-tinggi bangau terbang, pasti pulang ke sarangnya. Semapan apapun karir yang dicapai di negeri orang, kampung halaman selalu dirindukan. Maka pulanglah Kelly ke Indonesia meninggalkan karir modeling yang sudah mapan dengan penghasilan 2000 dollar AS sekali tampil di catwalk. Keputusannya untuk pulang ke Indonesia semakin mantap setelah bertemu pujaan hatinya, Massimo Mantero. Ialah pria Italia yang tinggal di Jakarta sebagai pengusaha restoran dan tempat hiburan. Bertemu Massimo, Kelly merasa sudah saatnya ia menetap di satu negara, dan itu adalah Indonesia, 'rumahnya'!

Kelly sendiri lahir di Singapura, 28  Oktober 1986 dari keluarga mapan. Wanita berwajah eksotis setinggi 175 cm ini punya hobi olahraga, terutama basket, renang, muay thai, bikram yoga, dan golf. ia bahkan sempat menjadi olahragawati basket dan renang sebelum banting stir menjadi model profesional. Cukup lama tinggal di negeri orang dan mengunjungi banyak negara membuat kebanggaan Kelly pada Indonesia justru semakin kuat. Sampai-sampai wanita ramah ini merajah (mentato) tubuhnya dengan tulisan 'Made in Indonesia'. 

Kini Kelly sibuk berkarir sebagai desainer dan model di Jakarta di samping telah menyelesaikan syuting beberapa film layar lebar. Di waktu senggang ia memanjakan diri dengan menjalani hobi atau berkumpul dengan teman-temannya. Tentu, selalu ada waktu untuk Massimo. Lebih banyak tentang Kelly bisa cari tahu di Twitter: @kellytandiono atau Instagram: @k3llytandiono.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Sabtu, 10 Mei 2014

PAULA VERHOEVEN : DARI SEMARANG KE CATWALK MILAN


Made in Semarang tapi nama bau-bau bule. Itulah supermodel Indonesia yang kini berkiprah di salah satu pusat mode dunia, Milan, Italia. Soal nama maklum saja, Paula mewarisi nama keluarga sang ayah, Eddy Verhoeven yang blasteran Belanda-Cina. Kalau sang ibu, asli piyantun Jawi (orang Jawa) bernama Herlina T. Sebelum melebarkan sayap ke Milan, Paula sudah lebih dulu menaklukkan dunia mode Singapura. Dengan tubuh langsing menjulang setinggi 183 cm, Paula mampu bersaing dengan para model bule dan mendapat pekerjaan sebagai peragawati untuk beberapa perancang busana di Italia, salah satunya Emilio Pucci. 

Wanita cantik berkulit sawo matang kelahiran Semarang tanggal 18 September ini merintis karir sebagai peragawati selepas pendidikan di SMAN 3 Semarang. Hijrah ke Jakarta tanpa keluarga dengan tubuh kelebihan berat 12 kg (untuk ukuran peragawati), Paula sempat kesulitan mendapat pekerjaan. Beberapa perancang busana yang didatangi, semua menolaknya dengan alasan Paula terlalu 'gendut'. Untunglah, ada perancang busana senior Ramli (kini almarhum) yang bersedia menampung Paula di rumahnya. Sambil terus mencari pekerjaan, Paula bekerja keras menurunkan berat badan dengan disiplin berolahraga dan diet ketat. Hasilnya, hanya dalam 3 bulan ia berhasil menurunkan berat badannya hingga tinggal 55 kg, ukuran idealnya sebagai peragawati (ingat, tinggi Paula 183 cm lho!). 

Sukses mencapai berat badan 'ideal', Paula sukses pula mendapat  pekerjaan sebagai peragawati. Selanjutnya, pekerjaan datang bak air bah. Tak hanya tampil sebagai peragawati namun juga model di berbagai majalah. Hingga kemudian ia sukses melebarkan sayap hingga ke Italia. Bagi Paula, semuanya tak lepas dari jasa almarhum Ramli. Tak hanya bertindak sebagai mentor, Ramli sudah seperti ayah bagi Paula, menyediakan tempat tinggal dan selalu mengingatkan Paula untuk shalat setiap tiba waktunya. Paula selalu ingat, Ramli sangat disiplin menunaikan shalat. Kenangan ini sangat berkesan di hati Paula hingga kini. Iapun selalu memanggil Ramli dengan sebutan, "Daddy." Tiga bulan tinggal bersama keluarga Ramli, Paula kemudian pindah setelah mendapat pekerjaan sebagai peragawati. 

Meski malang melintang sebagai model papan atas internasional, Paula tak melupakan pendidikan formal. Ia lulusan jurusan Public Relations dari London School of Public Relations, Jakarta. Paula mempunyai seorang adik perempuan bernama Chelzea. Soal asmara, Paula sedang menjalin kasih dengan seorang pria berwajah oriental yang ia enggan buka identitasnya. Kalau masih penasaran, tanya langsung lewat Twitternya: @paula_verhoeven Yang nge-fan berat juga bisa gabung di Fan Page Paula di Facebook: Paula Verhoeven atau Instagram: Paula_Verhoeven. (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Kamis, 09 Agustus 2012

NADYA HUTAGALUNG : MODEL INTERNASIONAL YANG PEDULI LINGKUNGAN


Wanita jelita berdarah Batak-Australia ini memulai karir modelnya di Jepang saat usianya baru 13 tahun. Tak terlalu lama, ia masuk jajaran model papan atas Asia-Pasifik. Wajahnya laris menghiasi berbagai iklan dan sampul majalah Asia bahkan Australia.  Namun namanya dikenal luas terutama di kalangan anak muda Asia era 90-an sebagai VJ MTV di awal era itu. Kini ia aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dan mendirikan portal greenkampong.com yang menyebarkan semangat cinta lingkungan.  Nad juga aktif dalam berbagai kegiatan pecinta hewan dan menjadi dewan sekolah berwawasan lingkungan Green School di Bali.

Nad, demikian ia biasa dipanggil. Konsistensinya dalam pelestarian lingkungan membuat Nad tahun ini masuk nominasi The International Green Award Most Responsible Celebrity bersama sejumlah pesohor dunia seperti Penelope Cruz, Robert Redford, George Clooney, hingga Vivienne Westwood. Lahir di Sydney (Australia) tanggal 28 Juli 1974, Nad sudah ditanamkan kecintaan pada alam dan binatang oleh sang ibu sejak masih kecil. 

Generasi 90-an pasti masih ingat gaya dan celetukan kocak namun elegan Nad saat menjadi VJ MTV. Namun di luar kamera, ternyata Nad seorang yang pendiam dan tertutup. Ia hanya pergi ke pesta untuk amal. Di luar itu, Nadya tak pernah pergi ke pesta. Ia lebih senang tinggal di rumah dan membaca. Hingga kini, Nadya berkantor di rumah agar bisa selalu dekat dengan ketiga buah hatinya. Dan siapa sangka, meski masuk jajaran model papan atas Asia bahkan dunia, Nad sehari-hari tak pernah memakai riasan wajah tebal, dan tak suka barang bermerek. Ia bahkan hanya membeli tas 2 tahun sekali, itupun bukan yang bermerek terkenal. Soal pakaianpun Nadya memilih model yang klasik dan bisa dipakai bertahun-tahun. Bahkan, sepatu-sepatu dan tas yang sudah tak dipakainya lagi tetap ia simpan untuk diberikan pada sang putri, Nyla,  bila kelak sudah dewasa. Nadya juga menghindari memakai barang-barang yang terbuat dari kulit. Kesederhanaan yang sekaligus cerminan gaya hidup hijau ini juga diterapkan Nad dan suaminya dalam menata rumah. Pasangan ini menggunakan perabot bekas berumur 15-40 tahun untuk mengisi rumah mereka. Kalau ada yang rusak, mereka memilih memperbaiki daripada membeli yang baru. Liburan akhir pekan merekapun sederhana: berkebun lanjut memasak bersama, lalu mengundang teman-teman mereka untuk makan bersama. Wah, enak ya jadi teman Nad....

Nad tinggal di Singapura bersama suaminya, Desmond Koh yang mantan perenang nasional negeri Singa, serta ke-3 anak mereka: Tyrone, Fyn, dan satu-satunya perempuan, Nyla. Bersama mereka tinggal pula beberapa ekor kucing kesayangan. Keluarga ini mempraktekkan kehidupan ramah lingkungan dalam segala aspek. Sebut saja, rumah mereka didesain sedemikian rupa hingga tak memerlukan AC ataupun menyalakan lampu di siang hari. Halaman rumah dimaksimalkan untuk menanam aneka tanaman pangan mulai buah-buahan, sayur mayur hingga bumbu dapur! Nadya juga selalu memasak makanan vegetarian untuk keluarganya. Nad yang memang sangat suka memasak memang ahli mengolah makanan vegetarian hingga menyerupai aneka makanan yang asalnya mengandung bahan hewani. Burger atau spaghetti misalnya, bisa dimasak Nadya dari bahan-bahan non hewani dengan rasa serta tampilan persis aslinya yang mengandung bahan hewani. Hasilnya, Nyla mengikuti jejak ibu dan ayahnya menjadi vegetarian. Sementara 2 anak lelaki Nadya, vegetarian di rumah tapi makan apa saja di luar rumah. Sebagai pemeluk agama Buddha, Nad juga taat menjalankan ajaran agamanya bahkan hingga ke luar Singapura, mengikuti ibadah yang dipimpin langsung oleh Dalai Lama.  Meski tinggal di negara sang suami, Nad sering berkunjung ke Indonesia. Nad dan Desmond bahkan melangsungkan pernikahan mereka di Bali. 

Twitter: @nadya_hutagalng website: www.nadyahutagalung.com atau www.greenkampong.com email: info@nadyahutagalung.com (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)