Tampilkan postingan dengan label medali Asian Games. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medali Asian Games. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2018

IQBAL CHANDRA PARATAMA : PENERUS TRADISI KELUARGA



Bersama istrinya Sarah Tria Monita yang juga turun di kelas tarung cabang olahraga pencak silat, Iqbal menyumbangkan medali emas dari ajang Asian Games pertengahan tahun ini. Iqbal berhasil menjadi yang terbaik di kelas D:60-65 kg putra. Tentu semua diraih dengan tidak mudah. Tidak hanya disiplin berlatih keras setiap hari selama bertahun-tahun, Kebong (panggilan akrab Iqbal) mengorbankan kepentingan pribadinya demi fokus pada target prestasi. Salah satunya, ia dan Nieta (panggilan Sarah Tria Monita) yang menikah bulan Maret tahun ini sengaja menunda bulan padu agar bisa tetap fokus berlatih untuk menghadapi Asian Games. Hasilnya sangat indah, pasangan pengantin baru ini sukses memboyong sepasang medali emas untuk Indonesia!

Kebong lahir di Lhokseumawe (Aceh) tepat 12 Mei 1996. Putra pasangan Marjuki dan Mairina Nawi ini mulai menekuni pencak silat sejak duduk di bangku kelas 4 SD untuk melanjutkan tradisi keluarga. Pencak silat memang sudah mendarah daging di keluarga Iqbal. Bahkan kedua orangtuanyapun atlet pencak silat. Sebagai atlet nasional, Kebong dilatih Supiansyah. 

Atlet pencak silat binaan SKOI Samarinda ini punya hobi lari dan masih kuliah di Universitas Mulawarman. Sedangkan kedua orangtuanya berdomisili di Bontang (Kalimantan Timur). Kebong menyebut atlet pencak silat Indonesia lainnya, Abas Akbar sebagai sumber inspirasinya. Kebong dan Nieta baru berbulan madu ke Bali setelah Asian Games. Sementara uang bonusnya digunakan mengumrohkan orangtua dan selebihnya ditabung.
Facebook: iqbal.chandra.1232

Prestasi:
- Medali emas ASEAN University Games 2016
- Medali perak Kejuaraan Dunia Bali 2016
- Medali emas Belgium Open 2018
(mgh/foto: istimewa)

Selasa, 14 Agustus 2018

DAVID UDJULAWA : PERAIH MEDALI ASIAN GAMES YANG KRITIS


Salah satu cabang olahraga yang digadang-gadang meraup medali bagi Indonesia di Asian Games 2018 ini adalah selancar angin. Tak heran karena prestasi atlet-atlet selancar kita cukup membanggakan di tingkat internasonal. Para atlet selancar kita juga sudah beberapa kali memboyong medali dari ajang olahraga terakbar di benua Asia itu. Tapi mungkin belum banyak yang tahu atlet pertama yang berhasil membawa pulang medali selancar Asian Games untuk Indonesia. Untuk yang belum tahu, Indonesia pertama kali mendapat medali selancar di Asian Games tahun 1970 yang diadakan di Bangkok. Kala itu, duet peselancar kita David Udjulawa dan John Gunawan sukses merebut medali perunggu untuk nomor flying dutchman. Membanggakan, karena itulah pertama kali olahraga selancar dipertandingkan di Asian Games dan kita langsung dapat medali! Nah yang di atas itu adalah foto Pak David Udjulawa yang sekarang 'naik pangkat' menjadi pelatih selancar. Kecintaan Beliau pada olahraga selancar juga tampak dari kekritisannya pada para penggede organisasi olahraga selancar Indonesia. Ingin tahu lebih banyak tentang Beliau, follow saja  Twitter @DavidUdjulawa.

Prestasi:
- Medali perunggu selancar angin nomor flying dutchman putra Asian Games Bangkok 1970 (bersama John Gunawan)
(mgh/foto: istimewa)

Jumat, 08 Maret 2013

LANNY GUMULYA : EMAS DARI PAPAN LONCAT INDAH


Prestasi membanggakan di tingkat internasional sudah diraih atlet loncat indah Indonesia di tahun 1960-an. Lanny Gumulya, atlet putri kita berhasil mempersembahkan medali emas cabang olahraga loncat indah dari ajang Asian Games (1962). Sebelumnya, Lanny juga sukses memboyong medali emas loncat indah dari pertandiangan di Filipina. 

Lanny lahir di Jakarta tepat 13 November 1944. Ia menikah dengan Charlie Kartadinata, putra pemilik perusahaan kecap Bango. Tak hanya pesta pernikahan mereka yang meriah, bulan madu Lanny-Charlie juga luar biasa wah. Mereka berbulan madu di Spanyol selama 3 tahun! Pernikahan ini juga mengakhiri karir Lanny sebagai atlet loncat indah sekaligus menolak tawaran menjadi pelatih nasional. 

Prestasi:
- Medali emas nomor papan 3 m Asian Games Jakarta (1962)
- Medali emas papan 3 m Ganefo Jakarta (1963)
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Jumat, 10 Agustus 2012

MARAM SUDARMODJO : ATLET PERTAMA DI FINAL OLIMPIADE


Generasi sekarang umumnya asing mendengar nama Maram Sudarmodjo atau sering juga disebut dengan ringkas Sudarmodjo. Padahal atlet loncat tinggi yang telah berpulang ke Rahmatullah di tahun 2006 silam ini merupakan salah 1 dari 3 atlet yang pertama dikirim Indonesia ke ajang Olimpiade di Helsinki (1952). Sudar, demikian Almarhum biasa dipanggil, adalah satu-satunya atlet cabang atletik yang dikirim Indonesia masa itu dan berhasil menembus babak final. Beliau terpilih menjadi wakil Indonesia di Olimpiade setelah meraih medali perunggu loncat tinggi dalam Asiade (kemudian disebut dengan Asian Games I) di New Delhi (1951).  Prestasi yang tak bisa dianggap enteng, apalagi saat itu sarana bagi atlet jauh dari memadai. Bayangkan saja, tak hanya belum ada Pelatnas, namun para atlet harus berjuang ekstra keras sekedar untuk berlatih. Pak Sudar misalnya, setiap hari bersepeda ke tempat latihan di Lapangan Ikada (sekarang Monas) sambil membawa cangkul. Sebelum berlatih,  Pak Sudar mencangkul kolam pasir sendiri, agar tubuhnya tidak sakit saat mendarat di tanah. Toh semua dilakukan dengan senang hati karena kecintaan terhadap olahraga dan Tanah Air. 

Di luar hobinya sebagai atlet, Maram Sudarmojo adalah seorang anggota TNI dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel Navigasi. Atlet asal Sragen (Jawa Tengah) ini menikah dengan RA Soekandani dan dikaruniai 5 orang anak. Hingga kini, sang istri tinggal di rumah mereka yang asri di kawasan Jakarta Timur. Tak hanya meninggalkan prestasi yang membanggakan di bidang olahraga, Pak Sudar juga dikenang karena pribadi yag rendah hati. Saat pulang dari Helsinki setelah berjuang di Olimpiade misalnya, Beliau tak memberi kabar keluarga maupun teman-temannya hingga sampai di Tanah Air tanpa seorangpun menjemput. Pak Sudarpun tak pernah membanggakan diri sehingga tak seorangpun dari ke-5 anak Beliau yang pernah diberitahu tentang prestasi Beliau sebagai atlet. Bahkan, Pak Sudar memberi nama ke-5 anak Beliau dengan nama-nama teman yang dianggap lebih pintar dan lebih baik dengan harapan bisa seperti teman-teman Beliau itu. Sungguh teladan yang amat langka di masa sekarang. (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)