Tampilkan postingan dengan label Kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kediri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Desember 2018

SARAH TRIA MONITA : TUNDA BULAN MADU DEMI ASIAN GAMES


Keberhasilannya memenangkan medali emas cabang olahraga pencak silat nomor tarung kelas C: 55-60 kg di ajang Asian Games pertengahan tahun ini makin istimewa karena suaminya yang juga atlet pencak silat Iqbal Candra Pratama telah lebih dahulu menyumbangkan menyumbangkan medali emas untuk Indonesia. 

Si cantik yang biasa dipanggil Nieta ini lahir di Kediri (Jawa Timur), 31 Mei 1995. Alumna STIE Urip Sumoharjo Surabaya ini baru menikah dengan rekan sepelatnasnya Iqbal, pada pertengahan April tahun ini. Namun setekah menikah keduanya kembali sibuk dengan persiapan Asian Games. Pasangan pendekar ini bahkan sengaja menunda bulan madu mereka demi fokus pada Asian Games. 

Melihat penampilannya sekarang yang anggun, siapa yang mengira tadinya wanita berwajah tirus ini  dikenal tomboy. Tentang bonus Asian Games yang diperolehnya, Nieta menggunakannya untuk memberangkatkan kedua orangtua dan mertuanya berhaji ke Tanah Suci serta menunaikan kewajiban membayar zakat. 
Facebook : nieta.ajja.75
(mgh/foto: istimewa)

Sabtu, 04 Agustus 2012

DAMARJATI BAYU SATRIO : JUARAI OLIMPIADE ROBOT INTERNASIONAL


Meski baru kelas 4 SD, Damarjati Bayu Satrio sudah mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional. Bersama-teman-temannya dalam Tim Robot SD Plus Rahmat Kediri (Jawa Timur), ia menjuarai International Islamic School Robot Olympiad (IISRO) yang digelar di Kuala Lumpur, Mei lalu. Tak hanya 1 kategori, para 'ilmuwan' cilik dari Kediri memborong gelar juara untuk 3 kategori sekaligus! IISRO diikuti ratusan tim dari berbagai sekolah Islam mulai tingkat SD hingga SMA dan mempertandingkan 5 kategori robot. 

Jati, demikian ia dipanggil, kelahiran Kediri tanggal 1 Mei 2002. Sebenarnya Jati lebih dikenal sebagai atlet cilik panahan di kotanya, Kediri. Minatnya pada robotik baru dimulai sekitar 7 bulan lalu setelah menyaksikan film Transformer. Jati jadi ingin bisa membuat robot! Kebetulan di sekolahnya  baru dibentuk ekstra kurikuler robotik yang dibimbing Bambang Dwi Setiawan. Dari 3 kategori yang dimenangkan tim sekolahnya, Jati meraih juara 1 kategori 'RRobot Run' bersama Muhammad Irfan dan juara 3 kategori 'Robot Transporter' untuk robot yang dirancangnya bersama 2 temannya: Ahmad Fauzan Wida dan Muhammad Irfan. 

Meski telah meraih prestasi internasional dengan hobi barunya, Jati tak meninggalkan olahraga panahan. Ia tetap berlatih dengan teratur seperti sebelum menekuni robotik. Tapi sekarang impiannya bertambah: menciptakan robot pemanah. (MGH/Foto: koranpendidikan.com)

Sabtu, 07 Juli 2012

KHOIRUL ANWAR : TEMUANNYA DIGUNAKAN PERUSAHAAN JEPANG


Prof. DR. Khoirul Anwar adalah penemu dan pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Berkat penemuan itu pula Khoirul dianugerahi penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist dari Institute of Electrical and Electronics  Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC 2010) di Taiwan. Sayangnya, penemuan ilmuwan muda Indonesia ini justru digunakan sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang!

Khoirul meraih gelar S3 dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST). Ia pindah ke Jepang untuk melanjutkan kuliah setelah lulus S1 Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 2006 saat masih berstatus mahasiswa program S3, Khorul meraih penghargaan internasional pertamanya  di bidang ilmu pengetahuan: IEEE Best Student Paper Award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) di California (Amerika Serikat). 

Khoirul lahir di Kediri (Jawa Timur) tanggal 22 Agustus 1978. Sejak baru lulus SD, ia hanya diasuh sang ibu, Sri Patmi, karena ayahnya, Sudjianto meninggal dunia karena sakit. Sang ibulah yang berusaha keras membiayai Khorul kecil dengan bekerja sebagai petani. Berkat kecerdasannya, Khoirul bisa kuliah di ITB dengan beasiswa. Kuliah S2 dan S3-nya di Jepangpun atas beasiswa dari perusahaan Jepang Panasonic. 

Kini, Khorul tinggal di Nomi, Ishikawa (Jepang), bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani dan ke-3 putra mereka. Mereka tinggal tak jauh dari kantor Khoirul. Tentu Khorul tak melupakan jasa sang ibu yang hingga kini tetap bertani di Kediri. Paten pertamanya dipersembahkan Khoirul untuk sang ibu.Meski tinggal dan bekerja di Jepang, ilmuwan muda ini bercita-cita kembali ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya, suatu hari nanti.(MGH/Foto:Hendd Lecznaczh PanqeranSorgga)