Tampilkan postingan dengan label penari Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penari Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

MUGIYONO KASIDO : PENARI BERBASIS TRADISI DI PANGGUNG INTERNASIONAL


Mugiyono Kasido adalah penari kontemporer berbasis tradisional. Akarnya sebagai penari tradisional dipengaruhi keluarganya yang seniman tradisi. Bagaimana tidak, kakek buyut hingga ibunya semua berprofesi sebagai dalang! Tak heran, pengetahuan Mugi tehadap wayang sangat mendalam dan menginspirasinya dalam menciptakan karya-karya tari. Jauh ke belakang, gerakan wayang orang pula yang dijadikan referensi oleh Mugi kecil saat mulai belajar menari. Berbekal bakat dan dasar tari tradisional, Mugi kemudian belajar menari ke banyak tokoh seni tari di Solo (Jawa Tengah). Hasilnya, Tak hanya mampu menyejajarkan diri dengan para penari papan atas negeri ini, Mugipu telah tampil di panggung-panggung internasional sejak tahun 1995.

Kiprah internasional dimulai Mugi di Jerman, berkolaborasi dengan penari-penari asal Inggris, Israel, dan tentunya, tuan rumah sendiri. Itu dalam pementasan tari kolaborasi 'Some Shine'. Pada kesempatan itu, Mugi membawakan tari bernuansa Jawa. Sementara penampilan tunggalnya diawali di Korea Selatan, membawakan tari tentang Bimasuci yang mencari jati diri. Hingga kini Mugi masih kerap berkeliling dunia menampilkan tari karyanya, baik secara kolaborasi maupun tunggal. Kini, negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang, Denmark, Portugal, Belgia, Belanda, Inggris, Perancis, Swedia, dan Irlandiapun sudah dijelajahinya untuk menampilkan keindahan budaya Indonesia. 

Mugi tinggal bersama istrinya yang juga manajernya, Nuri Aryati, dan 3 anak mereka  di sebuah rumah berhalaman luas di Jl. Dewa Ruci, Krapyak, Kartasura (Jawa Tengah). Di pekarangan depan rumahnya, dibangun semacam panggung kecil untuk berlatih menari. Tidak sendiri, karena 2 dari 3 anaknya mewarisi bakat dan minat tari dari sang ayah. Halaman rumahnya sendiri luasnya 2800 meter dan dipagari rumpun pohon bambu. Wow! Hebatnya, Mugi membuka rumahnya untuk siapa saja yang mencintai seni. Ia menyediakan studio tari lengkapmdengan segala perlengkapannya untuk anak-anak sekitar rumahnya yang berminat latihan menari. Tak hanya itu. Mugi dan sang istri juga menyediakan bis khusus untuk jemput-antar para pelajar yang berminat menonton pertunjukan tari Mugi. Asyiknya, semua itu gratis!  Bersama sang istri pula, Mugi mengelola kelompok tari Mugi Dance.

Website: www.mugidance.org  Kontak bisa melalui manajer yang juga istrinya, Nuri di Telp. 0812 298 6479 atau email: info@mugidance.org
(MGH/Foto: Mugi Dance)

Jumat, 13 Juli 2012

EKO SUPRIYANTO : MEMIKAT MADONNA DENGAN PENCAK SILAT

Awal milenium ini namanya mendunia setelah terpilih menjadi penari utama diva Amerika Serikat Madonna. Eko dipilih dari 6000 penari profesional yang mengikuti audisi. Bukan hanya keahliannya menari, namun terutama kemahiran Eko menampilkan gerakan pencak silat dengan dipadukan tarilah yang membuat Madonna 'jatuh hati'. Kini, Eko aktif sebagai penata tari tak hanya di tingkat nasional namun juga internasional. Eko antara lain terlibat dalam American Dance Festival (ADF) di Durham (Amerika Serikat), Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) di Los Angeles, Le Grand Macabre di Paris dan London, opera Love Cloud di Venezia (Italia), Asian Contemporary Dance Festival di Osaka (Jepang), Flowering Tree di Wina, juga The Tempest di Auckland. Eko juga diundang sebagai 'artist in residence' dalam perhelatan MAU Forum di Auckland. Mei lalu, para penari Maya Dance Theatre dari Singapura datang ke Solo untuk latihan menari pada Eko. Dan ini bukan yang pertama kalinya Eko diajak bekerjasama dengan seniman-seniman internasional.

Meski namanya sangat Jawa, Eko lahir di Astambul (Kalimantan Selatan) tanggal 26 November 1970 dan kemudian dibesarkan di Magelang (Jawa Tengah). Sejak usia belia, Eko sudah tahu benar panggilan jiwanya adalah seni. Bakatnya ini menurun dari sang kakek, Djojoprajitno, penari kelompok Wayang Orang Sriwedari. Dari kakek dan pamannya pula ia belajar tari tradisional dan pencak silat sejak usia 6 tahun. Namun seperti kebanyakan keluarga lain di Indonesia, keluarga Eko menginginkannya menjadi karyawan bank atau PNS yang dianggap pekerjaan 'mapan'. Apalagi, latar belakang keluarganya yang tergolong kurang mampu, membuat harapan mereka agar Eko mempunyai pekerjaan yang dianggap 'menjamin' lebih besar lagi. Tak putus asa, Eko tetap serius menekuni tari. Akibatnya, bukan hanya teman-teman SMAnya meledek Eko banci, tapi keluarganyapun mencibir. Meski berat, Eko tetap tak menyerah dan terus merintis cita-citanya menjadi penari. 

Lulus SMA, Eko melanjutkan ke Sekolah Tinggi Tari Indonesia (STSI) Solo (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI Solo). Menekuni bidang yang dicintainya, membuat Eko belajar dengan sepenuh hati. Tak hanya menimba ilmu di kampus, iapun rajin berguru pada seniman-seniman lain baik yang beraliran tradisional maupun modern. Lulus dari STSI, ia melanjutkan pendidikan seni ke Amerika Serikat hingga meraih gelar Master of Fine Arts (MFA) dari University of California Los Angeles (UCLA). Tak banyak yang tahu, Eko sempat muncul dalam satu film produksi Hollywood sebagai.....orang Jepang! 

Kini, tak ada lagi yang meremehkan Eko. Kawan-kawan yang dulu mengejeknyapun berbalik bangga dan mengaguminya. Di luar panggung, Eko telah menjadi ayah 2 anak dari pernikahannya dengan Astri Kusuma Wardani. Keluarga kecil ini tinggal di Solo (Jawa Tengah). Ekopun telah membuktikan tak hanya mampu menghidupi keluarganya dari tari, namun juga mengharumkan nama Indonesia ke tingkat dunia. Selain mengajar tari di Solo Dance Studio miliknya, Eko juga sibuk mengajar di almamaternya, ISI.

Tentang fenomena mewabahnya tari dari luar negeri terutama hip hop di Indonesia, Eko menyampaikan opininya,"Kita bisa ikuti tarian mereka, misalnya hip hop dalam waktu singkat. Kita bahkan bisa menguasai tarian itu hanya dalam waktu beberapa jam. Tapi mereka enggak bisa ikuti tari tradisional kita dalam hitungan jam. Paling tidak mereka butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk menguasai tarian kita." 

Eko menambahkan, Indonesia merupakan negara dengan ragam tari tradisional terbanyak di dunia. "Kita nomor satu di dunia," tegas Eko mantap. Eko bisa dikontak di 0813.295.045.04 atau 0818.088.688.08  email: ekodances@gmail.com atau info@solodancestudio.org  Kalau ingin tahu kiprah terbaru Eko dan Solo Dance Studio, bisa akses www.solodancestudio.org  Ingin bertemu langsung, silakan datang ke Perum RC Palur Jl. Renyeb No.64 Ngringo , Palur, Karanganyar 57772 (Jawa Tengah). (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)