Tampilkan postingan dengan label sprinter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sprinter. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Agustus 2018

JEANNY NURAINI AMELIA : TERCEPAT BERKAT ANJING


Hari ini kita kembali berkenalan dengan remaja Indonesia yang telah mengukir prestasi internasional di ajang ASEAN Schools Games. Jeanny Nuraini Amelia Agreta, demikian nama lengkapnya. Remaja kelahiran Jakarta, tangal 22 Agustus 2000 yang tahun ini baru lulus dari SMAN 24 Jakarta. Jeanny adalah sprinter berbakat yang memboyong medali emas dari ajang ASEAN School Games yang diadakan akhir bulan lalu di Singapura. 

Ada yang lucu dari proses Jeanny menjadi atlet. Menekuni atletik sejak kelas 4 SD, Jeanny ternyata menemukan bakatnya secara tidak sengaja. Ceritanya, duluu..... itu Jeanny dikejar anjing di dekat rumahnya. Jeanny yang takut anjing, lari sekencang-kencangnya hingga sang anjing tak mampu menyusul. Peristiwa itu membuat Jeanny dan orangtuanya sadar bahwa Jeanny punya bakat menjadi sprinter. Wah berarti sang anjing yang mengejar Jeanny waktu itu berjasa dong ya? Tapi tidak cuma itu. Jeanny mengaku selalu membayangkan dikejar anjing saat bertanding di arena. Hasilnya? Tidak cuma jadi sprinter remaja tercepat di Indonesia selama 3 tahun berturut-turut. Tahun ini iapun menjadi remaja tercepat di Asia Tenggara! Selain takut anjing, Jeanny juga takut pada balon dan besi bercorak. Tapi Jeanny suka banget kalau diajak menyanyi. 

Beberapa minggu lagi Jeanny akan mewakili Merah Putih di ajang Asian Games. Jeanny akan turun di nomor lari estafet putri. Meski merupakan anggota tim yang termuda, Jeanny bertekad akan berjuang keras bersama para seniornya. Demi Merah Putih, selalu semangat dan pantang menyerah!

Prestasi:
- Medali perak lari 100 m putri ASEAN Schools Games 2016 Chiang Mai (Muangthai)
- Medali emas lari 100 m putri ASEAN Schools Games 2018 Singapura
(mgh/foto; istimewa)

Selasa, 02 April 2013

IRENE TRUITJE JOSEPH : PERAIH EMAS YANG TERGANJAL CEDERA


Irene Truitje Yoseph, salah seorang pelari cepat Indonesia yang telah mengukir prestasi di tingkat internasional. Dara asal Maluku ini merupakan peraih medali emas 100 meter putri SEA Games Brunei Darussalam (1999) dan medali perunggu  100 meter putri SEA Games Bangkok (2007). Sayang, prestasi wanita bertinggi 163 cm dengan berat 52 kg ini menurun setelah menderita cedera di tahun 2002. Sejak itu, Irene menjadi rentan cedera dan karirnya sebagai pelaripun tersendat. Irene lahir tanggal 14 Oktober 1981. (MGH/Foto: Antara)

Minggu, 31 Maret 2013

CHRISTIAN NENEPATH : WAKIL ASIA DI SEMIFINAL LARI OLIMPIADE

Namanya memang kurang dikenal bahkan bagi pecinta olahraga sekalipun. Padahal sebagai pelari cepat, Christian Nenepath  telah mempersembahkan prestasi membanggakan bagi bangsa Indonesia. Tak hanya berprestasi di SEA Games, Christian juga mencatat prestasi membanggakan di Olimpiade Los Angeles (Amerika Serikat) tahun 1984. Bersama Johanes Kardiono, Ernawan Witarsa, dan Purnomo, Christian mencapai semifinal lari estafet 4 x 100 meter dan menjadikan Indonesia satu-satunya negara Asia yang mencapai semifinal Olimpiade di nomor tersebut. Setahun kemudian, Christian berhasil mempersembahkan medali emas lari 100 meter perorangan putra dari ajang SEA Games di Bangkok. Olahragawan asal Sulawesi Utara ini bertinggi-berat 168/58 kg dan lahir tepat tanggal  21 April 1961. (MGH)

Sabtu, 30 Maret 2013

CAROLINA RIEUWPASSA : SPRINTER PUTRI ASIA TERBAIK DI KOLN


Di tahun 1970-an, Indonesia memiliki pelari cepat (sprinter) wanita handal yang mampu berprestasi di tingkat antar-bangsa. Ialah wanita asal Sulawesi Selatan, Carolina Rieuwpassa atau biasa disapa dengan nama Nina. Masuk 3 besar di Asian Games tahun 1970, Nina melesat menjadi pelari cepat Asia terbaik dalam pelatihan di Koln (Jerman). Total catatan waktunya melampaui catatan waktu yang dicapai para pelari Asia lainnya. Nina lahir di Makassar, 7 Februari 1949 dari pasangan Marcus Rieuwpassa dan Mien. Kini, Nina menikmati masa pesiunnya di Jl. Patiro Sompe, Makassar.

Prestasi:
- Medali perunggu lari 100 meter Asian Games Bangkok 1970
- Medali perunggu lari 200 meter Asian Games Bangkok 1970
- Medali emas 100 meter SEA Games 1977
(MGH/Foto: Rizal Harahap)

Kamis, 28 Maret 2013

HENNY MASPAITELLA : SEKALI BERLARI, LUMPUHKAN 2 PENCOPET


Henny Maspaitella memang dilahirkan untuk menjadi atlet. Dilahirkan dalam keluarga olahragawan, berayah Leonard Maspaitella yang atlet lompat jangkit dan beribu Paulina Sarah Lessil, seorang atlet bola voli. Tak hanya orang tuanya, adik Henny, Loudry, juga atlet bola voli. Henny sendiri sempat menekuni bola voli, basket, hingga sofbol, sebelum kemudian menemukan 'cinta sejatinya' pada atletik, terutama lari. Tak salah juga, karena sejak kecil Henny sudah gemar berlari. Waktu itu, ia lebih sering berlari daripada berjalandi dalam rumahnya. Untungnya, rumah orangtua Henny di Jl. Kawung Surabaya dekat lapangan sepakbola. Di lapangan itulah Henny kecil berlatih lari setiap hari.  

Lourina Henriette Maspaitella demikian nama lengkapnya, menikah dengan sesama atlet atletik, I Wayan Budi Astra. Wanita langsing bertinggi-berat 171 cm/60 kg ini kini menekuni profesi sebagai pelatik atletik di Surabaya dan Sidoarjo (Jawa Timur). Apalagi ia telah mengambil pensiun dini dari Bank Dagang Negara(BDN) untuk total mengabdi pada dunia olahraga yang amat dicintainya. Di waktu senggangnya, Henny gemar membaca buku-buku psikologi. Ini sangat membantu Henny mendekatkan diri dengan anak latihnya. Henny memang menempatkan diri sebagai ibu bagi anak-anak latihnya, jadi teman curhat bahkan soal yang sangat pribadi sekalipun. Toh di saat latihan ia tetap menerapkan ketegasan dan disiplin yang ketat, bahkan cenderung otoriter. 

Di luar prestasinya sebagai pelari cepat, tahun 1998, Henny sempat ramai diberitakan banyak media nasional karena prestasinya yang lain. Waktu itu, Henny yang masih bekerja di BDN di Jakarta sembari menjadi atlet Pelatnas. Suatu hari sepulang bekerja, di bis kota menuju tempat latihannya, Henny dicopet sekelompok pria. Menyadari dompetnya diembat, tanpa pikir panjang, wanita berdarah Ambon ini langsung mengejar hingga turun dari bis kota sambil berteriak. Kebetulan ada seorang polisi yang berada di dekat TKP. Kontan, pak Polisi membantu sang peraih emas SEA Games mengejar para pencopet. Hasilnya, pak Polisi sukses membekuk seorang pencopet dan Henny melumpuhkan....2 pencopet! Sesampai di kantor polisi, Henny membuat tercengang para polisi karena keperkasaannya. Sampai ia sempat disangka intel yang sedang bertugas. Apalagi, waktu itu Henny masih berambut cepak. Dan esoknya, peristiwa ini menjadi berita di berbagai media Tanah Air.

Di balik semua itu, tak banyak yang tahu, Henny sempat keder akan kemungkinan balas dendam komplotan pencopet yang diringkusnya. Maka, selama 2 bulan setelah peristiwa itu ia tak berani naik bis kota dan selalu naik taksi. Setelah pensiun dini dari BDN, Henny dan keluarganya tinggal di kawasan Sidosermo, Surabaya. 

Prestasi:
- Medali emas lari 100 m puteri SEA Games 1979
- Medali emas lari 100 m Kejuaraan Asia Terbuka 1981
- Medali emas lari 200 m Kejuaraan Asia terbuka 1981
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Rabu, 27 Maret 2013

ERNAWAN WITARSA : SEMANGAT TERSULUT INDONESIA RAYA


Di ajang Olimpiade, para pelari kita tak hanya mencatat sejarah secara individual namun juga estafet beregu. Ini terjadi tahun 1984 di Olimpiade Los Angeles (Amerika Serikat). Empat pelari cepat (sprinter) kita: Purnomo, Johannes Kardiono, Christian Nenepath, dan Ernawan Witarsa sukses menempus semifinal estafet 4 x 100 meter putra. Sebelumnya putra-putra Indonesia tersebut mencapai tempat ke-3 di seri ke-3 babak pertama. 

Ernawan mengenang, meski waktu itu belum ada iming-iming bonus milyaran, para atlet kita bertanding di Olimpiade dengan semangat membara. Motivasinya hanyalah memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara tanpa memikirkan yang lainnya. Lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' yang dikumandangkan sebelum bertanding, sudah mampu membakar semangat juang  para olahragawan kita. Tanpa gentar, mereka bertanding melawan para atlet terbaik dunia yang berpostur lebih tinggi dan besar. 

Meski bilangan usia telah jauh bertambah, Ernawan Witarsa masih berprestasi di tingkat internasional. Tiga tahun lalu, pelari kelahiran 3 Maret 1966 yang bertinggi badan 173 cm ini meraih 2 medali emas dalam Kejuaraan Atletik Asia di Kuala Lumpur yaitu untuk nomor 100 meter dan 200 meter. Untuk menghidupi keluarganya, Ernawan sehari-hari bekerja sebagai karyawan bank OCBC NISP di Garut. Tetap, ia meluangkan waktu berbagi ilmu dan pengalaman dengan melatih para pelari muda. Namun di rumah, ia tetap memberikan waktu terbaik bagi kedua putranya, Arasy Akbar dan Akmal Fajar juga sang istri tercinta Neni Sikki.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Senin, 25 Maret 2013

PURNOMO : TANPA SEPATU DI KEJUARAAN PERDANA


Sebelum pelari (sprinter) legendaris kita Mardi Lestari menembus semifinal lari 100 m Olimpiade, seniornya, Purnomo, telah mencatat sejarah dengan pencapaian yang sama di Olimpiade Los Angeles (1984). Purnomo juga menjadi satu-satunya pelari Asia yang berhasil menembus hadangan pelari kelas dunia hingga semifinal. Purnomo berhasil mendapat tempat di semifinal setelah berhasil menduduki urutan ke-3 tercepat di seri ke-4 perempat final. Di urutan pertama ada Ray Stewart dari Jamaika dan Allan Wells dari Inggris, sang pemegang medali emas Olimpiade sebelumnya!

Purnomo Muhammad Yudhi lahir di Purwokerto (Jawa Tengah), 12 Juli 1962. Kesuksesan putra petani ini hingga menjadi pelari kelas dunia dicapai dengan modal kerja keras, mental baja, dan semangat pantang menyerah. Mengenang masa mudanya sebagai atlet, Beliau menuturkan setiap hari berlatih mulai jam 05.00 pagi hingga 06.30.Berangkat ke sekolah naik angkot dan harus sudah berlatih lagi pukul 15.00 sepulang sekolah. Purnomo menerjuni olahraga atletik khususnya lari karena terinspirasi kesuksesan M. Sarengat, pelari legendaris Indonesia lain yang juga berasal dari keluarga sederhana namun mampu berprestasi di tingkat internasional. 

Purnomo mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar pertama kali saat kelas 3 SMA. Yang mengharukan, ia berlomba dengan hanya hanya mengenakan kaos kaki karena tak mampu membeli sepatu. Purnomo menikahi putri bangsawan RAy Endang Irmastiwi dan dikaruniai 4 orang anak. Setelah mundur dari lintasan, Beliau aktif di organisasi olahraga yang mengurus mantan atlet-atket Olimpiade Indonesia.

Prestasi:
- Medali perak Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985
- Medali perak Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985
- Medali emas Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985
- Medali emas lari 200 m SEA Games Bangkok 1985
- Medali emas estafet 4 x 100 m SEA Games Bangkok 1985 (bersama Tim Indonesia)
- Medali perunggu lari 100 m SEA Games 1985
(MGH/Foto: Kartono Ryadi)

Minggu, 29 Juli 2012

FERNANDO LUMAIN : LOLOS OLIMPIADE TANPA KUALIFIKASI



Fernando Lumain, atau biasa dipanggil Nando, adalah satu-satunya atlet putra wakil Indonesia di arena atletik Olimpiade London. Nando lolos ke Olimpiade tanpa melalui babak kualifikasi. Sebagai penerima beasiswa International Olympic Committee, Nando otomatis mendapat fasilitas wild card ke ajang olahraga terbesar sedunia. Tapi tentu tak hanya mengandalkan fasilitas, prestasi pelari cepat (sprinter) spesialis 100 meter inipun bisa diandalkan. Terbukti ia sukses memenangkan beberapa pertandingan lari internasional. Terakhir ia mempersembahkan medali emas lari estafet putra 4x100 meter dari ajang SEA Games XXVI di Palembang tahun lalu. 

Lahir 18 Oktober 1989 Di Manado, saat ini ia masih kuliah di Universitas Prof . Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta. Awalnya, Nando menekuni olahraga basket sebelum pindah jalur ke atletik dan sukses mencetak prestasi. Di Olimpiade, Nando bertekad akan berjuang sebaik-baiknya. Ia berharap bisa memperbaiki rekornya. Alamat kontak Nando di email: fernandolumain@yahoo.com Twitternya @Nando_L18

Prestasi:
- Medali perunggu lari 100 meter putra University Games, Muangthai 
- Medali emas lari estafet putra University Games, Muangthai
- Medali emas lari estafet 4x100 meter putra, Vietnam
- Medali emas Muangthai Open (2009)
- Medali emas estafet 4x100 meter putra SEA Games XXVI, Palembang (2011)
(MGH/Foto:Koleksi pribadi)