Irene Truitje Yoseph, salah seorang pelari cepat Indonesia yang telah mengukir prestasi di tingkat internasional. Dara asal Maluku ini merupakan peraih medali emas 100 meter putri SEA Games Brunei Darussalam (1999) dan medali perunggu 100 meter putri SEA Games Bangkok (2007). Sayang, prestasi wanita bertinggi 163 cm dengan berat 52 kg ini menurun setelah menderita cedera di tahun 2002. Sejak itu, Irene menjadi rentan cedera dan karirnya sebagai pelaripun tersendat. Irene lahir tanggal 14 Oktober 1981. (MGH/Foto: Antara)
Serabi Indonesia (SERbA-serBI INDONESIA), berisi tulisan tentang sisi positif Indonesia. Dipersembahkan untuk saudara-saudari sebangsa.
Tampilkan postingan dengan label atlet cabang atletik Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atlet cabang atletik Indonesia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 April 2013
IRENE TRUITJE JOSEPH : PERAIH EMAS YANG TERGANJAL CEDERA
Irene Truitje Yoseph, salah seorang pelari cepat Indonesia yang telah mengukir prestasi di tingkat internasional. Dara asal Maluku ini merupakan peraih medali emas 100 meter putri SEA Games Brunei Darussalam (1999) dan medali perunggu 100 meter putri SEA Games Bangkok (2007). Sayang, prestasi wanita bertinggi 163 cm dengan berat 52 kg ini menurun setelah menderita cedera di tahun 2002. Sejak itu, Irene menjadi rentan cedera dan karirnya sebagai pelaripun tersendat. Irene lahir tanggal 14 Oktober 1981. (MGH/Foto: Antara)
Minggu, 31 Maret 2013
CHRISTIAN NENEPATH : WAKIL ASIA DI SEMIFINAL LARI OLIMPIADE
Namanya memang kurang dikenal bahkan bagi pecinta olahraga sekalipun. Padahal sebagai pelari cepat, Christian Nenepath telah mempersembahkan prestasi membanggakan bagi bangsa Indonesia. Tak hanya berprestasi di SEA Games, Christian juga mencatat prestasi membanggakan di Olimpiade Los Angeles (Amerika Serikat) tahun 1984. Bersama Johanes Kardiono, Ernawan Witarsa, dan Purnomo, Christian mencapai semifinal lari estafet 4 x 100 meter dan menjadikan Indonesia satu-satunya negara Asia yang mencapai semifinal Olimpiade di nomor tersebut. Setahun kemudian, Christian berhasil mempersembahkan medali emas lari 100 meter perorangan putra dari ajang SEA Games di Bangkok. Olahragawan asal Sulawesi Utara ini bertinggi-berat 168/58 kg dan lahir tepat tanggal 21 April 1961. (MGH)
Minggu, 24 Maret 2013
MARDI LESTARI : MANUSIA TERCEPAT ASIA
'Manusia tercepat Asia' begitu ia dijuluki setelah menjadi satu-satunya atlet Asia yang berhasil menembus semifinal lari 100 m Olimpiade Seoul (1988). Hingga kini, julukan itu lekat pada pelari kelahiran 1 Juli 1968. Pencapaian di Olimpiade tak hanya melambungkan nama Mardi lestari di Tanah Air, namun juga di luar negeri. Bahkan hingga kini, nama dan sosoknya masih sangat dikenal kalangan olahraga di Jerman.
Kadir Sani, pelatih atletik Sumatera Selatan yang sempat mengikuti pelatihan lari gawang di Jerman 3 tahun lalu mengatakan, nama Mardi Lestari sangat dikenal bahkan oleh para siswa sekolah olahraga di Jerman. Komite olahraga nasional Jaerman juga memiliki rekaman lengkap Mardi lestari saat bertanding di SEA Games dan Olimpiade. Yang mengharukan, tambah Kadir, penghargaan yang ditunjukkan masyarakat olahraga Jerman pada Mardi. Mantan Manusia Tercepat Asia itu disambut layaknya seorang pejabat di Indonesia. Padahal di Indonesia sendiri, nama dan presatsi Mardi Lestari sudah dilupakan banyak orang.
Lahir di Binjai (Sumatera Utara) dengan nama Afdiharto Mardi Lestari, tubuhnya terbilang mungil untuk ukuran atlet: tinggi 166 cm dengan berat 63 kg. Namun, soal kecepatan, kelincahan, dan kekuatan, ia tak kalah dengan atlet-atlet lari kelas dunia. Terbukti Mardi mampu bersaing adu cepat di lintasan yang sama dengan pelari-pelari top dunia seperti Ben Johnson di Olimpiade.
Prestasi:
- Medali perak 100 m SEA Games Jakarta 1987
- Medali emas 200 m SEA Games Kuala Lumpur 1989
- Medali emas 100 m SEA Games Kuala Lumpur 1989
- Medali emas 100 m SEA Games Manila 1991
- Medali emas 100 m SEA Games Singapura 1993
(MGH/Foto: Wikipedia)
(MGH/Foto: Wikipedia)
Senin, 26 November 2012
RINI BUDIARTI : EMAS HALANG RINTANG SEA GAMES
Wanita asal Yogya yang berwajah lembut ini sehari-hari bekerja di Kemenpora. Di luar jam kerja, ialah ibu seorang putri dan 2 putra yang lucu-lucu. Tapi jangan salah, di arena ia merupakan atlet yang tangguh. Rini Budiarti memang salah satu atlet lari halang rintang andalan Indonesia. Prestasinya di nomor halang rintang cukup membangggakan. Ialah peraih medali perak lari halang rintang 3000 meter di Taiwan Terbuka tahun ini. Sebelumnya, Rinipun telah mempersembahkan medali emas dari ajang SEA Games Palembang (2011). Rini beragama Islam dan menikah dengan Jemi, PNS di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga DKI Jakarta. (MGH/Foto:Koleksi Pribadi)
Jumat, 10 Agustus 2012
MARAM SUDARMODJO : ATLET PERTAMA DI FINAL OLIMPIADE
Generasi sekarang umumnya asing mendengar nama Maram Sudarmodjo atau sering juga disebut dengan ringkas Sudarmodjo. Padahal atlet loncat tinggi yang telah berpulang ke Rahmatullah di tahun 2006 silam ini merupakan salah 1 dari 3 atlet yang pertama dikirim Indonesia ke ajang Olimpiade di Helsinki (1952). Sudar, demikian Almarhum biasa dipanggil, adalah satu-satunya atlet cabang atletik yang dikirim Indonesia masa itu dan berhasil menembus babak final. Beliau terpilih menjadi wakil Indonesia di Olimpiade setelah meraih medali perunggu loncat tinggi dalam Asiade (kemudian disebut dengan Asian Games I) di New Delhi (1951). Prestasi yang tak bisa dianggap enteng, apalagi saat itu sarana bagi atlet jauh dari memadai. Bayangkan saja, tak hanya belum ada Pelatnas, namun para atlet harus berjuang ekstra keras sekedar untuk berlatih. Pak Sudar misalnya, setiap hari bersepeda ke tempat latihan di Lapangan Ikada (sekarang Monas) sambil membawa cangkul. Sebelum berlatih, Pak Sudar mencangkul kolam pasir sendiri, agar tubuhnya tidak sakit saat mendarat di tanah. Toh semua dilakukan dengan senang hati karena kecintaan terhadap olahraga dan Tanah Air.
Di luar hobinya sebagai atlet, Maram Sudarmojo adalah seorang anggota TNI dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel Navigasi. Atlet asal Sragen (Jawa Tengah) ini menikah dengan RA Soekandani dan dikaruniai 5 orang anak. Hingga kini, sang istri tinggal di rumah mereka yang asri di kawasan Jakarta Timur. Tak hanya meninggalkan prestasi yang membanggakan di bidang olahraga, Pak Sudar juga dikenang karena pribadi yag rendah hati. Saat pulang dari Helsinki setelah berjuang di Olimpiade misalnya, Beliau tak memberi kabar keluarga maupun teman-temannya hingga sampai di Tanah Air tanpa seorangpun menjemput. Pak Sudarpun tak pernah membanggakan diri sehingga tak seorangpun dari ke-5 anak Beliau yang pernah diberitahu tentang prestasi Beliau sebagai atlet. Bahkan, Pak Sudar memberi nama ke-5 anak Beliau dengan nama-nama teman yang dianggap lebih pintar dan lebih baik dengan harapan bisa seperti teman-teman Beliau itu. Sungguh teladan yang amat langka di masa sekarang. (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)
Minggu, 29 Juli 2012
FERNANDO LUMAIN : LOLOS OLIMPIADE TANPA KUALIFIKASI
Fernando Lumain, atau biasa dipanggil Nando, adalah satu-satunya atlet putra wakil Indonesia di arena atletik Olimpiade London. Nando lolos ke Olimpiade tanpa melalui babak kualifikasi. Sebagai penerima beasiswa International Olympic Committee, Nando otomatis mendapat fasilitas wild card ke ajang olahraga terbesar sedunia. Tapi tentu tak hanya mengandalkan fasilitas, prestasi pelari cepat (sprinter) spesialis 100 meter inipun bisa diandalkan. Terbukti ia sukses memenangkan beberapa pertandingan lari internasional. Terakhir ia mempersembahkan medali emas lari estafet putra 4x100 meter dari ajang SEA Games XXVI di Palembang tahun lalu.
Lahir 18 Oktober 1989 Di Manado, saat ini ia masih kuliah di Universitas Prof . Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta. Awalnya, Nando menekuni olahraga basket sebelum pindah jalur ke atletik dan sukses mencetak prestasi. Di Olimpiade, Nando bertekad akan berjuang sebaik-baiknya. Ia berharap bisa memperbaiki rekornya. Alamat kontak Nando di email: fernandolumain@yahoo.com Twitternya @Nando_L18
Prestasi:
- Medali perunggu lari 100 meter putra University Games, Muangthai
- Medali emas lari estafet putra University Games, Muangthai
- Medali emas lari estafet 4x100 meter putra, Vietnam
- Medali emas Muangthai Open (2009)
- Medali emas estafet 4x100 meter putra SEA Games XXVI, Palembang (2011)
(MGH/Foto:Koleksi pribadi)
Sabtu, 28 Juli 2012
TRIYA NINGSIH : TOLAK TAWARAN 2 KEWARGANEGARAAN
Kecil-kecil cabe rawit, biar kecil prestasi melangit. Begitulah pelari jarak jauh Indonesia yang sedang berlaga di Oimpiade, Triya Ningsih. Dengan tinggi 146 cm dan berat 37 cm, prestasinya melampaui atlet-atlet lain yang berpostur lebih menjulang. Ialah pemegang rekor lari 10.000 meter SEA Games dengan catatan waktu 32 menit 49,47 detik, mengoreksi rekor lama juga atas nama pelari Indonesia Supriati Sutono yang telah bertahan selama 8 tahun! Kalau Sahabat menyaksikan upacara pembukaan Olimpiade Subuh tadi (waktu Indonesia), sosok dara mungil ini direkam kamera berada di barisan terdepan bersama beberapa atlet wanita Indonesia lain dengan seragam kebaya merah.
Lahir 15 Mei 1987, putri pasangan petani alm. Iyas Saderi dan Ngatiyateni ini mengasah bakat berlarinya di klub Lokomotif milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Solo. Siapa sangka, awalnya ia tak berminat menjadi atlet lari meski sang kakak, Ruwiyati, merupakan atlet lari nasional yang disegani. Untung ada Alwi Mugiyanto, pelatih Ruwiyati yang yakin Triya berbakat menjadi pelari. Alwi terus membujuk Triya agar bersedia mengikuti jejak sang kakak menekuni olahraga lari. Tak hanya itu tantangan yang dihadapi Alwi. Para pengamat olahragapun mencibir Triya yang dianggap tidak cocok menjadi atlet. Terbukti, keyakinan dan kegigihan Alwilah yang tepat. Bahkan karena prestasinya yang mengagumkan di tingkat Asia, Triya pernah mendapat tawaran kewarganegaraan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Jawabannya, sudah kita ketahui. Hingga kini Triyatetap berjuang membela Merah Putih di arena atletik.
Tak hanya mengandalkan bakat, Triyaberlatih keras dan disiplin. Untuk menjaga performanya, dara ini berlari 10-35 km/hari 6 hari, kecuali hari Minggu.Target latihannya perminggu berlari 210 - 250 km! Tak hanya itu, Triya hanya makan ikan, sayur mayur, dan beras merah yang hanya ada di Indonesia. Ia berpantang makan makanan berminyak, daging, dan minum es. Sehari-hari Triyaningsih bekerja sebagai PNS di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Selain bakat, semangat juang menjadi nilai tambah Triya. Ini ditunjukkan antara lain saat berlomba di nomor lari maraton SEA Games tahun lalu. Triya memilih menyembunyikan cedera yang didapatnya sejak bertanding di nomor 5.000 meter agar tetap diturunkan di nomor maraton. Hasilnya berbuah emas di setiap nomor yang diikutinya. Padahal belakangan ia mengaku, kalau saja tak ada penonton, ia pasti berlari sambil meringis kesakitan. "Tapi karena ada penonton, jadi saya tahan sakitnya dan berlari sambil tersenyum," tutur wanita kuat ini.
Meski bertanding di cabang yang relatif lebih menguras tenaga, Triya memilih tetap berpuasa selama Olimpiade. Ia berharap bisa memperbaiki catatan waktu dalam Olimpiade ini. Untuk menghadapi Olimpiade, ia telah mempersiapkan diri secara khusus di kawasan pegunungan Pengalengan di Bandung.
Selain bakat, semangat juang menjadi nilai tambah Triya. Ini ditunjukkan antara lain saat berlomba di nomor lari maraton SEA Games tahun lalu. Triya memilih menyembunyikan cedera yang didapatnya sejak bertanding di nomor 5.000 meter agar tetap diturunkan di nomor maraton. Hasilnya berbuah emas di setiap nomor yang diikutinya. Padahal belakangan ia mengaku, kalau saja tak ada penonton, ia pasti berlari sambil meringis kesakitan. "Tapi karena ada penonton, jadi saya tahan sakitnya dan berlari sambil tersenyum," tutur wanita kuat ini.
Meski bertanding di cabang yang relatif lebih menguras tenaga, Triya memilih tetap berpuasa selama Olimpiade. Ia berharap bisa memperbaiki catatan waktu dalam Olimpiade ini. Untuk menghadapi Olimpiade, ia telah mempersiapkan diri secara khusus di kawasan pegunungan Pengalengan di Bandung.
Prestasi:
- Medali emas maraton putri Brunei Darussalam (2005)
- Medali emas maraton putri Penang, Malaysia (2005)
- Medali emas maraton putri Singapura (2006)
- Medali emas maraton putri Muangthai (2006)
- Medali emas lari 5.000 meter putri SEA Games Muangthai (2007)
- Medali emas maraton putri Brunei Darussalam (2005)
- Medali emas maraton putri Penang, Malaysia (2005)
- Medali emas maraton putri Singapura (2006)
- Medali emas maraton putri Muangthai (2006)
- Medali emas lari 5.000 meter putri SEA Games Muangthai (2007)
- Medali emas lari 10.000 meter putri SEA Games XXV Laos (2009)
- Medali emas lari 5.000 meter putri SEA Games XXV Laos (2009)
- Medali emas lari 10.000 meter putri SEA Games Palembang (2011)
- Medali emas lari 5.000 meter putri SEA Games Palembang (2011)
- Medali emas maraton putri SEA Games Palembang (2011)
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)
- Medali emas lari 10.000 meter putri SEA Games Palembang (2011)
- Medali emas lari 5.000 meter putri SEA Games Palembang (2011)
- Medali emas maraton putri SEA Games Palembang (2011)
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)
Kamis, 26 Juli 2012
FRANKLIN RAMSES BURUMI : DIRAGUKAN, RAIH 3 EMAS SEA GAMES
Dalam SEA Games di Palembang (2011) lalu, Franklin Ramses Burumi mempersembahkan 3 emas untuk Indonesia: lari nomor 100 meter putra, nomor 200 meter putra, dan 4x100 meter estafet putra. Membanggakan, apalagi itu pertamakalinya Franklin bertanding di SEA Games.
Atlet yang dikenal humoris ini lahir di Serui (Papua), 14 Mei 1991 dari pasangan guru SD Max Burumi dan Dolli Warusi. Nama Franklin sempat dicoret dari Pelatnas karena prestasinya kurang memuaskan. Padahal diakui, pemuda Papua ini sangat berbakat. Namun memang saat itu Franklin terbawa arus teman-teman party goers-nya. Gara-gara hobi dugemnya inilah performa Franklin sebagai pelari cepat (sprinter) menurun. Teman-teman atletnyapun menjauhi. Untunglah, Franklin segera sadar dan kembali fokus mengejar prestasi sebagai atlet. Hasilnya, Franklin bisa kembali menembus Pelatnas bahkan berprestasi di tingkat internasional.Franklinpun menjadi salah satu atlet yang digadang-gadang membawa pulang medali emas Olimpiade. Sayang, beberapa bulan lalu Franklin menderita cedera hingga tak maksimal tampil dalam kualifikasi Olimpiade. (MGH/Foto: www.untukindonesiajuara)
Selasa, 10 Juli 2012
DEDEH ERAWATI : ENERGINYA MENGAGUMKAN
Atlet kelahiran Sumedang (Jawa Barat), 25 Mei 1979 ini tergolong senior di cabang olahraga atletik, khususnya olahraga lari gawang. Mei lalu, Dedeh berhasil membawa pulang medali emas dari ajang kejuaraan Atletik Taiwan Terbuka. Setelah bercerai dengan atlet lompat galah Nunung Jayadi, Dedeh fokus berprestasi di arena atletik terutama lari gawang yang menjadi spesialisasinya. Di luar arena, Dedeh tak melupakan peran sebagai orangtua tunggal bagi putri semata wayangnya, Diva Renata. Pada sang putri, dedeh menyimpan asa Diva kelak menjadi atlet kebanggan Indonesia. Kesibukan yang demikian padat juga tak membuat Dedeh mengesampingkan pendidikan. Kuliahnya di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakartapun tetap ditekuni di samping pekerjaannya sebagai karyawati Bank Mandiri. Mengagumkan memang, energi wanita perkasa ini! Bersama Diva, kini Dedeh tinggal di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, tak jauh dari tempatnya berlatih atletik.(MGH/Foto:Koleksi Pribadi)
Selasa, 29 Mei 2012
SERAFI ANELIES UNANI : EMAS SANG DEBUTAN
Mau tahu kunci suksesnya? Tetap berjuang walaupun kesempatan yang ada sangat sedikit dan terus berdoa, begitu yang diungkap mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) ini.
Serafi sendiri telah tekun berlatih lari sejak berumur 9 tahun. Ia memang sudah menyukai lari sejak masih anak-anak. Kecintaannya ini menumbuhkan motivasi yang kuat untuk terus berlatih keras dan fokus. Hasilnya, Serafi menjadi wanita yang tercepat di Asia Tenggara untuk lari nomor 100 meter! Kini, di samping kesibukannya sebagai atlet dan mahasiswi, Serafi berbisnis pakaian beesama teman-temannya. Yang istimewa, pakaiannya memakai bahan kain batik Papua dan hanya dibuat satu desain untuk satu pemesan. Jadi, harus pesan dulu ya. (MGH/Foto:Koleksi Pribadi)
Langganan:
Postingan (Atom)








