Tampilkan postingan dengan label Purwokerto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purwokerto. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Maret 2013

PURNOMO : TANPA SEPATU DI KEJUARAAN PERDANA


Sebelum pelari (sprinter) legendaris kita Mardi Lestari menembus semifinal lari 100 m Olimpiade, seniornya, Purnomo, telah mencatat sejarah dengan pencapaian yang sama di Olimpiade Los Angeles (1984). Purnomo juga menjadi satu-satunya pelari Asia yang berhasil menembus hadangan pelari kelas dunia hingga semifinal. Purnomo berhasil mendapat tempat di semifinal setelah berhasil menduduki urutan ke-3 tercepat di seri ke-4 perempat final. Di urutan pertama ada Ray Stewart dari Jamaika dan Allan Wells dari Inggris, sang pemegang medali emas Olimpiade sebelumnya!

Purnomo Muhammad Yudhi lahir di Purwokerto (Jawa Tengah), 12 Juli 1962. Kesuksesan putra petani ini hingga menjadi pelari kelas dunia dicapai dengan modal kerja keras, mental baja, dan semangat pantang menyerah. Mengenang masa mudanya sebagai atlet, Beliau menuturkan setiap hari berlatih mulai jam 05.00 pagi hingga 06.30.Berangkat ke sekolah naik angkot dan harus sudah berlatih lagi pukul 15.00 sepulang sekolah. Purnomo menerjuni olahraga atletik khususnya lari karena terinspirasi kesuksesan M. Sarengat, pelari legendaris Indonesia lain yang juga berasal dari keluarga sederhana namun mampu berprestasi di tingkat internasional. 

Purnomo mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar pertama kali saat kelas 3 SMA. Yang mengharukan, ia berlomba dengan hanya hanya mengenakan kaos kaki karena tak mampu membeli sepatu. Purnomo menikahi putri bangsawan RAy Endang Irmastiwi dan dikaruniai 4 orang anak. Setelah mundur dari lintasan, Beliau aktif di organisasi olahraga yang mengurus mantan atlet-atket Olimpiade Indonesia.

Prestasi:
- Medali perak Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985
- Medali perak Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985
- Medali emas Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985
- Medali emas lari 200 m SEA Games Bangkok 1985
- Medali emas estafet 4 x 100 m SEA Games Bangkok 1985 (bersama Tim Indonesia)
- Medali perunggu lari 100 m SEA Games 1985
(MGH/Foto: Kartono Ryadi)

Rabu, 27 Februari 2013

LIE POO DJIAN : 1 DARI 7 PENDEKAR BULUTANGKIS

Pudjianto, atau lebih dikenal dengan nama lahirnya Lie Poo Djian, adalah salah 1 dari 7 Pendekar Bulutangkis yang mempersembahkan Piala Thomas untuk pertama kalinya pada bangsa Indonesia (1958). Selain bermain di nomor tunggal, Poo Djian juga turun di nomor ganda bersama Tan Joe Hok yang juga saudara iparnya. Empat tahun kemudian, Poo Djian kembali memperkuat Tim Thomas Indonesia dan berhasil mempertahankan Piala Thomas di Bumi Pertiwi. 

Lahir tepat 25 Agustus 1932 di Purwokerto (Jawa Tengah), ayah 5 anak ini wafat 9 Agustus 2008 di rumahnya di Jakarta karena penyakit stroke yang sudah lama diderita. Menjelang tutup usia, Poo Djian hanya bisa duduk di kursi roda dan susah berbicara. Pahlawan bulutangkis Indonesia ini dimakamkan di Heroes Plaza, San Diego Hills, Karawang (Jawa Barat).(MGH)

Kamis, 17 Januari 2013

IVAN KURNIAWAN : TAK PUAS MEDALI PERAK KIMIA


Capaian medali perak dalam Olimpiade Kimia Sedunia, International Chemistry Olympiad (IChO) yang diikuti ratusan siswa terbaik dari 73 negara jelas prestasi yang membanggakan. Toh bagi Ivan Kurniawan, itu belum memuaskan. Pasalnya, Ivan berangkat dari kotanya, Purwokerto (Jawa Tengah) dengan target medali emas bagi bangsa Indonesia. Hasil inilah yang membuat Ivan tidak puas dan bertekad belajar lebih keras lagi agar lolos mengikuti Olimpiade Kimia Internasional tahun depan dan pulang membawa medali emas.

Ivan lahir di Purwokerto tanggal 13 Agustus 1995, putra dari Tjieng Kwie Hoa dan Djie Wey. Sehari-harinya, remaja ini gemar membaca, bersepeda, internet, dan jalan-jalan. Ivan juga aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai ekstra kurikuler di sekolahnya seperti PMR, KIR, Team Olympiad, Kerohanian, dan karawitan. Wah hebat! Meski jago ilmu pengetahuan, tetap menekuni budaya negeri sendiri! Untuk rekan-rekan sesama pelajar, Ivan berbagi tips belajar: "harus fokus, tapi tetap santai. Teruslah belajar tapi jangan ngoyo (memaksakan diri)." Ivan juga menyukai semua mata pelajaran meskipun mengaku tidak semua dikuasainya. Di luar urusan sekolah, Ivan menggemari olahraga sepakbola dan basket.  

Berkat prestasinya, Ivan mendapat beasiswa dari Kemendiknas hingga jenjang S2 di dalam maupun luar negeri. Ivan bisa disapa lewat twitternya @A_Ivan_L

Prestasi:
- Medali perak International Junior Science Olympiad (IJSO) 2009
- Medali perunggu International Chemistry Olympiad (IChO) 2011
- Medali perak International Chemistry Olympiad (IChO), Amerika Serikat 2012
(MGH/Foto: SMAN 1 Purwokerto)

Rabu, 27 Juni 2012

WUKIRASIH SAWONDARI : ATLET SOFT TENIS PERINGKAT 2 DUNIA


Dalam SEA Games akhir tahun lalu di Palembang, atlet-atlet soft tenis kita sukses menyapu bersih semua medali emas. Indonesia mengantongi total 7 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu di semua nomor soft tenis yang dipertandingkan. 3 dari medali emas tersebut dipersembahkan srikandi kita, Wukirasih Sawondari. Atlet kelahiran Purwokerto (Jawa Tengah), 20 November 1980 ini menjadi ratu di semua nomor putri: tunggal, beregu, dan ganda (bersama Maya Rosa). Lebih hebat lagi, Wukir melaju mulus tanpa sekalipun terkalahkan selama ajang SEA Games. Tak heran, sebagai atlet soft tenis peringkat 2 dunia, Wukir nyaris tak punya lawan seimbang di Asia Tenggara.

Tentu bukan sekali itu Wukir merebut emas SEA Games. Tahun 1997, iapun membawa pulang medali emas, disusul tahun 1999 untuk nomor beregu putri. Tahun 2002, Wukir bahkan meraih emas nomor beregu putri di ajang yang lebih besar, Asian Games. 

Sebelum terjun ke soft tenis, Wukir lebih dulu menekuni olahraga tenis.  Ia telah terjun sebagai petenis profesional di usia 13 tahun. Pertama kali ia bertanding di Turnamen ITF di Singapura (1993). Bagi Wukir sendiri, kemenangan gemilang di SEA Games 2011 merupakan hal yang sangat istimewa karena terjadi tepat di hari ulang tahunnya. "Ini kado terindah bagi saya," katanya sambil mencium medali emasnya dengan wajah berseri-seri.(MGH/Foto: Agus Rusmin Nuryadin)