Bersama Nurfitriyana dan Lilies Handayani, Kusuma Wardhani mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia dari ajang Olimpiade Seoul (1988). Tiga srikandi tersebut mencatat sejarah dengan memboyong medali perak panahan beregu puteri setelah mengalahkan tim putri Amerika Serikat. Tidak mudah, karena tim Indonesia dan Amerika Serikat mencatat skor yang sama. Melalui pertandingan ulang untuk memperebutkan medali perak, ke-3 srikandi kita berhasil mengungguli trio putri Amerika Serikat dan mempersembahkan medali Olimpiade pertama bagi bangsa Indonesia. (MGH/Foto: Iwan Dahnial)
Serabi Indonesia (SERbA-serBI INDONESIA), berisi tulisan tentang sisi positif Indonesia. Dipersembahkan untuk saudara-saudari sebangsa.
Tampilkan postingan dengan label peraih medali olimpiade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peraih medali olimpiade. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 Maret 2013
Jumat, 11 Januari 2013
MINARTI TIMUR : PERAIH MEDALI OLIMPIADE ITU TERDAMPAR DI MANILA
Sempat menjadi andalan Indonesia di sektor tunggal putri, pebulutangkis asal Surabaya ini makin menjulang prestasinya setelah memperkuat ganda campuran. Kecemerlangan prestasinya stabil meski beberapa kali berganti tandem, mulai Tri Kusharjanto, Bambang Supriyanto, hingga Sandiarto. Bahkan bersama Tri Kus, ia meraih medali perak Olimpiade Sydney (2000).
Minarti Timur alias Jho Ie Min, anak ke-3 dari 4 bersaaudara, lahir di Surabaya tepat 24 Maret 1968. Alumni SMA Petra Surabaya ini merupakan atlet bulutangkis binaan PB Djarum Kudus (Jawa Tengah). Setelah gantung raket, ia mendirikan Minarti Timur Badminton Hall di Jl. Raya Lontar No.82 Surabaya. Namun Meme, demikian ia diakrabi, jarang berada di Surabaya. Pasalnya sejak tahun 2003 Meme melatih Timnas bulutangkis Brunei Darussalam hinggga tahun 2005, lalu lanjut melatih di Manila, Filipina hingga kini.
Uniknya, di Filipina Meme menjadi pelatih pribadi seorang warga Filipina bernama Allbe Benitez. Tak hanya Meme, mantan pebulutangkis putra kita Rudi Wijaya dan sepasang suami-istri dari RRC juga didapuk Allbe menjadi pelatih pribadinya.Mereka mendapat fasilitas rumah dan pembantu dari Allbe plus jalan-jalan ke luar negeri di waktu tertentu. Wah, kaya banget ya, si Allbe! Meme sendiri hingga kini masih menikmati hidup melajang meski tak menutup hati bagi pria yang seiman dengannya. Oh ya, Meme memeluk agama Katholik dan fasih berbahasa Mandarin.
Prestasi:
A. Tunggal Putri
- Juara Dutch Open 1990
B. Ganda Campuran
- Medali perak Asian Games 1990
- Juara Thailand Open 1994
- Juara Indonesia Open 1995
- Medali emas SEA Games 1995
- Juara The World Badminton Grand Prix 1995
- Juara Singapore Open 1995
- Juara Indonesia Open 1996
- Juara Singapore Open 1996
- Juara Badminton World Cup 1996
- Juara Germany Open 1996
- Juara Malaysia Open 1996
- Juara Indonesia Open 1997
- Juara 2 All England 1997 (bersama Tri Kusharjanto)
- Juara 3 IBF World Championships Glasgow, Skotlandia 1997 (bersama Tri Kusharjanto)
- Juara Thailand Open 1997
- Juara 2 Japan Open 1997
- Juara Indonesia Open 1998
- Juara Singapore Open 1998
- Juara Malaysia Open 1998
- Medali perunggu Asian Games 1998
- Medali perak Olimpiade Sydney, Australia 2000 (bersama Tri Kusharjanto)
- Juara Asian Championships 2000
- Juara Malaysia Open 2000
- Juara Japan Open 2001
- Juara Indonesia Open 2002
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)
Uniknya, di Filipina Meme menjadi pelatih pribadi seorang warga Filipina bernama Allbe Benitez. Tak hanya Meme, mantan pebulutangkis putra kita Rudi Wijaya dan sepasang suami-istri dari RRC juga didapuk Allbe menjadi pelatih pribadinya.Mereka mendapat fasilitas rumah dan pembantu dari Allbe plus jalan-jalan ke luar negeri di waktu tertentu. Wah, kaya banget ya, si Allbe! Meme sendiri hingga kini masih menikmati hidup melajang meski tak menutup hati bagi pria yang seiman dengannya. Oh ya, Meme memeluk agama Katholik dan fasih berbahasa Mandarin.
Prestasi:
A. Tunggal Putri
- Juara Dutch Open 1990
B. Ganda Campuran
- Medali perak Asian Games 1990
- Juara Thailand Open 1994
- Juara Indonesia Open 1995
- Medali emas SEA Games 1995
- Juara The World Badminton Grand Prix 1995
- Juara Singapore Open 1995
- Juara Indonesia Open 1996
- Juara Singapore Open 1996
- Juara Badminton World Cup 1996
- Juara Germany Open 1996
- Juara Malaysia Open 1996
- Juara Indonesia Open 1997
- Juara 2 All England 1997 (bersama Tri Kusharjanto)
- Juara 3 IBF World Championships Glasgow, Skotlandia 1997 (bersama Tri Kusharjanto)
- Juara Thailand Open 1997
- Juara 2 Japan Open 1997
- Juara Indonesia Open 1998
- Juara Singapore Open 1998
- Juara Malaysia Open 1998
- Medali perunggu Asian Games 1998
- Medali perak Olimpiade Sydney, Australia 2000 (bersama Tri Kusharjanto)
- Juara Asian Championships 2000
- Juara Malaysia Open 2000
- Juara Japan Open 2001
- Juara Indonesia Open 2002
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)
Senin, 07 Januari 2013
ARDY B. WIRANATA : TURUT SAPU BERSIH MEDALI OLIMPIADE
Rakyat Indonesia terutama pecinta bulutangkis akan selalu mengenang Olimpiade Barcelona, Spanyol (1992). Saat itu atlet-atlet bulutangkis Indonesia mendominasi perolehan medali, bahkan di nomor tunggal putra, semua medali disapu bersih para pendekar bulutangkis kita. Tak hanya Alan Budikusuma yang memboyong medali emas, Ardy B.Wiranata dan Hermawan Susanto juga mempersembahkan medali perak dan perunggu. Tak hanya berjaya di Olimpiade, Ardy juga 2 kali turut mengantarkan Tim Indonesia menjuarai kejuaraan bulutangkis putra beregu dunia Thomas Cup. Di masa jayanya, Ardy menduduki peringkat 1 tunggal putra internasional.
Ardy Bernardus Wiranata, lahir 10 Februari 1970 di Jakarta dari keluarga pecinta bulutangkis. Kedua kakaknya juga atlet bulutangkis. Sejak umur 9 tahun, Ardy serius berlatih bulutangkis di klub. Ardy kecil bahkan tak bermain dengan teman sebanyamnya karena lebih memilih berlatih bulutangkis. Uniknya, meski fokus sepenuhnya pada bulutangkis namun Ardy mengaku tak mempunyai sahabat dari kalangan bulutangkis.
Selain disebut dengan nama lengkapnya, Ardy yang bertinggi 171 cm juga sering disebut Ardy BW, Ardy B. Wiranata, atau Ardy Wiranata. Ardy merupakan salah satu alumnus PB Djarum Kudus (Jawa Tengah). Setelah gantung raket, Ardy tetap menekuni dunia bulutangkis sebagai pelatih. Saat ini ia melatih Timnas bulutangkis Kanada setelah sebelumnya melatih Timnas Amerika Serikat. Sempat menderita hepatitis A dan divonis dokter tidak bisa bermain bulutangkis lagi, Ardy membuktikan ia bisa kembali menekuni olahraga yang menjadi hidupnya dan embali melatih lagi hingga kini.
Mengidolakan Lius Pongoh, Liem Swie King, Dan Rudi Hartono, Ardy hanya mempercayai seorang pelatih, Hadi Nazri, yang melatihnya sejak Ardy berusia 9 tahun hingga gantung raket. Ardy mengaku, hubungannya dengan sang pelatih lebih seperti teman dibanding antara pelatih-anak asuh.
Selain disebut dengan nama lengkapnya, Ardy yang bertinggi 171 cm juga sering disebut Ardy BW, Ardy B. Wiranata, atau Ardy Wiranata. Ardy merupakan salah satu alumnus PB Djarum Kudus (Jawa Tengah). Setelah gantung raket, Ardy tetap menekuni dunia bulutangkis sebagai pelatih. Saat ini ia melatih Timnas bulutangkis Kanada setelah sebelumnya melatih Timnas Amerika Serikat. Sempat menderita hepatitis A dan divonis dokter tidak bisa bermain bulutangkis lagi, Ardy membuktikan ia bisa kembali menekuni olahraga yang menjadi hidupnya dan embali melatih lagi hingga kini.
Mengidolakan Lius Pongoh, Liem Swie King, Dan Rudi Hartono, Ardy hanya mempercayai seorang pelatih, Hadi Nazri, yang melatihnya sejak Ardy berusia 9 tahun hingga gantung raket. Ardy mengaku, hubungannya dengan sang pelatih lebih seperti teman dibanding antara pelatih-anak asuh.
Prestasi:
- Juara Indonesia Open 1990
- Juara Indonesia Open 1991
- Juara Japan Open 1991
- Juara All England 1991
- Juara Sweden Open 1991
- Medali perak Olimpiade Barcelona, Spanyol 1992
- Juara Japan Open 1992
- Juara Taiwan Open 1992
- Juara Indonesia Open 1992
- Juara Malaysia Open 1993
- Juara Japan Open 1994
- Juara Korea Open 1994
- Juara Thomas Cup 1994 (bersama Tim Thomas Indonesia)
- Juara Indonesia Open 1994
- Juara Singapore Open 1994
- Juara Indonesia Open 1995
- Juara Thomas Cup 1996 (bersama Tim Thomas Indonesia)
- Juara Indonesia Open 1997
- Juara Sweden Open 1997
(MGH/Foto: Ziggo)
Sabtu, 05 Januari 2013
HERMAWAN SUSANTO : 'TERPERANGKAP' BULUTANGKIS
Melihat latar belakang keluarganya, Hermawan Susanto seolah 'terperangkap' dalam dunia bulutangkis. Mari kita simak bersama. Nama lengkapnya Hermawan Susanto, namun lebih sering dipanggil dengan nama Aim. Berlatar belakang keluarga atlet bulutangkis, tak heran bila Aim ikut 'terseret' menekuni bulutangkis. Puncak prestasinya di tahun 1990-an, berbagai gelar juara turnamen internasional disabetnya, termasuk medali perunggu tunggal putra Olimpiade Barcelona, Spanyol (1992).
Aim lahir di Kudus (Jawa Tengah), 24 September 1967. Seperti disebutkan tadi, ia lahir di tengah keluarga atlet bulutangkis. Tak hanya kedua orangtuanya, Agus Susanto dan Megah Idawati, yang mantan atlet bulutangkis nasional dan pernah memperkuat tim Thomas dan Uber Indonesia.Bibi dan pamannya dari pihak ibu juga mantan atlet bulutangkis nasional, Megah Inawati dan sang legenda: Liem Swie King. Aim sendiri merupakan putra sulung Agus dan Megah. Aim mempunyai seorang adik laki-laki yang tidak tertarik menekuni bulutangkis. Aim dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Di luar bulutangkis, ia juga sangat menggemari sepakbola.
Aim menikah dengan rekannya sesama atlet bulutangkis, si cantik Sarwendah dan dikaruniai seorang putra, Andrew Susanto yang mengikuti jejak kedua orangtuanya, menjadi atlet bulutangkis. Aim dan Endah (panggilan Sarwendah) mengelola klub bulutangkis yang mereka dirikan, SBC (Sarwendah Badminton Club). Saat ditanya kenapa klub tersebut hanya memakai nama Endah, Aim menjawab itu karena sang istri jauh lebih terkenal sebagai atlet bulutangkis dibanding dirinya. Keduanya sekaligus menjadi pelatih di sana. Salah seorang anak didiknya, ya putra mereka sendiri. Nah lengkap kan, dari awal sampai kini Aim memang tak pernah lepas dari bulutangkis!
Prestasi:
- Juara 3 Hong Kong Open 1989
- Juara Dutch Open 1990
- Juara 3 Thailand Open 1990
- Juara 2 Finnish Open 1990
- Juara Denmark Open 1991
- Juara 2 Dutch Open 1991
- Juara Taiwan Open 1991
- Juara 2 German Open 1991
- Juara 3 Hong Kong Open 1991
- Juara Dutch Open 1992
- Juara China Open 1992
- Juara 3 Indonesia Open 1992
- Medali perunggu Olimpiade Barcelona, Spanyol 1992
- Juara 2 Taiwan Open 1992
- Juara 3 German Open 1992
- Juara 2 Kejuaraan Dunia 1993
- Juara Hong Kong Open 1993
- Juara 2 Thailand Open 1993
- Juara 3 Taiwan Open 1993
- Juara 2 Singapore Open 1994
- Juara Thomas Cup 1994 (bersama Tim Thomas Indonesia)
- Juara 2 Korea Open 1994
- Juara 3 All England 1994
- Juara Taiwan Open 1995
- Juara 2 Singapore Open 1995
- Juara 3 All England 1995
- Juara Malaysia Open 1997
- Juara US Open 1997
- Juara 3 Taiwan Open 1997
- Juara 3 Kejuaraan Asia 1997
(MGH/Foto: Sarwendah)
Senin, 17 Desember 2012
WINARNI BINTI SLAMET: MEDALI OLIMPIADE DARI ANGKAT BESI
Winarni Binti Slamet atau sering disebut dengan nama singkatnya: Winarni, adalah peraih medali perunggu angkat besi putri kelas 53 kg Olimpiade Sydney (2000). Sebelumnya, wanita cantik yang lahir tanggal 19 Desember 1975 ini meraih medali emas untuk kelas 50 kg dalam World Championships di Chiangmai, Muangthai (1997) dan medali perak kelas 53 kg World Championships di Athena (1999). Siapa sangka, di balik penampilan feminin dan wajah lembutnya yang ayu, Winarni adalah wanita perkasa nan tangguh.(MGH/Foto: Supeni)
Rabu, 05 September 2012
SUSI SUSANTI : LEGENDA HIDUP BULUTANGKIS DUNIA
Nggak asyik banget deh kalau tidak kenal Susi Susanti. Yah, meskipun belum pernah salaman tapi paling tidak kenal nama dan prestasi. Dialah pebulutangkis tunggal putri pertama yang meraih medali emas di Olimpiade Barcelona (1992). Hingga kini tidak ada pebulutangkis wanita lain di dunia yang menyamai prestasi Susi meraih gelar juara Olimpiade, World Championship, dan All England secara berturut-turut. Nama Susi Susanti juga tercatat di Guinness Book of World Records sebagai pebulutangkis yang menjuarai All England 4 kali berturut-turut!
Lahir dengan nama Lucia Fransisca Susi Susanti alias Wang Lian-xiang di Tasikmalaya (Jawa Barat), 11 Februari 1971. Orangtuanya yang pedagang sembako di pasar Tasikmalaya sangat mendukung bakat sang putri hingga Susi yang sudah belajar bermain bulutangkis sejak usia 5 tahun, telah serius berlatih di usia ke-7 tahun! Bakat dan dukungan keluarga membuat Susi mampu berprestasi di tingkat internasional sejak usia belasan tahun. Di masa jayanya, Susi nyaris tak terkalahkan. Dalam setiap turnamen internasional yang diikutinya, bisa dipastikan Susi tak terkalahkan! Berkat prestasinya yang luar biasa selama aktif menjadi atlet bulutangkis, Susi bahkan telah dianugerahi Hall of Fame dari federasi bulutangkis dunia, Badminton World Federation (BWF). Selain pada Susi, penghargaan yang sama juga diberikan pada Rudy Hartono, Christian Hadinata, Dick Sudirman, dan Liem Swie King. Tak berlebihan bila Susi disebut salah satu legenda hidup bulutangkis dunia.
Kini, istri peraih emas bulutangkis tunggal putra Olimpiade Barcelona, Alan Budikusuma ini menikmati kehidupan sebagai ibu dari 2 putra dan 1 putri. Bersama sang suami, Susi mendirikan perusahaan alat-alat bulutangkis 'Astec' yang merupakan singkatan Alan-Susi Technology. Pasangan tokoh bulutangkis dunia inipun mendirikan stadion bulutangkis di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang diberi nama Olympic Badminton Hall. Susi sendiri berpatungan dengan mantan srikandi bulutangkis lain, Rosiana Tendean, membangun usaha pijat refleksi, juga di kelapa Gading, tak jauh dari rumahnya. Idenya muncul karena semasa menjadi atlet, mereka kesulitan mencari tempat pijat refleksi kalau menderita salah urat. Untuk menepis citra miring, Susi dan Rosi memajang nama mereka di depan ruko tempat usaha pijat refleksi mereka.
Setelah bertahun-tahun 'pensiun', Susi sempat bertanding lagi, namun dalam kegiatan pengumpulan dana untuk korban letusan Gunung Merapi Yogyakarta, tahun lalu. Susi juga tetap memberi sumbangan pada bulutangkis Indonesia dengan menjadi manajer tim, melatih para pemain yunior, hingga mengadakan turnamen bulutangkis untuk anak-anak usia dini. Namun cita-citanya mendirikan sekolah bulutangkis untuk anak-anak usia dini masih terganjal kurangnya dana. Susi berharap, bulutangkis bisa masuk dalam kurikulum sekolah sejak tingkat SD agar penjaringan bibit-bibit berbakat lebih efektif.
Kini, istri peraih emas bulutangkis tunggal putra Olimpiade Barcelona, Alan Budikusuma ini menikmati kehidupan sebagai ibu dari 2 putra dan 1 putri. Bersama sang suami, Susi mendirikan perusahaan alat-alat bulutangkis 'Astec' yang merupakan singkatan Alan-Susi Technology. Pasangan tokoh bulutangkis dunia inipun mendirikan stadion bulutangkis di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang diberi nama Olympic Badminton Hall. Susi sendiri berpatungan dengan mantan srikandi bulutangkis lain, Rosiana Tendean, membangun usaha pijat refleksi, juga di kelapa Gading, tak jauh dari rumahnya. Idenya muncul karena semasa menjadi atlet, mereka kesulitan mencari tempat pijat refleksi kalau menderita salah urat. Untuk menepis citra miring, Susi dan Rosi memajang nama mereka di depan ruko tempat usaha pijat refleksi mereka.
Setelah bertahun-tahun 'pensiun', Susi sempat bertanding lagi, namun dalam kegiatan pengumpulan dana untuk korban letusan Gunung Merapi Yogyakarta, tahun lalu. Susi juga tetap memberi sumbangan pada bulutangkis Indonesia dengan menjadi manajer tim, melatih para pemain yunior, hingga mengadakan turnamen bulutangkis untuk anak-anak usia dini. Namun cita-citanya mendirikan sekolah bulutangkis untuk anak-anak usia dini masih terganjal kurangnya dana. Susi berharap, bulutangkis bisa masuk dalam kurikulum sekolah sejak tingkat SD agar penjaringan bibit-bibit berbakat lebih efektif.
Prestasi:
- Juara Indonesia Open (1989)
- Juara All England (1990)
- Juara World Badminton Grand Prix (1990)
- Juara All England (1991)
- Juara Thailand Open (1991)
- Juara Swedish Open (1991)
- Juara Thailand Open (1991)
- Juara Swedish Open (1991)
- Juara Indonesia Open (1991)
- Juara Denmark Open (1991)
- Juara China Taipei Open (1991)
- Juara World Badminton Grand Prix (1991)
- Juara Denmark Open (1991)
- Juara China Taipei Open (1991)
- Juara World Badminton Grand Prix (1991)
- Medali emas Olimpiade Barcelona (Spanyol, 1992)
- Juara World Badminton Grand Prix (1992)
- Juara Thailand Open (1992)
- Juara Japan Open (1992)
- Juara Denmark Open (1992)
- Juara Thailand Open (1992)
- Juara Japan Open (1992)
- Juara Denmark Open (1992)
- Juara All England (1993)
- Juara World Championships (1993)
- Juara World Badminton Grand Prix (1993)
- Juara Dutch Open (1993)
- Juara Malaysia Open (1993)
- Juara Thailand Open (1993)
- Juara Thailand Open (1993)
- Juara All England (1994)
- Juara China Taipei Open (1994)
- Juara China Taipei Open (1994)
- Juara World Badminton Grand Prix (1994)
- Juara Indonesia Open (1994)
- Juara Japan Open (1994)
- Juara Thailand Open (1994)
- Juara Piala Uber (1994, bersama Tim Uber Indonesia)
- Juara Japan Open (1994)
- Juara Thailand Open (1994)
- Juara Piala Uber (1994, bersama Tim Uber Indonesia)
- Juara Malaysia Open (1994)
- Juara Malaysia Open (1995)
- Juara Indonesia Open (1995)
- Juara Korea Open (1995)
- Juara Japan Open (1995)
- Juara Piala Uber (1996, bersama Tim Uber Indonesia)
- Juara Korea Open (1995)
- Juara Japan Open (1995)
- Juara Piala Uber (1996, bersama Tim Uber Indonesia)
- Medali perungggu Olimpiade Atlanta (Amerika Serikat, 1996)
- Juara World Badminton Grand Prix (1996)
- Juara Indonesia Open (1996)
- Juara Indonesia Open (1997)
- Juara Malaysia Open (1997)
(MGH/Foto: Richard Sam Bera)
Jumat, 03 Agustus 2012
RANOMI KROMOWIDJOJO : 8 REKOR DUNIA RENANG DI TANGANNYA
Hari ini media internasional ramai memberitakan perenang Belanda, Ranomi Kromowidjojo. Pasalnya, dara cantik ini membuat prestasi gemilang di Olimpiade London: meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Olimpiade renang 100 meter gaya bebas perorangan putri dengan waktu 53,00 detik. Hebatnya, pencapaian itu masih di bawah catatan terbaik Ranomi sehingga ia mengaku tidak puas dengan hasil final tersebut. Apapun pendapat Ranomi, prestasinya sangat diapresiasi publik Belanda. Ia bahkan disejajarkan dengan Mastenbroek dan De Bruijn, 2 perenang legendaris Negeri Kincir Angin. Padahal, De Bruijn adalah perenang idola Ranomi, selain Melanie Schlanger. Apresiasi juga ditunjukkan Heineken, perusahaan bir besar Belanda yang langsung menyewa Alexandra Palace di London utara begitu Ranomi mencatat prestasi gemilang. Di istana yang biasa disebut 'Ally Pally' itulah timnas renang Belanda tinggal hingga Olimpiade usai.
Meski membawa bendera Belanda, dari namanya kita langsung tahu, perenang bertinggi/berat 178 cm/67 kg ini keturunan Indonesia. Kakek dan Nenek Ranomi memang orang Jawa yang dipaksa hijrah ke Suriname oleh pemerintah kolonial Belanda. Sang ayah, Kromowidjojo yang lahir di Suriname, kemudian hijrah ke Belanda dan menikah dengan seorang wanita Belanda bernama Netty. Dari pernikahan itu lahirlah Ranomi dan saudara laki-lakinya, Chjanoy. Hingga kini, Kromowidjojo masih fasih berbahasa Jawa. Lucunya, Kromowidjojo selalu berusaha mengajak setiap orang berwajah Melayu yang ditemuinya mengobrol dalam bahasa Jawa. "Iso boso Jowo?" (bisa berbahasa Jawa?) begitu sapanya, berusaha mencari saudara dari tanah leluhur. Reporter JPNN yang bertemu Kromowidjojo saat meliput Olimpiade di London langsung mendapat hadiah kartu pos dan tanda tangan Ranomi setelah Kromowidjojo tahu sang reporter bisa berbahasa Jawa! Lebih dari itu, reporter beruntung itu mendapat kenang-kenangan foto bersama dan diperkenalkan pada anggota keluarga Ranomi lainnya. Wah senangnya!
Ranomi lahir di kota Sauwerd, 20 Agustus 1990.Dibanding saudara laki-lakinya, wajah Ranomi lebih Indonesia. Jauh sebelum pencapaiannya di Olimpiade kali ini, Ranomi telah mencatat berbagai prestasi dan rekor kelas dunia. Ia bahkan telah meraih medali emas internasional pertamanya pada umur 15 tahun! Toh ia tak mengabaian pendidikan formal. Di samping kesibukannya sebagai atlet profesional, Ranomi tetap menekuni kuliahnya di Business School Notenboom jurusan administrasi bisnis. Ranomi tinggal di Eindhoven. Ingin kenalan bisa langsung tulis email ke info@ranomi.nl atau cari kabar terbarunya di www.ranomi.com
Ranomi lahir di kota Sauwerd, 20 Agustus 1990.Dibanding saudara laki-lakinya, wajah Ranomi lebih Indonesia. Jauh sebelum pencapaiannya di Olimpiade kali ini, Ranomi telah mencatat berbagai prestasi dan rekor kelas dunia. Ia bahkan telah meraih medali emas internasional pertamanya pada umur 15 tahun! Toh ia tak mengabaian pendidikan formal. Di samping kesibukannya sebagai atlet profesional, Ranomi tetap menekuni kuliahnya di Business School Notenboom jurusan administrasi bisnis. Ranomi tinggal di Eindhoven. Ingin kenalan bisa langsung tulis email ke info@ranomi.nl atau cari kabar terbarunya di www.ranomi.com
Prestasi:
- Medali emas 4x100 meter gaya bebas beregu putri European LC Championship (2006)
- Medali perunggu 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championship Melbourne (Australia, 2007)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri European Aquatics Championships Eindhoven (Belanda, 2008)
- Juara dunia 4x200 m gaya bebas beregu putri FINA Short Course World Championships Manchester (2008)
- Juara dunia 4x200 m gaya bebas beregu putri FINA Short Course World Championships Manchester (2008)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri Olimpiade Beijing (2008)
- Medali emas 4x50 m gaya bebas beregu putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali emas 4x50 m gaya ganti beregu putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali perungggu 100 m gaya bebas putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championships Roma (2009)
- Medali emas 4x50 m gaya bebas beregu putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali emas 4x50 m gaya ganti beregu putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali perungggu 100 m gaya bebas putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championships Roma (2009)
- Medali emas 50 m gaya bebas putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 100 m gaya bebas putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri World Aquatics Championships (2011)
- Medali perunggu 100 m gaya bebas putri World Aquatics Championships (2011)
- Medali emas 100 m gaya bebas putri Olimpiade London (2012)
- Medali emas 100 m gaya bebas putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri World Aquatics Championships (2011)
- Medali perunggu 100 m gaya bebas putri World Aquatics Championships (2011)
- Medali emas 100 m gaya bebas putri Olimpiade London (2012)
Rekor:
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri, Dutch Open Swim Cup (2007)
- Rekor dunia 4x50 m gaya bebas beregu putri, European Short Course Swimming Championships Debrecen (Hongaria, 2007)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri European Aquatics Championships Eindhoven (Belanda, 2008)
- Rekor dunia 4x200 m gaya bebas beregu putri FINA Short Course World Championship Manchester (2008)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championships Roma (2009)
- Rekor FINA World Swimming Championships 100 m gaya bebas putri (2010)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri World Aquatics Championships (2011)
- Rekor Olimpiade 100 m gaya bebas putri, London (2012)
(MGH/Foto: Soenar Chamid)
- Rekor dunia 4x200 m gaya bebas beregu putri FINA Short Course World Championship Manchester (2008)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championships Roma (2009)
- Rekor FINA World Swimming Championships 100 m gaya bebas putri (2010)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri World Aquatics Championships (2011)
- Rekor Olimpiade 100 m gaya bebas putri, London (2012)
(MGH/Foto: Soenar Chamid)
Kamis, 02 Agustus 2012
TRIYATNO : PERAK OLIMPIADE UNTUK INDONESIA
Para atlet angkat besi Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di ajang Olimpiade London. Setelah Eko Yuli Irawan memboyong medali perunggu, kemarin giliran Triyatno mempersembahkan medali perak. Ini merupakan medali Olimpiade kedua dari Triyatno. Medali pertama, perunggu, ia rebut dalam ajang Olimpiade Beijing (2008).Triyatno lahir dari keluarga petani di Metro, Lampung, tepat 20 Desember 1987. Di luar kesibukannya berlatih dan berlaga di berbagai arena angkat besi nasional maupun internasional, Triyatno bekerja sebagai karyawan di jajaran Pemda Balikpapan. Sama seperti Eko, Tri digembleng pelatih Lukman.
Tentang Triyatno, ada yang istimewa dari Olimpiade London, selain tentu saja medali perak yang diboyongnya, Di ajang internasional itu Tri menjadi salah satu atlet terpopuler di arena angkat besi, selain Deni, juga asal Indonesia. Bahkan pembawa acara yang asli Inggrispun menggunakan bahasa Indonesia saat memanggil Tri dan Deni. Padahal pada peserta negara lain, sang pembawa acara selalu berbahasa Inggris. Di kalangan wartawan Eropapun, Tri populer dan termasuk atket yang paling banyak ditunggu untuk wawancara. Tri sendiri selalu melayani semua pertanyaan wartawan dengan ramah. Yang membuat para wartawan internasional lebih senang, Tri menguasai bahasa Inggris dengan baik. Sementara bagi para penggemar angkat besi, Tri populer karena keramahannya dalam melayani permintaan foto dan tandatangan, atau sekedar mengobrol.
Prestasi:
- Peringkat 4 kelas 62 kg Kejuaraan Dunia (2007)
- Medali emas kelas 62 kg SEA Games Muangthai (2007)
- Medali perungu kelas 62 kg Olimpiade Beijing (2008)
- Medali perak kelas 69 kg Olimpiade London (2012)
(MGH/Foto: Paul Hanna)
Rabu, 01 Agustus 2012
EKO YULI IRAWAN : 2 OLIMPIADE, 2 MEDALI
Dua hari lalu kita mendapat kabar baik dari London. Eko Yuli Irawan, salah satu atlet angkat besi yang mewakili Indonesia di Olimpiade beroleh medali perunggu untuk kelas 62 kg sekaligus menjadi medali pertama yang diperoleh Indonesia dalam Olimpiade kali ini. Pencapaian yang sangat bagus, apalagi Eko bertanding dalam keadaan cedera, retak tulang kaki. Ini merupakan medali kedua yang didapat Eko. Empat tahun lalu, ia telah membawa pulang medali perunggu dari ajang Olimpiade di Beijing. Uniknya, kala itupun Eko dalam keadaan cedera kaki. Tak hanya di Olimpiade, Ekopun telah mencapai berbagai prestasi kelas dunia. Ia bahkan sempat dinobatkan sebagai atlet angkat besi terbaik dalam kejuaraan dunia yunior di Praha (2007).
Eko lahir dari keluarga sederhana di Lampung tanggal 24 Juli 1989. Ayahnya bekerja sebagai penarik becak sementara ibunya penjual sayur keliling. Semasa kecil Eko membantu orangtuanya mencari nafkah dengan menjadi penggembala ternak. Perkenalannya dengan olahraga angkat besi bermula dari kegemarannya menonton latihan para atlet angkat besi. Sang pelatih yang melihat minat Eko kecil pada angkat besi, kemudian mengajak si bocah ikut berlatih. Melampaui dugaan banyak orang, Eko tak hanya bersinar di tingkat nasional, namun juga internasional!
Bagi Eko sendiri, medali Olimpiade kali ini lebih istimewa karena diperolehnya beberapa hari setelah ulang tahunnya. Apalagi sang istri, Masitah, beberapa hari lagi akan melahirkan anak pertama mereka. Eko berharap bisa mendapat pekerjaan sebagai PNS setelah tak lagi aktif sebagai atlet angkat besi. Semoga mendapat perhatian dari yang berwenang.
Prestasi:
- Medali emas SEA Games Mangthai (2007)
- Medali emas Kejuaraan Dunia Yunior Praha (2007)
- Gelar 'The Best Lifter' Kejuaraan Dunia Yunior Praha 2007
- Medali perunggu kelas 56 kg Kejuaraan Dunia Chiang Mai (Muangthai, 2007)
- Medali perunggu Kejuaraan Dunia Chiang Mai (Muangthai, 2007)
- Medali perunggu kelas 56 kg Olimpiade Beijing (2008)
- Medali perak kelas 62 kg Kejuaraan Asia Kanazawa, Jepang
- Medali perunggu kelas 62 kg Olimpiade London (2012)
(MGH/Foto: Koleksi pribadi)
Rabu, 25 Juli 2012
LILIES HANDAYANI : SRIKANDI OLIMPIADE SEOUL
Inilah salah satu dari 3 srikandi Indonesia di Olimpiade Seoul (1988). Bersama Kusuma Wardhani dan Nurfitriyana Lilies berhasil mempersembahkan medali perak panahan beregu putri di ajang olahraga terbesar sejagad. Jauh setelah era itu berlalu, Lilies masih mampu merebut medali emas nomor compound pada Asian Archery Grandprix ke-3 di Ispahan (Iran, 2007).
Lilies lahir di Surabaya, 15 April 1969. Beruntung, putri pasangan Yahya Buari daan Subadiyah ini dilahirkan di tengah keluarga pecinta olahraga yang amat mendukung karirnya sebagai atlet. Lebih beruntung, atlet yang dikenal tomboy di masa remajanya ini menikah dengan Denny Trisyanto, rekan seperguruannya di perguruan silat Perisai Diri. Selain panahan, Lilies memang menekuni bela diri pencak silat.Di bidang akademik, Lilies berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Airlangga, Surabaya. Setelah tak lagi aktif menjadi atlet, Lilies dan suaminya bekerjasama dengan Dinas Pendidikan mendirikan Surabaya Archery School (SAS), sekolah memanah untuk menjaring bibit-bibit atlet panahan muda sejak usia anak. Hebatnya, SAS tidak menarik iuran dari para siswanya alias gratis! Meskipun fasilitasnyapun seadanya, berlatih menumpang di Lapangan KONI di Kertajaya Indah, Surabaya.
Pasangan Lilies-Denny dikaruniai 3 anak: Dellie Threesyadinda, Irvaldi Ananda Putra, dan Della Adisty Handayani. Hebatnya ketiganya mengikuti jejak sang ibu, menjadi atlet panahan. Si sulung Dellie bahkan telah menunjukkan prestasi mengesankan di tingkat nasional. (MGH/Foto:www.satlakprima.com)
Senin, 23 Juli 2012
NURFITRIYANA : PERAIH MEDALI PERTAMA DI OLIMPIADE
Dalam Olimpiade Seoul (1988) , 3 srikandi Indonesia mencatat sejarah dengan mempersembahkan medali perak panahan. Ini merupakan medali Olimpiade pertama Indonesia. Lebih dari itu, kesuksesan ini juga menjadi motivator atlet Indonesia lain hingga melahirkan tradisi medali, atlet kita selalu berhasil membawa pulang medali dari setiap ajang Olimpiade.
Salah seorang dari 3 srikandi itu adalah Nurfitiyana, atlet panahan yang lahir di Jakarta, 7 Maret 1962. Nurfitriyana juga sering disebut dengan nama Nurfitriyana Saiman atau Nurfitriyana Saiman Lantang.(MGH/Foto:Detik)
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)





