Tampilkan postingan dengan label orang Indonesia sukses di luar negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang Indonesia sukses di luar negeri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2018

PAMELA KOSIN : TERINSPIRASI CENDERAWASIH



Gadis berwajah lembut ini adalah salah satu putri Indonesia yang berkiprah di bidang seni  musik klasik di Amerika Serikat. Alumna musik Berklee University ini cukup sukses sebagai komposer musik di Negeri Paman. Sam telah terlibat produksi musik puluhan  film dan pementasan musikal seperti Titanic, Grease, Into The Woods serta banyak lainnya. Bahkan Pam telah mengantongi 3 penghargaan dari Festival Film Internasional Hong Kong untuk kategori Best Score! Luar biasa, bukan? Belum lama ini ia juga meluncurkan single Cenderawasih: A Dance In Paradise di Amerika Serikat. Sesuai judulnya, Pam menciptakan komposisi musiknya dengan inspirasi keindahan burung Cenderawasih dari Papua. Selain dirilis dalam bentuk single dan video musik, Cenderawasih: A Dance In Paradise juga telah dipentaskan di beberapa kota besar Amerika Serikat dan Eropa. 

Gadis pemalu yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini lahir 16 Februari 1991, putri sulung musisi terkemuka Aminoto Kosin ini dianugerahi bakat seni yang luar biasa. Selain mewarisi bakat  musik dari sang ayah, Pam juga berbakat di bidang seni lukis dan dibuktikannya dengan meraih gelar sarjana seni rupa dari Savannah College of Art and Design (SCAD) dengan predikat cum laude dan musik dari Berklee University dengan IPK 3,7.

Lahir sebagai putri musisi ternama, Pam jelas mengakrabi musik sejak kecil. Sejak usia 5 tahun ia telah belajar alat musik piano dan biola. Orang tuanya juga rajin mengajak Pam menyaksikan konser musik klasik. Si sulung dari 2 bersaudara ini sekarang sedang berlibur  akhir tahun di Indonesia untuk kemudian kembali ke Amerika Serikat untuk mempersiapkan peluncuran album perdananya yang akan dipasarkan di sana. Tidak hanya cantik, berbakat, dan berprestasi internasional, Pam juga penyayang binatang. Sempurna!

Facebook: pamkosin
E-mail: newyork@illozoo.com
Website: illozoo.com
(mgh/foto: Istimewa)

Kamis, 20 Desember 2018

KEN ZHENG : DARI WUSHU KE FILM HOLLYWOOD



Satu lagi putra Indonesia yang menembus jantung perfilman dunia Holllywood dengan karyanya. Perkenalkan inilah sutradara, penuls skenario film sekaligus aktor muda kelahiran Indonesia yang berkarir di Amerika Serikat, Ken Zheng. Ken adalah adik sutradara Livi Zheng yang juga berkarya di Hollywood. Menekuni olahraga tinju bahkan sempat berlatih serius hingga menjadi atlet semasa remaja di Indonesia, sanat mempengaruhi karya-karya Ken setelah mnekuni dunia sinematografi. Film-filmnya sarat tema aksi dan banyak menampilkan adegan laga. Hebatnya, meski menjadi sutradara, Ken tidak segan turun langsung menjadi pemain bahkan pemeran pengganti untuk adegan laga. 

Ken lahir di Jakarta tanggal 5 April 1995 dengan nama Ken Wiratheda. Pendidikan formal sinematorafi dikecapnya di Western Academy of Beijing sebelum kemudian pindah ke Amerika Serikat bersama sang kakak untuk melanjutkan pendidikan. Di negeri Donald Trump ini Ken melanjutkan pendidikan di University of Texas-Austin. Bidang yang dipelajari? Radio, TV, dan pembuatan film. Teteup yaa. Ken juga sempat berakting di film Brush With Danger, film laga arahan sang kakak yang tayang di bioskop-bioskop AS pada tahun 2014.
(mgh/foto; istimewa)

Rabu, 19 Desember 2018

MARTIN SURYA : NOMINATOR EMMY AWARDS ASAL INDONESIA



Namanya memang kurang bergaung di Indonesia. Padahal Martin Surya adalah salah satu orang Indonesia yang berhasil menorehkan prestasi di pusat perfilman dunia: Hollywood. Bukan sebagai aktor, tapi sebagai perancang grafis film. Martin telah dipercaya mengerjakan opening/main title banyak film top Hollywood seperti Paycheck, The Interpreter, The Last Shot, The Recruit, dan Spygame. Sejumlah nama besar juga telah menjadi kliennya, salah satunya Oprah Winfrey.

Mulai menekuni karir sebagai perancang grafis (graphic designer) sejak lulus sarjana desain tahun 2000, Martin mengkhususkan diri menggarap desain gambar bergerak. Martin adalah alumni universitas desain terkenal di Amerika Serikat, Art Center College of Design di Pasadena (AS). Inilah kampus yang menghasilkan nama-nama besar di bidang seni AS seperti Mike Shinoda, Michael Bay, Kevin Mack, Willie G. Davidson, dan banyak lainnya. Sempat bekerja di banyak biro perancang grafis, Martin kemudian memilih bekerja secara mandiri (freelance) mulai tahun 2007 hingga kini. Pengalamannya bekerja di banyak biro perancang grafis terkemuka membuat Martin bisa menimba banyak pengetahuan dan pengalaman di bidangnya. Ia bahkan sempat masuk nominasi Emmy Awards meskipun belum beruntung menjadi pemenang. 

Martin tinggal di Los Angeles (AS) bersama istri, putrinya yang masih bayi, dan beberapa anjing lucu (ya, salah satunya yang di foto ini). Martin bisa dihubungi lewat:
Email: tinsurya@gmail.com
Instagram: @imadoctore
LinkedIn: tinsurya
Website: martinsurya.com

Penghargaan:
- Communication Arts 2001
- Graphis Annual 2001
- Poster of The Year, Dark Horizon Website 2001
- Telly Awards     2002
- Type Director Club 51 2004
- BDA Design Awards
- Gold Awards Promax 2005
(mgh/foto: istimewa)

Rabu, 02 Juli 2014

PROF. TJUT NYAK DEVIANA DAUDSJAH : SETELAH 36 TAHUN BERJAYA DI EROPA


Namanya memang kurang akrab di telinga sebagian besar orang Indonesia. Padahal prestasi srikandi satu ini di tingkat internasional sangat lah membanggakan. Tak hanya menjadi Professor di Jazz Department di Akademi Musik Basel (Swiss), ia pernah menjabat Rektor Jazz & Rockschulen Freiburg (Jerman) selama 5 tahun (1990-1995). Lebih dari itu, Prof. Deviana telah menyusun kurikulum pendidikan tinggi musik yang diakui pemerintah Jerman. 

Lahir tepat 13 Februari 1958 di Jakarta dari ayah Aceh dan ibu Minahasa, Prof. Deviana mewarisi bakat musik dari sang ayah, Teuku Daudsjah yang penggubah lagu Aceh Lon Sayang. Tapi tidak hanya bakat alam. Prof. Deviana mengasah kemampuan musikalnya di sekolah formal. Sang ayah yang musisi teah mengirm sang putri sejak kecil untuk belajar musik di Muangthai. Umur 18 tahun, deviana pindah belajar musik ke Jerman hingga tamat dari jurusan piano klasik dan komposisi Musikhochschule Freiburg (1977). 

Sejak itu Prof. Deviana berkarir di Eropa, sebagai pengajar musik institusi pendidikan tinggi formal dan musisi. Berbagai penghargaanpun telah direngkuhnya selama  malang melintang di Eropa.  Ia antara lain pernah 2 kali meraih gelar vokalis terbaik pada lomba musik tingkat nasional di Swiss (1982 dan 1983), pianis jazz terbaik di Zürich-Örlikon di Swiss (1997), hingga dinobatkan sebagai pengajar musik terbaik di Jerman. Industri musikpun tak mau ketinggalan. Prof. Deviana mendapat tawaran rekaman dari perusahaan internasional BMG Ariola dan Polygram yang menyodori kontrak selama 7 tahun. Tawaran ini ditolak karena ia lebih senang bekerja secara mandiri tanpa terikat kontrak.

Setelah berjaya di negeri orang selama 36 tahun, pianis, penyanyi, komposer, arranjer, orkestrator, dan profesor musik yang sederhana ini pulang ke Indonesia (2000). Di sini, ia menyumbangkan pengalaman dan pengetahuannya di bidang musik antara lain dengan mendirikan Institut Musik Daya bersama pianis jazz kugiran Nick Mamahit (2001). Inilah perguruan tinggi musik swasta dengan kurikulum standar internasional pertama di Indonesia. (MGH/Foto: The Tubas)

Selasa, 01 Juli 2014

DANIEL BUDIMAN : DARI MTV JERMAN KE JURI RED DOT AWARD



Ini Budi. Budi adalah wartawan dan pembawa acara TV terkenal di Jerman. Nama dan wajahnya dikenal publik Jerman sejak menjadi pembawa acara MTV Jerman (2006). Meskipun lahir dan sukses di Jerman, dari namanya sangat jelas kalau Budi keturunan Indonesia. Ya, kedua orangtuanya memang berasal dari Indonesia.  Budi sendiri lahir di Flensburg tanggal 25 Mei 1985 sebagai anak ke-3 dari keluarga Indonesia. 

Alumnus Filsafat Universität Hamburg (Jerman) ini mulai terjun ke dunia hiburan ketika tampil sebagai pembawa acara pertandingan gim online Giga Games di televisi Jerman sebelum kemudian meraih ketenaran setelah pindah ke MTV Jerman. Budi juga menjadi pembawa acara siaran sepakbola Bundesliga di ESport. 

Kini, di bawah bendera Rocket Beans Entertainment ia memproduksi acara-acara hiburan untuk TV khususnya bertema gim, menerbitkan majalah Game One, dan portal gim dengan nama yang sama. Sukses? Tentu saja! Portal Game One bahkan meraih penghargaan Grimme Online Award. Sementara acara-acara TVnya tayang di MTV, Viva, dan Comedy Central. Reputasi Budi di bidangnya makin diakui dengan ditunjuknya ayah 2 anak ini sebagai juri kontes desain gim Red Dot Award tahun ini. Ini Budi. Lalu, Iwan dan Wati mana?  Ah, entahlah. Budipun mungkin tak tahu.(MGH/Foto: Homerj)

Senin, 30 Juni 2014

JESSICA MAUBOY : TAK PERNAH JAUH DARI INDONESIA



Penyanyi top Australia ini punya darah Indonesia dari sang ayah Ferdi Mauboy yang asal NTT. Sementara sang ibu, Therese asli Aborigin dari sub suku Kuku Yalanji. Ia merintis karir musik profesional dengan mengikuti Australian Idol 2006 dan berhasil menjadi juara ke-2. Sejak itu karir musiknya makin menanjak baik secara komersial maupu kualitas. Sukses di bidang musik dibuktikan tak hanya dengan jumlah penjualan album dan single namun juga dikantonginya 2 ARIA Music Awards. Namanya ada di urutan ke-16 dari daftar 100 Penyanyi Terhebat Australia Sepanjang Masa versi Herald Sun. Tapi tak hanya menyanyi, iapun gape menulis lagu dan bermain piano.

Sukses sebagai penyanyi, Jess, begitu gadis berkulit coklat ini disapa, merambah dunia seni peran dengan membintangi film Bran Nue Dae (2010). Dan, lagi-lagi sukses! Ia bahkan menyabet penghargaan AACTA Award sebagai aktris pemeran pembantu terbaik lewat film The Sapphires (2012) yang mendapat perhatian luas dari para kritikus. Berkat kesuksesannya di dunia hiburan Australia pula Jess mendapat kesempatan mengunjungi negeri asal sang ayah, Indonesia (2008).

Meski lahir dan tumbuh di negeri orang, Jess sebenarnya tak pernah jauh dari Indonesia. Pasalnya ia lahir dan tinggal di daerah pemukiman komunitas Indonesia di Darwin. Bahkan hingga kini keluarga Mauboy masih tinggal di sana walaupun Jess telah berkarir sebagai bintang di Sydney. Selain penampilannya yang lebih glam saat di panggung, tidak ada yang berubah dari Jess. Bahkan kekasihnya masih tetap yang sama sejak di bangku SMA.

Lahir dengan nama Jessica Hilda Mauboy pada 4 Agustus 1989 sebagai bungsu dari 5 bersaudara keluarga sederhana, Jess tetap peduli pada kaum kurang beruntung di tengah kejayaannya sekarang. Ia dikenal murah hati dan ringan tangan untuk berbagai kegiatan sosial terutama untuk kaum Aborigin yang memang termarginalkan di Australia. Jess antara lain membuat cat kuku yang hasil penjualan sepenuhnya disumbangkan. Alumna Sanderson High School ini juga aktif sebagai duta untuk sekolah anak-anak Aborigin Yipirinya School Council. Masih banyak kegiatan sosial lain yang dilakukan Jess untuk membantu sesama. Jess memang joss!

Lebih lengkap tentang Jessica Mauboy ada di jessicamauboy.com.au atau sapa di twitternya @jessicamauboy. Hanya saja, Jess jarang banget buka twitter. (MGH/Foto:Fan Page)

Minggu, 29 Juni 2014

WISNU WITONO ADHI : IDOLA NORWEGIA ASAL INDONESIA


Meski namanya belum terlalu bergaung di Tanah Air, Wisnu Witono Adhi telah masuk jajaran penyanyi ternama di Norwegia. Kesuksesan justru diraih pemuda kelahiran Jakarta, 3 September 1983 ini di negara orang setelah ia mengikuti Norwegian Idol 2006. Berhasil masuk 5 besar, bakat menyanyinya langsung dilirik industri musik setempat. Hasilnya, putra Indonesia ini sukses merebut hati menikmat musik Norwegia. Lewat 3 singlenya: Love Like That, Follow Me, dan Me, Myself & I ia menaklukkan blantika musik Norwegia. Hingga kini Wisnu bermukim dan berkarir sebagai penyanyi di Norwegia. 

Berbicara tentang kesuksesan Wissnu memang indah. Namun ia mencapainya dengan tak mudah. Berbagai ujian harus dilewatinya sebelum berada di tempatnya sekarang. Berawal dari perceraian kedua orangtuanya, kemudian sang ibu menikah lagi dengan pria Norwegia dan memutuskan tinggal di negeri suami baru. Wisnu harus memilih, ikut sang ibu ke negeri asing atau tinggal di Indonesia dan masuk pesantren. Seperti yang sudah kita tahu, Wisnu mengambil pilihan pertama. Usianya baru 14 tahun waktu pindah ke Norwegia.

Lulus sekolah, wisnu harus bekerja keras menghidupi dirinya. Sempat bekerja sebagai penata rambut, Wisnu kemudian menyadari minat dan bakat sebenarnya ada di musik. Iapun berpindah profesi menjadi penyanyi kafe hingga meraih sukses di Norwegian Idol. Keikutsertaan Wisnu di kontes itupun karena dorongan teman-temannya . 

Meski sudah sukses di negeri orang, Wisnu tetap menunjukkan jati diri sebagai orang Indonesia. Setiap ada kesempatan, ia selalu berlibur ke Indonesia dan pulang ke rumahnya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Wisnu juga lebih suka memakai model Indonesia di video klipnya. Dan ssssttt...bocorannya nih, kekasih Wisnu juga seorang wanita Indonesia. Si Mbak berjilbab ini setia banget mendampingi Wisnu kala konser.

Uniknya, Wisnu justru ingin bisa berkarir di Indonesia. Ia ingin rekaman lagu-lagu berbahasa Indonesia dan menyumbangkan pengalaman untuk Indonesia tercinta. (MGH/Foto: Maria Gossé)

Sabtu, 28 Juni 2014

SHARITA SOPACUA : WANITA TERCANTIK DI BELANDA


Dari namanya saja sudah bisa dipastikan wanita cantik ini keturunan Ambon. Ya Sharita Sopacua, model papan atas Belanda yang dinobatkan sebagai wanita tercantik di Belanda tahun 2005 (Miss Netherlands Universe 2005) memang berdarah campuran Indonesia dari sang ayah dan Belanda dari ibunya. 

Dikaruniai wajah cantik nan eksotis dengan tubuh indah bertinggi 180 cm, sempurnalah Sharita sebagai model kelas dunia. Toh ia mengaku, wajah eksotis dan kulit coklatnyalah yang jadi modal utama sebagai model internasional. Dua hal itulah yang membuat Sha, demikian ia disapa, laris sebagai model di Belanda dan Amerika Serikat. Sha terutama laris sebagai model untuk berbagai majalah mode dan iklan fashion. Karena pekerjaan sebagai model pula ia sering mondar-mandir Amsterdam-New York.

Sha lahir dan tumbuh di Amsterdam, negeri Belanda. Pendidikan terakhirnya lulus Jeroen Bosh College 's-Hortogenbosch, Noord Brabant. Walau bermukim di Negeri Kincir Angin sejak lahir, Sha tidak melupakan Indonesia. Tahun 2008 ia menerima tawaran menjadi Humas Garuda Indonesia Airlines dan tahun 2010 ia berkeliling Indonesia dengan saudara laki-lakinya, Mig. Wanita berhidung mancung ini mengaku sangat menyukai makanan Indonesia dan keramahan orang-orang Indonesia. Kembali bersinggungan dengan negeri kelahiran sang ayah, Sha antusisas mempelajari budaya dan bahasa Indonesia. Soal tempat favorit, Sha menyebut Ambon, Bali, dan Jakarta. Mempunyai cukup banyak teman di Indonesia, iapun sempat belajar tari Bali walaupun tidak sampai mahir karena harus segera kembali ke negeri Belanda.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Kamis, 26 Juni 2014

ISKANDAR WIDJAJA : KEBANJIRAN SURAT CINTA DAN BUNGA


Di usia yang masih kepala 2, kesuksesan internasional sebagai pemain biola telah digenggamnya. Lebih dari musisi, ia telah jadi bintang di panggung musik klasik dunia. Apalagi tak hanya bakat mengagumkan yang dimiliki alumnus UDK Berlin ini namun juga wajah tampan perpaduan darah Arab dan Cina dari kedua orangtuanya. Tak heran Issi memiliki banyak penggemar wanita muda yang membuat konsernya bak panggung musik pop yang riuh dengan tepuk tangan dan jeritan histeris. Belum lagi tumpukan surat cinta dan bunga dari para penggemar wanita yang datang bak air bah, Nyatanya, Issi tidak nyaman dengan semua itu. Ia ingin yang datang ke konsernya benar-benar penikmat musik klasik, bukan para wanita yang tertarik pada ketampanannya. Meski komplet sebagai bintang 'pop', Issi menolak kemasan pop pada penampilannya. Ia memilih tetap tampil sebagai musisi klasik murni yang memainkan komposisi standar musik klasik. 

Di luar semua itu, Issi memang sangat berbakat. Terbukti ia telah  tampil sebagai solis bersama kelompok-kelompok orkestra di gedung-gedung konser musik bergengsi di seluruh dunia. Sebut saja beberapa kelompok orkestra dunia yang pernah mengiringi Issi: Dubrovnik Symphony Orchestra, Klassische Philharmonie Bonn, the Sydney Symphony Orchestra, das Sinfonieorchester Berlin, Filmorchester Babelsberg, dan Berlin Chamber. Telah tampil di berbagai negara mulai Jerman, Norwegia, Kroasia, Swis, Spanyol, Italia, Belgia, Amerika Serikat, hingga Israel. Tidak sembarangan, Issi tampil di gedung-gedung pertunjukan musik bergengsi di 5 benua seperti Fort Reverin, Tel Aviv Opera, Berlin Philharmonic, Guangzhou Opera House, l'Ochestre de la Suisse Romande, Hong Kong City Hall, Konzerthaus Berlin, dan banyak lagi. 

Di Indonesia sendiri, Issi telah 2 kali mengadakan konser di Jakarta (2005 dan 2010) di samping konser amal di Bali yang didedikasikan untuk anak-anak kurang beruntung.

Issi lahir di Berlin 6 Juni 1986 dari ayah keturunan Arab dan ibu keturunan Cina. Kedua orangtuanya berasal dari Indonesia. Tak heran meski tinggal di Jerman sejak lahir, Issi tetap lancar berbahasa Indonesia di samping bahasa Perancis, Inggris, dan Jerman pastinya. Issipun tak melupakan Indonesia dengan memilih model Indonesia dan Gunung Bromo (Jawa Timur) sebagai lokasi syuting klip single terbarunya 'Burn' yang dirilis akhir tahun lalu.

Issi mulai belajar bermain biola sejak usia 4 tahun hingga berlanjut ke sekolah musik terkemuka Jerman UDK selama  5 tahun. Namanya mulai melambung sebagai musisi klasik setelah menjuarai berbagai kontes musik klasik di Jerman hingga sering diminta tampil sebagai solis pada konser-konser musik klasik di Jerman hingga akhirnya ke seluruh dunia.

Di luar urusan musik, Issi suka bermain dengan anjingnya, Schnappi. Ingin mendengarkan musik atau menyaksikan penampilan Issi, silakan cek di iskandarwidjaja,com, kkmanagement.at, dan in-cantare.com. 

Penghargaan:
- Medali emas International Hindemith Violin Competition.
- The First Federal Prize, Jugend Musiziert (berkali-kali).
- Best Bach, Concorso Violinistico Internazionale Andrea Postacchini. 
- Best Beethoven Sonata, Concorso Violinistico Internazionale Andrea Postacchini.
- Julius Junior kategori Young Talent dari Walikota Berlin. 
- Beasiswa dari Deutsche Stiftung Musikleben.  
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Selasa, 24 Juni 2014

LISA HALIM : PENYANYI LAGU RESMI KEJUARAAN SELANCAR JEPANG


Lahir di Jepang dari ayah asal Makassar dan ibu asli Jepang, Lisa kini dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu handal di Negeri Sakura.Terjun ke dunia musik profesional Jepang di tahun 2007, karya-karya Lisa langsung mendapat sambutan hangat. Single keduanya Flow With It/Pearl Drops yang rilis tahun yang sama bahkan dijadikan lagu resmi Winter Sport Fiesta Season 7  dan Air Rhythm yang dijadikan lagu resmi kejuaraan selancar salju putri se-Jepang Roxy Challenge 2007. Sukses di Jepang, Lisa melebarkan pasar ke Asia Tenggara.

Selain menulis lagu untuk dinyanyikannya sendiri, Lisa juga menulis lagu untuk penyanyi lain. Yang jadi ciri khas karya Lisa, ia selalu menulis lagu yang dipersembahkan pada sesama wanita. Lewat karyanya, Lisa ingin memberikan dukungan dan motivasi bagi kaumnya di manapun berada. 

Meskipun dilahirkan, tumbuh, dan sukses di Jepang, Lisa mengaku bangga mempunyai darah Indonesia. Meskipun tak lagi lancar berbahasa Indonesia, Lisa gemar mendengarkan lagu-lagu Indonesia, terutama Agnes Monica yang dinilainya sangat energik. Iapun tetap menggunakan nama Indonesia sebagai nama topnya di dunia hiburan. Iapun sering berlibur ke Indonesia untuk berselancar. Lisa memang sangat menyukai pantai, bahkan lagu-lagunya diciptakan saat ia berada di pantai. Bagi Lisa, suasana pantai banyak memberi inspirasi. Meski menyukai Agnes yang energik, Lisa juga lancar menyanyikan Bengawan Solo karya almarhum Gesang yang memang sangat populer di Jepang. 

Biduanita bertubuh mungil ini lahir tanggal  15 Februari 1985 dan merampungkan pendidikan terakhir dari SMA putri Tamagawa Seigakuin, Tokyo. Lisa punya hobi berselancar dan sangat menyukai anjing dan mode. Kini, Lisa tinggal berdua bersama sang ibu. Bagi Lisa, sejak sang ayah meninggal hanya ibunyalah yang dekat dengannya. Ingin tahu lebih banyak tentang Lisa silakan ikuti di twitter @LisaHalim0215. (MGH/Foto: Lachic)

Kamis, 19 Juni 2014

YANNUS SUFANDI : KEMBALINYA SANG PENARI INTERNASIONAL


Lahir di Indonesia dan sempat menjadi atlet renang yang meraih juara di beberapa kompetisi kawasan Asia, Pasifik, hingga Australia untuk Indonesia, Yannus harus meninggalkan negeri kelahiran di usia 12 tahun karena perpisahan orang tuanya. Sempat bersekolah di Singapura, Yannus kemudian pindah ke Negeri Kanguru mengikuti sang ibu. Tak hanya domisili, Yannus dan sang ibu berganti kewarganegaraan menjadi WNA (Warga Negara Australia). 

Di negeri barunya, Yannus menekuni olahraga basket. Prestasinya cukup bagus, bahkan berhasil masuk tim basket negara bagian New South Wales. Namun tak hanya olahraga yang memanggil Yannus. Iapun belajar tari modern hingga berhasil menjadi penari latar dan koreografer sejumlah penyanyi Australia.

Masuk semakin dalam ke dunia hiburan Australia, bungsu putra Tirto Subiarto dengan Mety Liliana ini melebarkan sayap ke dunia modeling dengan membintangi iklan produk-produk internasional macam Sony Ericsson, Samsung, hingga mobil Peugeot. Makin yakin dengan dunia tari dan modeling yang menjadi passion-nya, Yannus memutuskan hijrah ke Amerika Serikat setelah menamatkan kursus singkat seni peran di National Institute of Dramatic Arts (NIDA) di Sydney. Kala itu ia baru 19 tahun. Tujuannya kota megapolitan New York. 

Tanpa teman dan keluarga di Amerika Serikat, Yannus sempat menganggur selama 6 bulan. Untuk meningkatkan kemampuan sebagai penari, ia belajar lagi di Broadway Dance Center. Mentas sekolah tari, ia membuka kursus menari sambil rajin mengikuti berbagai audisi penari latar. Pintu menuju dunia hiburan Amerika mulai terbuka ketika Yannus lolos audisi penari latar Pink. Selanjutnya, Yannus menjadi penari utama Jennifer Lopez. Yannus mundur dari tim JLo karena enggan ikut tur sang biduanita. Alasannya, Yannus memang tidak suka tur dan kurang menyukai musik JLo. Tapi di luar musik, Yannus memuji JLo sebagai buntang yang cerdas dan ramah. 

Sementara itu karir Yannus di dunia hiburan Amerika Serikat makin cemerlang. Tak hanya banyak mendapat pekerjaan sebagai model iklan produk-produk berkelas seperti Adidas, D&G, juga Emporio Armani, iapun laris tampil di majalah dan catwalk. Sebagai koreografer, ia juga telah dipercaya menangani koreografi acara-acara Nickelodeon Kids Choice Awards Australia, So You Think You Can Dance Australia dan Malaysia, The X Factor Amerika Serikat, dan The Voice di NBC. Tapi tak hanya itu. Tahun 2011, Yannus membintangi film The Hotel, berperan sebagai penari. 

Mimpinya sudah jadi nyata. Reputasi internasional telah digenggamnya, bahkan di beberapa bidang sekaligus. Namun ternyata Yannus selalu menyimpan kerinduan pada negeri kelahirannya. Apalagi meski telah bekerja di beberapa negara, Indonesia tidak pernah masuk daftar singgahnya. Meskipun bukan lagi WNI, Yannus ingin berbagi pengalaman dan inspirasi pada masyarakat Indonesia.  Didorong keinginan itulah Yannus mencari cara untuk bekerja di Indonesia. Sayang, terlalu lama tinggal di luar negeri membuatnya tidak punya kontak dengan dunia hiburan Indonesia. 

Akhirnya jalan itu terbuka saat Yannus bekerja di Malaysia. Salah satu koleganya memperkenalkan pria kelahiran Yogyakarta 2 januari 1980 ini dengan pihak Freemantle Media Indonesia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Yannus langsung menawarkan diri sebagai creative director. Dan sejak Februari tahun ini, Yannus bekerja di Indonesia. Lebih dekat dengan Yannus silakan mengunjungi pria kekar ini di yannus.com atau Twitter: @yannusworld.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Selasa, 05 Maret 2013

LO LIEH/JOE LEE : JUMLAH FILMNYA KALAHKAN JACKY CHAN


Penggemar film-film Hong Kong, pasti kenal atau paling tidak akrab dengan sosok Lo Lieh (Joe Lee) : model, penyanyi, dan aktor laris yang telah membintangi ratusan film. Sepanjang karirnya sejak tahun 1960-an hingga awal 2000-an, Lebih dari 200 film menampilkan sosoknya. Jumlah yang luar biasa, bahkan mengalahkan jumlah film aktor top Hong Kong lain, Jacky Chan. Tak hanya jumlah film, Lo Liehpun mampu memainkan berbagai peran, mulai protagonis hingga antagonis, peran jagoan hingga watak. Dan tak hanya berakting, iapun telah menyutradarai sejumlah film. Kalau masih asing dengan namanya, Lo Lieh biasa menggunakan nama Joe Lee untuk kepentingan pasar internasional. Nah, tahukah Sahabat kalau Lo Lieh ini sebenarnya orang Indonesia juga?

Lahir di pematang Siantar (Sumatera Utara) pada tanggal 29 Juni 1939 dengan nama Wang Lap-tat, ia meninggalkan Indonesia menuju Hong Kong untuk belajar seni peran dan bela diri (1962). Di sana pula ia bergabung dengan perusahaan film terkemuka Shaw Brothers dan mengganti namanya menjadi Lo Lieh. Film-film pertamanya antara lain: Tiger Boy, Golden Swallow, dan Twelve Deadly Coins. Di awal karirnya, Lo Lieh selalu didapuk sebagai pemegang peran protagonis. 

Awal 1970-an, Lo Lieh pindah ke perusahaan film Warner Bros dan beralih peran menjadi tokoh antagonis dalam film-filmnya. Di era ini pula karir Lo Lieh makin meroket. Diawali sukses besar film King Boxer yang menembus Amerika Serikat dan menyebarkan wabah kungfu (1972), Lo Lieh yang merupakan salah seorang pemeran film tersebut jelas kecipratan sukses. Tawaran film makin deras mengalir untuk Lo Lieh. Salah satunya, The 36th Chamber of Shaolin (sering disebut dengan judul Master Killer/Shaolin Master Killer, 1978), mengulang sukses King Boxer. Bisa dibilang, inilah salah satu film kungfu legendaris, terbukti hingga tahun 2010 masih diproduksi ulang dalam bentuk Blu-ray. Berikutnya, Lo Lieh beradu akting dengan Bruce Lee dalam film Fist of Fury II (1979). Dalam film ini, Lo Lieh berperan sebagai Miyamoto, lawan tokoh Chen Shan yang diperankan Bruce Lee. 

Pertengahan tahun 1980-an, Lo Lieh mulai beralih ke peran-peran watak. Ditandai permainanya dalam film Occupant (1984) bersama Chow Yun Fat dan Sally Yeh. Lo Lieh kembali bertemu Jacky Chan dalam film Police Story 3 (1992). Di film ini pula Lo Lieh diadu akting dengan aktris Malaysia, Michelle Yeoh. 

Tak hanya gape berakting, Lo Lieh mampu menjadi art director sekaligus asisten sutradara dalam film Fist of Dragon (1977). Ia mulai menjadi sutradara lewat film Zen Master 6 (1987). Total, ada sekitar 9 film yang disutradarai Lo Lieh sepanjang karirnya. 

Lo Lieh menikah dengan Grace Tang Chia-li (1976). Sayang, pernikahan ini berakhir dengan perceraian. Kembali ke masalah karir, film terakhir yang dibintangi Lo Lieh adalah Glass Tiger (2001). Setahun kemudian, Lo Lieh meninggal dunia tanggal 2 November karena serangan jantung. (MGH - disarikan dari Budaya Tionghoa/Foto: Budaya Tionghoa)

Kamis, 28 Februari 2013

MARGARET WANG : SUKSES JADI ARTIS TAIWAN


Lahir dan tumbuh d Indonesia namun sukses mengepakkan sayap di dunia hiburan Taiwan sebagai model, aktris dan penyanyi. Itulah Margaret Wang yang lahir di Jakarta, 10 Juni 1981 dengan nama Wang Yueji. Bakat seninya diwarisi dari sang ayah yang mantan aktor Hong Kong, Shaw Yao. 

Margaret meninggalkan Indonesia saat memutuskan kuliah di Amerika Serikat. Setelah lulus, ia pindah ke negeri asal sang ibu, Taiwan untuk merintis karir di dunia hiburan. Mengawali sebagai model iklan, Margaret segera mendapat kontrak bermain dalam film independen Singapura 'February 14th'. Film pertamanya ini langsung melejitkan namanya di Taiwan. Kontan, tawaran bermain dalam film-film Taiwan segera membanjir. Diantaranya, drama seri TV 'Snow Angel' yang meraih sukses di Asia. Sukses di dunia seni peran, Margaret digaet bergabung dengan band 7 Flowers.(MGH/Foto: Budaya Tionghoa)

Kamis, 10 Januari 2013

MIA AUDINA : ANAK AJAIB DARI ARENA BULUTANGKIS


Prestasi gemilangnya di usia muda membuat Mia Audina diramalkan para pengamat bulutangkis akan mengggantikan ratu bulutangkis dunia kala itu, Susi Susanti. Tak heran, Mia memang baru berusia 14 tahun kala bergabung dengan Tim Uber Indonesia dan berhasil menghantarkan Indonesia memenangkan Piala Uber, lambang supremasi bulutangkis beregu putri dunia. Tak hanya sekali, 2 kali Mia sukses memboyong Piala Uber ke Indonesia bersama Tim Uber kita. Nama Mia langsung meroket, sebagian bahkan menyebutnya 'anak ajaib'.

Mia Audina Tjiptawan nama lengkapnya alias Zhang Haili. Lahir di Jakarta, 22 Agustus 1979. Mulai belajar memukul kok sejak umur 3 tahun, Mia tak hanya bersinar di arena Piala Uber. Iapun meraih medali perak Olimpiade pertamanya saat usianya baru 17 tahun. Tak heran, masyarakat Indonesia berharap banyak pada Mia. Meski di luar bulutangkis sempat terbetik kabar Mia bermasalah dengan sang ayah setelah berpulangnya sang ibu terkasih. Tapi harapan publim tetap, pebulutangkis bertubuh lentur ini bisa menggantikan Susi Susanti. 

Sayang, harapan itu kandas ketika Mia memutuskan menikah di usia amat muda, 20 tahun. Pria beruntung yang dipilih Mia tak lain penyanyi gospel asal Suriname berkewarganegaraan Belanda, Tylio Lobman. Tak hanya menikahi Tylio, Mia berpindah kewarganegaraan dan tinggal di Belanda, mengikuti sang suami tercinta. Tak meninggalkan olahraga yang membesarkan namanya, tapi sejak itu merah-putih-biru yang dibelanya. Bedanya, jika saat membela Merah-Putih ia fokus sebagai tunggal putri, di bawah bendera tiga warna ia bermain di nomor tunggal dan ganda. Mia kembali merebut medali perak Olimpiade keduanya, 9 tahun lalu sebelum kemudian memutuskan mundur dari bulutangkis karena kesehatan yang semakin menurun. 

Sekian lama tinggal di Negeri Kincir Angin, Mia mengaku sering kangen Indonesia dan terkenang riuhnya teriakan para penonton yang Kini, Mia yang sengaja menunda memiliki momongan, menikmati kehidupan barunya sebagai pengusaha batu mulia bersama sang suami. Pasangan inipun banyak menghabiskan waktu dengan berkeliling dunia, sembari mencari negara baru untuk mereka bermukim. Wah, berarti ada niat pindah dari Belanda. Kenapa nggak kembali ke Indonesia saja, Mbak? 

Prestasi: 
A. Sebagai atlet Indonesia
- Juara Uber Cup Jakarta 1994 (bersama Tim Uber Indonesia)
- Medali perak Olimpiade Atlanta, Amerika Serikat 1996
- Juara Uber Cup Hong Kong 1996 (bersama Tim Uber Indonesia)
- Juara USA Open 1996
- Juara Japan Open 1997
- Juara Singapore Open 1997
- Medali emas SEA Games 1997
- Juara Indonesia Open 1998
- Juara 2 Uber Cup Hong Kong 1998 (bersama Tim Uber Indonesia)

B. Sebagai atlet Belanda:
- Juara tunggal putri Taiwan Open 2000
- Juara tunggal putri Nederland Open 2001
- Juara tunggal putri Nederland Open 2002
- Juara tunggal putri German Open 2002
- Juara tunggal putri Swiss Open 2002
- Juara tunggal putri Taiwan Open 2003
- Juara  tunggal putri Korea Open 2003
- Juara 3 tunggal putri The World Championships Birmingham, Inggris 2003
- Medali perak tunggal putri Olimpiade Athena, Yunani 2004
- Juara tunggal putri Japan Open 2004
- Medali emas tunggal putri European Badminton Championships Geneva, Swiss 2004
- Medali emas ganda putri European Badminton Championships Geneva, Swiss 2004
- Medali perak beregu European Badminton Championships Geneva, Swiss 2004
(MGH/Foto: Republika)

Selasa, 04 September 2012

JAMES CHU : MUSISI HONGKONG YANG TETAP MERASA JAWA


Pengusaha yang juga musisi dan penyanyi Hongkong ini sangat mencintai keroncong. Tak hanya produktif merekam album keroncong berbahasa Jawa, James juga aktif tampil di berbagai panggung musik keroncong termasuk di Indonesia. Ia memang telah mengenal keroncong sejak kecil, maklum ia lahir di Banyuwangi (Jawa Timur) tepat 20 November 1948.

Selain berbisnis alat-alat elektronika dan medis di Hongkong, alumnus SMA Sin Chung Surabaya ini mempunyai band yang diberi nama Surabaya Club. Memainkan musik bernuansa Indonesia terutama keroncong, Surabaya Club berhasil mendapat tempat tersendiri di panggung musik Hongkong. Warna musik yang unik membuat mereka laris diundang tampil di berbagai mall, pusat perbelanjaan, hingga festival musik besar dan akhirnya menembus dapur rekaman. Di band yang beranggotakan para perantau dari Jawa Timur itu, James berperan sebagai pemain steel guitar. Kebisaanya bermain alat musik langka ini didapat James dari gurunya semasa SMP di Banyuwangi, Pak Turangan, dan kemudian diperdalam dari pergaulannya dengan teman-temannya yang asal Maluku. 

Meski telah meninggalkan Indonesia sejak tahun 1966 dan telah menjadi warga negara Hongkong, pria bernama asli Chu Kwok Cung ini tetap merasa orang Jawa. Anak-anaknyapun didik sebagai keturunan Jawa. Tak hanya dibiasakan berbahasa Jawa di rumah, ketiga anaknya yang lahir di Hongkong itupun setiap liburan sekolah dikirim ke Banyuwangi untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan Jawa. Ini sudah dilakukan James sejak ketiga anaknya (2 laki-laki dan 1 perempuan) masih duduk di bangku SD. Tapi tak hanya Bahasa Jawa. Karena rumah James di Hongkong sering digunakan untuk 'markas' para TKI, anak-anak Jamespun jadi terbiasa juga dengan Bahasa Indonesia. Sementara bahasa Kanton, Inggris, dan Mandarin hanya mereka gunakan bila berkomunikasi dengan orang-orang asli Hongkong dan di sekolah. Saking njawaninya, makanan keluarganya di Hongkongpun selalu masakan Jawa! Hasilnya, anak-anak James bangga dilahirkan sebagai keturunan Indonesia. 

Kesibukannya berbisnis ditambah karir musik yang sukses di hongkong tak menghalangi James berkunjung ke Indonesia. Suami Yang Piek Noan ini selalu ada waktu pulang ke negeri kelahirannya, tak hanya untuk mengunjungi sanak keluarga namun juga turut serta dalam berbagai kegiatan budaya di Indonesia. Bahkan bersama bandnya, Surabaya Club, James pernah tampil di TVRI. Meski memainkan musik keroncong, James mengidolakan pianis jazz yang juga asal Surabaya, Bubi Chen.(MGH/Foto: musirotica)

Senin, 13 Agustus 2012

TILLY SOELISTYO : BERSAING DI PASAR MODE SINGAPURA HINGGA DUBAI


Kalau Sahabat suka berbelanja mode ke Singapura, pasti tak asing dengan merek Possi-tilly-ty.  Tapi mungkin Sahabat belum tahu, pemilik sekaligus perancangnya adalah Tilly Soelistyo, wanita asal Indonesia alumnus LASALLE College of the Arts Singapura. Tilly mendirikan Tilly PTE Ltd di Singapura (2009). Perusahaan inilah yang memproduksi busana berlabel Possi-tilly-ty. Sebelumnya, Tilly sempat bekerja sebagai Creative Director di Sino, London. 

Tilly memilih berkarya di Singapura karena fasilitas yang lebih menjanjikan. Pemerintah Singapura yang serius menggarap sektor kreatif termasuk mode, merangkul para perancang mode berbakat, tanpa peduli kewarganegaraannya,  dalam program terpadu yang disebut 'Parco Next NEXT'. Dalam program ini, para perancang pemula diberi fasilitas bimbingan, kesempatan mengikuti berbagai pameran dan peragaan busana, serta pengembangan bisnis. Program ini juga memberi kesempatan para perancang pemula untuk menyewa gerai di pusat perbelanjaan dengan harga murah. Setiap peserta program mendapat 2 mentor untuk membina di bidang desain dan bisnis. Tilly bercerita, mentor biasanya pelaku bisnis mode yang telah mapan. Untuk mengikuti pameran maupun peragaan busana di luar Singapura, para peserta juga mendapat subsidi pemerintah Singapura! Tak hanya itu, Tilly menuturkan, pemerintah Singapura juga memberi kemudahan bagi para perancang pemula dalam memperoleh bahan baku yang berkualitas. Kain impor untuk para perancangpun bebas pajak! Untuk semua kemudahan itu, para perancang cukup membayar iuran sebesar 500 dollar Singapura. Itulah yang membuat wanita 35 tahun ini memilih berkarya di negeri jiran. Namun semua kemudahan tadi tentu ada syaratnya: para perancang pemula harus membawa bendera Singapura dalam setiap aktivitas karyanya, termasuk saat mengikuti berbagai pameran, peragaan busana, hingga lomba.

Gerai Possi-tilly-ty ada di Bugis Street Singapura. Tapi karya-karya Tilly tak hanya bisa dibeli di Singapura, namun sudah bersaing di pasar mode bebagai negara , bahkan hingga ke Dubai, Uni Emirat Arab. Koleksi Tilly bisa dilihat di www.tillydesigns.com atau www.possitillyty.com emailnya: tilly@possitillyty.com  Ingin ketemu langsung juga bisa, tapi janjian dulu lewat nomor kantornya (65) 9692-0612. Tapi kalau telefon cuma bisa hari Senin-Sabtu jam 10.00-19.00 saja ya. Maklum, kantornya libur tiap hari Minggu.(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Kamis, 09 Agustus 2012

NADYA HUTAGALUNG : MODEL INTERNASIONAL YANG PEDULI LINGKUNGAN


Wanita jelita berdarah Batak-Australia ini memulai karir modelnya di Jepang saat usianya baru 13 tahun. Tak terlalu lama, ia masuk jajaran model papan atas Asia-Pasifik. Wajahnya laris menghiasi berbagai iklan dan sampul majalah Asia bahkan Australia.  Namun namanya dikenal luas terutama di kalangan anak muda Asia era 90-an sebagai VJ MTV di awal era itu. Kini ia aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dan mendirikan portal greenkampong.com yang menyebarkan semangat cinta lingkungan.  Nad juga aktif dalam berbagai kegiatan pecinta hewan dan menjadi dewan sekolah berwawasan lingkungan Green School di Bali.

Nad, demikian ia biasa dipanggil. Konsistensinya dalam pelestarian lingkungan membuat Nad tahun ini masuk nominasi The International Green Award Most Responsible Celebrity bersama sejumlah pesohor dunia seperti Penelope Cruz, Robert Redford, George Clooney, hingga Vivienne Westwood. Lahir di Sydney (Australia) tanggal 28 Juli 1974, Nad sudah ditanamkan kecintaan pada alam dan binatang oleh sang ibu sejak masih kecil. 

Generasi 90-an pasti masih ingat gaya dan celetukan kocak namun elegan Nad saat menjadi VJ MTV. Namun di luar kamera, ternyata Nad seorang yang pendiam dan tertutup. Ia hanya pergi ke pesta untuk amal. Di luar itu, Nadya tak pernah pergi ke pesta. Ia lebih senang tinggal di rumah dan membaca. Hingga kini, Nadya berkantor di rumah agar bisa selalu dekat dengan ketiga buah hatinya. Dan siapa sangka, meski masuk jajaran model papan atas Asia bahkan dunia, Nad sehari-hari tak pernah memakai riasan wajah tebal, dan tak suka barang bermerek. Ia bahkan hanya membeli tas 2 tahun sekali, itupun bukan yang bermerek terkenal. Soal pakaianpun Nadya memilih model yang klasik dan bisa dipakai bertahun-tahun. Bahkan, sepatu-sepatu dan tas yang sudah tak dipakainya lagi tetap ia simpan untuk diberikan pada sang putri, Nyla,  bila kelak sudah dewasa. Nadya juga menghindari memakai barang-barang yang terbuat dari kulit. Kesederhanaan yang sekaligus cerminan gaya hidup hijau ini juga diterapkan Nad dan suaminya dalam menata rumah. Pasangan ini menggunakan perabot bekas berumur 15-40 tahun untuk mengisi rumah mereka. Kalau ada yang rusak, mereka memilih memperbaiki daripada membeli yang baru. Liburan akhir pekan merekapun sederhana: berkebun lanjut memasak bersama, lalu mengundang teman-teman mereka untuk makan bersama. Wah, enak ya jadi teman Nad....

Nad tinggal di Singapura bersama suaminya, Desmond Koh yang mantan perenang nasional negeri Singa, serta ke-3 anak mereka: Tyrone, Fyn, dan satu-satunya perempuan, Nyla. Bersama mereka tinggal pula beberapa ekor kucing kesayangan. Keluarga ini mempraktekkan kehidupan ramah lingkungan dalam segala aspek. Sebut saja, rumah mereka didesain sedemikian rupa hingga tak memerlukan AC ataupun menyalakan lampu di siang hari. Halaman rumah dimaksimalkan untuk menanam aneka tanaman pangan mulai buah-buahan, sayur mayur hingga bumbu dapur! Nadya juga selalu memasak makanan vegetarian untuk keluarganya. Nad yang memang sangat suka memasak memang ahli mengolah makanan vegetarian hingga menyerupai aneka makanan yang asalnya mengandung bahan hewani. Burger atau spaghetti misalnya, bisa dimasak Nadya dari bahan-bahan non hewani dengan rasa serta tampilan persis aslinya yang mengandung bahan hewani. Hasilnya, Nyla mengikuti jejak ibu dan ayahnya menjadi vegetarian. Sementara 2 anak lelaki Nadya, vegetarian di rumah tapi makan apa saja di luar rumah. Sebagai pemeluk agama Buddha, Nad juga taat menjalankan ajaran agamanya bahkan hingga ke luar Singapura, mengikuti ibadah yang dipimpin langsung oleh Dalai Lama.  Meski tinggal di negara sang suami, Nad sering berkunjung ke Indonesia. Nad dan Desmond bahkan melangsungkan pernikahan mereka di Bali. 

Twitter: @nadya_hutagalng website: www.nadyahutagalung.com atau www.greenkampong.com email: info@nadyahutagalung.com (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Minggu, 05 Agustus 2012

ANGGUN : PENYANYI ASIA TERSUKSES DI PENTAS MUSIK DUNIA


Meski bukan WNI lagi, namun dunia mengenalnya sebagai wanita seniman asal Indonesia. Saya sudah membuktikannya sendiri sejak beberapa tahun lalu. Waktu saya bertemu seorang warga negara Perancis yang bekerja di Singapura. Saat tahu saya dari Indonesia, dia spontan berseru "Anggun!" Lalu dia bercerita, Anggun sangat populer di Perancis. Dan diapun, si teman baru Perancis itu, salah saorang penggemar artis cantik bersuara indah itu. Tak hanya itu. Seorang teman lain asal Amerika (dan tinggal di Amerika), juga  bercerita betapa kagumnya dia pada suara dan sosok Anggun yang eksotis khas Asia. Itu yang saya alami sendiri. Beberapa teman yang tinggal atau berlibur ke Eropa menceritakan hal yang sama: teman bulenya secara spontan menyebut "Anggun" saat tahu sang lawan bicara dari Indonesia. Cerita lain, seorang teman yang tinggal di Italia terkejut waktu pertama kali menelefon kantornya. Pasalnya, nada tunggu perusahaan Italia itu memakai lagu Anggun! Tapi maaf, saya lupa judulnya. Anggun memang selalu menunjukkan identitas Indonesianya. Dari penampilan misalnya, Anggun  selalu mempertahankan fisik khas Indonesianya dengan rambut hitam panjang dan kulit coklat. Ia juga selalu menyebut Indonesia sebagai negeri kelahirannya dalam berbagai kesempatan. Dalam salah satu wawancara dengan media internasional, Anggun menceritakan betapa indahnya Bahasa Indonesia. Ia bahkan mengatakan, Bahasa Indonesia adalah bahasa terindah di dunia!

Prestasi Anggun di pentas musik dunia tak bisa dibantah lagi. Dalam 7 tahun terakhir saja, 12 juta kopi album internasionalnya terjual di seluruh dunia. Jumlah yang belum bisa ditandingi penyanyi Asia manapun! Berbagai panggung duniapun telah dijelajahinya, termasuk sepanggung dengan penyanyi-penyanyi internasional seperti Celine Dion, Sting, Toni Braxton, Alicia Keys, Sarah Mc Lachlan, Michael Bolton, Beyonce, Bryan Adams, Peter Gabriel, Julio Iglesias, The Corrs, Dionne Warwick, Mariah Carrey, hingga Tina Arena. Anggun juga telah tampil dalam berbagai acara TV top di Amerika seperti Rossie O'Donnell Show, New York Session West 54, World Beat, dan banyak lagi. Di TV, Anggun sudah tampil bersama selebriti papan atas dunia seperti Cindy Crawford, Bill Clinton, Gisele Bundchen, Edward Norton, dan David Ginola. Untuk acara-acara off air Anggunpun laris tampil dalam berbagai perhelatan bergengsi kelas dunia seperti MTV Asia Award, upacara pembukaan Liga Italia di Milan, bahkan diundang tampil oleh Pangeran Albert dari Monaco, Paus Paulus, dan Dalai Lama dalam acara-acara mereka. 

Meski telah berkiprah di pentas internasional, Anggun suka menyelipkan bahasa Indonesia ke dalam album internasionalnya. Tak banyak yang tahu, Anggun sempat ditawari menjadi gadis Bond mendampingi Pierce Brosnan dalam film Tomorrow Never Dies dan High Fidelity. 2 kali tawaran peran gadis Bond datang, 2 kali pula Anggun menolak karena merasa panggilan jiwanya adalah musik, bukan sebagai aktris. Toh Anggun dengan senang hati mengisi musik beberapa film animasi Eropa seperti Hello, I'm A Fish, Anya & Victor, juga Anastacia (versi Perancis) yang diproduksi Walt Disney. Ia juga mengerjakan ilustrasi musik untuk film Denmark, Open Hearts, juga serial TV Eropa bertajuk La Perle Noire. Tahun 2005, Anggun mengisi musik film Hollywood The Transpotter II. Tak berhenti sampai di situ. Ia juga menjadi narator sekaligus pengisi musik film 'Earth' (versi bahasa Perancis) di tahun 2008. Setahun kemudian, Anggun diundang tampil menyanyi dalam ajang bergengsi World Music Awards. 

Anggun Cipta Sasmi mengawali karirnya sejak kanak-kanak dengan naik turun panggung kecil di seputar Jakarta. Bahkan sering tanpa imbalan apapaun termasuk segelas air putih sekalipun! Iapun sempat tampil di panggung Ancol hingga kemudian wanita langsing kelahiran Jakarta, 29 April 1974 ini sukses menembus dapur rekaman dan melejit dengan nama Anggun C. Sasmi. Saat itu ia baru berumur 9 tahun. Di usia itu pula Anggun telah bisa mencipta lagu sendiri. Bakat seni Anggun menurun dari kedua orangtuanya yang memang seniman. Mereka jugalah yang berjasa mengasah bakat Anggun. Sang ayah yang pengarang, Darto Singo, sabar melatih vokal putrinya sejak dini. Sedangkan sang ibu, Dien Herdina, gigih sebagai manajer Anggun di samping kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. bakat dan perjuangan panjang mereka berbuah manis. Di usia belasan, Anggun telah menjadi salah satu penyanyi terpopuler Indonesia, bahkan mempunyai perusahaan rekaman sendiri.

Keputusan yang  berani diambil Anggun setelah menikah dengan manajernya, Michel de Ghea, seorang pria Perancis. Iapun hijrah ke negeri suaminya, setelah menjual perusahaan rekamannya dan memulai karirnya dari nol di negeri yang baru. Setelah kesana kemari menawarkan demo rekaman, Anggun bertemu Erick Benzi, produser top Perancis yang sangat tertarik pada suara Anggun. Akhirnya album pertama Anggun di luar Indonesia rilis pada tahun 1997, Au Nom de la Lune. Langsung mencetak hit di Perancis, Swiss, Belgia, dan Kanada! Tak hanya memamerkan suara emasnya, Anggun juga membuai telinga para pendengarnya dengan unsur-unsur musik tradisional Indonesia yang diramu harmonis dalam komposisi beberapa lagu dalam album tersebut. Sukses album berbahasa Perancis, diikuti album internasional kedua, kali ini berbahasa inggris, dan diedarkan di 33 negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Album kedua ini melejitkan single Snow On Sahara yang menduki puncak tangga lagu di Italia, Spanyol, Jepang, dan beberapa negara Asia timur lain. Sementara di Inggris, lagu tersebut mencapai posisi ke-5 di UK Charts serta menembus posisi 16 di tangga lagu Billboard hingga mengukuhkan Anggun sebagai artis Asia pertama yang berhasil menembus tangga lagu Amerika! Albumnya yang berjudul sama, Snow On The Sahara, menduduki peringkat 23 Billboard Heat Seekers Charts. Berkat album ini pula Anggun dihadiahi banyak Platinum dari berbagai negara. Hingga kini, tak ada penyanyi Asia lain yang menandingi Anggun dalam angka penjualan album internasional di luar Asia. Tak heran, badan internasional sekaliber PBBpun menggamitnya sebagai United Nations Goodwill Ambassador dan menjadi juru bicara untuk program Mikro Kredit dan duta FAO internasional. Kesibukannya yang luar biasa membuat Anggun harus memilih, dan melepas status WNI. Dalam satu wawancara Anggun menjelaskan betapa lelahnya setiap kali harus mondar mandir mengurus izin bekerja di Perancis sebagai orang asing. Belum lagi biaya dan pajak yang harus dibayar sebagai WNA yang bekerja di Perancis. Dengan pertimbangan itulah, pengagum penyanyi Sheila Chandra ini memutuskan berganti kewarganegaraan meski jiwanya selalu Indonesia. 

Prestasi, popularitas dan sosok indahnya membuat Anggun laris sebagai model berbagai produk  internasional. Jam tangan mewah sekelas Audemars Piguet juga mengontraknya sebagai Brand Ambassador. Tak hanya sosoknya, lagunyapun sering dipakai ilustrasi iklan, salah satunya iklan jam tangan Swiss ternama Swatch. Berbagai penghargaan telah dicapai Anggun sepanjang karir internasionalnya. Diantaranya dari kementerian kebudayaan Perancis sebagai salah satu artis non Perancis yang meraih sukses di negeri Eiffel, The Knight of Art & Letter dari Kedutaan Besar Perancis di Jakarta karena Anggun dianggap memicu minat anak-anak muda di seluruh dunia untuk belajar bahasa Perancis lewat lagu berbahasa Perancis yang dinyanyikan Anggun, juga Woman Inspired dari organisasi  Beacon Light di Asia. Bahkan, penyanyi Amerika asal Hongkong, Coco Lee mengaku terinspirasi oleh Anggun. 

Di luar gemuruh tepuk tangan dan gemerlap kesuksesan, Anggun tetap ibu bagi putri semata wayangnya, Kirana Cipta Montana Sasmi, dan istri Oliver Maury, seorang produser rekaman berkebangsaan Kanada. Di luar panggung dan sorotan spotlight, ia tetap wanita sederhana yang selalu menggunakan bahasa Indonesia tanpa dicampur aduk dengan bahasa lain saat bicara dengan orang Indonesia, bangga dengan kulit coklat dan rambut hitamnya.  2 ciri fisik ini justru dibanggakan Anggun karena membuat iri orang-orang Eropa. Anggun bertutur, dia sering mendapat pujian dari teman-teman bulenya karena menurut mereka warna kulit dan rambut Anggun bagus. Karenanya, ia berharap putrinya kelak mewarisi kulit coklat dan rambut hitamnya meski sekarang penampilan Kirana mewarisi sosok barat sang ayah. Toh Anggun tetap 'ngotot' berdoa agar setelah dewasa  kulit Kirana berubah jadi coklat! Soal spiritual, Anggun yang lahir dalam keluarga muslim, telah memilih Buddha sebagai keyakinan barunya. Anggun dan keluarga kecilnya cukup sering mengunjungi Indonesia Selain untuk menjenguk keluarga besar di Jakarta dan Yogya, juga berlibur ke rumah mereka yang asri di Bali. Bagi yang pernah bertemu, Anggun dikenal selalu rendah hati dan ramah pada siapa saja.

Informasi resmi tentang Anggun bisa diikuti di www.anggun.com atau lewat Franck Zajac di email anggunmanagement@consultant.com (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Jumat, 03 Agustus 2012

RANOMI KROMOWIDJOJO : 8 REKOR DUNIA RENANG DI TANGANNYA



Hari ini media internasional ramai memberitakan perenang Belanda, Ranomi Kromowidjojo. Pasalnya, dara cantik ini membuat prestasi gemilang di Olimpiade London: meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Olimpiade  renang 100 meter gaya bebas perorangan putri dengan waktu 53,00 detik. Hebatnya, pencapaian itu masih di bawah catatan terbaik Ranomi sehingga ia mengaku tidak puas dengan hasil final tersebut. Apapun pendapat Ranomi, prestasinya sangat diapresiasi publik Belanda. Ia bahkan disejajarkan dengan Mastenbroek dan De Bruijn, 2 perenang legendaris Negeri Kincir Angin. Padahal, De Bruijn adalah perenang idola Ranomi, selain  Melanie Schlanger. Apresiasi juga ditunjukkan Heineken, perusahaan bir besar Belanda yang langsung menyewa Alexandra Palace di London utara begitu Ranomi mencatat prestasi gemilang. Di istana yang biasa disebut 'Ally Pally' itulah timnas renang Belanda tinggal hingga Olimpiade usai. 

Meski membawa bendera Belanda, dari namanya kita langsung tahu, perenang bertinggi/berat 178 cm/67 kg ini keturunan Indonesia. Kakek dan Nenek Ranomi memang orang Jawa yang dipaksa hijrah ke Suriname oleh pemerintah kolonial Belanda. Sang ayah, Kromowidjojo yang lahir di Suriname, kemudian hijrah ke Belanda dan menikah dengan seorang wanita Belanda bernama Netty. Dari pernikahan itu lahirlah Ranomi dan saudara laki-lakinya, Chjanoy. Hingga kini, Kromowidjojo masih fasih berbahasa Jawa. Lucunya, Kromowidjojo selalu berusaha mengajak setiap orang berwajah Melayu yang ditemuinya mengobrol dalam bahasa Jawa. "Iso boso Jowo?" (bisa berbahasa Jawa?) begitu sapanya, berusaha mencari saudara dari tanah leluhur. Reporter JPNN yang bertemu Kromowidjojo saat meliput Olimpiade di London langsung mendapat hadiah kartu pos dan tanda tangan Ranomi setelah Kromowidjojo tahu sang reporter bisa berbahasa Jawa! Lebih dari itu, reporter beruntung itu mendapat kenang-kenangan foto bersama dan diperkenalkan pada anggota keluarga Ranomi lainnya. Wah senangnya!


Ranomi lahir di kota Sauwerd, 20 Agustus 1990.Dibanding saudara laki-lakinya, wajah Ranomi lebih Indonesia. Jauh sebelum pencapaiannya di Olimpiade kali ini, Ranomi telah mencatat berbagai prestasi dan rekor kelas dunia. Ia bahkan telah meraih medali emas internasional pertamanya pada umur 15 tahun! Toh ia tak mengabaian pendidikan formal. Di samping kesibukannya sebagai atlet profesional, Ranomi tetap menekuni kuliahnya di Business School Notenboom jurusan administrasi bisnis. Ranomi tinggal di Eindhoven. Ingin kenalan bisa langsung tulis email ke info@ranomi.nl atau cari kabar terbarunya di www.ranomi.com

Prestasi: 
- Medali emas 4x100 meter  gaya bebas beregu putri European LC Championship (2006)
- Medali perunggu 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championship Melbourne (Australia, 2007)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri European Aquatics Championships Eindhoven (Belanda, 2008)
- Juara dunia 4x200 m gaya bebas beregu putri FINA Short Course World Championships Manchester (2008)
- Medali emas  4x100 m gaya bebas beregu putri Olimpiade Beijing (2008)
- Medali emas 4x50 m gaya bebas beregu putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali emas 4x50 m gaya ganti beregu putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali perungggu 100 m gaya bebas putri European Short Course Swimming Championships Rijeka (Kroasia, 2008)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championships Roma (2009)
- Medali emas 50 m gaya bebas putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 100 m gaya bebas putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri FINA World Swimming Championships (2010)
- Medali emas 4x100 m gaya bebas beregu putri World Aquatics Championships (2011)
- Medali perunggu 100 m gaya bebas putri World Aquatics Championships (2011)
- Medali emas 100 m gaya bebas putri Olimpiade London (2012)

Rekor:
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri, Dutch Open Swim Cup (2007)
- Rekor dunia 4x50 m gaya bebas beregu putri, European Short Course Swimming Championships Debrecen (Hongaria, 2007)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri European Aquatics Championships Eindhoven (Belanda, 2008)
- Rekor dunia 4x200 m gaya bebas beregu putri FINA Short Course World Championship Manchester (2008)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri World LC Championships Roma (2009)
- Rekor FINA World Swimming Championships 100 m gaya bebas putri (2010)
- Rekor dunia 4x100 m gaya bebas beregu putri World Aquatics Championships (2011) 
- Rekor Olimpiade 100 m gaya bebas putri, London (2012)
(MGH/Foto: Soenar Chamid)

Jumat, 20 Juli 2012

ARYO WICAKSONO : MENDUNIA LEWAT MUSIK KLASIK



Penggemar musik klasik pasti kenal musisi yang tinggal di Manhattan, New York City (Amerika Serikat) ini. Komposer, music director, dan pianis ini tak hanya populer, namun juga telah diakui kepiawaiannya di kalangan musisi dunia. Terbukti Aryo telah dianugerahi berbagai penghargaan internasional di bidang musik.Konser?  Tak terhitung lagi berapa kali Aryo telah menggelar konser di mancanegara. Mulai Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, Mexiko, Rusia, hingga Uni Emirat Arab. Iapun pernah menjadi dosen tamu di American University of Sharjah di Dubai (2009). Aryo juga banyak mengisi musik film dan pagelaran balet  Amerika, Mexiko, dan Jepang. 


Sementara popularitasnya terbukti dengan cukup seringnya profil Aryo diliput berbagai media cetak maupun elektronik Amerika dan Eropa. Bahkan salah satu media Amerika Serikat yang menganugerahinya penghargaan, the Arizona Daily Star menyebut Aryo sebagai "a pianist with technical prowess, balletic grace, warm tones, and unwavering devotion to the score". 


Meski berjaya di negeri orang, Aryo tidak pernah melupakan Indonesia. Tak hanya sering mengunjungi Indonesia, master musik dari  University of Arizona ini sering terlibat konser amal untuk Indonesia. Ia bahkan menggandeng 2 musisi internasional, Kathryn Mueller dan Nathan Krueger membentuk trio Swara Sonora yang membawakan karya-karya pianis senior Indonesia, Ananda Sukarlan.  Selain tampil dalam banyak konser amal untuk Indonesia, trio ini telah mengunjungi beberapa kota besar Indonesia untuk menularkan ilmu mereka pada musisi-musisi muda kita. 


Sekarang Aryo bekerja untuk NYU Tisch School of the Arts dan 92nd Street Y Harkness School, keduanya di New York City (Amerika Serikat). Beberapa hari lalu ia bahkan baru saja tampil dalam konser amal di Hotel Shangri-La Surabaya. Selain bermusik, Aryo juga senang bersepeda, jalan-jalan di gunung,  lari, atau tinggal di rumahnya: membaca, mendengarkan musik, memasak, dan...tidur! Pria rendah hati ini punya motto: only a life lived for others is a life worthwhile. Cocok sekali kan dengan hidup yang dijalani Aryo. Oh ya, Aryo lahir tanggal 30 Juli. 

Karir cemerlang Aryo bisa disimak di 2 situs resminya: www.aryo-wicaksono.com atau www.swarasonora.com  Ingin kontak secara pribadi bisa lewat AIM: pianorach03 atau Skype: rachmaninov_arw  email: awicaksono7760@msn.com atau aryow@email.arizona.edu  

Penghargaan:
- Best of Awards untuk kategori Best Musical dari Tucson Weekly di Tucson (Amerika Serikat, 2007)
- Best of Awards untuk kategori Best Musical dari Tucson Weekly di Tucson (Amerika Serikat, 2006)
- Mac Award untuk kategori Best Musical dari Arizona Daily Star di Tucson (Amerika Serikat, 2006) 
(MGH/Foto:Spencer Myer)