Kamis, 07 Maret 2013

MI RASA PINDANG SERANI


Bahan:
Mi instan Rasa Soto Mie 1 bks
Air  400 ml
Daging ikan kakap fillet  100 gr (potong-potong)
Udang kupas  5 ekor
Sereh  1 batang  (memarkan)
Jahe  1 cm (memarkan)
Cabe rawit  merah 3 buah (potong-potong)
Bawang putih  2 siung (iris)
Bawang merah  3 btr (iris)
Tomat  1 buah (potong-potong)

Cara Memasak:
  1. Rebus ikan dan udang sampai mendidih.
  2. Masukkan bumbu mi instan Rasa Soto Mie, sereh, cabe rawit merah,  jahe, bawang putih, dan bawang merah sampai mendidih.
  3. Masukkan mi instan Rasa Soto Mie. Masak sampai mi matang.
  4. Sajikan mi instan Rasa Soto Mie bersama irisan tomat. (Resep: Indomie)

Rabu, 06 Maret 2013

RETNO KUSTIYAH : OTOT TERLATIH KARENA ANGKAT EMBER


Pecinta bulutangkis sejati pasti tidak asing dengan nama Retno Kustiyah. Ialah pemain bulutangkis putri handal Indonesia di era 60-70-an yang kini menggeluti karir sebagai pelatih bulutangkis di Pelatnas dan PB Jayaraya. Dianatara teman-temannya, ia biasa disapa dengan nama 'Mbak Kus'. Di masa jayanya sebagai bintang lapangan, wanita tegas ini telah meraih gelar juara di banyak kompetisi bulutangkis dunia terutama di nomor ganda. Namun sebenarnya ia juga pernah turun sebagai pemain tunggal. Sebagai pelatih, iapun sukses melahirkan para juara. Diantaranya Susi Susanti, sang legenda bulutangkis dunia. Retno Kustiyah atau sering ditulis dengan ejaan lama Retno Koestijah, wanita Jawa yang lahir di Padang Panjang (Sumatera Barat), 19 Juni 1942, sering menyelipkan bahasa Jawa bila berbicara. Sikapnya santai dan penuh humor, termasuk saat melatih. Namun, jangan salah. Ia dikenal teguh mempertahankan prinsip. Bila merasa benar, ia berani melawan arus kuat. 

Sebagai pelatih, Bu Kus,  memilih menggunakan pendekatan seorang ibu pada anak-anak latihnya. Saking menjiwai perannya sebagai ibu, ia sampai mencomblangi anak latihnya. Salah satu pasangan yang sukses dicomblangi Bu Kus tak lain penganten Olimpiade: Alan Budikusuma & Susi Susanti. 

Mengenang masa-masa sebagai atlet bulutangkis di tahun 60-an, Bu Kus menceritakan bagaimana para atlet di masa itu harus berjuang lebih keras karena terbatasnya fasilitas. Untuk makan saja, atlet harus mengusahakan sendiri, bahkan akhirnya terpaksa menjual raket. Belum lagi tempat latihan di GOR Hall C Senayan yang saat itu bocor parah. Akibatnya bila hujan turun, lapangan jadi tergenang air. Kalau sudah begitu, para pemain putra maupun putri bersama-sama menguras air yang menggenangi lapangan dengan menggunakan ember. Hikmahnya mungkin, menurut perkiraan Bu Kus, otot tangan para atlet kita masa itu menjadi kuat karena telah terlatih mengangkat ember berisi air! 

Kini Bu Kus tinggal di Kompleks Perumahan P & K Slipi, Jakarta Barat. Di samping tetap berolahraga, Bu Kus menjaga kebugaran dengan menjadi vegetarian. 

Prestasi:
A. Ganda Putri:
- Medali emas Asian Games 1962 (bersama Minarni)
- Medali emas Asian Games 1966 (bersama Minarni)
- Juara Malaysian Open 1966 (bersama Minarni)
- Juara Malaysian Open 1967 (bersama Minarni)
- Juara All England 1968 (bersama Minarni)
- Juara Canadian Open 1969 (bersama Minarni)
- Juara 2 Uber Cup 1969 (bersama Tim Indonesia)
- Juara US Open 1969 (bersama Minarni)
- Juara 2 Uber Cup 1972 (bersama Tim Indonesia)

B. Ganda Campuran
- Juara Malaysian Open 1967 (bersama Tan Joe Hok)
- Juara Asian Championships 1971 (bersama Christian Hadinata)
- Juara Indonesian Open 1974
(MGH/Foto: Widodo S. Jusuf)

WIDARAN

Bahan:
Telor ayam   2 btr
Tepung kanji/jagung   1/2 kg
Gula pasir   secukupnya
Garam   secukupnya
Minyak goreng

Cara Membuat:
1. Kocok telor ayam, bubuhi sedikit garam.
2. Campurkan tepung hingga menjadi adonan yang bisa dibentuk. 
3. Bentuk kecil-kecil menurut selera.
4. Masukkan ke dalam minyak goreng dingin sebelum digoreng.
5. Goreng dalam minyak yang banyak.
6. Angkat setelah matang dan berwarna keemasan.
7. Larutkan gula pasir dalam air dan panaskan. 
8. Masukkan kue yang tekah digoreng ke dalam larutan gula sambil terus dimasak.
9. Biarkan hingga larutan gula mengkristal dan kristalnya menempel pada kue.
(Resep: Ny. Kutinawati).

Selasa, 05 Maret 2013

LO LIEH/JOE LEE : JUMLAH FILMNYA KALAHKAN JACKY CHAN


Penggemar film-film Hong Kong, pasti kenal atau paling tidak akrab dengan sosok Lo Lieh (Joe Lee) : model, penyanyi, dan aktor laris yang telah membintangi ratusan film. Sepanjang karirnya sejak tahun 1960-an hingga awal 2000-an, Lebih dari 200 film menampilkan sosoknya. Jumlah yang luar biasa, bahkan mengalahkan jumlah film aktor top Hong Kong lain, Jacky Chan. Tak hanya jumlah film, Lo Liehpun mampu memainkan berbagai peran, mulai protagonis hingga antagonis, peran jagoan hingga watak. Dan tak hanya berakting, iapun telah menyutradarai sejumlah film. Kalau masih asing dengan namanya, Lo Lieh biasa menggunakan nama Joe Lee untuk kepentingan pasar internasional. Nah, tahukah Sahabat kalau Lo Lieh ini sebenarnya orang Indonesia juga?

Lahir di pematang Siantar (Sumatera Utara) pada tanggal 29 Juni 1939 dengan nama Wang Lap-tat, ia meninggalkan Indonesia menuju Hong Kong untuk belajar seni peran dan bela diri (1962). Di sana pula ia bergabung dengan perusahaan film terkemuka Shaw Brothers dan mengganti namanya menjadi Lo Lieh. Film-film pertamanya antara lain: Tiger Boy, Golden Swallow, dan Twelve Deadly Coins. Di awal karirnya, Lo Lieh selalu didapuk sebagai pemegang peran protagonis. 

Awal 1970-an, Lo Lieh pindah ke perusahaan film Warner Bros dan beralih peran menjadi tokoh antagonis dalam film-filmnya. Di era ini pula karir Lo Lieh makin meroket. Diawali sukses besar film King Boxer yang menembus Amerika Serikat dan menyebarkan wabah kungfu (1972), Lo Lieh yang merupakan salah seorang pemeran film tersebut jelas kecipratan sukses. Tawaran film makin deras mengalir untuk Lo Lieh. Salah satunya, The 36th Chamber of Shaolin (sering disebut dengan judul Master Killer/Shaolin Master Killer, 1978), mengulang sukses King Boxer. Bisa dibilang, inilah salah satu film kungfu legendaris, terbukti hingga tahun 2010 masih diproduksi ulang dalam bentuk Blu-ray. Berikutnya, Lo Lieh beradu akting dengan Bruce Lee dalam film Fist of Fury II (1979). Dalam film ini, Lo Lieh berperan sebagai Miyamoto, lawan tokoh Chen Shan yang diperankan Bruce Lee. 

Pertengahan tahun 1980-an, Lo Lieh mulai beralih ke peran-peran watak. Ditandai permainanya dalam film Occupant (1984) bersama Chow Yun Fat dan Sally Yeh. Lo Lieh kembali bertemu Jacky Chan dalam film Police Story 3 (1992). Di film ini pula Lo Lieh diadu akting dengan aktris Malaysia, Michelle Yeoh. 

Tak hanya gape berakting, Lo Lieh mampu menjadi art director sekaligus asisten sutradara dalam film Fist of Dragon (1977). Ia mulai menjadi sutradara lewat film Zen Master 6 (1987). Total, ada sekitar 9 film yang disutradarai Lo Lieh sepanjang karirnya. 

Lo Lieh menikah dengan Grace Tang Chia-li (1976). Sayang, pernikahan ini berakhir dengan perceraian. Kembali ke masalah karir, film terakhir yang dibintangi Lo Lieh adalah Glass Tiger (2001). Setahun kemudian, Lo Lieh meninggal dunia tanggal 2 November karena serangan jantung. (MGH - disarikan dari Budaya Tionghoa/Foto: Budaya Tionghoa)

CARA BIKANG

Bahan:
Tepung beras baru   1/2 kg
Tepung tapioka   1 ons
Santan kental   3/4 l
Gula pasir   secukupnya
Daun pandan/pewarna makanan
Vanili
Air

Cara Membuat:
1. Campur kedua jenis tepung.
2. Rebus santan hingga hangat. Angkat.
3. Campur santan dengan tepung sambil diremas-remas agar tercampur rata.
4. Campur gula pasir, vanili, dan pewarna makanan/air daun pandan
5. Bakar adonan dalam cetakan cara bikang. Biarkan hingga matang.
6. Cungkil dengan pisau di bagian tengahnya hingga kue terbuka seperti bunga. 
(Resep: Ny. Kutinawati)

Senin, 04 Maret 2013

ENDANG WITARSA : ARAHKAN TIMNAS RAIH 5 GELAR INTERNASIONAL


Meski bergelar dokter gigi, prestasi internasional dicapainya lewat bidang yang tidak berhubungan dengan ilmu yang dipelajarinya di kampus. Endang Witarsa dikenang sebagai pelatih sepak bola Indonesia yang sukses mengantarkan Timnas Indonesia meraih juara di Piala Merdeka Malaysia (1969), Piala Aga Khan Pakistan (1969), Pesta Sukan Singapura, Piala Raja Muangthai (1970), dan Piala Kemerdekaan Indonesia (1972). Di bawah arahannya pula Timnas Indonesia berhasil menaklukkan Timnas Uruguay dalam pertandingan persahabatan di Jakarta (1974).

Pak Endang memang penggemar berat sepakbola. Bahkan di masa mudanya telah bergabung dengan kesebelasan Tionghoa Hwee Koan Scholar Football Club di Bandung. Kesebelasan ini kemudian berganti nama menjadi Union Makes Strength (UMS). Setelah Indonesia merdeka, Endang bergabung dengan Timnas Indonesia. Setelah tak lagi aktif menjadi atlet, Beliau tetap mengabdikan diri pada sepakbola Indonesia sebagai pelatih Timnas dan kemudian pengurus PSSI. Hingga tutup usia, Endang menjabat Ketua Umum Yayasan sekaligus pelatih POR UMS. Kadang saaat melatih, Beliau ditemani cucu perempuannya, Tessa. 

Di kalangan rekan-rekannya, Pak Endang biasa dipanggil 'Dokter' karena gelar akademisnya. Sementara bagi anak-anak asuhnya, Endang dikenal sebagai pelatih yang keras dalam menegakkan disiplin. Kedisiplinan yang ditanamkan berbuah prestasi gemilang. Di bawah asuhannya, Timnas Indonesia sering mengalahkan tim-tim kuat, termasuk Timnas Cina yang 3 kali dikalahkan, 2 kali diantaranya di kandang mereka di Beijing dalam kualifikasi Piala Dunia (1954). Melihat capaiannya, tak diragukan lagi Endang Witarsa adalah salah sau pelatih sepakbola terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dari 7 gelar internasional yang pernah diraih Timnas Indonesia, 5 diantaranya diraih dalam asuhan pelatih Endang Witarsa.

Endang Witarsa lahir dengan nama Liem Soen Joe atau Lim Sun Yu di Kebumen (Jawa Tengah), 4 Oktober 1916. Ayah 4 anak ini berpulang tanggal 2 April 2008 di RS Pluit, Jakarta Utara. Mendiang dimakamkan di Heroes Plaza, San Diego Hills, Karawang (Jawa Barat). Betapa cintanya pada sepakbola dan Timnas Indonesia, hingga menjelang tutup usia Beliau tetap bersemangat menyaksikan penampilan Timnas Indonesia di stadion, meski usianya telah kepala 9. Kisah hidup Endang Witarsa juga telah dirangkum dalam sebuah buku berjudul 'Dokter Bola' karya wartawan senior H. Isyanto. (MGH/Foto:World Vital Records)

BENDERA (Cokelat)