Tampilkan postingan dengan label atlet pencak silat putri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atlet pencak silat putri. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2018

NI MADE DWIYANTI : TETAP BERTANDING SAAT HAMIL MUDA



Berpasangan dengan pendekar silat asal Bali lainnya, Sang Ayu Sidan Wilantari, Ni Made Dwiyanti memenangkan medali emas nomor seni ganda putri dari ajang Asian Games 2018 pertengahan tahun ini. Padahal dua pendekar wanita ini sempat cuti panjang dari arena pencak silat karena bergantian melahirkan. Dwiyanti sendiri telah membuktikan ketangguhannya dengan bertanding di PON Jawa Barat 2016 dalam keadaan hamil muda. Hebatnya saat itu ia tetap mampu meraih medali emas sekaligus mempertahankan janinnya hingga tiba saat kelahirannya. Sebelumnya, Dwiyanti dan Ayu juga telah mengukir prestasi internasional sebagai pesilat khususnya di nomor seni ganda putri, termasuk menjadi juara dunia di tahun 2010. Ironisnya, tetap saja ada yang meragukan kemampuan Dwiyanti sebagai pesilat yang akan memperkuat Tim Pencak Silat Indonesia di Asian Games. Namun, terbukti Dwiyanti dan Ayu mampu membuktikan bahwa mereka berdua memang pesilat yang terbaik untuk nomor seni ganda putri di Asia. Tak heran, Dwiyanti mendedikasikan  kemenangannya di Asian Games 2018 untuk sang putra tersayang.

Prestasi:
- Medali emas nomor seni ganda putri Kejuaraan Dunia Pencak Silat Jakarta 2010
- Medali emas pencak silat nomor seni ganda putri SEA Games Jakarta-Palembang 2011
- Medali emas pencak silat nomor seni ganda putri Asian Games Jakarta-Palembang 2018
(mgh/foto: Nusabali)

Sabtu, 22 Desember 2018

PUSPA ARUMSARI : MENOLAK JADI PNS



Berbeda dengan anggapan umum bahwa atlet kelas dunia kurang berhasil di bidang pendidikan formal, Puspa Arumsari membuktikan bahwa ia mampu menyelaraskan keduanya. Tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan formalnya dari Politeknik Negeri Jakarta, lulusan jurusan desain grafis ini juga justru merasakan prestasinya sebagai atlet pencak silat  memberi banyak kemudahan baginya untuk menuntut ilmu formal. Berkat prestasinya sejak SMP ia bisa bersekolah gratis hingga lulus SMA. Maklum, ia menuntut ilmu di sekolah khusus atlet nasional SMP-SMA Ragunan di Jakarta.

Dara tangguh yang biasa disapa dengan nama Dara ini, lahir di Jakarta tepat 10 maret 1993. Hobinya membaca, jalan-jalan, dan belanja. Bertinggi/berat 163 cm/54 kg, Dara mulai berlatih pencak silat di usia 11 tahun karena ajakan kakaknya yang pelatih silat. Untungnya, Dara senang berlatih silat karena banyak temannya yang juga berlatih di tempat yang sama. Sekarang Dara berlatih di perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate di bawah arahan pelatih Iqbal Maulana dan Agus SR.

Sebagai juara Asian Games, selain mendapat bonus tabungan milyaran rupiah, Dara juga mendapat kesempatan menjadi PNS tanpa tes di wilayah yang dikehendakinya. Namun ternyata, Dara lebih memilih berwiraswasta dengan modal uang bonus dari pemerintah. Dara ingin membuka usaha sendiri sesuai ilmunya dari bangku kuliah yaitu di bidang desain grafis. Ia menegaskan ingin membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan itu hanya bisa dilakukan bila ia berwiraswasta. Luar biasa! Andai sebagian besar anak muda Indonesia punya mental pejuang seperti  Dara.......

Prestasi:
- Medali emas pencak silat seni tunggal putri ASEAN University Games Palembang 2014
- Juara 2 nomor seni tunggal putri Kejuaraan Dunia Pencak Silat Muangthai 2015
- Juara dunia pencak silat seni tunggal putri Denpasar 2016
- Medali perunggu pencak silat seni tunggal putri SEA Games Kuala Lumpur 2017
- Medali emas pencak silat seni tunggal putri Asian Games Jakarta-Palembang 2018
(mgh/foto: Detik)

Minggu, 16 Desember 2018

SARAH TRIA MONITA : TUNDA BULAN MADU DEMI ASIAN GAMES


Keberhasilannya memenangkan medali emas cabang olahraga pencak silat nomor tarung kelas C: 55-60 kg di ajang Asian Games pertengahan tahun ini makin istimewa karena suaminya yang juga atlet pencak silat Iqbal Candra Pratama telah lebih dahulu menyumbangkan menyumbangkan medali emas untuk Indonesia. 

Si cantik yang biasa dipanggil Nieta ini lahir di Kediri (Jawa Timur), 31 Mei 1995. Alumna STIE Urip Sumoharjo Surabaya ini baru menikah dengan rekan sepelatnasnya Iqbal, pada pertengahan April tahun ini. Namun setekah menikah keduanya kembali sibuk dengan persiapan Asian Games. Pasangan pendekar ini bahkan sengaja menunda bulan madu mereka demi fokus pada Asian Games. 

Melihat penampilannya sekarang yang anggun, siapa yang mengira tadinya wanita berwajah tirus ini  dikenal tomboy. Tentang bonus Asian Games yang diperolehnya, Nieta menggunakannya untuk memberangkatkan kedua orangtua dan mertuanya berhaji ke Tanah Suci serta menunaikan kewajiban membayar zakat. 
Facebook : nieta.ajja.75
(mgh/foto: istimewa)

Selasa, 03 Juni 2014

DEWA AYU ARI PRATIWI : KORBANKAN PENDIDIKAN DEMI PRESTASI


Totalitasnya dalam menekuni beladiri asli Indonesia, pencak silat, jelas tak diragukan lagi. Putri Bali ini memutuskan tidak lanjut pendidikan ke tingkat perguruan tinggi selepas SMA. Latihan pencak silat jadi fokus sepenuhnya. Kerja keras, ketekunan, dan pengorbanannya berbuah gelar Juara Dunia Pencak Silat nomor seni tunggal putri tahun 2012 dalam Kejuaraan Dunia di Chiang Mai (Muangthai). Setahun kemudian, sulung dari 3 bersaudara ini kembali sukses menyumbangkan medali emas dari ajang SEA Games di Palembang, juga dari nomor seni tunggal putri. Semoga makin berjaya di kejuaraan-kejuaraan  internasional berikutnya.(MGH/Foto: Naskleeeng)

Minggu, 01 Juni 2014

WEWEY WITA : NARSISNYA SANG JUARA DUNIA


Inilah salah satu Srikandi muda Indonesia yang berjaya pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2012 di Chiang Mai (Muangthai). Mojang Ciamis ini berhasil merebut gelar juara untuk nomor tanding kelas C (55-60 kg) putri. Sementara dari ajang SEA Games 2013 di Palembang, Wewey mempersembahkan medali perak dari nomor tarung. 

Wewey Wita kelahiran Ciamis (Jawa Barat), tepat 5 Februari 1993. Mewarisi wajah oriental dari sang ayah yang asal Singapura Atong, dan keramahan urang Sunda dari sang ibu Ani Rohimah yang asli Sunda, Wewey mulai mempelajari pencak silat saat kelas 6 SD. Awalnya hanya mengikuti ekstrakurikuler. Tidak hanya pencak silat, Wewey juga ikut ekskul basket dan voli. Selanjutnya Wewey makin merasa asyik dengan pencak silat hingga bergabung dengan Perguruan Silat Perisai Diri. Uniknya, orangtua baru tahu putri sulung mereka menekuni pencak silat setelah Wewey menang kejuaraan pencak silat sekolah. Dari sinilah prestasi Wewey terus meningkat hingga tingkat dunia. 

Di luar kesibukannya sebagai olahragawati, Wewey kuliah di Universitas Negeri Jakarta. Di waktu senggang ia suka mendengarkan musik dan melewatkan waktu bersama Denny Aprisani, kekasihnya yang juga olahragawan pencak silat. Yang mungkin tidak banyak diketahui para pengagumnya, Wewey aslinya agak narsis juga....hobi banget selfie. Wewey dan Denny bahkan membuat beberapa akun Facebook bersama yang isinya penuh foto-foto selfie mereka berdua! Info tambahan, si cantik ini beragama Islam dan juga penyayang binatang. Kesayangannya bernama Nyun Nyun, seekor kelinci imut berwarna coklat. Sesekali Wewey dan keluarganya menjenguk nenek dan keluarga besar dari pihak sang ayah yang masih tinggal di Singapura. 

Prestasi:
- Juara dunia  nomor tanding kelas 55-60 kg, Chiang Mai, Muangthai 2012
- Medali perak nomor tanding kelas 55-60 kg SEA Games, Myanmar 2013
- Medali emas nomor tanding kelas 55-60 kg Belgium Open 2013
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)