Tampilkan postingan dengan label Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

SYUCI INDRIANI : MENYEIMBANGKAN SEKOLAH DAN RENANG



Menyandang tunagrahita tidak berarti tuna produktif apalagi tuna prestasi. Atlet renang Syuci Indriani membuktikan dengan mengharumkan nama bangsa di ajang Asian Para Games 2018 yang digelar di Jakarta, Oktober lalu. Dara tunagrahita berusia 17 tahun ini sukses memboyong 2 medali emas dan 1 perunggu. Pencapaian ini melebihan targetnya yang 2 medali emas. Hebatnya lagi, medali perunggu diperoleh dari nomor gaya bebas yang bukan spesialisasinya. 

Menyadari besarnya dukungan keluarga hingga ia mencapai prestasi internasional, putri pasangan Syafriton dan Martini ini menggunakan bonus yang didapatnya untuk mengumrohkan sang ayah (ibunya sudah almarhumah). Selebihnya diinvestasikan untuk masa depan. Syuci mulai berlatih renang secara serius sejak berumur 6 tahun. Adalah orangtuanya yang mendeteksi bakat sang putri dan memupuknya. Dara asal Riau ini bahkan bersekolah di sekolah menengah khusus untuk atlet di Riau. Saat ini Syuci masih belajar di SMA Olahraga.

Bhima Kautsar, pelatih Syuci mengatakan, porsi latihan Syuci tidak berbeda dengan atlet renang berfisik normal. Menghadapi padatnya jaadwal latihan dan aktivitasnya sebagai pelajar, Syuci mengaku berusaha keras menyeimbangkan keduanya agar sama-sama berjalan baik. Dan buktinya, Syuci mampu mengukir prestasi dunia dengan tanpa pernah tinggal kelas. 

Prestasi:
- Medali emas renang ASEAN Para Games Kuala Lumpur 2017
- Medali emas renang Youth Para Games Dubai 2017
- Medali perak renang Youth Para Games Dubai 2017
- Medali emas renang 100 m gaya dada putri SB14 Asian Para Games Jakarta 2018
- Medali emas renang 100 m gaya ganti putri SB14 Asian Para Games Jakarta 2018
- Medali perunggu renang 200 m gaya bebas putri SB14 Asian Para Games Jakarta 2018
(mgh/foto: Femina)

Sabtu, 07 Juli 2012

EKA OKTARORIANUS : DENGAN DAYUNG MENGHARUMKAN INDONESIA

Atlet dayung kano dan perahu naga ini langsung meraih 2 medali emas pada hari pertama SEA Games XXVI di Palembang akhir tahun lalu. Emas pertama diraihnya pada laga pembuka kano di nomor tunggal 1000 C1. Sedangkan emas kedua dipersembahkan Eka bersama Anwar Tarra di nomor C2 1000 meter.

Eka lahir di Kuantan Singingi (Riau) tanggal 25 Oktober 1989 dari pasangan petani karet Ermis dan Kasmayuhana. Dibesarkan dalam keprihatinan, Eka kini telah menjadi salah satu atlet kebanggaan Indonesia dan teladan keberhasilan bagi adiknya. Bahkan sang adik, Sefta Endrika yang baru berusia 15 tahun mengikuti jejak kakak sulungnya, menekuni olahraga dayung. Sefta kini menjadi salah seorang atlet kano andalan Riau. Ekapun berhasil meningkatkan taraf hidup keluarganya setelah memberi modal sang ayah untuk menjadi pengusaha tambang batu dan rumah kontrakan. Sementara ibunya dibelikan kebun sawit seluas 200 hektar. Tak hanya itu, dalam waktu dekat Eka akan membiayai orangtuanya berhaji.

Meski telah meraih prestasi internasional, Eka tetap rendah hati dan ramah pada siapapun. Pemuda tegap bertinggi-berat 175 cm/71 kg ini tetap murah senyum dan lembut dalam bertutur kata. Pada para awak mediapun Eka selalu siap meluangkan waktu untuk wawancara, bahkan di saat kawan-kawannya telah beristirahat.

Satu keinginan Eka yang belum tercapai, meneruskan pendidikan di perguruan tinggi hingga tamat. Padatnya jadwal latihan dan pertandinganlah yang masih menghalanginya fokus pada pendidikan formal hingga sementara terpaksa cuti dari FKIP Universitas Riau.

Prestasi:
-         Medali emas  nomor 1000 C1 SEA Games (2007)
-         Medali perak nomor 500 C1 SEA Games (2007)
-         Medali emas nomor perahu naga Asian Games Teheran (2009)
-         Medali emas Kejuaraan Kano Asia (2009)
-         Medali perak Kejuaraan Kano Asia (2009)
-         Medali emas nomor 1000 C1 SEA Games XXVI Palembang (2011)
-         Medali emas nomor 1000 C2 SEA Games XXVI Palembang (2011)
(MGH/Foto:Eka Gusmadi Putra)