Senin, 04 Maret 2013

MI LOW FAT


Bahan:
Mi instan goreng  1 bks
Jagung manis pipil 50 gr
Air jeruk nipis  1 sdm
Bawang Bombay  1 buah (iris tipis)
Wortel  75 gr (iris tipis, rebus)
Brokoli  50 gr (potong-potong, rebus)
Margarin  1 sdm (untuk menumis)
Saus tomat  2 sdm

Cara Memasak:
  1. Rebus mi instan, jagung pipil, dan air jeruk nipis dalam air mendidih sampai matang. Angkat dan tiriskan. Sisihkan.
  2. Panaskan margarin. Tumis bawang Bombay sampai harum. Masukkan mi yang sudah direbus beserta bumbunya kecuali bawang goreng. Aduk rata.
  3. Letakkan mi di atas piring. Tata wortel, brokoli, dan saus tomat. Taburkan bawang goreng. Sajikan. (Resep: Indomie)

Minggu, 03 Maret 2013

THATA JOYCE SIGAR : BANGGA BERPASPOR INDONESIA


Sosialita yang satu ini memang sangat Indonesia. Tak hanya bhineka tunggal ika - berdarah gado-gado Manado-Sunda-Cina-Belanda, Thata juga bangga menunjukkan identitasnya sebagai orang Indonesia meski bermukim di Malaysia, negeri yang telanjur dicap kurang ramah terhadap Indonesia. 

Lahir di Jakarta, 6 November 1970 dari keluarga kalangan atas, Thata telah menggeluti dunia bisnis sejak tinggal di Jakarta. Dialah salah seorang pendiri Animasindo, rumah produksi yang membuat iklan dan animasi (1994). Setelah menikah dengan pria Malaysia, Thata mengikuti sang suami bermukim di Negeri Jiran. Di sana, Thata tetap menekuni bisnis dengan mendirikan Imej Revolusi, perusahaan film dan hiburan. Tentu bukan tanpa alasan Thata setia pada bidang bisnis hiburan latar belakang pendidikan formalnya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) membekalinya dengan pengetahuan di bidang seni  dan hiburan. 

Tapi, di Malaysia Thata tak semata mengejar keuntungan. Iapun mempunyai misi membawa budaya Indonesia ke Malysia  dengan mendatangkan artis-artis Indonesia mulai Ruth Sahanaya, Reza, Krisdayanti, Samson, Anang, Syahrini, Ashanty, Wali, hingga Trio Macan. Thata juga membuka butik kebaya 'Kebaya For The World' di 3 mal elit Malaysia: Parkson KLCC, Parkson Pavillion, dan Parkson Subang Parade. Untuk itu, Thata bekerjasama dengan perancang kebaya Indonesia, Raden Sirait. Sukses, sudah pasti!

Sukses memboyong kebaya ke perbelanjaan kelas atas Malaysia, Thata makin bersemangat membawa busana Indonesia ke Malaysia. Iapun membuka butik 'Batik for the World' dengan konsep yang sama, di samping mengimpor 3 merek busana buatan Indonesia: Luire, Zegez, dan Middle East. 

Di balik kegiatan bisnisnya, wanita modis yang awet muda  ini memang ingin memberi pencerahan pada warga Malaysia agar lebih menghargai Indonesia. Ini diperlihatkan dsalam kesehariannya, antara lain dengan menolak disebut 'Indon', sebutan yang merendahkan bangsa Indonesia dari sebagian warga Malaysia. Kalau ditanya, "Are you from Indon?" Thata selalu menjawab, "No! I am from Indonesia!" 

Thata juga selalu tampil anggun dan modis hingga menjadi acuan para sosialita Malaysia dalam berdandan. Thata menuturkan, soal mode, Indonesia memang lebih maju daripada Malaysia. Tak puas membawa seni dan busana Indonesia, Thata juga menyebarkan 'virus' bahasa gaul ala Jakarta ke Malaysia. Hasilnya, para sosialita Malaysia 'tertular' kebiasaan Thata menyelipkan kata-kata seperti "dong' atau "cin" saat berbicara. 

Dari pernikahannya, Thata dikaruniai 3 anak: Moch Hadly Khan, Nadira Shanaz Khan, dan Moch Hazry Khan. Di luar kesibukannya sebagai pengusaha, ibu, dan sosialita, Thata aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia mengajar berkuda untuk para penyandang cacat di Malaysia. 

Thata juga aktif sebagai penyelenggara kegiatan-kegiatan sosial untuk Indonesia dan tak jarang membantu para TKI yang bermasalah di Negeri Jiran. Pergaulannya yang luas dengan kalangan atas Malaysia memang sangat membantu. Apalagi hobi berkuda dan polo mendukungnya memasuki pergaulan dengan para pejabat dan keluarga raja-raja Malaysia. Meski sejak lama mengenal olahraga berkuda, baru setelah tinggal di Malaysialah Thata serius menekuni olahraga kaum berpunya itu. Bukan untuk bergaya, tapi untuk memperluas jaringan bagi bisnisnya juga untuk memberi citra berbeda terhadap Indonesia yang cenderung dipandang sebelah mata karena banyaknya TKI di sana. Tak hanya berkuda di Malaysia dan Indonesia, kadang Thata dan teman-temannya latihan polo hingga ke Perancis, Belanda, Australia, hingga Argentina. Koneksi yang luas di kalangan atas ini juga membuat bisnisnya mulus di Negeri Jiran. Thata, antara lain, mendapat proyek kakap menangani kampanye pariwisata Malaysia 'Visit Malaysia Year 2007.'

Meski bersuami pria Malaysia, hidup makmur dan terhormat selama puluhan tahun di  Negeri Jiran, Thata memilih tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia. Hingga kini, Thata bangga berpaspor Indonesia. Betul kan, Thata memang sangat Indonesia! (MGH - disarikan dari Kompas/Foto: Wawan H. Prabowo)

KRENGSENGAN

Bahan:
Daging kambing/sapi   1/2 kg (potong-potong)
Minyak goreng   5 sdm (untuk menumis)
Air   3 1/2 gelas

Bumbu:
Lada   1 sdt
Bawang merah   7 btr
Bawang putih   3 siung
Cabe rawit   7 buah
Tomat   2 buah
Garam   secukupnya
Kecap manis   2 sdm
Petis udang   3 sdm

Cara Membuat:
1. Gerus bumbu-bumbu, campur dengan daging, 
2. Tuangkan minyak goreng di atas wajan.
3. Tumis campuran daging dan bumbu.
4. Tuangi air, rebus hingga masak dan kuahnya mengental.
(Resep: Ny. Rahimah)

Sabtu, 02 Maret 2013

MOCHTAR LUBIS : WARTAWAN SENIOR YANG MENDUNIA


Bagi penikmat sastra, nama Mochtar Lubis jelas tak asing lagi. Karya-karyanya seperti Harimau-Harimau, Maut dan Cinta, Musim Gugur, dicatat dengan tinta emas dalam sejarah sastra Indonesia sebagai karya-karya berkualitas sepanjang masa. Novel tersohornya yang lain, Jalan Tak Ada Ujung, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penulis Negeri Pangeran Charles, A.H. John dan diterbitkan di London pertama kali di tahun 1968 dengan judul A Road With No End. Novelnya yang juga sangat ternama, Harimau Harimau, terinspirasi dari pengalamannya saat lintas alam di hutan Sumatera dan bertemu harimau. Menjelajah alam memang merupakan salah satu hobinya. 

Tak hanya itu. Mochtar Lubis juga merupakan tokoh pers Indonesia yang juga salah seorang pendiri kantor berita ANTARA. Di era Orde Lama, Mochtar dikenal sebagai pengkritik Presiden Soekarno yang vokal. Akibatnya, ia sempat dijebloskan ke penjara dengan tuduhan subversif selama hampir 9 tahun hingga dibebaskan tahun 1966. Pengalaman dan buah pikirannya selama dipenjara telah dituangkannya dalam buku berjudul Catatan Subversif (1980).

Sebagai wartawan, nama besar Mochtar Lubis tak hanya diakui di Indonesia namun juga di tingkat internasional. Ini terbukti dengan kepercayaan yang diberikan padanya untuk menduduki posisi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom, juga anggota World Futures Studies Federation. Beliau juga pernah menjadi juri kompetisi foto jurnalistik internasional paling bergengsi, World Press Photo (WPP) di Amsterdam (Belanda).

Mochtar Lubis lahir di Padang, 7 Maret 1922. Bakat menulis putra ke-6 dari 12 anak Raja Pandapotan Lubis, seorang pejabat pemerintahan ini telah nampak sejak usia kanak-kanak dengan menulis cerita-cerita pendek untuk majalah anak. Kesukaannya menulis dipupuk didikan sang ayah yang mengarahkan anak-anaknya gemar membaca dengan membuat perpustakaan pribadi di rumah. Uniknya, meskipun bekerja sebagai pejabat pemerintah di daerahnya, sang ayah mengarahkan Mochtar dan saudara-saudaranya untuk menekuni profesi di luar pegawai pemerintahan. Tak heran, cita-cita Mochtar kecil sebagai dokterpun padam dengan sendirinya. 

Setelah dewasa dan berkecimpung di dunia jurnalistik, ia tetap menulis cepen dan novel. Bersama rekan-rekannya sesama sastrawan, Mochtar juga mendirikan Horizon, majalah sastra yang disegani hingga kini. Namun sebenarnya, Mochtar sempat menekuni beberapa pekerjaan sebelum menekuni jurnalistik. Setelah lulus Sekolah Ekonomi Kayutanam (Sumatera Barat), ia sempat menjadi guru di Nias, sebelum pindah ke Batavia (kini Jakarta) dan bekerja di sebuah bank. Ketika Jepang menduduki Indonesia, Mochtar sempat bekerja sebagai penerjemah berita-berita internasional untuk tentara Jepang. Inilah awal persingungannya dengan jurnalistik. Sedangkan pendidikan formal terakhir ditempuhnya di University of Hawaii, Amerika Serikat. 

Selain sastra dan jurnalistik, Mochtar juga sangat menggemari yoga yang dikenalnya saat dipenjara. Menikah dengan Siti Halimah dan dikaruniai 3 anak serta 8 cucu. Mochtar Lubis wafat di RS Medistra, Jakarta tanggal 2 Juli 2004, 3 tahun setelah sang istri tutup usia. Sebelumnya, kesehatan sang tokoh pers memang menurun drastis sejak berpulangnya sang istri tercinta (2001). Ia tak mampu lagi mengenali orang-orang di sekitarnya, bahkan terus memanggil-manggil nama almarhumah istrinya. Pada orang dekatnya, Mochtar mengatakan tak mampu mencintai wanita selain almarhumah Siti Halimah, istrinya. Mochtar dimakamkan di samping pusara sang istri di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Nama besar Mochtar Lubis di dunia internasional terbukti dengan penghargaan-penghargaan internasional yang diperolehnya. Tidak cuma itu. Setidaknya ada 4 penelitian yang dilakukan warga negara asing atas Mochtar Lubis. Sesuatu yang tak mungkin terjadi bila sang tokoh tak diakui kontribusi dan prestasinya di tingkat internasional.

Penghargaan:
- Ramon Magsaysay Award, Filipina (1958)
- World Federation of Editor and Publishers's Golden Pen of Freedom Award (1967)

Studi Tentang Mochtar Lubis:
  • Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une vision de l'IndonĂ©sie Contemporaine (disertasi, Paris, 1974)
  • David T. Hill, Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor (disertasi, Canberra, 1989)
  • David T. Hil, ‘Mochtar Lubis’, Inside Indonesia, Vol. 83, July-September 2005, p.23.
  • David T. Hill, Journalism and Politics in Indonesia: A Critical Biography of Mochtar Lubis (1922-2004) as Editor and Author, (Routledge, London & New York, 2010). (MGH/Foto: Taman Ismail Marzuki)

PUTU TEGAL

Bahan:
Tepung ketan   1/2 kg
Pisang raja (kupas, belah 4)
Garam
Kelapa parut
Gula pasir
Air kapur sirih

Cara Membuat:
1. Campur tepung ketan dengan air kapur sirih. Uleni. 
2. Letakkan pisang di loyang.
3. Letakkan tepung ketan di atas pisang.
4. Letakkan pisang di atas tepung, lalu lapisi lagi dengan tepung.
5. Ulangi langkah 1-3 hingga bahan habis.
6. Letakkan kelapa parut dan gula pasir di lapisan paling atas.
7. Kukus hingga matang.
8. Potong-potong. 
(Resep: Ny. Kutinawati)

Jumat, 01 Maret 2013

ALI LUTFI : PRESTASI DUNIA BERKAT FOTO MIMIN


Satu lagi fotografer Indonesia berjaya di kompetisi foto jurnalistik paling bergengsi di dunia, World Photo Contest (WPP) di Amsterdam (Belanda). Ia merupakan orang Indonesia ke-7 yang berjaya di WPP. Ali Lutfi, fotografer lepas yang bermukim di Solo (Jawa Tengah), keluar sebagai jawara ke-2 WPP 2013 untuk kategori alam dan lingkungan (nature single). Karyanya yang berjudul 'Mimin', merekam gambar seekor monyet bernama Mimin yang dibawa pemiliknya mengamen (topeng monyet) di satu perempatan jalan di Solo, berhasil memikat hari para juri. Upik, demikian fotografer muda ini biasa disapa, tertarik merekam gambar Mimin karena ingin menyampaikan pesan tentang eksploitasi satwa oleh manusia, juga upaya manusia untuk bertahan hidup.

Ali Lutfi lahir di di Boyolali (Jawa Tengah), 17 Juli 1976 adalah suami dari jilbaber berwajah manis, Dian Shintawati, dan ayah 2 putra yang lucu, Agha Rahman dan Atharahman. Upik telah menekuni fotografi sejak masih mahasiswa, dan berlanjut setelah lulus dengan bekerja sebagai fotografer harian Solo Pos. Belakangan, Upik memilih bekerja mandiri sebagai fotografer lepas di samping kontributor harian berbahasa Inggris, Jakarta Globe, sejak beberapa tahun belakangan. Di luar urusan potret memotret, penggemar sepakbola ini dikenal ramah dan murah senyum. Upik bisa disapa di Twitter @alilutfi atau dikunjungi di alilutfi77.blogspot.com(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

BIBIKA / BIKA AMBON (khas Medan)

Bahan:
Tepung tapioka   625 gr
Gula pasir   625 gr
Kuning telor   10 btr
Santan kental   1/3 l
Gist (biang)   12 1/2 gr
Daun pandan   secukupnya
Daun jeruk purut   secukupnya
Vanili   sedikit
Minyak goreng (untuk olesan)
Buah kenari   secukupnya (iris-iris)
Air

Cara Membuat:
1. Rebus gula pasir dan air hingga gula mencair menjadi seperti sirop.
2. Bubuhi pandan dan daun jeruk purut. 
3. Jerang santan dan daun pandan hingga kental. 
4. Campur tepung tapioka dan gist lalu ratakan.
5. Kocok kuning telor hingga putih.
6. Masukkan kuning telor, santan, dan gula dengan adonan tepung tapioka.
7. Remas-remas adonan hingga semua bahan tercampur rata. 
8. Biarkan selama 2 jam agar memuai.
9. Olesi loyang dengan minyak goreng.
10. Letakkan adonan di atas loyang lalu panggang hingga setengah matang.
11. Taburi dengan irisan kenari.
12. Panggang lagi dalam oven hingga matang.
13. Lumuri bagian atas kue dengan mentega agar lebih nikmat.
(Resep: Ny. Kutinawati)