Kamis, 27 September 2012

TAHU BUMBU ACAR

Bahan:
Tahu putih   10 potong
Bumbu dasar kuning   3 sdm
Serai   1 btg (memarkan)
Daun jeruk   3 lbr
Cuka masak   1 sdm
Garam   secukupnya
Gula   secukupnya
Tepung maizena    1 sdm (larutkan dengan sedikit air)
Wortel   1 buah (potong korek api)
Mentimun   1 buah (buang isinya, potong serasi)
Buncis   10 btg (potong serasi)
Bawang merah kecil   12 btr
Cabe besar merah   2 buah (iris serong tebal)
Cabe hijau besar   2 buah (iris serong tebal)
Air   300 ml

Cara Memasak:)
1. Tiap tahu dipotong 4 lalu goreng.
2. Masak bumbu dasar kuning, serai, dan daun jeruk.
3. Tambahkan cuka masak, gula, dan garam. Tunggu hingga mendidih.
4. Kentalkan dengan larutan maizena. Aduk rata.
5. Masukkan wortel, mentimun, buncis, bawang merah, cabe merah, dan cabe hijau.
6. Biarkan sebentar lalu angkat.
7. Siapkan pinggan.
8. Letakkan tahu lalu tuang saus dan isiannya.
9. Sajikan.

Info Saji: 
Untuk : 4 porsi
(Resep: Yeni Ismayani/Sedap Bintang)

Rabu, 26 September 2012

ATILAH SOERYADJAYA : LAHIRKAN MATAH ATI KARENA SAKIT HATI


Sakit hati bisa menjadi prestasi bila diarahkan di jalur yang tepat. Contohnya yang dilakukan Atilah Soeryadjaya, ibu 6 anak yang juga istri pengusaha Edward Soeryadjaya. Berawal dari sakit hati waktu membaca satu artikel di satu media terbitan Singapura yang dinilainya menjelek-jelekkan Indonesia, wanita bangsawan Jawa bergelar Bendoro Raden Ayu (BRAY) ini mementaskan lakon sendratari Jawa 'Matah Ati' di gedung pertunjukan paling bergengsi di Singapura, Esplanade. Dipentaskan 22-23 Oktober 2010, Matah Ati beroleh sukses besar di Singapura. Tak hanya pertunjukannya selalu dipadati penonton warga Singapura, media setempat juga memberi perhatian yang menggembirakan. Atilah jelas bangga, tak hanya karena budaya Indonesia terbukti dihargai di negeri orang, namun juga karena ialah yang menulis naskah, memproduseri, menyutradarai, hingga merancang kostum pementasan Matah Ati. Pokoknya borongan!

Atilah mengakui, ide mementaskan sendratari Jawa di Esplanade Singapura, muncul setelah ia menyaksikan pementasan drama musikal Miss Saigon di gedung yang sama. Ia langsung pulang ke Solo dan bekerja keras mewujudkan mimpinya, mengangkat budaya Indonesia di panggung bergengsi negeri jiran itu. Beruntung, sang suami yang keturunan Cina juga mendukungnya. Kesuksesan Matah Ati di Espalanade menarik perhatian Federation for Asian Cultural Promotion (FACP), lembaga yang mempromosikan kebudayaan negara-negara Asia-Pasifik. Pasalnya, selama 25 tahun tidak ada kegiatan kebudayaan yang diadakan Indonesia, negeri yang sejatinya sangat kaya akan ragam budaya. Berkat Matah Ati pula Indonesia kembali diterima sebagai anggota FACP bahkan terpilih menjadi tuan rumah Konferensi FACP, 6-9 September lalu. Perhelatannya diadakan di Solo, kota kelahiran Atilah. Jangan heran, Atilah juga yang menominasikan Solo sebagai calon tuan rumah Konferensi FACP. Tak sia-sia, Solo terpilih menjadi tuan rumah dan mengalahkan kota yang lebih besar, Beijing yang juga masuk nominasi. Sebagai hadiah dari Atilah untuk warga Solo, selama perhelatan Konferensi FACP yang diikuti 500 peserta dari 30 negara itu, Matah Ati dipentaskan setiap hari secara gratis!

Siapakah Atilah? Atilah Rapatriati adalah cucu Mangkunegoro VII, raja Surakarta. Nama lengkap Atilah berarti prajurit wanita yang bersinar. Salah seorang pamannya, Dullah, adalah pelukis istana di era Bung Karno. Sebagai cucu raja, sejak kecil wanita jelita kelahiran Solo (Jawa Tengah), 28 April 1961 ini tinggal di Puri Mangkunegara dan berlatih menari Jawa. Toh di luar itu, Atilah juga menikmati musik rock dan menjadi penggemar band top tahun 70an: God Bless dan AKA.  Di kamarnya, Atilah bahkan memasang poster vokalis AKA yang kini telah almarhum, Ucok Harahap. Alumnus Sekolah Pariwisata Jakarta ini menikah dengan Edward, pemngusaha yang merupakan salah seorang putra konglomerat pendiri Astra Group, William Soeryadjaja. Atilah sendiri menjabat sebagai direktris Alfha Infinity di samping mengurus yayasan yatim piatu Esa Sasana Surya dan menjadi Ketua Umum Mitra Wayang Orang Indonesia dan telah beberapa kali mementaskan lakon wayang orang. (MGH/Foto: Rustika Herlambang)

BLUEBERRY GUITARS : DARI BALI KE PELUKAN PARA GITARIS INTERNASIONAL


Mendengar merek 'Blueberry'  yang pertama terekam di benak Sahabat mungkin adalah ponsel buatan Cina yang memang cukup populer di Indonesia, atau buah impor dari negeri seberang. Namun 'Blueberry' yang ini, adalah merek gitar buatan Bali karya seniman Wayan Tuges. Bukan sembarang gitar, Blueberry Guitars  memadukan seni dan kualitas. Dengan kelebihan ini, tak heran bila Blueberry Guitars digunakan para gitaris kaliber dunia, sebut saja diantaranya, gitaris Belanda Gorge Kooymans (Golden Earrings) dan gitaris asal Kanada, Paul Des Laurier yang ada diantara daftar pemesan gitar asli Bali ini. Untuk desain 'reguler', Blueberry Guitars dijual mulai harga Rp 15 juta dan di atas Rp 60 juta untuk pesanan khusus. 

Wayan Tuges asal Guwang, Sukawati, Gianyar, awalnya bekerja sebagai perajin ukir kayu. Ia merupakan putra I Nyoman Ritug, yang juga seniman ukir. Suatu hari, Tuges didatangi seorang wisatawan asal Kanada, Danny Fonfreder yang memesan gitar berukir bunga mawar. Jangankan membuat gitar, memainkan apalagi mempunyai gitarpun (waktu itu), Pak Tuges belum pernah! Tapi ia tak melewatkan peluang begitu saja. Demi mememnuhi pesanan Danny, Pak Tuges langsung belajar cara membuat gitar. Terkesan melihat tekad Pak Tuges, Danny mendatangkan seorang ahli pembuat gitar langsung dari Amerika Serikat, khusus untuk melatih Pak Tuges selama 2 tahun! Tahun 2005, mulailah Pak Tuges berbisnis gitar ukir dan mengusung merek Blueberry Guitars. Kini, karya ayah 4 anak ini makin variatif. Tak hanya  berhias ukiran, gitar karyanya ada yang memadukan ukiran dengan perak, kulit kerang, batu hias, tembaga, bahkan emas! Dalam pengerjaan karyanya, Tuges dibantu 50 karyawan yang mampu menghasilkan 20 gitar/bulan. Tuges mampu membuat gitar elektrik maupun akustik. Sekitar 80 persen konsumennya berasal dari luar negeri. Sayangnya, hingga kini Tuges belum menemukan kotak atau tas gitar yang berkualitas baik di dalam negeri. Jadilah ia terpaksa mengimpor tas dan kotak gitar dari Eropa. 

Bersama keluarganya, Tuges tinggal di dekat Pasar Seni Guwang, Gianyar. Tapi kalau ingin melihat gitar-gitar indah karya seniman ukir kelas dunia ini bisa diakses lewat www.blueberryguitars.com yang berbahasa Inggris dan Perancis. Ada juga artikel, foto, dan video para gitaris internasional  yang menggunakan gitar asli Indonesia ini.  (MGH/Foto: Blueberry Guitars)

LAKSA AYAM TAOGE

Bahan:
Ayam   1  ekor (potong 4 bagian)
Bumbu dasar kuning   4 sdm
Air   1 l
Serai   2 btg (memarkan)
Jahe   2 cm (memarkan)
Daun jeruk   5 lbr
Santan cair   1 l
Garam   secukupnya
Merica bubuk   secukupnya
Gula pasir   secukupnya
Bihun   300 gr (rendam hingga lunak)
Taoge   100 gr (siangi, seduh air panas)

Pelengkap:
Emping
Telor rebus
Jeruk limau
Sambal rebus

Cara Memasak:
1. Rebus ayam, bumbu dasar kuning, air, serai,daun jeruk, dan jahe hingga ayam lunak.
2. Angkat ayam kemudian suwir-suwir.
3.  Rebus kembali kaldu ayam dengan santan hingga mendidih.
4. Tambahkan garam, merica, dan gula. Aduk rata dan angkat.
5. Siapkan mangkok saji.
6. Letakkan bihun, taoge, dan ayam suwir, lalu tuangkan kuahnya.
7. Tambahkan telor, irisan daun bawang, bawang goreng, emping, sambal, dan jeruk limau.
8. Sajikan hangat.

Info Saji:
Untuk: 4 porsi
(Resep: Yeni Ismayani/Sedap Bintang)

Selasa, 25 September 2012

WILLIAM WONGSO : MAESTRO KULINER INDONESIA


Penggemar kuliner Indonesia pasti tak asing dengan tokoh satu ini, William Wongso. Tak hanya namanya yang lekat dengan kuliner premium,  sosoknyapun sering muncul di televisi dalam program-program yang membahas kuliner khas Indonesia. Padahal ia lulusan berbagai sekolah dan pelatihan profesional kuliner di beberapa negara, mulai Swiss, Belanda, Italia Jerman, Perancis, Amerika Serikat, hingga Jepang. Ia menguasai makanan berbagai negara, mulai es krim, coklat, aneka roti, anggur, pastry, hingga yakiniku.  Toh ia juga sangat menguasai berbagai kuliner Indonesia. Pakar kuliner ini mengaku belajar banyak dari ibu-ibu rumah tangga sederhana dan para pedagang di pasar tradisional. Di bidang kuliner Indonesia, bisa dibilang William Wongsolah maestronya. 

Karir internasionalnya di bidang kuliner telah dimulai puluhan tahun lalu, saat bekerja sebagai peneliti di Baking Programme, East Sydney Technical College, Australia (1978). Iapun sempat bekerja selama 9 tahun di Quintessance Restaurant, termasuk membuka William Restaurant. Kepakarannya dalam kuliner Indonesia juga telah diakui secara internasional, terbukti Beliaulah satu-satunya yang diundang untuk mewakili Indonesia dalam World of Flavors International Conference and Festival di Napa, Amerika Serikat (2009). Tak main-main, ajang itu dihadiri 80 ahli masak dari seluruh dunia. Kini di usia yang tak lagi terbilang muda, William tetap aktif sebagai penasihat maskapai nasional Garuda dan masih berkeliling dunia mempromosikan kuliner Indonesia. Tak hanya memperkenalkan makanan Indonesia pada Oom William selalu memberi semacam pembekalan tentang kuliner Indonesia pada para diplomat kita yang akan bertugas ke luar negeri. Tujuannya, agar mereka juga menyebarkan informasi tentang kuliner Indonesia di negara tempat bertugas. Untuk menaikkan gengsi makanan Indonesia di negeri sendiri, Oom William membuka jaringan restoran makanan Indonesia berkonsep fine dining di bawah bendera Flavours of W.

Meski sudah menyandang reputasi internasional sebagai ahli kuliner, Oom William masih belum puas. Beliau prihatin dengan langkanya chef makanan Indonesia meskipun profesi chef makin diminati. Menurut Oom William, meski makin banyak anak muda Indonesia yang tertarik menjadi chef, namun kebanyakan menggeluti makanan asing karena dianggap lebih bergengsi. Ini diperparah dengan tidak adanya institusi pendidikan kuliner Indonesia yang representatif.  Lebih parah lagi,  Padahal potensi kuliner Indonesia sangatlah besar, bahkan menurut Oom William ragam makanan Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia! 

William Wirjaatmadja Wongso lahir di Surabaya, 12 April 1947 dan menikah dengan Lusiana Rahardjo yang juga ahli kuliner. Pasangan ini dikaruniai seorang puteri, Tia.   Oom William bisa dihubungi via twitter @williamwongso. Websitenya: williamwongso.com

Penghargaan Internasional:
- Chevalier Dans L'Ordre Du Merite Agricole dari Kementerian Pertanian Perancis (2001)
-  Duta Pariwisata Indonesia untuk Korea pilihan Korean Tourism Board (2009)
- South East Asia Wine Pioneer Recognition Award dari Wine for Asia (2011)
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

BUMBU DASAR KUNING

Bahan:
Bawang merah   300 gr
Bawang putih   200 gr
Kunyit    100 gr (bakar)
Garam   1 sdt
Merica butiran   1 sdt
Air   200 ml
Minyak goreng   200 ml

Rempah Daun:
Daun salam   2 lbr
Daun jeruk   3 lbr
Serai   1 btg
Jahe   2 cm (memarkan)
Lengkuas   2 cm (memarkan)

Cara Memasak:
1. Gerus bawang merah, bawang putih, kunyit, garam, dan merica hingga halus.
2. Campur dengan air lalu rebus hingga air menyusut.
3. Masukkan minyak goreng, daun salam, serai, jahe, dan lengkuas.
4. Tumis bumbu hingga harum dan matang.
5. Angkat dan dinginkan.
6. Masukkan dalam wadah bersih, simpan dalam lemari es.
7. Siap untuk diolah.
(Resep: Yeni Ismayani/Sedap Bintang)

Senin, 24 September 2012

SETYANA MAPASA : INGIN SETANGGUH SUSI SUSANTI


Tyana, begitu pebulutangkis yunior dari PB Tangkas Specs ini biasa disapa. Setyana Daniela Florencya Mapasa, begitu nama lengkapnya. Lahir di Manado tanggal 15 Agustus 1995. Pebulutangkis kidal bertinggi-berat 166 cm/60 kg ini juara 2 tunggal putri Australia U19 Junior International (2012) dan juara 2 Li-ning Singapore International Challenge (2011). Tyana bercita-cita menjadi pebulutangkis handal seperti legenda bulutangkis dunia, Susi Susanti. (MGH/Foto:Koleksi Pribadi)