Jumat, 28 September 2018

AQSA SUTAN ASWAR : EMAS DARI JETSKI


Di tengah ramainya berita memprihatinkan tentang kebobrokan sebagian remaja Indonesia yang tawuran, ribut sana sini, keluyuran tidak jelas, main geng motor, berbuat onar di mana-mana dan sebagainya, masih remaja-remaja hebat yang berprestasi hingga tingkat internasional. Salah satunya adalah Aqsa Sutan Aswar atau sering juga disebut Aqsa Aswar saja. Inilah atlet jetski remaja kebanggaan Indonesia yang berhasil mempersembahkan medali emas Asian Games 2018 baru lalu. Tapi tidak hanya itu. Aqsa sudah dikenal sebagai atlet jetski kelas dunia yang banyak memengkan berbagai kejuaraan internasional meski masih belia.

Aqsa lahir di keluarga pecinta olahraga jetski. Bahkan ayahnya, Saiful Sutan Aswar adalah Ketua Umum Indonesia Jetsport Boating Association. Sedangkan kakaknya Aero Sutan Aswar adalah atlet jetski kelas dunia yang pernah menjadi  juara dunia tahun 2014. Aqsa lahir di Jakarta tanggal 31 Mei 1997 dari keluarga berkecukupan. Sejak balita, ia dan kakaknya sudah diperkenalkan pada olahraga jetski dan laut. Tidak hanya melatih bermain jetski, Pak Saiful juga mengajarkan agar kedua putranya mencintai laut. Tak heran Aqsa merasa laut adalah rumahnya. Keren banget ya, masih muda, ganteng, berprestasi internasional, cinta lingkungan lagi! Ini tipe anak muda mileneal banget!

Prestasi:
- Juara Canadian National Watercross nomor Pro Runabout Limited, Belle River 2011

- Juara Canadian National Watercross nomor Expert Runabout Limited, Belle River 2011
- Medali perunggu jetski nomor Runabout Limited Asian Games Jakarta-Palembang 2018 
- Medali emas jetski nomor Endurance Runabout terbuka Asian Games Jakarta-Palembang 2018
(mgh/foto: istimewa)

SATE TELOR PUYUH



Bahan:
Telor puyuh     30 btr (rebus, kupas)
Kecap manis     3 sdm
Air asam     1 sdm
Minyak goreng     2 sdm
Air    3 sdm
Garam     1/2 sdt
Tusuk sate

Cara Membuat:
1. Masukkan semua bahan kecuali tusuk sate ke wajan.
2. Masak sambil diaduk-aduk sampai bumbu meresap. Angkat.
3. Dinginkan.
4. Tusuki dengan tusuk sate.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Senin, 24 September 2018

HUTOMO SURYO WASISTO : ILMUWAN MUDA, SEGUDANG PENGHARGAAN DUNIA


Penampilannya jauh dari kesan serius seperti image para ilmuwan. Ito, demikian ia biasa disapa, berpenampilan tak beda dengan anak muda metroplitan jaman now. Model rambut dan busana kasual yang trendy untuk saat santainya, iapun gemar berolahraga terutama bilyar. Bicaranyapun santai bahkan sering berbahasa Jawa bila berkomunikasi dengan teman-temannya. Padahal ia adalah fisikawan yang berkarir di Jerman dan menjabat sebagai Kepala Grup OptoSense-Laboratory for Emerging Nanometrology di Technische Universitatet Braunschweig. Itopun sangat sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai konferensi internasional fisika, terutama sebagai narasumber teknologi nano. Nama Hutomo Suryo Wasisto memang sangat dikenal di kalangan ahli teknologi nano internasional. Ia telah menerbitkan lebih dari 60 makalah ilmiah baik berupa jurnal peer-review maupun konferensi ilmiah internasional. Itopun mempunyai 2 paten di Jerman dan Eropa. Prestasinya yang begitu mengagumkan membuat pemerintah Jerman terpesona dan menganugerahi Ito dengan hak tinggal khusus untuk warga non Jerman berkualifikasi hebat. 

Sukses dan terhormat di negeri orang tidak menggerus identitas dan rasa cinta Ito pada Indonesia. Ia mendirikan lembaga kerjasama Indonesia-Jerman di bidang nano dan quantum yang diberi nama Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano). Langkah awal lembaga ini memfasilitasi pendidikan S3 dan penelitian untuk para ilmuwan muda LIPI di bidang nano dan quantum di Technische Universitaet Braunschweig. Berikutnya, IG-Nano memperluas kerjasama dengan ilmuwan-ilmuwan Indonesia di luar LIPI termasuk dengan sejumlah universitas. Ito menegaskan, ia tak mau pikiran dan tenaganya hanya dicurahkan untuk Jerman. Karena itu pula tahun 2018 ini Ito pulang ke Indonesia, selain untuk menghadiri pertemuan ilmuwan dispora Indonesia, Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018 yang diselenggarakan pemerintah Indonesia bulan lalu, iapun berbagi ilmu dan pengalaman dengan saudara-saudara sebangsa lewat seminar Mit Wissen kann man Die Welt Veraendern (dengan kemauan, manusia bisa merubah dunia). Dalam seminar ini, Ito tidak hanya menjelaskan tentang teknologi nano, namun juga berbagi pengalaman dengan siapapun yang berminat kuliah di Jerman, termasuk kiat-kiat menjadi ilmuwan kelas dunia. Sangat menarik, bukan?

Hutomo Suryo Wasisto menamatkan pendidikan S1 teknik elektro dengan predikat cum laude di Universitas Gadjah Mada (UGM), sebelum kemudian terbang ke Taiwan untuk menempuh pendidikan S2 di Asia University. Sedangkan gelar PhD diperolehnya dengan (lagi-lagi) predikat cum claude dari Technische Universitaet Braunschweig, Jerman. Lebih lengkap tentang Ito bisa diikuti di:
Facebook: hutomosuryowasisto
Instagram: hutomowasisto
Website: www.tu-braunschweig.de/mib/lena/nachwuchsgruppen/optosense

Prestasi:
- Best Young Scientist Poster Award, the 26th European Conference on Solid-State Transducer (Eurosensors 2012), Krakow (Polandia)
- Best Paper Award dari IEEE Nanotechnology Council, Suzhou (RRC) 2013
- Penghargaan Walter-Kertz-Studienpreis, Technische Universitaet Braunschweig 2014
- Travel Grant Award dari Transducer Research Foundation (TRF), Alaska (AS) 2015
- Best Conference Poster Award, The 31st European Conference on Solid-State Transducer (Eurosensors 2017)
- Pembicara di European Materials Research Society Meeting 2017 Fall Meeting
- Pembicara di The 8th International Workshop on Advanced Materials Science and Nanotechnology (IWAMSN) 2016
- Niederlassungserlaubnis fuer Hochqualifizierte (hak tinggal khusus untuk orang asing dengan kualifikasi tinggi) dari Pemerintah Jerman, sejak 2016
- Pembicara di International Conference on Functional Nanomaterials and Nanodevices 2017 (NANOMAT 2017)
(mgh/foto: istimewa)

PASTEL GORENG



Bahan:
A. Kulit
Tepung terigu     250 gr
Minyak goreng     3 sdm
Telor ayam     1 btr
Garam     1/2 sdt
Air hangat-hangat kuku     secukupnya

B.Isi
Dada ayam     1 ptg (rebus, potong-potong)
Wortel     2 buah (parut kasar)
Buncis muda     50 gr (iris tipis bulat)
Sohun     25 gr (rendam, iris-iris)

C. Bumbu
Garam
Merica
Bawang merah     4 btr (iris tipis)
Bawang putih     2 siung (cincang)
Daun bawang     2 btg (iris halus)
Tepung kanji     1 sdm (larutkan dengan 2 sdm air)
Minyak goreng     2 sdm (untuk menumis)

Cara Membuat:
A. Isi
1. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum.
2. Masukkan bahan-bahan lain kecuali sohun.
3. Masukkan bumbu-bumbu.
4. Aduk-aduk hingga wortelnya matang.
5. Masukkan sohun dan larutan tepung kanji.
6. Ratakan lalu angkat.
7. Tambahkan seiris telor rebus pada isi tiap pastel.

B. Kulit
1. Campur semua bahan. Ratakan.
2. Campur dengan air hangat-hangat kuku sampai adonan cukup lemas untuk dipulung.
3. Pulungi bulat-bulat sebesar buah duku lalu tipiskan.
4. Usahakan agar bentuknya tetap bulat. 
5. Isi dengan isian yang sudah disiapkan. Tekuk. 
6. Bagian sambungan dipulas air supaya merekat.
7. Rapatkan dengan dipilin.
8. Goreng sampai kuning keemasan.
(Nyonya Rumah/Kompas)

MUHAMMAD HINAYAH : SERING JADI BURUH BANGUNAN


Keberhasilannya memboyong medali emas panjat tebing nomor speed relay bersama Abudzar Yulianto, Leonardo Veddriq dan Rindi Suprianto tidak hanya mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat dunia, namun berbuah manis bagi Hinayah dan keluarganya. Tidak hanya bonus berupa uang tunai ratusan juta, Hinayahpun dihadiahi 1 unit apartemen dari Pemprov Sumatera Selatan, daerah asalnya. Pemda Musi Banyuasin bahkan akan mengangkat HInayah sebagai PNS untuk memotivasi putra-putra daerahnya yang lain. Sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan pria dari keluarga sederhana yang terjun ke olahraga panjat tebing sejak umur 9 tahun ini.

Muhammad Hinayah lahir di keluarga besar, ia punya 5 saudara kandung. Orangtuanya, Herman dan Arnizah harus memutar otak untuk menghidupi anak-anaknya. Apalagi setelah usaha herman bangkrut, ia terpaksa bekerja serabutan mulai buruh bangunan, tukang ojeg, atau buruh tani. Hinayah sendiri sering membantu ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan di sela-sela aktivitasnya sebagai atlet panjat tebing. Pemuda kelahiran Musi Banyuasin (Sumatera Selatan) 17 Desember 1995 ini berharap bisa mengubah nasib keluarganya lewat olahraga. Motivasi itulah yang membuatnya tekun berlatih panjat tebing meskipun ia fobia ketinggian bahkan trauma karena pernah jatuh dari ketinggian 10 meter dan cedera. Apalagi teman-teman dan pelatihnya terus memotivasi Hinayah agar tidak menyerah hingga ia mampu mengalahkan fobianya. Kuncinya menurut Hinayah, ia selalu berusaha memanjat tebing secepat mungkin agar bisa segera turun. Boleh dicoba nih, tips dari Hinayah untuk Anda yang fobia ketinggian tapi harus sering 'berurusan' dengan tempat-tempat tinggi.

Titik terang mulai muncul ketika pemuda bertinggi-berat 165 cm/66 kg ini terpilih mengikuti Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda). Ia mendapat uang saku Rp 1,5 juta/bulan yang digunakannya untuk membantu meringankan beban orangtuanya. Kini dengan ratusan juta di tangan, Hinayah ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Selain berniat mengumroh dan hajikan orangtua, Hinayah berniat membeli rumah dan membuka usaha untuk orangtuanya. Alumni Politeknik Negeri Sriwijaya (Sumatera Selatan) ini  berharap ayahnya tak perlu lagi menjadi buruh bangunan.

Prestasi:
- Medali perunggu Kejuaraan Asia Panjat Tebing 2017 Iran
- Medali emas panjat tebing nomor speed relay putra Asian Games 2018 Jakarta-Palembang (bersama Leonardo Veddriq, Abudzar Yulianto, dan Rindi Suprianto)
(mgh/foto: M.Hatta)

SRIKAYA TELOR (khas Jambi)

Bahan:
Telor ayam kampung     5 btr/telor ayam negeri ukuran sedang     3 btr
Gula pasir     50 gr
Gula Jawa     100 gr (rebus dengan 50 cc air, saring)
Santan kental     125 cc
Garam     1/2 sdt
Daun pandan     2 lbr (potong-potong)

Cara membuat:
1. Kocok telor dan gula pasir hingga larut.
2. Campurkan rebusan gula Jawa, santan, dan garam. Aduk rata dan saring.
3. Tuang adonan ke pinggan tahan panas. 
4. Beri irisan daun pandan.
5. Kukus hingga matang dan padat (selama sekitar 35 menit).
6. Angkat, dinginkan, lalu hidangkan.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Senin, 17 September 2018

PROF. DEDEN RUKMANA : TIDAK MELUPAKAN INDONESIA


Setahun lalu Indonesia sempat dipermalukan mahasiswa S3 TU Delft Belanda, Dwi Hartanto. Tapi omong besar satu manusia halu jelas tidak mewakili Indonesia. Masih banyak putra-putri Indonesia yang BENAR-BENAR berprestasi di negara orang dan menempati posisi terhormat di bidang ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Prof. Deden Rukmana, guru besar A&M University Alabama sekaligus pimpinan Community and Regional Planning Department di universitas yang sama. Sebelumnya, Prof. Deden menempuh pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Deden terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan S2 di Florida State University dan S3 di University of Southern California dengan spesialisasi di bidang ilmu perencanaan dan pembangunan. Tahun 2006, Deden mulai bekerja di Savannah State University sebagai Asisten Profesor. Bersama sang istri Rita dan kedua anak mereka, Alivia serta Hilmy, Prof. Deden tinggal di Savannah, Georgia hingga kini

Di luar bidang keilmuan, Prof. Deden adalah penggemar berat olahraga tenis. Ia selalu berusaha menyempatkan diri menonton turnamen langsung di arena tenis. Minatnya yang lain adalah ngeblog, terutama yang berhubungan dengan bidang keilmuannya.

Belasan tahun tinggal di Amerika Serikat bersama keluarganya tidak membuat Prof. Deden aktif di organisasi diaspora Indonesia. Ia bahkan menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4). Prof. Deden juga senang berbagi ilmu lewat blognya: indonesiaurbanstudies.blogspot.com. Berbakti pada Tanah Air memang bisa di mana saja, bahkan ketika tinggal sangat jauh sekalipun. (mgh/foto: istimewa)