Tampilkan postingan dengan label petinju Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petinju Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

FERY MONIAGA : SANG MANTAN JUARA TINJU ASIA


Inilah salah satu legenda tinju Indonesia. Fery Egberty Moniaga, demikian nama lengkap petinju yang mengharumkan nama Indonesia di arena tinju dunia sepanjang era 70-an hingga awal 80-an. Beliau lahir di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), 4 September 1949. 

Sempat mendirikan sasana tinju Banteng AMI/ASMI bersama rekan-rekan sesama petinju: Syamsul Anwar, Benny Tengker, dan Frans VB, Fery juga pernah terjun ke bisnis promotor tinju setelah mundur sebagai atlet. Setelah itu ia aktif berkiprah sebagai pelatih dan pengurus beberapa organisasi serta turnamen tinju. Hingga kini, Beliau masih aktif sebagai salah seorang pengurus Persatuan Tinju Indonesia (Pertina). 

Dua 4 anaknya, 2 mewarisi bakat tinju sang ayah. Merekalah putra kedua, Arenaldo Moniaga dan putra ketiga, Dastesa Moniaga. Pak Fery sangat berharap ada diantara kedua putranya yang mengukir prestasi di arena tinju internasional. 

Kalau sedang tidak mengurus tinju, Pak Fery beristirahat bersama keluarga di rumah Beliau: Perum Masnaga Blok A Jl. Krakatau No. 150 Bekasi (Jawa Barat). Beliau juga suka menulis artikel tentang tinju dan dikirim ke majalah tentang tinju. 

Prestasi:
- Medali perunggu Asian Games VI, Bangkok (1970)
- Medali perunggu Asian Championship, Teheran (1971)
- Peringkat 5 Olimpiade Ke-19, Munich (Jerman, 1972)
- Medali emas Pesta Sukan Singapura (1973)
- Medali perunggu Asian Games, Teheran (1974)
- Medali perak Ali Jinah Cup, Karachi (Pakistan, 1976)
- Medali perunggu SEA Games IX, Kuala Lumpur (1977)
- Medali emas Pesta Sukan Singapura (1978)
- Medali perunggu French Open, Paris (1978)
- Medali emas Pesta Sukan Singapura (1979)
- Medali emas Chung Hwa Cup Taipe (1979)
- Medali emas Asian Championship, Bombay (India, 1980)
(MGH/Foto: Indopos)

Minggu, 24 Juni 2012

PINO BAHARI : EMAS ASIAN GAMES TINJU DI USIA 16


Di tahun 1980-an dunia tinju Indonesia diperkuat keluarga Bahari. Penggemar olahraga terutama tinju pasti masih ingat Daniel Bahari, promotor tinju dan pelatih tinju yang sukses mengantarkan ke-4 putranya (Pino, Nemo, Champ, dan Daudy)  meraih prestasi nasional bahkan internasional. Sayang, Champ meninggal karena kecanduan narkoba saat mengikuti pelatnas tinju. Sementara Daudy hingga kini masih aktif sebagai petinju. Sementara Nemo tak lama menekuni tinju karena memilih hidup sebagai penginjil. 

Pino, si sulung, tercatat sebagai peraih medali emas kelas menengah Asian Games Beijing di usia 16 tahun(1990) dan medali perak SEA Games XVIII Chiang Mai (Muangthai). Meski dilatih ayahnya sendiri, Pino tidak bisa bersantai ria. Push up dan sit up 1000 kali wajib dilakoninya setiap hari! 

Di masa jayanya, Pino tak hanya diidolakan penggemar tinju karena prestasinya, namun ju ga dikagumi para wanita muda karena ketampanannya. Tak hanya di Indonesia, saat Pino bertanding di Taiwanpun gadis-gadis setempat berebut foto bersama petinju asal Solo itu. Apalagi di luar ring tinju Pino terkenal berpembawaan tenang, kalem, dan murah senyum. Helmut Kruger, salah seorang pelatih tinju Indonesia asal Jerman Timur menjuluki Pino 'anak manis yang harus lebih besar kepala'. 

Ada cerita menarik waktu Pino meraih emas Asian Games Beijing. TV Cina tertarik mewawancarai Pino. Menjelang waktu wawancara yang ditentukan, Pino siap dengan kemeja batik dengan lambang Garuda di dada kanan. Ternyata, wawancara dibatalkan. Luar biasa, reaksi Pino tetap tenang. Tak tergambar rasa kesal sedikitpun di wajahnya. Bahkan kala memenangkan pertarunganpun, Pino tetap tenang. Tak tampak luapan kegembiraan. Tetap santai tanpa ekspresi. Cocok benar jadi idola.

Setelah gantung sarung tinju, Pino kini menjadi manajer bisnis Daniel Bahari (DB) Promotion, perusahaan promotor tinju milik sang ayah. Tak hanya itu, Pino juga sibuk melatih adik bungsunya, Daudy bertinju. Sekedar informasi, kalau Teman main ke kawasan Sanur, Bali, dan melihat atau singgah di restoran 'Pino', itu milik Oom Daniel Bahari. Nama restoran, dari mana lagi kalau bukan nama sang putra sulung.(MGH/Foto:Koleksi Pribadi)

Minggu, 17 Juni 2012

NICO THOMAS : JUARA DUNIA BERKAT SANG KAKAK



Nicholas Thomas, demikian nama lengkap petinju kelahiran Ambon (Maluku),  10 Juni 1966. Nico merupakan salah satu petinju legendaris Indonesia yang sukses menyandang gelar juara dunia kelas super WBC yunior (1988). Kala itu Nico baru 22 tahun. 

Seperti umumnya juara tinju lain, Nico sudah menekuni olahraga keras ini sejak usia dini. Salah seorang kakaknya, Charles Thomas yang melatihnya bertinju sejak Nico baru berumur 5 tahun! Charles sendiri atlet tinju yang pernah memegang gelar juara nasional di 5 kelas sekaligus. Dilatih kakaknya sendiri, prestasi Nico di ring tinju terus menanjak. Nico bahkan berhasil merebut medali perak tinju SEA Games Bangkok (1985). Puncaknya, Nico merebut gelar juara dunia kelas terbang mini IBF dari petinju Muangthai Samuth Sithnaruepol yang ditaklukkannya dalam pertarungan di Jakarta (1988). Sepanjang karir Nico, Charles tetap mendampingi sebagai pelatih. 


Nico merupakan anak ke-12 dari 16 bersaudara buah pernikahan pasangan Julianus Thomas dan Helena. Kini, sang mantan juara dunia tinggal di Jakarta bersama sang istri tercinta, Farida Ade Yani dan ketiga buah hati mereka, Devitho, Danitho, dan Marcellino.(MGH/Foto:Wikipedia)

Sabtu, 16 Juni 2012

SUWITO LAGOLA : PETANI YANG MANTAN JUARA DUNIA TINJU



Hal-hal yang tampak negatif bila disalurkan secara tepat bisa menjadi hal yang bermanfaat tak hanya bagi diri sendiri, namun juga bagi banyak orang. Apa yang dialami Suwito bisa menjadi contoh. Hobinya adu jotos semasa remaja, disalurkan Suwito ke sasana tinju. Hasilnya, tahun 1995, Suwito Lagola mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan merebut gelar juara dunia kelas welter World Boxing Federation (WBF). Dari 4 kali bertanding di kancah internasional, Suwito membukukan 3 kemenangan (1 diantaranya menang KO) dan 1 kali draw. 


Karirnya di dunia tinju tak berlangsung lama. Dunia tinju yang penuh intrik membuatnya kecewa berat. Tak hanya memutuskan gantung sarung tinju saat di puncak kejayaan, petinju asal Binjai (Sumatera Utara) ini juga membakar semua medali, piagam dan penghargaan yang diperolehnya selama berjuang di ring tinju. 


Kini, Suwito hidup tenang dan bahagia di Langkat (Sumatera Utara) bersama istri dan ketiga anaknya. Meski penampilannya kini bak rocker dengan rambut ikal gondrong, tapi profesi barunya sama sekali tak berhubungan dengan dunia musik rock. Sekarang, ia mencari nafkah sebagai petani karet di atas lahan hadiah mantan Bupati Langkat.  Tentu, dunia tinju tak ditinggalkannya. Ia masih melatih beberapa anak didik, termasuk salah seorang anak kandungnya, Aa Lagola. Suwito berharap, Aa akan mengikuti jejaknya menjadi juara dunia kelak.(MGH/Foto: Chaerul Dharma & Cuk Arbianto)

Jumat, 15 Juni 2012

DOMINGGUS SIWALETE : MANTAN JUARA DUNIA TINJU IBF

Tahun 1993 Dominggus Siwalete mengukir prestasi cemerlang di dunia tinju: juara dunia kelas terbang mini International Boxing Federation (IBF). Tak  diragukan, Dominggus sangat mencintai olahraga tinju. Terbukti setelah turun 'tahta', ia tetap berkecimpung di dunia tinju sebagai pelatih. Dua adiknya, Johanes Bones Fransiscus dan Dicky Fransiscus juga menekuni dunia tinju. Tragisnya, Johanes meninggal setelah bertanding di stasiun TV swasta RCTI (2003). Sedangkan Dicky masih menekuni olahraga tinju di bawah bimbingan Dominggus yang menjadi pelatihnya.(MGH)

Kamis, 14 Juni 2012

DAUD YORDAN : JUARA DUNIA TINJU YANG HOBI DENGAR MUSIK


Inilah juara dunia tinju terbaru dari Indonesia yang baru menggondol gelar Juara Dunia kelas bulu IBO awal Mei lalu. Nama julukannya The Stone, tapi biasa dipanggil Cino. Nama terakhir ini diberikan mantan pelatihnya yang asal Kuba, Carlos Jesus Renate Tores, karena wajah Cino yang khas oriental. Cino memang mempunyai darah Cina dari ayahnya, Hermanus Lay Tjun yang petani karet di simpang Dua Ketapang (Kalimantan Barat). Sementara ibunya, Nathalia, asli Dayak. 

Lahir di Ketapang tanggal 10 Juni 1987, Cino anak ke-3 dari 4 bersaudara, semuanya laki-laki. Sejak umur 6 tahun, ia telah berlatih tinju bersama kakak-kakak dan adiknya. Hebatnya, 4 bersaudara ini semuanya menjadi atlet tinju, meski hanya Cino yang tetap menekuni tinju profesional hingga kini. Adiknya, Yohanes, berhenti bertinju setelah menjadi polisi. Sementara kakak tertuanya, Damianus, kini menjadi pelatih Cino. Damian David Marchiano menjadi korban Cino berikutnya. Petinju asal Argentina itu dikanvaskan Cino pada perebutan sabuk WBO kelas bulu Asia-Pasifik di Jakarta (2010). 

Prestasi internasionalnya diawali di Singapura saat ia meng-KO petinju Muangthai, Narong Sor Chitralada (2006). Setahun kemudian, Cino merebut sabuk WBO Asia-Pacific Youth setelah menjatuhkan petinju Filipina, Reman Salim. Terus melaju, Cino makin tak terbendung dengan mengalahkan Antonio Meza asal Mexico di MGM Grand, Las Vegas (Amerika Serikat, 2008). Damian David Marchiano menjadi korban Cino berikutnya. Petinju asal Argentina itu dikanvaskan Cino pada perebutan sabuk WBO kelas bulu Asia-Pasifik di Jakarta (2010).  Bahkan, Damian hanya mampu bertahan selama 19 detik melawan Cino! Tak puas, Cino menantang juara Asia-Pasifik kelas bulu IBO, Frankie Archuletta asal Amerika Serikat. Dalam pertandingan yang dilakukan di depan publiknya sendiri, Frankie dijatuhkan Cino pada ronde ke-4 (2011). Dan yang terakhir, pertandingan perebutan gelar juara dunia kelas bulu IBO melawan Lorenzo Villanueva dari Filipina awal Mei lalu di Marina Bay Sands, Singapura. Hasilnya sudah kita ketahui, Cinolah juaranya!

Di waktu luangnya, petinju bertinggi 170 cm ini suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia. Yang juga patut menjadi teladan, meski berlatih keras dan terus mengejar prestasi internasional sejak usia dini, Cino tetap tak mengabaikan pendidikannya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan formalnya di SMAN Ragunan, Jakarta Selatan.(MGH/Foto:Koleksi Pribadi)

Rabu, 13 Juni 2012

ELLYAS PICAL : JUARA DUNIA TINJU PERTAMA INDONESIA


Di tahun 1980-an, rasanya mustahil ada orang Indonesia tak kenal petinju asal Maluku ini. Elly atau Ei, demikian nama panggilan Ellyas Pical, membukukan prestasi membangggakan: juara dunia kelas terbang super versi International Boxing Federation (IBF). Gelar itu disandangnya setelah memukul KO petinju Korea Selatan, Ju Do-chun (1985). Kala itu usia Ei 25  tahun. Namanya langsung melambung, lebih-lebih ialah juara dunia tinju pertama di Indonesia. Sejak itu, jalanan pasti sunyi senyap kalau Ei bertanding. Semua orang menonton siaran langsung pertandingan Ei di TVRI, satu-satunya stasiun TV di masa itu. 

Berasal dari keluarga miskin, Ei kurang beruntung dalam pendidikan formal. Ia hanya bersekolah sampai kelas 5 SD sebelum akhirnya bekerja sebagai penyelam alam untuk membantu sang ibu, Mama Anna mencari nafkah. Kala itu, Ei kecil menyelam untuk mencari mutiara tanpa alat bantu apapun, hanya mengandalkan keahlian menyelam yang dipelajari secara otodidak dan kekuatan paru-parunya!

Pada masanya, Ei terkenal dengan kedahsyatan pukulan tangan kirinya sehingga dijuluki 'The Exocet'. Sekedar informasi, Exocet adalah misil buatan Perancis yang digunakan Argentina melawan Inggris dalam perang Falklands (1982). 

Tahun 1987, Ei dikabarkan berselisih pendapat dengan kedua manajernya, Simson Tambunan dan Anton Sihotang. Tak hanya itu, iapun bermasalah dengan para manajer sementaranya Dali Sofari dan Khairus Sahel. Akhirnya Ei memilih Melky Goeslaw sebagai manajer dan Enteng Tanamal sebagai  asisten manajernya yang baru. Keputusan yang mengejutkan, karena kedua nama terakhir terkenal sebagai seniman musik ternama tanpa latar belakang pengalaman di dunia tinju.

Ellyas Pical lahir di Saparua (Maluku) pada 24 Maret 1960. Menikah dengan dokter gigi Rina Siahaya dan dikaruniai 2 putra, Lorenly dan Matthew. Ei dan keluarga kini tinggal di Serpong, Tangerang. Sepanjang karirnya, Ei 3 kali mempertahankan gelar juara dunianya. (MGH/Foto:Felix)

Selasa, 12 Juni 2012

CHRIS JOHN : SANG NAGA YANG TAK TERKALAHKAN



Awal Mei lalu, Chris John dianugerahi gelar Super Champion kelas bulu WBA. Ini karena prestasi cemerlangnya mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu WBA selama 16 kali berturut-turut tanpa putus! Tak hanya itu, Sang Naga,begitu julukan petinju berambut cepak ini, telah menyatukan gelar juara dunia kelas bulu versi IBF pada tahun 2004! Sepanjang karirnya, Chris tidak pernah sekalipun terkalahkan!


Yohannes Christian John, di ring tinju lebih dikenal dengan nama Chris John, lahir di Banjarnegara (Jawa Tengah), 14 September 1979 dari pasangan Johan Tjahjadi (Tjia Foek Sem) dan Maria Warsini. Bakat bertinjunya menurun dari sang ayah yang mantan petinju amatir. Bahkan sejak masih kecil, Chris dan adiknya, Adrian, telah dilatih bertinju oleh sang ayah. Setelah beberapa kali bertanding di ajang tinju amatir, prestasi Chris makin menanjak setelah direkrut pelatih tinju asal Semarang, Sutan Rambing.

Prestasi internasional pertama diraihnya dengan mengalahkan petinju Kolumbia Oscar leon di Bali (2003) sekaligus mengukuhkan Chris sebagai juara dunia WBA sementara. Sayangnya, prestasi Chris kurang 'dianggap' di Indonesia karena gelar' juara dunia sementara' dianggap kurang bergengsi. Namun Chris tak patah arang. Baginya yang trepenting terus berlatih dan meraih prestasi tinju yang lebih baik lagi. Terbukti, ia kembali sukses mengalahkan petinju Jepang Osamu Sato di depan pendukungnya sendiri di Tokyo (2004). Kemenangan ini tak hanya merubah pandangan sebagian orang di Indonesia yang semula meragukan menjadi mendukung Chris, namun juga membuat The Indonesian Thin Man, begitu julukan Chris saat itu, populer di Jepang. Julukan Sang Naga atau The Dragon baru disandangnya setelah mengalahkan Juan Manuel Marquez, salah satu petinju terbaik dunia yang juga mantan juara kelas bulu WBA asal Meksiko di Tenggarong (Kalimantan Timur)

Sayang, tak lama kemudian ia terbelit masalah dengan sang pelatih soal pembagian honor pertandingan, bahkan sampai ke meja hijau. Untunglah, akhirnya masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kini, petinju bertinggi badan 169 cm dilatih dan dimanajeri Craig Christian dari Harry's Gym, Perth (Australia).


Tak banyak yang tahu, Chris juga sempat menekuni olahraga wushu. Prestasinyapun membanggakan: medali emas kelas 52 kg SEA Games Jakarta (1997) dan medali perunggu kelas 52 kg SEA Games Kuala Lumpur (2001). Kini, Chris laris menjadi model iklan berbagai produk. Tak hanya di Indonesia,  Chris juga dikontrak di Australia untuk menjadi model iklan Fire Power, zat aditif untuk kendaraan. 


Di luar ring, Chris adalah sosok ayah yang penuh kasih bagi Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani, 2 bayi mungil buah pernikahannya dengan mantan atlet wushu Anna Maria Megawati. Anna yang sering cemas akan keselamatan Chris, sudah meminta Chris gantung sarung tinju dan beralih menjadi pengusaha. Namun sampai hari ini tampaknya belum ada tanda-tanda Chris John memenuhi permintaan  istri tercinta.(MGH/Foto:Koleksi Pribadi)