Tampilkan postingan dengan label orang asing cinta Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang asing cinta Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juli 2014

KIM YONG-AH : PINDAH KE DESA DEMI PENGRAJIN PLERED

Di negeri asalnya Korea Selatan, Kim Yong-Ah hidup nyaman sebagai importir keramik. Namun ia memilih meninggalkan kemapanan di negaranya dan pindah ke desa Anjun, Plered, Purwakarta (Jawa Barat) sejak awal tahun ini. Bukan tinggal di vila mewah untuk menikmati suasana pedesaaan, Kim  malah tinggal di rumah kontrakan sederhana untuk membina para perajin di sentra keramik itu. 

Kim memang sudah lama mengenal keramik Plered. Pasalnya ia pernah mengimpor vas bunga dan pot  dari Plered ke Korea Selatan. Sayang, impr terpakksa dihentikan tahun 2008 karena 1 kontainer keramik retak-retak saat musim semi. Sebenarnya Kim bisa saja dengan mudah melupakan keramik Plered dan berpindah hati ke keramik buatan Cina yang lebih mudah didapat, lebih murah, dan berkualitas standar. Namun Kim ternyata telanjur jatuh hati pada kualitas keramik Plered yang sejatinya jauh di atas keramik Cina. 

Sebagai importir keramik Kim jelas paham kualitas. Soal keramik yang pecah-pecah saat musim semi, itu karena para perajin tidak tahu memilih jenis tanah yang tepat dan standarisasi bahan baku. Belum lagi masalah keterbatasan modal dan inovasi desain. Tergerak membantu para perajin keramik Plered, Kim memutuskan pindah ke Plered untuk membina para perajin. Apalagi menurut Kim, proses ekspor sekarang mudah. 

Kehadiran Kim disambut hangat para perajin. Mereka tidak mengira pengusaha asing itu sampai rela pindah  dari Korea ke rumah kontrakan di desa demi mereka. Ini menjadi motivasi bagi para perajin untuk menggairahkan lagi industri rumahan yang merupakan warisan turun temurun itu. Bahkan para perajin yang semula sudah beralih profesi, banyak yang kembali menekuni kerajinan keramik karena termotivasi Kim Yong-Ah. Perbedaan bahasa tidak menjadi masalah. Mr. Kim, demikian para pengrajin menyapa pria Korea itu, berkomunikasi dengan bahasa Inggris campur bahasa isyarat. Toh ketulusan dan semangat mereka menjembatani semuanya.(MGH)

Minggu, 06 Juli 2014

YASUO FUKUDA : MANTAN PERDANA MENTERI YANG CINTA INDONESIA


Ada satu hal yang luput dari sorotan media tentang Yasuo Fukuda, Perdana Menteri ke-91 Jepang dari Liberal Democratic Party (LDP), yaitu ketertarikan Beliau yang besar pada Indonesia. Beliau adalah ketua organisasi persahabatan Jepang-Indonesia Japan-Indonesia Association (JAPINDA) sejak sebelum menjabat Perdana Menteri hingga kini. 

Selain giat memperkenalkan kebudayaan Indonesia pada masyarakat Jepang melalui pameran dan festival seni, JAPINDA aktif mendorong penanaman modal Jepang di Indonesia. Yasuo-san sendiri yang memimpin rombongan pengusaha Jepang ke Indonesia. Aktivitas ini tetap berlanjut selama masa jabatannya sebagai Perdana Menteri hingga kini. Beliaupun sangat akrab dengan para diplomat Indonesia di Jepang. Bahkan ketika menjadi Perdana Menteri, Yasuo-san terlihat sesekali makan berdua dengan Dubes Indonesia tanpa pengawalan dan ajudan. Dua tahun lalu, Yasuo-san memimpin delegasi puluhan pengusaha Jepang ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Secara khusus, JAPINDA juga selalu mengadakan acara penyambutan khusus untuk Duta Besar Indonesia yang baru bertugas di Jepang.

Yasuo Fukuda lahir di Takasaki (Jepang), 16 Juli 1936. Ialah putra sulung Takeo Fukuda, Perdana Menteri Jepang yang menjabat 1976-1978. Lulus universitas prestisius Jepang, Waseda, Yasuo-San sempat bekerja di perusahaan minyak selama 17 tahun. SuamiKyoko-san ini beralih ke bidang politik ketika sang ayah terpilih menjadi Perdana Menteri. Jabatan pertamanya yaitu sekretaris utama sang ayah sambil meniti karir sebagai politikus di LDP, partai yang juga dibela sang ayah. Sejak itu karir Yasuo-san terus menanjak hingga puncaknya menduduki kursi Perdana Menteri hingga tahun 2008.(MGH/Foto: Yoshikazu Tsuno)

Minggu, 29 Juni 2014

MARIBETH : 23 TAHUN BERJUANG DEMI WNI


Sahabat yang berumur 30-an mungkin masih ingat lagu Denpasar Moon dari penyanyi Filipina Maribeth yang sangat populer di awal 90-an. Saking populernya, album Alone Against The World yang memuat Denpasar Moon ludes di semua toko kaset! Tak hanya itu, lagu ini direkam ulang dalam berbagai versi dengan penyanyi berbeda. Hebatnya bukan hanya penyanyi Indonesia yang menyanyikan ulang lagu ini tapi juga penyanyi Malaysia dan Jepang!  Sampai-sampai ada sinetron dengan judul yang sama dan menghadirkan Maribeth sebagai bintang tamu. 

Kesuksesan besar ini membawa Maribeth ke Indonesia. Keramahan dan kehangatan yang tulus dari orang-orang Indonesia yang baru ditemuinya rupanya sangat menyentuh Maribeth. Iapun mantap memutuskan masuk WNI apapun konsekuensinya. Padahal awalnya Maribeth tidak tahu banyak tentang Indonesia. Bahkan waktu diberi lagu Denpasar Moon ciptaan musisi Inggris Colin Bass (kemudian berganti nama menjadi Sabah Habas Mustapha), Maribeth tidak tahu artinya. Selain Denpasar Moon, Maribeth juga bertutur tentang keindahan Indonesia lewat lagu Borobudur. Iapun  memilih penyanyi Indonesia, Michael Hutagalung untuk berduet di lagu Love Duet pada album keduanya, Borobudur. 

Maribeth Pascua nama lengkapnya, adalah pemenang Voice of Asia 1991. Menyusul kemenangan itu, Maribeth rekaman album Alone Against The World di Jepang dan Inggris dengan melibatkan musisi dari kedua negara. Seperti juga Sabah sang pencipta Denpasar Moon, hati Maribethpun tertambat pada Indonesia. Tanpa lelah Maribeth terus berjuang agar bisa mendapat kewarganegaraan Indonesia. Tak hanya berurusan dengan rumitnya birokrasi, Maribeth sempat menjadi korban penipuan calo hingga merugi puluhan juta rupiah. 

Perjuangan Maribeth yang tak kenal lelah untuk mendapatkan surat kewarganegaraan Indonesia  selama bertahun-tahun rupanya membuat iba salah seorang petugas imigrasi. Sang petugas menyarankan agar Maribeth menikah dengan pria Indonesia agar proses masuk WNI lebih lancar. Kebetulan wanita ramah kelahiran Bayombong, Nueva Vizcaya (Filipina), 14 Januari 1972 ini memang mengidolakan pria Indonesia. Maribeth dikabarkan pernah menjalin asmara dengan Gunawan dan Steven Rumangkang. Nama terakhir kini suami aktris Angel Karamoy. 

Bertahun berjuang tanpa hasil, Maribeth sempat dilanda putus asa dan lelah luar biasa. Tahun 2004 wanita ini menyerah dan memutuskan pulang ke Filipina. Di negeri kelahirannya, ia membuka usaha tempat hiburan. Kenyataan, cintanya pada Indonesia mengalahkan segalanya. Apalagi keluarganya di Filipina sangat mendukung Maribeth tinggal di Indonesia. Selama Maribeth di Indonesia, keluarganya memang sering berkunjung  dan ikut jatuh hati pada Negeri Bhinneka Tunggal Ika ini. Mudah ditebak, Maribeth akhirnya kembali ke Indonesia hingga hari ini. Punya banyak teman orang Indonesia membuatnya kerasan tinggal di Indonesia dan memberi semangat untuk kembali berjuang menjadi WNI. 

Kini, 23 tahun sudah wanita yang hingga kini memilih melajang ini berjuang mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Ia juga pernah mewakili Indonesia dalam satu festival musik internasional. Lidahnyapun sudah sangat fasih berbahasa Indonesia. Tetap, status WNI tak kunjung didapatnya. Namun Maribeth terus berjuang. Tiga tahun lalu Maribeth sempat membintangi film 'Simfoni Luar Biasa' bersama penyanyi Filipina Christian Bautista. Film ini edar di Indonesia dan Filipina. Namun tak banyak lagi aktivitasnya di dunia hiburan. Hanya sesekali ia tampil menyanyi untuk komunitasnya. Tetap ia memilih tinggal di Indonesia meskipun untuk merilis ulang album lamanya saja ia tak lagi mempunyai cukup dana. Namun cintanya yang begitu dalam membuat Maribeth terus bertahan di Indonesia dan berjuang menjadi WNI. 

"Saya amat cinta Indonesia. Ini negara kedua saya. Saya ingin sampai mati di Indonesia,"tegasnya dengan wajah serius dalam beberapa kesempatan. Semoga perjuangan Maribeth segera berakhir bahagia.
(MGH/Foto: Koleksi Pribadi)

Minggu, 22 Juni 2014

PROF. MASAKATSU TOZU : "BATIK INDONESIA TERINDAH DI DUNIA!"


Walaupun lahir dan tinggal di Negeri Sakura, kecintaan Guru Besar Fakultas Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Kokushikan Tokyo ini pada Indonesia jelas tak diragukan lagi. Tak hanya mengoleksi ribuan kain batik yang dibelinya dari seluruh pelosok Nusantara, Prof. Tozu juga mendirikan Japan Indonesia Cloth Cultural Association. Bagi Prof. Tozu, batik Indonesia adalah kain terindah di dunia!

Dengan keyakinan itu, Prof. Tozu mendirikan museum di kota kelahirannya, Kyoto. Di museum ini Prof. Tozu tak hanya membagi keindahan batik koleksinya yang kini mencapai 5500 helai, tapi juga memperlihatkan kekayaan kain tenun yang dikoleksinya sejak tahun 1970. Prof. Tozu juga aktif mengadakan pameran kain batik dan tenun di seantero Jepang, termasuk kimono yang dibuat dari kain batik. 

Perkenalan Prof. Tozu dengan kain Indonesia dimulai tahun 1960 ketika Beliau belajar budaya di Universitas Indonesia (UI). Sejak itu Beliau rajin berkeliling Indonesia untuk mengoleksi kain-kain khas Nusantara, terutama batik dan tenun.

Selain di Kyoto, Prof Tozu juga mendirikan Galeri Sarasakan di rumah Beliau di kawasan Machida, Tokyo. Selain berfungsi sebagai galeri batik, Sarasakan juga kerap mementaskan kebudayaan Indonesia seperti tari tradisional yang dibawakan anak-anak Jepang. Lebih membanggakan, istri sang Professor, Kaoru-San juga memiliki kecintaan yang sama terhadap budaya Indonesia. Tak heran, rumah pasangan ini sangat Indonesia dengan perabotan hingga pernak-pernik khas dari seluruh penjuru Nusantara! Bahkan ada 2 becak nangkring di halaman rumah. Begitu cintanya pada Indonesia, pasangan ini sering mengundang warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang untuk berkunjung ke rumah mereka. 

Tidak hanya di lingkungan keluarga, 'virus' cinta Indonesia juga ditularkan Prof. Tozu pada para mahasiswa. Setiap tahun ada saja mahasiswa Beliau yang berkunjung ke Indonesia untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Tak hanya mahasiswa Jepang, namun juga warga negara asing yang belajar di Kokushikan. Rata-rata ada 10 orang mahasiswa Beliau yang berkunjung ke Indonesia setiap tahunnya. Prof. Tozu sendiri tak pernah absen mengunjungi para pengrajin batik di Yogyakarta setiap tahun. Tak hanya untuk melengkapi koleksi, namun juga memberi semangat agar mereka tak berhenti berkarya.

Di balik kecintaan Beliau pada budaya Indonesia, Prof. Tozu rupanya menyimpan keprihatinan pada budaya Jepang yang justru makin ditinggalkan orang-orang Jepang sendiri. Salah satunya tekni shibori (semacam jumputan) yang kini di ambang kepunahan. Memuji kecintaan sebagian besar orang Indonesia pada kekayaan budaya sendiri, Prof Tozu berharap teknik shibori bisa ditransfer ke Indonesia agar dapat lestari. Kalaupun tak bisa bertahan di Jepang, Prof. Tozu berharap shibori dapat lestari di Indonesia. 
(MGH/Foto: Universitas Kokushikan)

Kamis, 11 Oktober 2012

ARIE SMIT : CINTANYA HANYA UNTUK INDONESIA & SENI


Hendrikus Johanes Smit, dilahirkan dari keluarga pengusaha kaya di Belanda. Keluarganya pemilik Smit Expeditie, perusahaan ekspedisi yang didirikan pada tahun 1797.  Namun ketertarikannya pada negeri tropis dan seni  lukis begitu kuat hingga ia menolak meneruskan binis keluarganya dan memilih kuliah di Akademi Seni Rupa Rotterdam. Tak sampai lulus karena ia kemudian masuk dinas militer agar bisa berangkat ke Indonesia (kala itu masih Hindia Belanda). Dan keinginannya terkabul. Pria kelahiran Zaandam (Belanda) tanggal 15 April 1916 ini dikirim ke tanah tropis impiannya bersama 30 tentara Belanda lain dengan kapal laut (1938). Saat Jepang merebut Indonesia dari Belanda, Pak Arie termasuk yang ditawan dan dibuang ke Muangthai. Di sana, Beliau menjalani kerja paksa termauk membangun jembatan di atas sungai Kwai. Begitu dramatisnya kejadian itu, hingga pernah diabadikan dalam film berjudul The Bridge on the River Kwai. 

Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Pak Arie tidak pulang ke Belanda. Beliau memilih masuk  Warga Negara Indonesia (1950). Mulailah kehidupan Beliau sebagai seniman di Bali. Sebagai pelukis, Pak Arie hanya melukis pemandangan. Menurut Beliau, itulah alasan utama orang-orang Barat datang ke Bali. Pak Arie hidup berpindah-pindah karena selalu mencari pemandangan untuk dilukis. Beliau memang sangat mengagumi keindahan panorama Bali yang istimewa karena merupakan perpaduan pantai, pegunungan, jalan berkelok. 

Namun, lebih dari karya-karya besarnya, Pak Arie akan selalu diingat karena jasanya melatih seni lukis pada anak-anak desa Panestanan, Ubud. Tahun 1960, waktu Pak Arie pertama kali datang ke Panestanan, desa itu sangat misin dan tertinggal. Pak Arie kemudian membeli puluhan meja dan alat-alat lukis untuk anak-anak desa itu. Beliaupun membimbing mereka belajar melukis. Tanpa memungut bayaran, Pak Arie membimbing anak-anak itu melukis. Hasilnya sangat membanggakan. Ratusa anak didiknya berhasil menjadi seniman lukis terkenal dan melahirkan gaya melukis baru yang disebut aliran Young Artist. Kalau Sahabat mengenal pelukis-pelukis Bali terkemuka seperti Nyoman Cakra, Ketut Tagen, Ketut Soki, atau Nyoman Londo, mereka adalah beberapa dari bocah Panestanan yang dulu belajar melukis pada Pak Arie. Desa Panestananpun bukan lagi desa miskin, tapi sudah berkembang menjadi pusat seni lukis yang makmur di Ubud. 

Kalau di kalangan seniman lukis dunia Pak Arie Smit dikenal sebagai pencetus aliran Young Artist, masih ada lagi 'gelar' yang diberikan masyakarakat Bali pada Beliau: Arsitek Kamar Mandi. Begini ceritanya: Di awal kedatangan Pak Arie di Bali awal era, 50-an masih sangat jarang rumah yang mempunyai kamar mandi sendiri. Warga biasa mandi di sungai. Padahal Pak Arie yang selalu tinggal di rumah penduduk tidak bisa mandi di sungai. Jadilah Beliau membangun kamar mandi sendiri di setiap rumah yang dijadikannya tempat tinggal sementara. Maklum, Beliau tinggal berpindah-pindah. Selama 60 tahun di Bali, Pak Arie telah pindah tempat tinggal sedikitnya 40 kali! Sejak tinggal di Indonesia, Pak Arie hampir tak pernah bepergian ke luar negeri kecuali ke Italia dan negeri leluhurnya, Belanda. Pak Arie menjelaskan, itu karena kecintaannya pada Indonesia yang begitu besar, hingga Beliau tak ingin meninggalkan negeri ini meski sebentar, kecuali ada hal yang sangat penting. Meski sudah tak aktif melukis karena penglihatannya sudah kabur, nama besar Pak Arie tetap mantap di jajaran pelukis kelas dunia. Tak jarang pelukis dari Eropa datang ke Bali untuk mencari Beliau untuk menunjukkan katalog karya mereka. 

Kini, di usianya yang mendekati 1 abad, Pak Arie tinggal di Villa Sanggingan, Ubud, Bali. Fisiknya sudah sangat lemah dan berjalanpun harus dibantu kruk. Namun ingatannya masih sangat tajam, bahkan lebih detail daripada rata-rata orang yang jauh lebih muda. Bicaranyapun masih jelas dan runtut. Pria istimewa yang memilih untuk tidak menikah sepanjang hidupnya ini dikenal tidak menyukai keramaian dan sangat selektif memilih tamunya. Pak Arie sudah bertahun-tahun tinggal di Villa Sanggingan dan diurus salah seorang karyawan penginapan, Pak I Wayan Wita. Menyimak perjalanan hidup Pak Arie, saya tak ragu menyimpulkan, cinta memang hanya untuk Indonesia dan seni. (MGH/Foto: Bidadari Art)

Senin, 16 Juli 2012

BERNHARD BART : TINGGALKAN SWISS DEMI SONGKET

Kecintaannya pada kain songket sungguh luar biasa. Tak hanya rela meninggalkan negerinya yang makmur, Bernhard juga melepaskan pekerjaannya yang mapan sebagai arsitek di negeri asalnya, Swiss. Dengan dana pribadinya, Bernhard berkeliling beberapa negara Eropa untuk mempelajari motif songket lama Minangkabau. Ia telah menyinggahi Museum Leiden (Belanda), museum di Los Angeles (Amerika Serikat), hingga museum di daerah asal kain songket, Sumatera Barat. Tak puas, Bernhard langsung mengunjungi nagari (kampung) sentra songket. 


Bersama istrinya, Erika Dubler, Bernhard tinggal di Nagari Batutaba, satu kawasan sejuk 10 km dari Bukittinggi ke arah Payakumbuh. Pasangan yang telah dikaruniai seorang cucu ini mengaku kerasan tinggal di Sumatera Barat karena keramahan dan keterbukaan penduduknya. Selain meneliti dan merevitalisasi  songket Minangkabau, Bernhard telah menulis buku berjudul 'Revitalisasi Songket Lama Minangkabau' (2006) dan menulis artikel 'Revitalising Minangkabau Songket Weaving' di majalah Textiles Asia terbitan Hongkong (2009).

Bernhard lahir di Bern (Swiss), 26 Februari 1947. Semasa mudanya, alumnus sekolah tinggi teknik Burgdorf ini senang mengunjungi berbagai negara. Di setiap negara yang dikunjungi, Bernhard terutama memuaskan ketertarikannya pada kain khas setempat. Namun pada songket Minangkabaulah Bernhard melabuhkan 'cinta sejatinya'. Padahal tadinya ia berkunjung ke Sumatera Barat untuk mempelajari bahasa Indonesia (1977). Namun ia justru kerasan dan jatuh hati pada songket lama Minangkabau. Bernhard bahkan sempat meninggalkan Erika yang tetap tinggal di Swiss ketika memutuskan untuk meneliti tentang songket langsung di Sumatera Barat (1996). Baru 4 tahun lalu pasangan ini kembali bersama saat Erika akhirnya menyusul Bernhard di Batutaba. Bahkan Erika ikut aktif melestarikan songket bersama suaminya hingga kini. Meski baru 4 tahun di Indonesia, Erika telah lancar berbahasa Indonesia, seperti juga suaminya. 


Motif songket yang baru terbentuk saat ditenun, bukan dibuat sebelumnya seperti kain lainnya, itulah yang terutama  membuat Bernhard jatuh hati. Selain itu, ia menganggap songket merupakan perpaduan paripurna antara seni dan optimalisasi teknik. Baginya, membuat motif songket sama seperti matematika karena harus dihitung jumlah benang ke atas dan ke bawah. 


Bersama pasangan seniman Sumatera Barat Alda Wimar dan Nina Rianti, Bernhard mendirikan Studio Songket ErikaRianti di Batutaba, Kabupaten Agam (2005). Namanya, tentu diambil dari nama istri Bernhard dan Alda. Studio ini membina 8 penenun muda. Selain memproduksi replika songket-songket lama, mereka juga membuat motif-motif yang baru. Pengelolaan studio diserahkan pada Nanda Wirawan, putri Alda dan Nina. Sementara Bernhard berkonsentrasi pada riset dan pengembangan motif. Salah satu hasil riset Bernhard adalah modifikasi alat tenun songket yang bisa mempersingkat waktu produksi. Kalau sebelumnya dibutuhkan waktu 6 bulan-3 tahun untuk membuat selembar kain songket dengan alat tenun konvensional, dengan alat tenun modifikasi Bernhard waktu produksi songket cukup 1-3 bulan saja, dengan kualitas yang sama halus dan indahnya. Bernhard juga terus mendorong Nanda untuk lebih jauh meneliti makna setiap songket lama Minangkabau. 


Hingga saat ini Studio Songket ErikaRianti belum mencapai kesuksesan finansial karena penjualannya masih terbatas sehingga produksi mereka kebanyakan hanya untuk disimpan. Modalnyapun diperoleh dari menyewakan rumah Bernhard di Swiss. Kini, setelah berdirinya studio songket ini, minat generasi muda Batutaba untuk menekuni songket semakin meningkat. Sayang, keterbatasan produksi dan dana membuat Bernhard hanya bisa merekrut 8 orang  dari mereka saja. Erika mengatakan, meski bisa menjual songket di luar negeri, mereka lebih ingin menjual songket di Indonesia agar diapresiasi pemiliknya sendiri. Diharapkan, orang Indonesia khususnya Minangkabau mau belajar dan mengapresiasi adatnya sendiri.


Banyaknya kain tradisional Indonesia termasuk songket lama Minangkabau yang tak lagi bisa ditemukan di pasar Indonesia membuat Bernhard sedih. Songket lama Minangkabau misalnya, hanya bisa dilihat di museum-museum dan koleksi pribadi kalangan tertentu di luar Indonesia. "Seperti tidak ada lagi kebanggaan orang Indonesia pada budaya sendiri," keluh Bernhard.


Sayang, meski telah berbuat begitu banyak untuk indonesia, Bernhard tetap menghadapi masalah yang sangat mendasar sekaligus klasik, izin tinggal. Tidak ada dispenssasi  untuk pria Swiss berhati Indonesia ini. Hinga kini permohonannya untuk mendapat izin tinggal sementara tak dikabulkan pihak berwenang. Bernhard hanya mendapat visa turis sehingga harus keluar dari Indonesia setiap 2 bulan sekali untuk mengurus visa yang baru. Situasi ini sering membuat pria lanjut usia ini merasa lelah. Namun begitu mengingat songket Minangkabau, semangat Bernhard selalu menyala lagi. 


Alamat Studio Songket ErikaRianti: Jorong Panca, Nagari Batutaba, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.(MGH/Foto: Yanti)

Jumat, 29 Juni 2012

BRENT LOKEN : LESTARIKAN ALAM KALIMANTAN DENGAN PENDIDIKAN



Bersama sang istri, Sheryl Gruber, ia mendirikan Ethical Expeditions (2009), sebuah lembaga swadaya yang bergerak dalam pelestarian lingkungan. Kini, penyandang gelar PhD dari Simon Fraser University di Burnaby, British Columbia (Kanada)  ini aktif menumbuhkan kesadaran berbagai stake holders Kalimantan untuk melestarikan hutan tropis dan satwa yang hidup di dalamnya. 


Bersama Sheryl pula, Brent lebur ke dalam lingkungan warga Dayak. Pendekatan budaya dan persuasif mereka membuat warga menerima Ethical Expeditions, bahkan makin banyak yang turut bergabung dan aktif melakukan kegiatan pelstarian hutan dan satwa. 

Brent percaya, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat adalah metode terbaik bagi pelestarian lingkungan. Pria yang lahir tanggal 22 Juli ini bisa dihubungi lewat AIM dengan nama: brent. Ingin tahu lebih banyak atau bergabung dalam kegiatan pelestarian Ethical Expeditions, silakan kunjungi : http://ethicalexpeditions.ning.com (MGH/Foto:Koleksi Pribadi)

Kamis, 28 Juni 2012

WARWICK PUSSER : LEPAS KEWARGANEGARAAN DEMI INDONESIA

Datanglah ke desa Dukuh Harjo, Sewon, Bantul (Yogyakarta), maka Sahabat akan melihat geliat karya warga setempat, mulai anak-anak hingga para orang tua. Anak-anak asyik mengasah bakat seni mereka di tempat kursus menari dan menggambar gratis yang ada di desa itu. Sementara para remaja belajar menjahit dengan gratis pula. Sedangkan warga dewasa dan orangtua, giat mengerjakan berbagai kerajinan berkualitas tinggi yang diekspor ke mancanegara. Motor dari semua itu adalah Warwick Pusser, seorang pria kulit putih yang telah lama tinggal di Indonesia bahkan menjadi WNI karena kecintaannya pada Indonesia. 

Semula, Warwick adalah warga negara Australia, berasal dari kalangan atas. Perkenalannya dengan Indonesia berawal saat berbulan madu ke Bali, puluhan tahun silam setelah pesta pernikahan meriah yang diliput media Australia. Warwick dan sang istri langsung jatuh hati pada Pulau Dewata. Rencana bulan madu yang hanya seminggu diperpanjang  jadi sebulan, kemudian 4 bulan, dan akhirnya pasangan muda tersebut memutuskan tinggal seterusnya di Bali. Padahal saat itu Warwick sudah mendapat pekerjaan yang mapan di London. Di Bali, Warwick membuka usaha biro perjalanan. Di Bali pula kedua anaknya, Oliver dan Polly, lahir. Selama 13 tahun keluarga kecil ini hidup tenang dan bahagia di Bali, hingga keluar peraturan pemerintah  Indonesia yang melarang orang asing memiliki usaha biro perjalanan di Indonesia. Warwick terpaksa menutup perusahaannya dan bersama keluarganya keluar dari Indonesia. 

Tak lagi tinggal di indonesia, Warwick bekerja untuk badan dunia PBB UNESCO dan bertugas di Muangthai. Namun cintanya pada Indonesia tetap disimpannya di hati. Tak diduga, suatu hari datang tawaran dari satu perusahaan di london untuk memasok hasil kerajinan Indonesia. Warwick langsung menyambut gembira tawaran tersebut. Tak makan waktu lama, Warwick kembali ke negeri yang dicintainya, Indonesia, kali ini ke Yogyakarta mencari kerajinan untuk diekspor ke Inggris. Di Dukuh Harjolah Warwick menemukan yang dicari dan bermukim hingga kini.

Tak hanya berperan sebagai eksportir kerajinan, Warwickpun membina sekitar 300 pengrajin kecil. Selain memberi bantuan teknis untuk desain dan peningkatan kualitas, iapun memberi bantuan modal dengan sistem pinjaman bergulir. Dengan usahanya, Warwick berhasil menghidupi sekitar 4000 tenaga kerja. Di Inggris, karya para pengrajin binaan Warwick dijual di pusat-pusat perbelanjaan elit, diantaranya Harrod's!  

Warwick menyayangkan sebagian orang Indonesia yang kurang menghargai karya bangsanya sendiri. Menurut pria berpembawaan tenang ini, seharusnya bangsa Indonesia bangga menggunakan produk dalam negeri karena kualitas produk Indonesia tak kalah dengan produk asing. Di luar negeri saja kerajinan Indonesia sangat dihargai bahkan laku keras di Harrod's. Lebih jauh Warwick menambahkan, Indonesia seperti paket lengkap: alamnya indah, orang-orangnya menarik, kekayaan alam melimpah, makanannya enak, dan budayanyapun beragam. Warwick juga menyukai anak-anak Indonesia yang menurutnya lucu-lucu. Ia bahkan mengangkat seorang anak dari keluarga miskin di Dukuh Harjo sebagai anak angkatnya. Anak laki-laki yang tadinya putus sekolah itu kini dapat kembali bersekolah di SD setempat dengan biaya penuh dari Warwick. Di sore hari, ia ikut kursus menggambar gratis yang diadakan sang ayah angkat. Seminggu sekali, Warwick mengundang saudara-saudara sang anak angkat untuk makan bersama di rumah Warwick.

Tahun 2007, Warwick memutuskan melepas kewarganegaraan Australia dan menjadi Warga Negara Indonesia. Untuk memperkenalkan potensi Indonesia, Warwick telah menulis buku berjudul 'Made In Indonesia' yang diterbitkan di Inggris dan Australia. Saat terjadi bencana letusan gunung Merapi, Warwick memanfaatkan koneksinya di UNESCO untuk mengadakan pelatihan mengolah batu lava menjadi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pelatihan gratis ini diadakan Warwick bagi para korban bencana Merapi.

Kecintaan Warwick pada budaya Indonesia juga jelas terlihat saat ia mendengar ada rumah joglo (rumah tradisional Jawa) tua yang dibongkar dan dijual dalam bentuk kayu batangan oleh pemiliknya. Buru-buru Warwick mendatangi sang pemilik rumah untuk membeli seluruh kayu bongkaran rumah joglo tersebut. 

"Ini sejarah, kalian harus menghormati sejarah dan budaya kalian," kata Warwick saat itu pada sang pemilik rumah dengan wajah prihatin. Dengan telaten, Warwick kemudian menyusun kembali lempengen kayu satu persatu hingga kembali menjadi rumah joglo. Iapun mempercantik rumah itu dengan taman dan kolam renang di halaman belakang. Selanjutnya, ia membuat rumah itu penginapan bernuansa Jawa yang sebagian besar tamunya turis asing.

Seolah tak pernah puas mengabdikan diri untuk Indonesia, Warwick menerima tawaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai konsultan UKM. Tugas Warwick selain membina dan meningkatkan keterampilan para pengrajin kecil Indonesia, juga mencari dan membuka pasar di luar negeri bagi hasil-hasil kerajinan Indonesia. Capek?

"Kalau kita punya passion pada hal yang kita kerjakan, maka kita tidak pernah bekerja," tegas Warwick. Artinya, kalau kita melakukan sesuatu dengan passion, dengan hati, tidak akan pernah merasa capek. (MGH)

Rabu, 27 Juni 2012

SHERYL GRUBER : GIGIH SELAMATKAN ORANG UTAN KALIMANTAN



Wanita berambut pirang ini aktif dalam gerakan perlindungan flora dan fauna di Kalimantan. Bersama Ethical Expeditions, lembaga swadaya yang didirikannya bersama sang suami, Brent Loken, Sheryl bahu membahu dengan warga Dayak untuk melestarikan hutan Kalimantan beserta satwa penghuninya. Di lembaga tersebut, Sheryl menjabat sebagai Direktris Operasional. 

Lahir tanggal 13 September, peraih gelar Master di bidang pendidikan dari University of Minnesota, Amerika Serikat ini sempat bekerja di Taipei American School sebelum mendirikan Ethical Expeditions (2009). Sheryl juga sangat gigih dalam kegiatan pencarian dana serta penyelamatan Orang Utan Kalimantan yang terancam kepunahan. Tahun lalu misalnya, Sheryl bekerja sama dengan wanita pelukis Denmark yang menyumbangkan ratusan lukisannya untuk dijual bagi pelestarian Orang Utan Kalimantan. (MGH/Foto: Karnelia Ratih)