Tampilkan postingan dengan label arsitek Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsitek Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juli 2014

ACHMAD NOE'MAN : PERANCANG INTERIOR MASJID CAPE TOWN


Apabila Anda menunaikan shalat di masjid Nurul Latief, Cape Town, ingatlah bahwa interior masjid termasuk kaligrafinya adalah karya putra Indonesia, Achmad Noe'man. Beliau adalah arsitek senior yang juga merancang masjid Indonesia di Sarajevo. Tak hanya ahli merancang gedung, Beliaupun mahir dalam bidang kaligrafi. Karena keahlian dan reputasi internasional itulah Beliau mendapat penghargaan dari Pusat Kajian Sejarah, Seni, dan Budaya Istanbul (2001).

Achmad Noe'man lahir dari keluarga berkecukupan di Garut (Jawa Barat), 10 Oktober 1924. Ayahnya, Muhammad Jamhari adalah saudagar yang juga pengurus Muhammadiyah. Sebagai anak pengurus ormas, Noe'man kecil biasa melihat sang ayah menjalankan tugas membangun sekolah, masjid, hingga rumah warga. ayahnya bahkan merancang sendiri bangunan-bangunan itu. Dari sanalah minat Noe'man kecil pada arsitektur bertunas. Sementara minatnya pada kaligrafi dipengaruhi sang kakak, Achmad Sadeli. 

Di masa perang kemerdekaan, Pak Noe'man bergabung dengan para pejuang Indonesia lain. Untuk sementara kuliahnya di Teknik Sipil ITB ditinggalkan. Karena keahliannya berbahasa Belanda, Beliau ditunjuk sebagai penerjemah dalam setiap kegiatan diplomasi. Usai perang kemerdekaan, Beliau kembali ke ITB. Tapi kali ini pindah ke jurusan arsitektur yang waktu itu baru saja dibuka. 

Lulus kuliah tahun 1958, Beliau menolak tawaran sebagai dosen tetap dari almamaternya karena tidak mau menjadi PNS. Namun Beliau bersedia menjadi dosen luar biasa. Pak Noe'man juga mendirikan perusahaan konsultasi jasa arsitektur, PT Biro Arsitektur Achmad Noe'man (Binaro) yang kini dikelola putra ketiga, Fauzan yang arsitek lulusan Rhode Island School of Design (Amerika Serikat). Beliau juga mendirikan radio KLCBS (Karang Layung Citra Suara), radio khusus musik jazz terkemuka di Bandung yang kini dikomandoi putra kedua . Sedangkan putra pertama Beliau, Irfan adalah PNS di Kementerian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif sambil menjadi dosen keliling di Singapura, Muangthai, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Sedangkan si bungsu yang juga satu-satunya wanita, Irma, lulusan desain grafis dari universitas di Chicago (Amerika Serikat). 

Mendekati usia 90 tahun, Pak Noe'man tetap sehat jasmani dan rohani. Selain gemar bermain sepakbola dan basket semasa muda, Beliau hingga kini menjauhi makanan dan minuman yang diharamkan agama. satu lagi kebiasaan sejak muda yang masih dilakukan suami ibu Adeetje Koerniasih ini hingga kini adalah membaca sambil mendengarkan musik jazz. Jadi kalau ingin sehat wal afiat hingga lanjut usia, boleh dicoba tuh gaya hidup sehat Pak Noe'man. (MGH/Foto: Salman ITB)

Senin, 02 Juli 2012

M. RIDWAN KAMIL : RUMAH BOTOLNYA RAIH PENGHARGAAN SE-ASIA



Di tangan orang-orang kreatif, sampah bisa sangat bermanfaat. Botol bekas, misalnya. Di tangan arsitek Ridwan Kamil, botol-botol bekas disulap menjadi rumah yang tak hanya nyaman dan artistik, namun juga ramah lingkungan. Rumah Botol, demikian rumah unik itu disebut, bahkan telah mendapat pengakuan internasional dengan diraihnya penghargaan Green Design Award 2009 dari Building Construction Information Asia. Rumah Botol sukses menyisihkan 80 peserta lain dari Malaysia, Singapura, Muangthai, Vietnam, Filipina, Hongkong, dan Cina. Tak hanya sekali itu Ridwan memperoleh penghargaan internasional. Ia telah mengantongi 2 penghargaan lain: International Young Design Entrepreneur of the Year/IYDEY (2006) dan Asia Top 10 Award in Business Building Design for Urbane dari Building Construction Information Asia.

Rumah Botol yang berdiri di kawasan Bandung atas memang unik dan indah. Bangunan yang merupakan rumah pribadi sang arsitek, dibangun dari 30.000 botol bekas. Dari segi biaya memang relatif tak terlalu besar, namun diakui Ridwan perlu waktu lama untuk mengumpulkan puluhan ribu botol bekas. Ayah 2 anak ini  bahkan sampai memesan botol-botol bekas pada semua pemulung yang ditemuinya di seantero Jawa Barat. Bagian dalam rumah makin artistik karena dipadukan dengan karya pelukis Bandung, Ian Mulyana.  


Peraih gelar Master Arsitektur (M. Arch) dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat ini sempat bekerja di Edaw San Fransisco (Amerika Serikat) dan Hongkong di awal tahun 2000. Kini, Ridwan mengajar arsitektur di ITB dan menulis berbagai artikel arsitektur. Tentu tak ketinggalan, mengurus Urbane, perusahaan desain dan arsitektur yang didirikannya setelah pulang dari Amerika Serikat. Sebagian besar klien Urbane berasal dari Timur Tengah dan Asia. Baru di akhir pekan ia bisa melewatkan waktu untuk hobinya, menonton film di bioskop, jogging, dan mengendarai Harleynya keliling kawasan pegunungan Bandung Utara. 


Sukses secara idealisme dan finansial, rupanya belum cukup bagi Ridwan. Masih ada impiannya yang belum tercapai: menjadikan Bandung kota kreatif di tingkat internasional. Untuk itu, Ridwan memimpin Bandung Creative City Forum yang beranggotakan puluhan komunitas kreatif se-Bandung.  


Lebih dari sekedar tempat tinggal, bagi Ridwan Rumah Botol adalah impian yang jadi kenyataan. Sejak kecil ia bermimpi memiliki rumah yang dirancang sendiri sesuai kepribadiannya. Dan kini impiannya telah jadi nyata. Pria kelahiran 4 Oktober 1971 ini  mengaku selalu bisa meraih impiannya karena ia berusaha keras. Seperti kutipan dari buku The Secret karya Rhonda Byrne yang diyakininya, "Set your dream. Take action. The universe will take care the rest." Bermimpilah. Berjuanglah. Dan alam semesta akan membantu mewujudkannya. 


Penasaran ingin melihat Rumah Botol sekaligus tempat tinggal Ridwan yang meraih penghargaan se-Asia,  bisa datang ke Jl. Cigadung Raya Barat No.5, Cipaheut, Bandung 40191. (MGH/Foto:Kolekdi Pribadi)