Tampilkan postingan dengan label Kathmandu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kathmandu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 3)

Vladimir Bashkirov dan prasasti untuk mengenang Beliau 
(Russian Climb)

Kembali di Kathmandu, Bashkirov dan Vinogradski membuat daftar untuk Kolonel Edi yang memuat nama 16 orang peserta pelatihan yang berhasil berikut kecepatan, kemampuan aklimatisasi, kesehatan dan motivasi mereka. Pendaki dari Kopassus, walaupun mereka tidak berpengalaman, tapi sangat berambisi dan disiplin serta lebih termotivasi dalam situasi sulit. Dalam penyaringan terakhir tinggal 10 Kopasus dan 6 sipil. Kami mengusulkan satu rute pendakian saja, yaitu lewat jalur selatan, namun ditolak. Indonesia telah mendapatkan Richard Pavlowski untuk memimpin satu tim Indonesia lagi yang akan mendaki dari sisi utara.

Dan akhirnya kami memutuskan 10 orang pendaki ke basecamp di sisi selatan, dan 6 orang pendaki bersama Richard akan pergi ke Tibet. Setelah Island Peak, kami beristirahat selama 26 hari. Kami harus menjadi tim pertama di musim ini yang mendaki dan melalui jeram es Khumbu.

Helikopter Rusia membawa kami pada tanggal 12 Maret dari kota Kathmandu yang terpolusi parah ke Lukla (2850 m). 10 pendaki, 3 pelatih Rusia dan 16 sherpa ikut didalam helikopter. Kami ingin ke basecamp dan terus ke puncak Everest. Satu cita-cita yang sangat ambisius. Lukla adalah salah satu daerah yang membuat saya selalu merasa bebas dan merdeka. 

Saya mencintai gunung. Di sinilah rumah saya. Orang hanya bisa mengerti perasaan saya, kalau sudah pernah terbang di pagi hari dengan helikopter di atas pegunungan ini, dan turun di sana, di sebuah tempat yang sunyi dan damai di tengah pegunungan yang tak ada duanya di dunia. Pegunungan yang puncak-puncaknya sangat megah menantang dengan punggungan berbentuk tulang tengkorak tajam berselimut udara yang bersih bagai kristal.
Dari "kemuliaan dan keluhuran" ini, saya merasakan betapa rapuh dan kecilnya diri saya dibandingkan dengan apa yang saya alami disini".


Seperti yang selalu saya rasakan, saya akhirnya menginjak tanah tempat untuk apa saya dilahirkan. Tahun ini ada 17 tim ekspedisi lain di basecamp. Saya berusaha memisahkan tim kami dari tim-tim lainnya, untuk menghindari hal-hal yang tidak saya inginkan. Setelah itu kami berdiskusi tentang sherpa mana saja yang akan memasang tali tetap dan tangga untuk melintasi Breaking Ice (Eisbruch) yang pada akhirnya nanti juga akan digunakan oleh tim-tim lain. Biasanya pekerjaan ini akan dilakukan oleh sherpa dari satu ekspedisi atau bersama-sama dari beberapa ekspedisi. 

Banyak tim yang akan melaluinya, sehingga timbul pemikiran untuk mengutip semacam royalti dari tim-tim yang sherpanya tak ikut memasang tali tetap. Di tahun ini pula telah terbentuk perkumpulan "Pangboche Sherpa Cooperative" yang memperjuangkan sistem pembayaran royalti tali tetap itu, dengan jumlah yang lumayan besar bagi mereka antara 10 sampai 20 ribu dollar. Sherpa dari tim Henry Todd dan Mal Duff mampu mengerjakan tali pengamanan dan tangga dengan cepat, merekalah yang nantinya akan kami gunakan.

Mulai dari sekarang, seluruh rute ke puncak sudah diamankan. Dan seluruh ekspedisi akan menggunakan rute ini dengan membayar ke perkumpulan "Pangboche CooperativSherpa Cooperative". Akan datang suatu waktu dimana orang Nepal 100% berkuasa memasarkan gunung ini, seperti orang Amerika dengan McKinley. Tentu saja akan datang protes dari pihak-pihak tertentu yang sekarang hanya mau membayar sherpa yang dengan sangat murah dan dibawah tarif.

Tim kami sampai di basecamp tanggal 19 Maret. Pelatihan telah membuat kami tak perlu lagi beraklimatisasi di ketinggian ini. Di depan kami terbentang Breaking Ice (Eisbruch).  Aspek psikologi sangat penting dalam pendakian Everest, karena balok-balok es di Breaking Ice yang seperti raksasa, menjulang tinggi dengan jurang gletser yang menganga pecah berantakan tak beraturan dengan bentuk dan posisi selalu berubah setiap saat karena gerakan dari gletser.

Keberanian kami pun akan di uji, setiap langkah membutuhkan perhitungan, jika tidak mau terperosok masuk jurang es menuju Nirwana. Berjam-jam kami memanjat dan melintasi jurang es yang kedalamannya tak diketahui dengan menggunakan tangga yang di ikat-ikat dan disambung-sambung, terus mendaki melalui balok es bergerak setinggi rumah bertingkat.

Tanggal 22 Maret kami mendaki dengan seluruh anggota tim ke Camp 1 untuk aklimatisasi. Semua anggota menunjukan kondisi menggembirakan, hanya sedikit terlihat ketidakbiasaan, tapi dalam pendakian kedua kalinya mereka telah menunjukkan rutinitas dan kian lincah. Setelah selesai, datang berikutnya, naik lagi, istirahat, beraklimatisasi.

Setelah 2 hari istirahat di basecamp, pada tanggal 26 Maret kami naik lagi ke Camp 1 (6000 m) dan bermalam disana, dan pada tanggal 27 Maret langsung naik ke Camp 2 (6500 m). Disitu kami bermalam 2 malam dan mendaki sampai ketinggian 6800 m. Pada tanggal 29 Maret kami turun lagi ke basecamp untuk istirahat selama 3 hari. Semua anggota tim dan staf sehat wal'afiat.

Aklimatisasi kami yang ke 3, dimulai tanggal 1 April. Kami mendaki langsung dalam waktu 8 jam ke Camp 2, dan bermalam disana selama2 malam. Tanggal 4 April kami mendaki sampai ke ketinggian 7000 m, dan kembali lagi ke Camp 2 dimana kami beristirahat keesokan harinya.

Tanggal 6 April kami menerjang langsung sampai ke Camp 3 (7300 m).  Sebelumnya sherpa kami telah memasang tali pengaman menuju ke Camp 3.

Tanggal 7 April kami beristirahat di Camp 3.

Belakangan terasa ada problem dalam struktur organisasi kami. Sherpa tidak berada dibawah komando saya. Tugas mereka hanya menolong di pekerjaan tertentu seperti memasang tali, membangun camp dan transport logistik. Pekerjaan yang harus dikerjakan sebenarnya banyak, karena kami yang pertama di rute ini, tanpa ada pertolongan dari sherpa lantaran secara struktural mereka harus tinggal di belakang seusai melakukan tugasnya.

Pertolongan sherpa tidak bisa mengimbangi tim pendaki yang selalu bergerak menuju ke tempat yang lebih tinggi. Apa (pemimpin sherpa) juga sedih melihat orang-orangnya yang tidak cukup terampil karena kurang kemampuan dan pengalaman, yang akan berakibat pada tersendatnya pendakian ini....


Lanjut besok ya....

Jumat, 30 November 2012

EKSPEDISI MOUNT EVEREST KOPASSUS 1997 (Bagian 2)

Evgeny Vinogradsky, pelatih ekspedisi 
 (alpine club russia)

Program pelatihan dimulai tanggal 15 Desember di Nepal. 34 pendaki yang terdiri dari orang-orang sipil dengan sejumlah pengalaman mendaki gunung, dan para tentara yang tidak berpengalaman di gunung tapi sangat fit dan disiplin, adalah anggota tim permulaan. Dari 34 orang ini akan disaring dan diambil yang paling mampu. Kriteria penyaringan dilihat dari kesehatan, stamina, kemampuan, dan mental. Pada fase ini para calon pendaki belajar teknik tali temali dan penggunaan tangga, juga teknik dasar pemanjatan.

Komunikasi adalah problem kami yang terbesar, saya mengetahuinya setelah semua terlambat. Bukan hanya perbedaan bahasa yang membuat frustasi, tapi juga tidak lengkapnya alat komunikasi. Selayaknya setiap anggota tim harus dilengkapi dengan alat komunikasi. Saya mengusulkan agar dari basecamp selalu ada kontak langsung dengan koordinator ekspedisi di Kathmandu. Selain itu saya menuntut untuk mendapatkan setiap hari laporan cuaca dari stasiun meteorologi di Bandara Kathmandu. Sisi baiknya, lantaran tim ini merupakan tim militer, maka pihak militer Nepal pun ikut memberikan bantuan.


Perwira ekspedisi kami, Monty Sorongan yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris paling baik berperan sebagai kontak kami dengan Kathmandu. Untuk menghindari kesalah pahaman, kami menggunakan Bahasa Inggris dalam ekspedisi ini.


Untuk ekspedisi ini saya berhasil mendapatkan 2 orang alpinis terkenal dari Rusia untuk bekerja sama dengan kami: Vladimir Bashkirov dan Dr. Evgeny Vinogradsky. Bashkirov 45 tahun, berpengalaman selama 15 tahun mengkoordinir ekspedisi di daerah yang sulit, dan mengenal rute Pamir dan Kaukasus, dan berhasil mendaki 6 gunung diatas 8000 m, dua antaranya Mt.Everest. Suatu keuntungan dia mau berkerja sama dengan kami. Tak seperti saya, dia pendiam namun diplomatis sekaligus supel dan yang pasti fasih berbahasa Inggris. Di Rusia dia terkenal sebagai juru kamera petualangan dan produser film. Dialah yang akan membuat film ekspedisi ini. 


Dr. Evgeny Vinogradsky 50 tahun, 7 kali juara panjat tebing Rusia dan 25 tahun berpengalaman sebagai pelatih pendaki gunung sekaligus dokter olah raga. Evgeny teman baik saya. Bersamanya kami mendaki Kanchenjunga pada 1989. Bagi saya dia adalah "Garuda Tua", yang telah mendaki lebih dari 20 gunung berketinggian 7000 m, dan 8 gunung berkentinggian lebih dari 8000 m, termasuk 2 pendakian Everest, salah satunya sebagai pimpinan ekspedisi.


Ang Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu bertugas mengurusi logistik dan mencari sherpa untuk ekspedisi. Kami bersyukur, karena mendapatkan Sherpa Apa von Thami 37th, 7x menaklukkan Everest sebagai sirdar (pemimpin Sherpa) dan First Climber  Sherpa (Sherpa yang ikut ke puncak) untuk bekerja dengan kami. Sherpa berada dibawah komando Ang Tshering dan staf dari Indonesia. Pekerjaan mereka seperti biasa di basecamp. Selain itu mereka harus memasang fix rope (tali tetap) pada rute di atas Breaking Ice (Eisbruch), menyiapkan logistik di high camp dan di hari summit attack ikut mengiringi sebagai pembawa tabung zat asam bagi yang mendaki sampai ke puncak.


Pada tanggal 6 Desember saya terbang dari Jakarta ke Amerika untuk check-up wajah dan muka sebagai akibat dari kecelakaan bis yang saya alami di bulan Oktober. Bashkirov dan Vinogradsky memimpin pelatihan di Paldor Peak, Ganesh Himal, yang dimulai pada tanggal 15 Desember. 34 orang pendaki, dimana separuh dari mereka tidak mempunyai pengalaman High Alpin, berusaha mencapai puncak Paldor (5900m). 17 orang berhasil sampai ke puncak. Mereka bertahan 21 hari dan perlahan beraklimatisasi dengan cuaca musim dingin.


Di bulan Januari dan Februari 34 pendaki melakukan pelatihan yang kedua di Island Peak (6189m). 16 pendaki yang berhasil adalah pendaki yang telah berhasil juga di Paldor sebelumnya. Mereka berada disana selama 20 hari dibawah tempratur minus 40 derajat Celcius dan topan musim dingin yang ganas. 3 hari 3 malam di ketinggian 6000 m dengan keadaan cuaca yang sangat berat mereka harus mendaki dan turun dengan rentang ketinggian 1000 m dalam waktu kurang dari 5 jam.


Pelatihan ini sangat optimal. Saya sendiri menggelengkan kepala: Paldor, Island Peak, Everest. Sebagai pelatihan, program ini bukan untuk sembarangan orang.




Sampai jumpa besok!