Rabu, 15 Agustus 2018

RUJAK PETIS SAYURAN


Bahan:
Kangkung
Taoge
Kacang panjang
Wortel
Kol
Mentimun
Daun selada
Tahu goreng
Tempe goreng
Lontong
Kerupuk udang
Emping melinjo
Jeruk limau
Sayuran lain sesuai selera
Bumbu (untuk 1 porsi):
Cabe rawit     3-4 buah
Terasi     1 potong (bakar)
Kencur     1 btr
Bawang putih     1 siung
Gula Jawa
Garam     secukupnya
Petis udang     1-2 sdm
Kacang tanah     2 sdm (sangrai)
Jeruk limau     1-2 buah (ambil airnya)
Air matang     sedikit

Cara memasak:
1. Gerus bumbu.
2. Tuangi sedikit air matang, campurkan petisnya.
3. Perciki air jeruk limau.
4. Rebus semua sayur kecuali daun selada dan mentimun.
5. Sajikan di piring dengan irisan lontong, tahu dan tempe goreng.
6. Letakkan kerupukudang dan emping melinjo di atasnya.
7. Bumbu disajikan terpisah.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Selasa, 14 Agustus 2018

DAVID UDJULAWA : PERAIH MEDALI ASIAN GAMES YANG KRITIS


Salah satu cabang olahraga yang digadang-gadang meraup medali bagi Indonesia di Asian Games 2018 ini adalah selancar angin. Tak heran karena prestasi atlet-atlet selancar kita cukup membanggakan di tingkat internasonal. Para atlet selancar kita juga sudah beberapa kali memboyong medali dari ajang olahraga terakbar di benua Asia itu. Tapi mungkin belum banyak yang tahu atlet pertama yang berhasil membawa pulang medali selancar Asian Games untuk Indonesia. Untuk yang belum tahu, Indonesia pertama kali mendapat medali selancar di Asian Games tahun 1970 yang diadakan di Bangkok. Kala itu, duet peselancar kita David Udjulawa dan John Gunawan sukses merebut medali perunggu untuk nomor flying dutchman. Membanggakan, karena itulah pertama kali olahraga selancar dipertandingkan di Asian Games dan kita langsung dapat medali! Nah yang di atas itu adalah foto Pak David Udjulawa yang sekarang 'naik pangkat' menjadi pelatih selancar. Kecintaan Beliau pada olahraga selancar juga tampak dari kekritisannya pada para penggede organisasi olahraga selancar Indonesia. Ingin tahu lebih banyak tentang Beliau, follow saja  Twitter @DavidUdjulawa.

Prestasi:
- Medali perunggu selancar angin nomor flying dutchman putra Asian Games Bangkok 1970 (bersama John Gunawan)
(mgh/foto: istimewa)

NASI TIWUL

Bahan:
Tepung tiwul     100 gr
Air     50 ml
Beras     200 gr
Air     400 ml

Cara membuat:
1. Beras dan air diaron.
2. Letakkan tepunng tiwul di atas tampah.
3.  Tuangkan air ke tepung tiwul sedikit demi sedikit sambil diuleni.
4. Inter (goyang-goyang) sampai terbentuk butiran.
5. Kukus setangah matang.
6. Campur beras yang sudah diaron dengan tiwul. Aduk rata.
7. Kukus hingga matang.

Info saji:
Untuk: 5 porsi (224 kal/porsi)
(Ibu Tuti Soenardi/Kompas)


Senin, 13 Agustus 2018

HENDRO PRATONO : MEDALI TANPA TARGET


Hendro Pratono adalah atlet boling pertama yang meraih medali Asian Games untuk Indonesia. Tahun 1989 di Hiroshima, Hendro mencatat sejarah sebagai atlet boling pertama Indonesia  yang meraih medali di cabang olahraga boling, kala itu medali perak.. Pencapaian ini di luar dugaan tim Indonesia yang tidak menargetkan apa-apa pada Hendro. Tapi Hendro mengaku ia bertanding dengan motivasi besar membawa pulang medali untuk Indonesia. 

Sulung dari 5 bersaudara ini lahir di Jakarta tanggal 21 Februari 1951 dari pasangan Solani Sulistiyo dan Surayanti. Meski sudah lama mundur sebagai atlet, Hendro tetap berlatih dengan disiplin tinggi. Iapun sempat duduk di jajaran PB PBI (Pengurus Besar Persatuan Boling Indonesia) meskipun kemudian memilih mengundurkan diri. Tapi hendro tetap tidak pernah meninggalkan dunia boling. Meski sudah lama mundur sebagai atlet nasional, ia tetap mengikuti pertandingan boling  berskala nasional. Lebih hebat lagi, Hendro  masih mampu meraih gelar juara walaupun lawannya atlet-atlet yang lebih muda. 

Prestasi:
- Medali perunggu Kejuaraan Dunia Boling 1989
- Medali perak boling tunggal putra Asian Games Hiroshima 1994
(mgh/foto: Sport Info and Education)

PESONA HIJAU


Bahan:
Bengkoang     200 gr (potong persegi ukuran 1 cm)
Pewarna makanan hijau
Tepung kanji
Nata De Coco     1 pak
Nangka     5-6 buah (potong persegi ukuran 1 cm
Santan bergaram     1 cangkir
Sirop pandan
Es batu

Cara membuat:
1. Bengkoang diberi pewarna hijau. Kocok-kocok hingga tercampur rata.
2. Letakkan 100 gr tepung kanji di kantong plastik.
3. Masukkan bengkoang hijau.
4. Goyang-goyang higga semua bengkoang berlumur tepung.
5. Keluarkan dari kantong plastik. Ayaklah.
6. Didihkan banyak air di panci.
7. Masukkan bengkoang bertepung.
8. Biarkan hingga bengkoang terapung lalu angkat. Saring.
9. Siram dengan air dingin.

Cara menghidangkan:
1. Campur santan dengan air gula secukupnya.
2. Letakkan pesona hijau di gelas tembus pandang.
3. Tambahkan beberapa potong nata de coco dan irisan nangka.
4. Bubuhi santan bergula.
5. Tambahkan es batu. Sajikan.
(Nyonya Rumah/Kompas)

Minggu, 12 Agustus 2018

CHARLIE DEPTHIOS : KISAH TRAGIS PEMEGANG 2 REKOR DUNIA ANGKAT BESI



Buku Greatest Weightlifters to Ever Compete karya Alex Trost dan Vadim Kravetsky menempatkan Charlie Depthios di peringkat ke-9 dari 100 atlet angkat besi dunia sepanjang masa. Meski sudah tutup usia, nama besar Charlie Depthios tetap dikenang dan dicatat dalam sejarah olahraga angkatbesi internasional. Dialah atlet pemecah 2 rekor dunia. Yang pertama rekor dunia clean and jerk kelas terbang seberat 127,5 kg saat bertanding di PON Surabaya (1969). Rekor ini menumbangkan rekor dunia atlet Rusia Khaisisin seberat 126,5 kg. Tiga tahun kemudian Charlie kembali membukukan rekor dunia clean and jerk saat bertanding di Olimpiade Muenchen (1972) kali ini seberat 132,5kg. Sayangnya, rekor ini tidak diakui dengan dalih dibuat saat angkatan keempat. Kecewa? Sudah pasti! Tapi itu bukan satu-satunya peristiwa tidak mengenakkan yang dialami Charlie ketika bertanding.

Tahun 1970 Charlie didiskualifikasi dari Asian Games Bangkok setelah 2 tahun sebelumnya juga didiskualifikasi dari Olimpiade Mexico. Keduanya dengan alasan yang sama: Charlie salah teknik saat mengangkat barbel. Charlie memang tidak mempunyai pelatih. Ia berlatih dan mengatur strategi sendiri. Namun ia berusaha menimba ilmu dari para pelatih setempat setiap kali bertanding di luar negeri. Biaya hidup dan pembayaran untuk pelatih didapat Charlie dengan bekerja sampingan di luar negeri.Ia misalnya, pernah bekerja sebagai pencuci piring saat bertanding di Ohio (Amerika Serikat). Karena itu, ketika berkali-kali didiskualifikasi dan rekornya tidak diakui Olimpiade, Charlie merasa diperlakukan tidak adil oleh juri. Setelah lama berfikir dan menimbang, tahun 1974 legenda angkatbesi dunia ini memutuskan mundur sebagai atlet. Charlie pindah ke Papua untuk menghidupkan olahraga angkatbesi di pulau paling timur Indonesia itu. Tapi tidak hanya itu. Charlie juga mendirikan klub angkatbesi Gelanggang Sehat Kuat di Pekanbaru (Riau), klub yang kemudian melahirkan atlet-atlet angkatbesi tanggung Indonesia. 

Lahir dengan nama Charles Depthios tepat 2 Februari 1940 di Mamuju (Sulawesi Barat), Charlie memutuskan menjadi atlet angkatbesi profesional walaupun pada masa itu penghasilan atlet sangat kecil dibanding sekarang. Bahkan dulu atlet sering tidak mendapat uang saku bila bertanding di luar negeri. Namun kecintaannya pada angkatbesi membuat Catlet bertinggi 154 cm ini berani mengikuti kata hatinya meskipun ia harus menanggung nafkah istri dan 7 anak. Bahkan sekedar untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga setelah bertanding di luar negeripun, Charlie harus menjalani pekerjaan informal setelah pertandingan selesai. Bahkan setelah menjadi atlet internasionalpun, Charlie tetap hidup kekurangan. Ia bahkan tak punya biaya untuk berobat saat giginya sakit.Untung, ada kenalannya yang dokter gigi bersedia mengobati gigi Charlie secara gratis. Namun dengan segala keterbatasan itu Charlie bersedia memberi makan beberapa atlet angkatbesi muda binaannya. Untuk memenuhi gizi mereka, Charlie setiap hari menyediakan menu telor ayam yang didapat dari ayam-ayam peliharaan sang istri, Endang Setyanti. Yang lebih mengagumkan, para atlet muda binaan Charlie kebanyakan mantan preman dan pengangguran. Untungnya (Indonesia banget ya), waktu masih menjadi atlet, Charlie mendapat hadiah rumah di Tomang, Jakarta Barat dari Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin. Rumah itu kemudian dijual Charlie dan dibelikan 3 oplet untuk menghidupi keluarga besarnya (istri, anak, dan atlet-atket binaannya). 

Ketika kemudian pindah ke Jambi tahun 1990 untuk melatih angkatbesi, Charlie mendapat gaji sebesar Rp 300.000/bulan. Gaji sebesar itu bertahan hingga sang legenda yang murah hati tutup usia karena penyakit stroke di tahun 1999. Selamat beristirahat Pak Charlie. (mgh/foto: Tempo)

NASI GORENG TIWUL PEDAS

Bahan:
Nasi tiwul     200 gr
Daging ayam     50 gr (potong kecil)
Cabe rawit hijau iris     5 buah
Taoge     50 gr
Daun bawang iris     2 sdm
Kecap ikan     1 sdm
Garam     sedikit
Minyak goreng     1 sdm (untuk menumis)

Cara memasak:
1.Tumis daun bawang dan daging ayam hingga daging ayam masak.
2. Masukkan taoge dan cabe rawit.
3. Tambahkan kecap ikan.
4.  Masukkan nasi tiwul dan garam. Aduk rata.
5. Angkat lalu hidangkan.

Info saji:
Untuk: 1 porsi (667 kal/porsi)
(Ibu Tuti Soenardi/Kompas)