Selasa, 24 Juli 2018

WILLIAM WONGSO : MEMBAWA INDONESIA UNGGULI 210 NEGARA


Prestasi membanggakan namun luput dari sorotan mayoritas media Indonesia juga datang dari pakar kuliner senior William Wongso. Flavors of Indonesia, buku resep masakan Indonesia karya Beliau  memenangkan penghargaan internasional sebagai Best Cookbook of the Year dalam ajang 22nd Gourmand World Cookbook Awards yang diadakan pertengahan tahun lalu di Yantai (RRC). Inilah kompetisi tahunan internasional paling bergengsi di dunia kuliner untuk buku masakan, anggur, dan minuman yang digelar sejak tahun 1995 dan diikuti 211 negara. 

Flavors of Indonesia berisi resep-resep masakan Indonesia beserta sejarah dan detail bahan-bahan masakannya. Dikemas cantik dengan sampul tebal dan kertas mengkilat, buku ini tampil berkelas. Apalagi foto-foto nan artistik melengkapi detail setiap masakan yang ditampilkan. Mulai masakan dari ujung Barat hingga ujung timur, dimuat di buku setebal 198 halaman ini. Lebih menarik, pak William menyertakan beberapa resep masakan Indonesia kreasi baru Beliau seperti sop kenikir, dadar pegagan, dan (nah ini favorit saya banget) urap pegagan ikan asin. Tak heran ratusan buku masakan dari 210 negara lain langsung minggir melipir.

William Wirjaatmadja Wongso lahir di Malang, Jawa Timur, tepat tanggal 12 April 1947. Selain dikenal sebagai pakar kuliner yang aktif mengisi berbagai acara kuliner di seluruh Indonesia dan pembawa acara masak memasak di TV, pak William juga pengusaha kuliner yang sangat sukses lho. Beliau memiliki beberapa restoran dan pabrik bumbu. Padahal semasa kecil Beliau bercita-cita menekuni dunia forografi seperti ayahnya, Soewadi Wongso (Wong See Hwa). Tapi karena ayahnya hobi memasak, pak William juga jadi tertarik pada bidang kuliner. Beliaupun rajin menimba ilmu tentang masakan pada para pelaku bisnis kuliner lingkaran satu alias para PKL dan pedagang di pasar tradisional. Dari merekalah pak William memperoleh pengetahuan tentang cara mengolah makanan dan pengetahuan tentang bahan makanan. Berangkat dari pengalaman itulah pak William selalu menyarankan pada siapapun yang ingin mendalami ilmu kuliner untuk belajar langsung pada para pemilik warung pinggir jalan dan pedagang pasar. 

Ingin belajar kuliner dari pakar kaliber internasional? Atau ingin ingin tahu kabar terbaru pak William? Tinggal kunjungi:
Facebook: williamwongsokuliner
Twitter: williamwwongso
Blogspot: wwkuliner.blogspot.com (eh tahunya pak William tetangga kita ya!)
(mgh/foto: istimewa)




LALAMPA (khas Manado)

Bahan:
Beras ketan     250 gr (cuci bersih, tiriskan)
Air santan kental     300 ml (dari 1 butir kelapa)
Gula pasir     secukupnya
Garam     ½ sdt
Daun pandan     2 lbr
Sereh     1 btg
Daun pisang (untuk membungkus)

Bahan isi:
Daging ikan cakalang fufu/ikan asap     150 gr (suwir-suwir)
Santan     125 ml
Cabe merah iris     3 sdm
Garam     ½ sdt

Cara membuat:
1. Rebus santan, daun pandan, sereh, garam, dan gula pasir hingga mendidih. 
2. Masukkan beras ketan. 
3. Rebus hingga airnya kering/tinggal sedikit lalu kukus hingga matang.
4. Buat isi:
    * Rebus santan dan irisan cabe.
    * Masukkan suwiran daging ikan.
    * Masak hingga matang dan kuahnya kering/sat.
    * Angkat dan sisihkan.
5. Ambil daun pisang.
6. Letakkan 2 sdm ketan masak di atas daun pisang. Pipihkan.
7. Letakkan isi di atas ketan.
8. Bentuk bulat panjang (seperti arem-arem) sehingga isi ada di bagian dalam.
9. Bakar atau panggang dalam oven hingga matang.
10. Hidangkan.

Info saji:
Untuk: 10 bungkus
115 kal/bungkus
(Ibu Tuti Soenardi)

Senin, 23 Juli 2018

LALU MUHAMMAD ZOHRI : REMAJA YATIM PIATU SANG JUARA DUNIA



Di tengah demam Piala Dunia sepakbola yang diidap sebagian bangsa Indonesia, datang berita mengejutkan sekaligus membanggakan dari Filandia. Salah satu putra bangsa kita yang sedang berjuang di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 IAAF 2018, Lalu Muhammad Zohri meraih medali emas lari nomor 100 m. Mengejutkan dan tak terduga, meskipun sebelumnya Lalu telah meraih puluhan medali termasuk medali emas Kejuaraan Atletik Yunior Asia-Pasifik 2018 di Jepang. Banjir pujian dan janji hadiah mengalir, termasuk dari presiden RI Joko Widodo. Masyarakat yang mengagumi mengikuti setiap kegiatan Lalu hingga sang atlet muda sulit berlatih lagi. Susah juga ya.

Lalu Muhammad Zohri, lahir di Lombok tanggal 1 Juli 2000, bungsu dari 2 bersaudara putra pasangan alm. almh. Ahmad Yani yang nelayan  dan Saeriah yang buruh tani. Lahir di keluarga sangat sederhana, sejak SD Lalu pergi-pulang sekolah setiap hari dengan berlari. Padahal jarak sekolah dari rumahnya 2 km. Kayak film ya? Biasa berlari sejak kecil, fisik dan kemampuannyapun tertempa hingga menarik perhatian ibu Rosida, guru olahraganya di SMPN 1 Pemenang. Bu Rosidapun melatih Lalu dengan lebih serius, mengarahkan pada olahraga atletik. Lalupun diikutkan berbagai kejuaraan atletik antar siswa hingga kejurda dan selalu meraih medali. Prestasi Lalupun menarik perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB yang langsung memasukkan Lalu ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Mataram. Di sini, Lalu dilatih lebih intens dan diikutkan berbagai kejuaraan di tingkat nasional. Lalupun selalu pulang dengan gelar juara untuk daerahnya. Dan Pelatnaspun menyambutnya. 

Di balik kilau puluhan medali berbagai kejuaraan atletik nasional dan internasional yang sudah dikutinya, ada perjuangan tanpa lelah Lalu selama bertahun-tahun. Hanya tinggal berdua dengan sang kakak, Baiq Fazilah di Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, NTB. , karena kedua orang tua mereka telah tiada. Rumah Lalu jauh dari rumah atlet kelas dunia yang ada di benak banyak orang. Rumahnya hanalah gubuk peninggalan orang tua, berdinding bambu yang sudah bolong di sana sini dengan atap asbes dan genting yang juga sudah bolong-bolong. Siapa yang menduga di dalamnya puluhan medali tersimpan. Rumah inilah saksi bisu perjuangan Lalu sebelum masuk PPLP. 

Dulu, setiap hari setelah sholat Subuh Lalu yang masih SMP berlari dari rumahnya ke pantai Bangsal yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Di sana ia berlatih lari mulai pukul 5 sampai 7 pagi. Lalu mulai latihan lagi di tempat yang sama sore hari setelah sholat Ashar sekitar pukul 4 sore hingga 6 petang. Rutinitas itu dilakoninya dengan determinasi tinggi setiap hari selama bertahun-tahun. Hasilnya, kini Indonesia bangga punya Lalu Mujammad Zohri.(mgh/foto: serambi indonesia)












PEUYEUM PANGGANG (khas Sunda)


Bahan:
Peuyeum (buang seratnya)
Margarin
Gula halus

Cara membuat:
1.Panaskan wajan.
2. Masukkan sesendok margarin, lumerkan.
3. Masukkan sepotong peuyeum.
4. Tekan-tekan hingga peuyeum melebar.
5. Biarkan hingga kecoklatan, lalu balik.
6. Panggang hingga kedua sisi berwarna kuning kecoklatan. Angkat.
7. Taburi gula halus lalu sajikan.
(Nyonya Rumah)




Minggu, 22 Juli 2018

DIPHA BARUS : DI PUNCAK TANGGA LAGU DUNIA



Penggemar musik EDM mana yang tak kenal DJ satu ini. Tidak hanya di Indonesia, musiknya disukai penggemar musik EDM sedunia. Singelnya yang bertajuk All Good menjadi lagu yang paling banyak diunduh di beberapa kota besar dunia termasuk Barcelona dan Mexico City awal tahun ini. All Good-pun sempat menduduki peringkat 1 tangga lagu EDM sedunia. 

Dipha Kresna Aditya Barus lahir di Jakarta tanggal 4 Januari 1986 adalah alumni desain grafis Universitas Limkokwing, Malaysia. Tapi mengakrabi berbagai jenis musik terutama rock dan pop sejak kecil lewat sang ayah yang penggemar musik, lebih merasuk ke jiwanya. Maka selepas kuliah, bukannya jadi perancang grafis sesuai 'jalurnya', Dipha memilih panggilan jiwanya: musik. Iaun memilih jadi DJ yang sudah dicita-citakan sejak SMP. Ceritanya, saat berlibur ke Singapura waktu SMP itu, Dipha sempat melihat pertunjukan musik EDM. Ia sangat tertarik melihat bagaimana seorang DJ bisa mengendalikan begitu banyak orang. Sejak itulah muncul keinginannya untuk jadi DJ. Padahal Dipha sebenarnya fobia keramaian. Jika ada di tengah keramaian, ia selalu gemetaran, gatal-gatal, dan mual. Setelah muncul niat menjadi DJ, iapun mencari cara untuk mengatasi fobianya. Dan semua teratasi dengan meditasi. 

Sebagai DJ, Dipha gemar mengeksplorasi kekayaan musik tradisi Indonesia dan memadukannya dengan musik elektronik. Itu menjadi ciri khas sekaligus kekuatan karya-karyanya. Dengan mengeksplorasi kekayaan musik asli Indonesia, Dipha berharap generasi muda tahu betapa kayanya budaya Indonesia, dan bahwa semua musik tradisi Indonesia bisa diksplor menjadi musik baru yang trendy. "Dan ini cuma Indonesia doang yang punya," tegas Dipha dengan bangga. 

"Indonesia kan 'aneh'. Di dalam 1 negara kayak ada banyak negara, suku-sukunya itu. Menurut saya, ini 'gila banget'. Orang Jawa nggak bisa berkomunikasi dengan orang Batak kalau pakai bahasa masing-masing. Apalagi instrumen musiknya! Beda banget jenis dan tangga nadanya!" jelas Dipha penuh semangat. Ya, kita semua bangga menjadi Indonesia!

Ingin diskusi tentang musik dan Indonesia dengan Dipha? Bisa dicegat di studionya di salah 1 kompleks perumahan di Jakarta Selatan. Kalau ribet nyari, kontak aja di:
myspace.com/diphabarus
soundcloud.com/diphabarus
twitter.com/diphabarus
agrikulture.com
(mgh/foto: dian gardiani)


AYAM BETUTU (khas Bali)


Bahan:
Ayam kampung     1 ekor/750 gr
Terasi     1 sdt
Garam     1 sdt
Minyak kelapa     5 sdm
Pelepah daun pinang tua (warna kuning ambil dalamnya yang berwarna putih)
Pelepah daun pinang muda (warna hijau)
Tali pelepah pisang

Bumbu yang dihaluskan:
Irisan bawang merah     3 sdm
Irisan bawang putih     2 sdm
Irisan cabe rawit     ¾ sdm
Irisan cabe merah besar     1 ½ sdm
Irisan kunyit     1 sdt
Irisan kencur     1 sdt
Irisan jahe     1 sdt
Irisan laos     1 sdt
Merica     1 sdt
Daun salam      2 lbr
Gula merah     1 sdm
Asam     1 sdm
Minyak goreng     2 sdm

Cara memasak:
1. Bersihkan ayam lalu remas-remas dengan campuran terasi, garam, dan minyak kelapa hingga daging ayam lemas.
2. Campur semua bumbu yang dihaluskan dengan gula merah, asam, minyak goreng, dan daun salam.
3. Masukkan no.2 ke dalam perut ayam lalu jahit agar bumbu tidak keluar. Ikat dengan tali agar lebih kencang.
4. Bungkus ayam dengan daun pisang, ikat ijung-ujungnya dengan tali.
5. Letakkan di atas lantai tanah dan tutup dengan tempayan.
6. Letakkan sekam dan serabut kelapa di atas tempayan lalu sulut dengan api.
7. Biarkan selama 4 jam.
8. Balik ayamnya, tutup lagi dengan tempayan, bakar lagi dengan cara yang sama hingga matang.
9. Buka bungkusnya sebelum disajikan.

Alternatif cara memasak:
1. Bungkus ayam dengan daun pisang.
2. Kukus hingga matang.
3. Keluarkan ayam dari pembungkusnya.
4. Masukkan ayam ke dalam oven.


Info saji:
Untuk: 8 porsi (225 kal/porsi)
(Ibu Tuti Soenardi/Kompas)


Sabtu, 21 Juli 2018

PROF. DR. YAYUK RAHAYUNINGSIH SUHARDJONO : SATU-SATUNYA DI ASIA TENGGARA




Inilah Prof. DR. Yayuk Rahayuningsih Suhardjono, salah satu ilmuwan kebanggaan Indonesia. Beliau satu-satunya peneliti collembola (ekor pegas) di Asia Tenggara. Bahkan di dunia, jumlah peneliti ekor pegas bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Prof. Yayuk sekarang menjabat sebagai Koordinator Zoologi Lembaga Biologi Nasional LIPI. Alumna S1-S3 FMIPA Universitas Indonesia (UI) ini lahir di Magelang (Jawa Tengah) pada 25 September 1950. Menikah dengan  Pak Suhardjono yang juga peneliti biologi LIPI dan dikaruniai seorang putri, Primadina Banusita (keren banget ya namanya?). 

Prof. Yayuk mulai meneliti ekor pegas pada tahun 1977. Meskipun merupakan berperan penting di ekosistem sebagai indikator hayati yang berfungsi sebagai pengurai racun sekaligus membantu perombakan bahan organik, ekor pegas sangat tidak seksi bagi para peneliti. Tidak hanya karena ukurannya yang sangat kecil hingga sulit dilihat mata telanjang, namun meneliti ekor pegas harus mau berkotor-kotor ria karena hewan super imut ini hidup di dalam tanah. Nggak seksi kan? Tidak heran ketika Prof. Yayuk mulai meneliti hewan ini, sangat banyak kendala yang dihadapi, termasuk atasan Beliau sendiri yang meminta penelitian dihentikan karena tidak adanya sarana dan supervisi.

Tidak putus asa, Prof. Yayuk menyurati semua peneliti ekor pegas di seluruh dunia (yang memang tidak banyak). Dapat balasan dari Perancis, Australia, dan Jepang. Bahkan peneliti dari Jepang langsung mengirim mikroskop khusus. Sayangnya, mikroskop tersebut tidak bisa digunakan karena tidak sesuai dengan kondisi kantor LIPI. Walhasil, Prof. Yayuk terpaksa memakai mikroskop seadanya yang dimodifikasi sebisanya. Beberapa saat meneliti ekor pegas, Prof. Yayuk mendapat kunjungan dari koleganya dari Perancis. Sang professor dari Perancis terkejut melihat mikroskop yang dipakai Prof. Yayuk. Beliau mengatakan, tidak mungkin meneliti ekor pegas menggunakan mikroskop seperti itu. Prof. Yayuk menjelaskan, itulah sarana yang dimiliki LIPI saat itu. Tidak lama kemudian, Prof. Yayuk mendapat tawaran pelatihan selama 4 minggu di Perancis. Tahun 1990, Prof. Yayuk kembali mendapat tawaran dari Australia. Kali ini untuk mengadakan penelitian selama 4 bulan di Australian National Insect Collection (ANIC), Canberra. Meninggalkan keluarga di Indonesia, selama 4 bulan Prof. Yayuk bekerja di laboratorium ANIC mulai pukul 7 pagi hingga 10 malam setiap hari. Sarana yang lengkap dan akses tak terbatas pada semua sarana dan fasilitas ANIC, membuatnya betah di laboratorium tanpa kenal waktu sekaligus membayangkan andai laboratorium sains di Indonesia secanggih itu.

Beberapa waktu setelah pulang ke Indonesia, Prof.Yayuk kembali mendapat tawaran dari Bank Dunia untuk belajar manajemen koleksi di 13 museum terkemuka dunia di 5 negara dalam program Green Environment Fund. Ilmu baru ini diterapkan Prof. Yayuk untuk membenahi puluhan ribu koleksi serangga di museum LIPI. Hasilnya, kini peneliti dan siapapun yang ingin belajar tentang serangga tidak perlu ke luar negeri lagi karena museum LIPI sudah tertata baik sama seperti museum serangga di luar negeri. 

Sebagai peneliti senior, Prof. Yayuk tetap giat bekerja di laboatorium dan membagi ilmu lewat tulisan, simposium, seminar, maupun kuliah umum di berbagai universitas seluruh Indonesia. Seperti tampak pada foto di atas, Prof. Yayuk sedang menguraikan makalah tentang Keanekaragaman Hayati Indonesia: Pengelolaan untuk Pembangunan Berkelanjutan dalam acara Symposium on Biology Education 3 tahun lalu. Tetap giat, tetap bersemangat karena memang menyukai bidang yang ditekuni. "Mengerjakan sesuatu yang kita suka itu tidak membuat capek," kata Prof. Yayuk. Setuju, Bu! (mgh/foto: symposium on biology education)